LOGINCharlie membaca pesan yang dikirimkan oleh Alexa hanya diam, mengatasi seolah ini hal lelucon dari tunangannya untuk menarik perhatian darinya. Charlie tidak ambil pusing, bahkan tak menjawab pesan tersebut. Ia akan menemui wanita itu, dan menegaskan tidak bermain – main dengannya.
Tak lama Hans kembali ke ruangan Charlie, mengatakan jika diluar ada Ethan dan Amelia. Orangtuanya datang, “Suruh mereka masuk.”
Ethan dengan raut wajah datar, bahkan menatap dingin putranya langsung. Sementara Amelia, tidak ikut masuk justru menuju tempat karyawan bekerja. Ia ingin melihat langsung apa yang dikatakan oleh Alexa benar. Kenyataannya memang begitu, mereka bekerja dengan pakaian cukup ketat. Bahkan tidak seharusnya ada di perusahaan besar dengan pakaian tidak sopan itu.
“Ada apa dad? Tidak biasanya kau datang ke sini,” tanya Charlie ikut duduk di depan sofa Ethan.
“Tunggu mommy mu datang,” ucapnya sambil menatap ponsel sendiri.
Tak lama Amelia datang, ia langsung duduk dekt suaminya. Seketika ruangan semakin dingin dan tegang dengan kehadiran mereka berdua.
“Alexa membatalkan pertunangan ini, Rowan sendiri yang meminta dan menuruti keinginan Alexa. Daddy tidak habis pikir, apa yang kau pikirkan tentang Alexa, Charlie? Dia gadis baik dan ceria kau sungguh keterlaluan selama ini dengan dia.”
Charlie diam, ia masih mendengarkan semua yang dikatakan oleh mereka. “Dia hanya bercanda, dad. Percaya denganku. Usaha dia meminta pertunangan ini tidak mudah. Aku yakin, dia tidak akan gampang memutuskan begitu saja.”
Charlie masih menyangkal dan tidak percaya dengan ucapan mereka. Alexa memutuskan pertunagan? Sesuatu yang mustahil, yakin saja pasti dia sedang mencari perhatian dengannya.
“Daddy serius, lagipula…bukankah daddy ingin tanyakan denganmu. Kau yakin tidak merasa tertarik dengan Alexa?” tanya nya serius bahkan melihat mata Charlie tidak bisa bohong sedikitpun.
“Kau diam? Artinya kau tertarik, buang keras kepala dan egomu yang keras itu Charlie. Atau kau akan kehilangan dia.”
“Ayo mom, kita pulang. Biarkan Charlie menyelesaikan masalahnya sendiri. Daddy sudah mengatakan langsung jika Rowan memutuskan hubungan ini. Ayo kembali,” ajak Ethan dengan istrinya. Bahkan Amelia ingin membuka suara tidak diberikan waktu olehnya.
“Charlie, bujuk dan bicara dengan Alexa. Mommy sangat menyayangkan jika kalian membatalkan hubungan ini. Kau tahu…, mommy sangat sayang dengannya. Mommy pulang,” Amelia segera menyusul suaminya yang keluar lebih dulu menyisahkan dirinya sendiri.
“Ah satu lagi, buat surat peringatan untuk yang kerja disini pakai baju yang layak dan sopan. Kau mengerti maksud mommy, Charlie.”
Charlie diam, ia langsung mengambil kunci mobil untuk menemui Alexa. Sementara Alexa sendiri tersenyum kecil setelah mendengar penjelasan Mommy Shopia ibunya sendiri. Ia masih dalam suasana kesal dan sedih, “Percaya dengan mommy…, kalau Charlie menyukaimu sayang.”
“Aku tidak bisa mempercayai itu mom, karena aku tidak melihat dan merasakan apa yang selama ini Charlie berikan.”
“Istirahatlah, kembali ke kamarmu.”
Alexa berjalan ke kamarnya, ia langsung membersihkan diri dan membiarkan rambutnya masih basah begitu saja. Tanpa menyisir dan mengeringkan ia menuju tempat tidur. Merebahkan dirinya sendiri, kepalanya mulai berpikir keras.
Kenapa Charlie tidak menyukainya?
Kapan ia merasa dicintai?
“Sialan. Awas aja wanita itu, jika Charlie masih memberikan kesempatan kerja…, aku akan balas dia!” sorot emosi dan kekesalan masih terasa di diri Alexa.
*
Charlie datang, membawa hadiah dan bunga. Sebagai tanda permohonan maaf, atau hal biasa yang Shopia lihat. Ia tidak mungkin menolak kedatangan pria muda itu, “Maaf bibi…, aku ingin bicara dengan Alexa. Ada salah paham yang perlu aku jelaskan ke dia, dan sejujurnya pekerjaanku sangat banyak. Namun, aku tinggalkan untuk menemuinya.”
Shopia diam, sejujurnya ada perasaan kesal dan tak rela melihat Charlie saat mendengar penjelasan putrinya tadi.
“Maaf Charlie sebelumnya, Alexa bilang…, dia akan memutuskan pertunangan kalian. Sejujurnya bibi kaget dan sedih mendengar ceritanya, tapi…kalau kau butuh waktu bicara. Dia ada di kamar, masuklah.”
“Terimakasih bibi.”
Membuka pintu kamar Alexa, melihatnya tertidur. Hal yang membuat Charlie menahan nafas ketika pemandangan wanita itu. Baju seksi rambut berantakan bahkan masih basah. Charlie meletakkan hadiah dan bunga di sofa kamar, ia hanya menatap datar Alexa yang tidur dengan posisi tidak nyaman.
“Kenapa kau selalu mengacaukan hidupku Alexa? Bisa tidak, sehari tidak membuat ulah? Dan sekarang…, kau membuat kekacauan di perusahaan, setelah itu kau memutuskan sesuatu yang besar tanpa persetujuan dariku?”
Charlie menatapnya kembali, tangannya terulur mengusap rambut basah Alexa. Yakin jika tidur hingga esok hari dalam kondisi ini, akan kembali sakit seperti kemarin. Menghilangkan ego dan gengsi, Charlie membangunkan Alexa perlahan.
“Alexa… bangun, jangan tidur dalam rambut basah. Kau bisa sakit,” kata Charlie pelan membangunkan Alexa.
“Alexa…”
Alexa yang terusik, ia membuka mata. Charlie ada di depan matanya langsung. Apa ini mimpi? Seharian memikirkan Charlie, sampai tidur pun ia berharap ada Charlie didepannya. Sungguh gila, rasa cinta dan obsesi ingin memiliki Charlie besar sampai berhalusinasi seperti orang gila.
“Kau tidak bermimpi, ini aku.” Charlie kembali bersuara membuat Alexa terbangun langsung.
“Untuk apa ke sini?” Sebisa mungkin ia menahan diri agar tidak terlihat murahan di depan mata Charlie.
“Kita sudah putuskan pertunangan, jadi kau bebas dariku. Aku percaya dan yakin, di luar sana ada pria tampan dan jauh lebih kaya darimu. Dan aku akan mendapatkan itu, aku sudah mengatakan ke mommy dan daddy tentang pemutusan pertunangan ini.”
Alexa bicara serius, bahkan rasa ngantuk yang semula tiba-tiba menjadi segar. Ia tidak akan mengemis cinta dengan Charlie. Harusnya Charlie yang mengemis dengannya, ia cukup dipermalukan tadi didepan orang-orang. Sekarang, kesempatan untuk Charlie ia tidak berikan.
“Kau mengancamku karena masalah di kantor?” Tatapan Charlie kembali tajam menatap mata Alexa.
“Cih… untuk apa aku mengancammu? Tidak ada gunanya, lagipula… aku sudah bicara dengan daddy. Sekarang kau bisa pergi dan bebas, kita tidak ada–”
Belum selesai bicara, Alexa sudah di serang dengan ciuman kasar dan dalam dari Charlie bahkan ia yang biasanya semangat membalas ciuman itu dengan sekuat tenaga Alexa tidak membalasnya. Hanya diam, bahkan Charlie tersenyum kecil seolah tau jika wanitanya sengaja diam.
Cup.
Bahkan Charlie mencium lehernya, hingga satu kata lolos dari bibir Alexa.
“Ahhhhh, Charlie…”
Ini gila, harusnya Alexa masih kesal dan marah. Sayang sekali, ciuman panas dan manis ini membuatnya hilang akal dan pikiran.
“Hmpttttt…Ahhhh jangan!” kata Alexa saat Charlie mulai mengusap pelan pinggangnya membuat seluruh tubuhnya merinding dan bergetar sekaligus.
“Kau bilang jangan, tapi tidak dengan tubuhmu yang selalu menerimanya, sayang.” Charlie kembali mencium, memberikan hukuman paling lama hingga bibir wanita itu memerah dan bengkak karena ulahnya sendiri.
Alexa yang kehabisan oksigen dan kesulitan bernafas mendorong kuat tubuh Charlie sayangnya tidak bisa karena tangannya dipegang kuat membuatnya semakin gelisah.
“Kau ingin aku menggempur mu? Mau aku lakukan sekarang hemmm?”
BAB 10Charlie menatap tajam Alexa, gadis itu selalu membuat dirinya pusing. Sayangnya, Charlie tidak bisa melepaskan Alexa sedikitpun. “Kenapa kau hancurkan? Mereka tidak salah, kau yang salah Char.”Saat Charlie ingin menjawab, makanan mereka datang. Alexa mulai membayangkan jika Charlie akan meninggalkan dia sendirian di sini. Namun, Charlie lebih dulu mengambil piring Alexa, ia memotongkan daging kecil - kecil membuat dirinya semakin mengerutkan kening. Bingung, karena dia tidak pernah melakukan ini. Kecuali di depan orang tua mereka, itupun Alexa yang meminta. Tapi sekarang? Charlie melakukan sendiri, tanpa ia minta.“Makanlah, jangan banyak bicara.”“Kenapa masih di sini?” tanya Alexa menatap datar Charlie. Pria itu melihat sisi lain Alexa, yang biasanya manja, banyak tingkah, cerewet. Kini dia benar-benar tenang dan diam, justru Charlie tidak tenang dan nyaman melihat dia berubah. “Kau yang berubah, bukan aku!” jawab Charlie terus terang mulai memasukkan makanan ke dalam
BAB 9“Ikut denganku, kau selalu membuat ulah. Pekerjaan jadi molor, dan terlambat.”Alexa tersenyum manis, bahkan ia tak menyangka akan bertemu dengan Calvin. Akhirnya ia merebut semua tas belanjaan dari Liam. Lebih baik ia sendiri, daripada disalahkan, dicibir oleh Charlie yang tidak perasaan itu. “Aku mau lanjut belanja, aku sibuk.”Akhirnya Alexa meninggalkan Charlie begitu saja, sikap mereka menarik banyak pengunjung salah satu gosip miring muncul. Apa hubungannya mereka mulai renggang? Apa mereka sedang bertengkar? Dan banyak bisikan tajam yang mampu didengar oleh Alexa dan Charlie sendiri. “Liam, kau urus kerjaan dari ini. Aku harus mengatasi gadis nakal itu sebentar, aku percaya denganmu. Selesaikan hari ini.”Charlie mengejar Alexa, bahkan ia merebut tas belanjaan milik wanita itu. Charlie yang membawanya sendiri, Alexa ingin mengendus kesal. “Makan siang denganku, aku temani.”Deg! Alexa berhenti, apa Charlie lupa minum obat? Atau apa? Tidak seperti biasanya. “Aku tid
BAB 8Deg!Alexa berhenti, apa Charlie lupa minum obat? Atau apa? Tidak seperti biasanya.“Aku tidak lapar, aku ingin segera pulang!” tolak Alexa ia sudah cukup malas dan lelah jika Charlie mengajak makan bersama. Hanya dirinya yang makan, dan Charlie sibuk dengan ponsel bahkan bicara pekerjaan dengan Liam.Lebih baik, ia pulang. Makan di mansion, bahkan tidak ada bedanya karena dia tetap makan sendirian.“Aku belum makan siang Lexa, aku lapar. Temani aku makan, ayo!” Charlie membawa tas belanjaan di tangan satunya, dan tangan sebelah menarik tangan Alexa mencari restoran yang cukup sepi.Ini perhatian pertama Charlie, apa harus pisah untuk pemutusan pertunangan baru Alexa akan merasakan hal bahagia seperti ini?Alexa hanya menatap datar Calvin, bahkan sudah bisa dilihat jika laki-laki itu sedang menahan amarah melihat dirinya bersama seorang pria.
BAB 8Deg!Alexa berhenti, apa Charlie lupa minum obat? Atau apa? Tidak seperti biasanya.“Aku tidak lapar, aku ingin segera pulang!” tolak Alexa ia sudah cukup malas dan lelah jika Charlie mengajak makan bersama. Hanya dirinya yang makan, dan Charlie sibuk dengan ponsel bahkan bicara pekerjaan dengan Liam.Lebih baik, ia pulang. Makan di mansion, bahkan tidak ada bedanya karena dia tetap makan sendirian.“Aku belum makan siang Lexa, aku lapar. Temani aku makan, ayo!” Charlie membawa tas belanjaan di tangan satunya, dan tangan sebelah menarik tangan Alexa mencari restoran yang cukup sepi.Ini perhatian pertama Charlie, apa harus pisah untuk pemutusan pertunangan baru Alexa akan merasakan hal bahagia seperti ini?Alexa hanya menatap datar Calvin, bahkan sudah bisa dilihat jika laki-laki itu sedang menahan amarah melihat dirinya bersama seorang pria.
BAB 7\Bab 7Alexa hanya menatap datar Calvin, bahkan sudah bisa dilihat jika laki-laki itu sedang menahan amarah melihat dirinya bersama seorang pria. “Tuan Calvin…,” gumam pelan Dean membuat Alexa menoleh. Hampir saja lupa, jika Calvin banyak dikenal masyarakat. Dean langsung menatap Alexa, meminta tolong kalau sebenarnya hari ini mereka tidak sengaja bertemu dan mengajaknya jalan - jalan. “Al, itu bukannya Tuan Calvin?” tanya Dean melihat mereka menghampiri dirinya. “Iya, calon suamiku. Kenapa?” tanya Alexa biasa saja membuat Dean menoleh kembali. “Dia bahkan melihat kita, raut wajahnya marah denganku. Tolong aku, Al.”“Enggak, kau pria. Harusnya kau bisa urus sendiri, lagi pula… , gak masalah kok kalau kita jalan.” Alexa tersenyum lebar, tak lama langkah Calvin semakin dekat justru ia menarik dirinya untuk merangkul Dean. Pria itu merasa salah tingkah, dan berdebar - debar melihat Alexa menempel dengannya. Namun, ia takut jika ini akan menjadi masalah utama dengan Calvin.
Bab 6“Mommy beneran gak tahu, Charlie pulang jam berapa?” tanya Alexa terus mendesak pertanyaan dengan orang tuanya. “Mommy serius sayang, setelah dia pamit ke atas. Mommy langsung ke kamar, mungkin dia pulang tanpa pamit, bisa jadi begitu kan dad?” tanya Mommy Shopia benar-benar tidak tahu kapan Charlie kembali pulang. Sedangkan Daddy Rowan hanya tersenyum kecil, ia sudah melihat rekaman CCTV jika Charlie tidur semalaman. Namun, ia merasa tenang karena yakin jika Charlie tidak akan macam - macam. Justru kalau ada hal sesuatu yang terjadi ia lebih mencurigai putrinya sendiri. “Harusnya mommy dan daddy tahu, kapan Charlie pulang. Aku tidur, dan aku masih kesal dengan dia.”“Kenapa lagi? Bukankah ini yang kau mau, melihat Charlie terus mengejarmu?” tanya Daddy Rowan membuat semakin menggerutu. “Iya, aku ingin melihat Charlie benar-benar sayang dan cinta denganku Dad. Semalam dia sudah membicarakan ini, jika memutuskan pertunangan secara tiba-tiba aku tidak dewasa. Bahkan bisa memp







