Home / Romansa / Istri Kontrak Sang Miliarder / Perhatian dari Adrian

Share

Perhatian dari Adrian

Author: Senja
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-04 18:09:56

Cahaya matahari menyusup malu-malu melalui celah gorden kamar mewah saat wanita itu membuka mata, sisi tempat tidur di sebelahnya sudah kosong dan rapi. Hanya tertinggal aroma parfum wood and musk milik Adrian yang masih menempel kuat di bantal, seolah-olah pria itu baru saja pergi beberapa menit yang lalu.

Clara bangkit perlahan, matanya tertuju pada secarik kertas di atas nakas yang tertindih jam tangan cadangan Adrian.

"Saya ada urusan kontrak terakhir di kantor. Jangan keluar dari penthouse
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Pelaku sebenarnya

    Suasana ruang tamu berubah mencekam.Clara masih memandangi tumpukan foto di atas meja dengan wajah pucat.Jemarinya gemetar saat mengambil salah satunya."Itu..."Foto dirinya yang sedang duduk sendirian di taman belakang mansion.Padahal hari itu tidak ada tamu.Tidak ada wartawan.Lalu...Siapa yang mengambil gambar itu?Tanpa sadar Clara merapatkan kedua lengannya sendiri.Merasa seolah ada sepasang mata yang terus mengawasinya.Adrian menyadari perubahan itu.Ia segera mengambil semua foto tersebut lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop."Jangan lihat lagi."Nada suaranya tegas.Clara mengangkat kepala."Tapi...""Saya bilang cukup."Bukan karena marah.Melainkan karena Adrian tidak ingin Clara semakin ketakutan.Ia kemudian menoleh ke arah kepala keamanan."Panggil seluruh tim keamanan ke ruang rapat. Sekarang.""Baik, Tuan."Beberapa menit kemudian...Ruang rapat mansion dipenuhi para petugas keamanan.Adrian berdiri di ujung meja dengan wajah dingin."Mulai malam ini.""Ti

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Ryan

    "Clara!"Wajah Adrian seketika berubah pucat.Tanpa memedulikan Zeva yang masih berdiri di belakangnya, ia langsung berlari menuju lift."Tahan liftnya!"Namun terlambat.Ting.Pintu lift telah menutup rapat."Brengsek!"Adrian memukul tombol lift berulang kali.Layar digital bergerak turun.Lantai 18...17...16...Ia tidak sanggup menunggu.Adrian segera berbalik."Tangga darurat."Pria itu berlari meninggalkan lobi, membuat para karyawan saling berpandangan bingung.Mereka belum pernah melihat CEO mereka kehilangan kendali seperti itu.Di sisi lain...Clara berdiri di dalam lift.Kotak bekal makan siang masih berada di pelukannya.Ia menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengilap.Perlahan sudut bibirnya terangkat.Senyum kecil.Namun air mata mulai mengalir tanpa bisa ditahan."Aku benar-benar bodoh..."gumamnya lirih.Seharusnya ia tidak datang.Seharusnya ia tidak berharap Adrian akan senang menerima bekal yang dibuatnya.Bukankah mereka hanya suami istri karena kontrak?

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Datang di waktu yang salah

    "Jangan pernah ikut campur lagi dalam rumah tangga saya." Suara Adrian terdengar dingin dari balik sambungan telepon. Di seberang sana, Victoria hanya terkekeh pelan. "Rumah tangga?" ulangnya santai. "Adrian, kalian hanya menikah karena kontrak. Ibu hanya mengembalikan semuanya ke jalur yang seharusnya." Rahang Adrian mengeras. "Kontrak atau bukan, Clara tetap istri saya." Victoria terdiam beberapa detik. "Lalu sampai kapan kamu mau mempertahankan pernikahan itu? Satu tahun? Setelah itu dia tetap akan pergi." Kalimat itu membuat Adrian terdiam. Ia tahu. Itulah isi kontrak yang ia buat sendiri. Namun entah sejak kapan, ia tidak pernah lagi menginginkan kontrak itu berakhir. "Saya akan mengurus rumah tangga saya sendiri." "Tidak perlu Ibu ikut campur." Tanpa menunggu jawaban, Adrian langsung memutus sambungan telepon. Tut. Ia melempar ponselnya ke atas meja dengan kesal. Beberapa detik kemudian, ia mengusap wajahnya kasar. "Pak..." Sekretarisnya kembali bersuara hati

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Melanjutkan pertunangan

    Sinar matahari pagi menembus celah tirai kamar, menyinari ruangan yang sejak semalam dipenuhi keheningan.Clara masih terduduk di atas ranjang.Tatapannya kosong mengarah ke dinding.Semalaman ia hampir tidak memejamkan mata.Perkataan dokter.Sikap Adrian.Semuanya terus berputar di dalam kepalanya.Perlahan ia menoleh ke arah jam digital di atas nakas.08.00."Sudah pagi..."Clara mengusap wajahnya pelan.Ia mengira semua orang masih berada di bawah.Dengan langkah pelan, ia turun dari ranjang dan berniat keluar kamar untuk sarapan.Namun baru saja tangannya menyentuh gagang pintu...Tok... tok..."Permisi, Nyonya."Seorang pelayan mendorong troli makanan masuk ke dalam kamar.Di atasnya tersaji sarapan hangat lengkap dengan teh dan buah potong.Clara tampak bingung."Untukku?"Pelayan itu mengangguk sambil tersenyum sopan."Ya, Nyonya.""Nyonya Clara, Tuan Adrian sudah berangkat ke kantor sejak pagi."Clara terdiam.Pelayan itu melanjutkan,"Dan Nyonya Besar juga sedang pergi kelua

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Kecewa nya Adrian

    Sambungan adegannya bisa dibuat seperti ini:Pintu kamar perlahan terbuka.Klik.Clara yang masih terduduk di atas ranjang spontan mengangkat kepalanya.Adrian berdiri di ambang pintu.Raut wajah pria itu sulit dibaca.Tidak marah.Namun juga tidak setenang biasanya.Tatapannya lurus mengarah kepada Clara.Pelayan yang berjaga segera menundukkan kepala."Tuan.""Kalian keluar.""Baik, Tuan."Tak lama kemudian, kamar itu hanya menyisakan mereka berdua.Keheningan terasa begitu menyesakkan.Adrian melangkah perlahan mendekati ranjang.Ia berhenti tepat beberapa langkah di depan Clara."Seharusnya kamu sudah tahu kabar itu, Clara."Suaranya pelan.Namun terdengar sangat berat.Clara menundukkan kepala.Jemarinya saling menggenggam erat di atas selimut."A-Adrian... tunggu."Ia mengangkat wajah dengan mata yang dipenuhi kebingungan."Ini tidak seperti yang kamu pikir."Tatapan Adrian berubah."Lalu seperti apa?"Suara itu tetap tenang, tetapi menyimpan begitu banyak pertanyaan.Clara memb

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Clara hamil dan kecurigaan Adrian

    Suara langkah kaki Adrian menggema di sepanjang koridor mansion.Napasnya masih memburu setelah bergegas pulang dari kantor.Begitu tiba di depan kamar, ia langsung melihat dokter keluarga, beberapa pelayan, dan Victoria berdiri di luar dengan wajah yang sulit diartikan."Dokter."Suara Adrian terdengar tegang."Ada apa dengan Clara?"Dokter itu menoleh lalu mengangguk hormat."Tuan Adrian, kondisi Nyonya Clara sudah mulai stabil."Adrian mengembuskan napas lega."Syukurlah.""Namun..." Dokter berhenti sejenak."Ada kabar yang perlu saya sampaikan."Adrian mengernyit."Apa itu?"Dokter tersenyum tipis."Selamat, Tuan.""Nyonya Clara kemungkinan besar sedang hamil."Deg!Adrian membeku.Matanya membelalak."H-hamil?"Dokter mengangguk pelan."Hasil pemeriksaan awal mengarah ke sana. Besok kami perlu melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan usia kehamilan dan kondisi janinnya."Namun Adrian seolah tidak lagi mendengar penjelasan dokter.Pikirannya mendadak kosong.Hamil...?Anak

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Bangkit untuk melawan

    Clara merasakan kuku-kuku tajam Nyonya Victoria menekan kulit dagunya, namun alih-alih gemetar atau memalingkan wajah, ia justru menatap lurus ke dalam manik mata wanita di depannya. Rasa perih di pipinya akibat tamparan Sonya tadi justru membakar sisa-sisa ketakutan dalam dirinya. Dengan gerakan

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Membela Clara

    Mobil sedan hitam mewah itu melaju membelah kemacetan Jakarta, membawa Clara menjauh dari hiruk-pikuk kota menuju kawasan elit yang sunyi. Di sampingnya, Adrian duduk tegak, tatapannya dingin menatap layar tablet, seolah keberadaan Clara di sampingnya hanyalah sebuah benda mati. Clara tidak berani

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Wawancara berujung kontrak

    Clara melangkah keluar dari lift di lantai 5 dengan kepala tegak. Ia berhasil menemukan meja Sekretaris Mila setelah bertanya pada tiga orang yang menatapnya dengan tatapan aneh. "Permisi, saya Clara Anindita. Saya ada janji wawancara untuk posisi staf administrasi keuangan," ucap Clara ramah pada

  • Istri Kontrak Sang Miliarder    Sial di hari pertama

    "Keluar dari rumah ini! Sekarang!" Suara cempreng Bibi Sari menggelegar di ruang tamu yang sempit itu. koper tua itu dilempar kasar hingga mendarat tepat di depan kaki Clara Anindita. Pakaian-pakaian yang sudah memudar warnanya menyembul keluar dari resleting yang rusak. Clara menatap nanar ko

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status