INICIAR SESIÓNHari yang ditunggu-tunggu bagi sebagian orang tetapi paling Kalila hindari telah tiba, di mana dirinya sudah didandani dan memakai pakaian mewah, serta berkelas tak membuatnya langsung mendongakkan kepala. Dengan kepribadian milik Kalila, sebenarnya dia sangat jauh dari kriteria Lazuardi. Sayangnya, hanya wanita itu yang bisa membuat seorang Damian Lazuardi tertarik padanya. "Tidak perlu malu, mereka sedang memandang wajah cantik yang belum pernah mereka lihat," kata Damian mencoba menenangkan Kalila yang sudah gemetar lantaran menjadi pusat perhatian kala mereka tiba dan berjalan di sepanjang karpet merah. Kalila mencengkeram lipatan gaunnya lebih erat, merasai bahan kain sutra mahal itu terasa sangat asing di kulitnya. Komentar santai dari pria di sampingnya tak sedikit pun mengikis rasa cemas yang kini menghimpit dada. "Mereka tidak cuma memandang, Damian. Mereka sedang menghakimi," bisik Kalila lirih, berusaha menjaga agar gerakan bibirnya tak terlalu mencolok di bawah s
"Damian, aku tidak mengkhianatimu." Damian yang mendengar hal itu hanya diam tak merespon, tidak percaya dengan perkataan wanita yang ada di depannya. Wanita yang sudah menjadi ibu sambungnya belasan tahun. Tadinya ia sangat menghormatinya, walaupun Damian tahu bahwa wanita itu menikahi ayahnya karena harta keluarganya berlimpah. "Damian, sekali saja—" "Sekali saja aku memaafkanmu, kau akan mengulanginya, begitu?" Damian berkata sinis, sama sekali tidak tertipu dengan wajah memelasnya. "Lazuardi tidak akan memaafkan kesalahan." “Damian, kau tidak mengerti!” “Bagian mana yang tidak aku mengerti, Melia? Selama ini aku sudah menganggapmu sebagai keluarga, tapi ini balasanmu?” Damian menggertak wanita di hadapannya. “Itu bukan aku tapi Bella!” Lihat, dia mengakui sendiri. Itulah yang Damian tunggu-tunggu. “Itu dia! Kau lebih memilih untuk membantu saudaramu dibandingkan keselamatan keluarga Lazuardi yang mana kau menggunakan uangnya untuk keperluan hidupmu!” Damian marah.
“Mana Kalila?” Bibi Indri hanya tersenyum tipis merespons pertanyaan itu. Tuan Damian sudah mewanti-wanti agar Kalila tak ditemui oleh Nyonya Meliana. Karena itulah, begitu sang nyonya rumah tiba, Bibi Indri bergegas meminta Kalila mengunci diri di kamar. “Maaf, Nyonya. Tuan Damian memerintahkan agar Nona Kalila tetap di kamar dan tidak menerima tamu siapa pun,” tutur Bibi Indri penuh hati-hati. Wajah Meliana seketika mengeras. Matanya memicing tajam, menatap Bibi Indri dengan kilat kemarahan yang tak lagi disembunyikan. “Kamu sadar sedang bicara dengan siapa, Indri?” Suara Meliana terdengar dingin dan penuh penekanan. “Sejak kapan seorang pelayan berani menghalangi saya di rumah ini?” Bibi Indri makin menundukkan kepala. Jemarinya bertaut erat di depan tubuh, bergetar menahan ketegangan. “Maafkan saya, Nyonya. Tapi saya hanya menjalankan perintah Tuan Damian. Tuan menegaskan tidak ada pertemuan—termasuk dengan Nyonya.” Dengkus sinis terdengar dari bibir Meliana. Tanp
Setelah makan malam berlangsung, Kalila duduk di sofa kamarnya memainkan game di ponsel yang memang disediakan oleh Damian. Pria itu sendiri belum juga kembali ke kamar, sepertinya banyak pekerjaan karena pria itu sempat menerima beberapa pesan yang membuat wajahnya berubah. Kalila mendengus saat karakter di permainan yang ia mainkan mati begitu saja, sudah beberapa kali ia mencoba di tingkat ini. Sayangnya, ia belum juga berhasil menaklukkannya. Ceklek. “Kau belum tidur?” Kalila menoleh, mendapati Damian sudah berada di dalam kamar mereka. “Aku belum mengantuk,” katanya. Damian mengangguk mengerti, kemudian berjalan menuju toilet tanpa kata. Di sisi lain, Kalila masih penasaran dengan level game yang ia mainkan. Tak lama kemudian, Damian muncul kembali dengan pakaian yang sudah berganti menjadi piyama tidurnya. "Minggu depan ada acara, kau harus ikut." Kalila yang mendengar hal itu langsung menegakkan tubuhnya, menaruh ponsel di atas meja dan mendekat ke arah Damian. "A
Kalila tersentak, terkejut mendengar suara bariton milik Damian. Wanita itu langsung menoleh, dan tak tahu harus berbicara apa. Karena memang Damian menegurnya secara langsung, untungnya dia tidak membahas apa pun setelah ini."Ayo duduk, ini sebentar lagi matang."Damian menuntun Kalila duduk di kursi, menunggu koki memasak daging untuk mereka. Pria itu menyandarkan punggungnya, memperhatikan gerak-gerik Kalila yang tampak antusias menunggu daging selesai dipanggang. Sisa aroma udara dingin kantor dan kepalanya yang sempat tegang akibat laporan keuangan mendadak menguap begitu saja, digantikan oleh aroma daging panggang dan wangi harum dari wanita di sampingnya."Kau terlihat senang sekali malam ini," gumam Damian, matanya memperhatikan bagaimana mata Kalila tak lepas dari potongan Wagyu A5 yang sedang dibolak-balik oleh Koki Thomas di atas panggangan."Tentu saja senang! Dagingnya terlihat enak sekali, dan di rumah sebesar ini... rasanya aneh kalau tidak memanfaatkan taman seluas
Mata Damian menyipit menatap lembaran kertas yang terhampar di atas meja kerjanya. Ruang kerja lantai teratas gedung Lazuardi Group miliknya terasa begitu dingin, ditunjang oleh pemandangan malam kota yang berkilat di balik dinding kaca tebal. Namun, fokus pria itu sama sekali tidak tertuju pada keindahan gemerlap kota.Di hadapannya, laporan keuangan terakhir menunjukkan kejanggalan yang terstruktur rapi. Ada selisih angka yang disamarkan dengan sangat halus—langkah taktis dari orang dalam yang mencoba bermain-main di area kekuasaannya."Siapa yang memegang otorisasi transaksi ini?" suara Damian terdengar rendah, memecah hening dengan ketenangan yang justru mematikan.Di depan meja, manajer keuangan utama dan dua staf senior berdiri dengan tubuh kaku. Keringat dingin jelas meluncur di pelipis sang manajer. Aura menindas yang dipancarkan Damian bukan jenis aura gertakan—pria itu memegang kendali penuh atas hidup dan karier mereka dalam satu jentikan jari."K-kami sedang menelusuri







