LOGIN“Mommy beneran gak tahu, Charlie pulang jam berapa?” tanya Alexa terus mendesak pertanyaan dengan orang tuanya.
“Mommy serius sayang, setelah dia pamit ke atas. Mommy langsung ke kamar, mungkin dia pulang tanpa pamit, bisa jadi begitu kan dad?” tanya Mommy Shopia benar-benar tidak tahu kapan Charlie kembali pulang.
Sedangkan Daddy Rowan hanya tersenyum kecil, ia sudah melihat rekaman CCTV jika Charlie tidur semalaman. Namun, ia merasa tenang karena yakin jika Charlie tidak akan macam - macam. Justru kalau ada hal sesuatu yang terjadi ia lebih mencurigai putrinya sendiri.
“Harusnya mommy dan daddy tahu, kapan Charlie pulang. Aku tidur, dan aku masih kesal dengan dia.”
“Kenapa lagi? Bukankah ini yang kau mau, melihat Charlie terus mengejarmu?” tanya Daddy Rowan membuat semakin menggerutu.
“Iya, aku ingin melihat Charlie benar-benar sayang dan cinta denganku Dad. Semalam dia sudah membicarakan ini, jika memutuskan pertunangan secara tiba-tiba aku tidak dewasa. Bahkan bisa mempengaruhi publik yang gencar dengan dugaan tidak benar.”
Alexa menatap wajah Rowan, hanya dia laki - laki yang baik dan sayang dengan dia. Bagi Alexa kadang berpikir, jika mommy nya sangat beruntung memiliki seorang suami seperti Rowan dan daddy untuknya.
“Jangan lakukan apapun, bagaimana kalau kamu ikut ke perusahaan daddy?” tanya Rowan membujuk putrinya untuk bersenang-senang hari ini.
“Tidak mau, aku ingin sendiri dulu. Lagian, Mommy juga sibuk dan justru aku akan kesepian. Aku ingin di mansion saja,” ujar Alexa ingin berdiam di kamarnya.
Baik Rowan dan Eliza sama - sama saling memandang. “Sayang, apa Charlie sangat berarti di hidupmu?” tanya Daddy Rowan membuat putrinya menatap penuh tanda tanya.
“Apa maksud daddy? Tentu saja dia sangat berarti di hidupku Dad, bahkan saat pertunangan lalu aku begitu bahagia. Daddy tahu sendiri bukan? Ya walaupun aku sadar jika Charlie melakukan ini semua karena dipaksa oleh Daddy Ethan.”
Mommy Shopia yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara, “Mommy yakin jika Charlie mencintaimu sayang. Percaya dengan mommy, dia selalu melakukan yang terbaik untukmu.”
“Mommy gak ngerti, dia melakukan itu semua saat aku marah dan ngambek mom.”
“Baiklah, mommy tidak banyak bicara lagi. Sepertinya putri mommy butuh waktu sendiri ya?” kata Mommy Shopia langsung disetujui oleh Alexa.
“Iya mom, aku ke kamar dulu ya.”
Setelah kepergian putrinya, Mommy Shopia merasa Alexa hari ini berbeda. Tidak cerewet seperti biasanya, ada sesuatu yang disembunyikan.
“Dia terlihat berbeda, nanti kita bicara dengan Alexa lagi. Ayo berangkat sayang, sudah hampir terlambat kita.”
Alexa masuk ke kamar, masih pagi. Ia melihat dress pakaian yang belum pernah dia pakai. Jika selama ini Alexa selalu memakai baju seksi dan pendek untuk menarik Charlie. Dan selama ini juga usahanya tidak pernah dilihat oleh laki-laki itu. Akhirnya Alexa mengambil dress selutut. Tidak terbuka, justru sangat anggun dan feminim.
“Ini baju siapa yang beli ya? Lupa, tidak mungkin Charlie. Pasti Hans yang memilih, bodo amatlah.”
Selesai berganti pakaian, ia menatap peralatan makeupnya. Alexa merasa malas harus memakai makeup full dan tebal, ia memilih menggunakan makeup tipis justru membuat dirinya semakin cantik dan terlihat seperti remaja sekolah.
“Ini lah yang aku tidak sukai, aku seperti anak sekolah huh…,”
Alexa memakai heels ukuran sedang, ia ingin mengubah penampilan yang nyaman. Jika selama ini selalu tampil cantik, bersinar, bahkan melakukan sesuatu yang membuat Charlie meliriknya. Ia hanya memakai dengan sesuatu yang nyaman.
Anehnya, Alexa tidak percaya diri.
Dia malu, dan dia merasa bukan tipe seperti ini yang orang lain lihat. “Aku aneh, tapi… aku malas memakai makeup.”
“Hm, hari ini aku ingin belanja mungkin? Ah benar, setidaknya stressku berkurang.”
Sementara Charlie yang baru saja keluar dari perusahaan, ingin menuju ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Didampingi Hans, dan beberapa orang kepercayaan untuk meninjau keamanan dan kelancaran acara.
“Tuan, kita sudah tiba.”
“Ayo,” ajak Charlie langsung menuju ke atas, namun langkahnya terhenti seketika. Bukan hanya Charlie tapi semuanya ikut terdiam. Tatapannya melihat Alexa sedang tertawa dengan seorang laki-laki, bahkan Charlie bisa tahu jika laki-laki memiliki rasa kagum dengan tunangannya.
“Al, gimana kalau makan siang sekarang aja? Aku ada urusan setelah ini,” ujar laki-laki yang menemani Alexa hampir seharian ini.
Alexa menimbang tawaran itu, sejujurnya dia sudah lelah keliling belanja tapi dia lapar, “Baiklah ayo, aku ingin makan–”
Belum selesai menjawab ucapannya, matanya tak sengaja melihat Charlie sedang menatapnya tajam. Senyuman kecil Alexa langsung muncul, “Ayo, aku juga lapar. Aduh…, ini berat banget. Kau bisa sekalian bawa gak?” tanya Alexa.
“Bisa dong, sini aku bawakan. Ayo kita cari restoran yang sepi.”
“Alexa!” suara lantang Charlie menggelegar seluruh ruangan membuat gadis itu ikut terdiam.
“Apa lagi sih diam, jangan bilang cemburu lihat aku sama laki-laki lain?”
BAB 10Charlie menatap tajam Alexa, gadis itu selalu membuat dirinya pusing. Sayangnya, Charlie tidak bisa melepaskan Alexa sedikitpun. “Kenapa kau hancurkan? Mereka tidak salah, kau yang salah Char.”Saat Charlie ingin menjawab, makanan mereka datang. Alexa mulai membayangkan jika Charlie akan meninggalkan dia sendirian di sini. Namun, Charlie lebih dulu mengambil piring Alexa, ia memotongkan daging kecil - kecil membuat dirinya semakin mengerutkan kening. Bingung, karena dia tidak pernah melakukan ini. Kecuali di depan orang tua mereka, itupun Alexa yang meminta. Tapi sekarang? Charlie melakukan sendiri, tanpa ia minta.“Makanlah, jangan banyak bicara.”“Kenapa masih di sini?” tanya Alexa menatap datar Charlie. Pria itu melihat sisi lain Alexa, yang biasanya manja, banyak tingkah, cerewet. Kini dia benar-benar tenang dan diam, justru Charlie tidak tenang dan nyaman melihat dia berubah. “Kau yang berubah, bukan aku!” jawab Charlie terus terang mulai memasukkan makanan ke dalam
BAB 9“Ikut denganku, kau selalu membuat ulah. Pekerjaan jadi molor, dan terlambat.”Alexa tersenyum manis, bahkan ia tak menyangka akan bertemu dengan Calvin. Akhirnya ia merebut semua tas belanjaan dari Liam. Lebih baik ia sendiri, daripada disalahkan, dicibir oleh Charlie yang tidak perasaan itu. “Aku mau lanjut belanja, aku sibuk.”Akhirnya Alexa meninggalkan Charlie begitu saja, sikap mereka menarik banyak pengunjung salah satu gosip miring muncul. Apa hubungannya mereka mulai renggang? Apa mereka sedang bertengkar? Dan banyak bisikan tajam yang mampu didengar oleh Alexa dan Charlie sendiri. “Liam, kau urus kerjaan dari ini. Aku harus mengatasi gadis nakal itu sebentar, aku percaya denganmu. Selesaikan hari ini.”Charlie mengejar Alexa, bahkan ia merebut tas belanjaan milik wanita itu. Charlie yang membawanya sendiri, Alexa ingin mengendus kesal. “Makan siang denganku, aku temani.”Deg! Alexa berhenti, apa Charlie lupa minum obat? Atau apa? Tidak seperti biasanya. “Aku tid
BAB 8Deg!Alexa berhenti, apa Charlie lupa minum obat? Atau apa? Tidak seperti biasanya.“Aku tidak lapar, aku ingin segera pulang!” tolak Alexa ia sudah cukup malas dan lelah jika Charlie mengajak makan bersama. Hanya dirinya yang makan, dan Charlie sibuk dengan ponsel bahkan bicara pekerjaan dengan Liam.Lebih baik, ia pulang. Makan di mansion, bahkan tidak ada bedanya karena dia tetap makan sendirian.“Aku belum makan siang Lexa, aku lapar. Temani aku makan, ayo!” Charlie membawa tas belanjaan di tangan satunya, dan tangan sebelah menarik tangan Alexa mencari restoran yang cukup sepi.Ini perhatian pertama Charlie, apa harus pisah untuk pemutusan pertunangan baru Alexa akan merasakan hal bahagia seperti ini?Alexa hanya menatap datar Calvin, bahkan sudah bisa dilihat jika laki-laki itu sedang menahan amarah melihat dirinya bersama seorang pria.
BAB 8Deg!Alexa berhenti, apa Charlie lupa minum obat? Atau apa? Tidak seperti biasanya.“Aku tidak lapar, aku ingin segera pulang!” tolak Alexa ia sudah cukup malas dan lelah jika Charlie mengajak makan bersama. Hanya dirinya yang makan, dan Charlie sibuk dengan ponsel bahkan bicara pekerjaan dengan Liam.Lebih baik, ia pulang. Makan di mansion, bahkan tidak ada bedanya karena dia tetap makan sendirian.“Aku belum makan siang Lexa, aku lapar. Temani aku makan, ayo!” Charlie membawa tas belanjaan di tangan satunya, dan tangan sebelah menarik tangan Alexa mencari restoran yang cukup sepi.Ini perhatian pertama Charlie, apa harus pisah untuk pemutusan pertunangan baru Alexa akan merasakan hal bahagia seperti ini?Alexa hanya menatap datar Calvin, bahkan sudah bisa dilihat jika laki-laki itu sedang menahan amarah melihat dirinya bersama seorang pria.
BAB 7\Bab 7Alexa hanya menatap datar Calvin, bahkan sudah bisa dilihat jika laki-laki itu sedang menahan amarah melihat dirinya bersama seorang pria. “Tuan Calvin…,” gumam pelan Dean membuat Alexa menoleh. Hampir saja lupa, jika Calvin banyak dikenal masyarakat. Dean langsung menatap Alexa, meminta tolong kalau sebenarnya hari ini mereka tidak sengaja bertemu dan mengajaknya jalan - jalan. “Al, itu bukannya Tuan Calvin?” tanya Dean melihat mereka menghampiri dirinya. “Iya, calon suamiku. Kenapa?” tanya Alexa biasa saja membuat Dean menoleh kembali. “Dia bahkan melihat kita, raut wajahnya marah denganku. Tolong aku, Al.”“Enggak, kau pria. Harusnya kau bisa urus sendiri, lagi pula… , gak masalah kok kalau kita jalan.” Alexa tersenyum lebar, tak lama langkah Calvin semakin dekat justru ia menarik dirinya untuk merangkul Dean. Pria itu merasa salah tingkah, dan berdebar - debar melihat Alexa menempel dengannya. Namun, ia takut jika ini akan menjadi masalah utama dengan Calvin.
Bab 6“Mommy beneran gak tahu, Charlie pulang jam berapa?” tanya Alexa terus mendesak pertanyaan dengan orang tuanya. “Mommy serius sayang, setelah dia pamit ke atas. Mommy langsung ke kamar, mungkin dia pulang tanpa pamit, bisa jadi begitu kan dad?” tanya Mommy Shopia benar-benar tidak tahu kapan Charlie kembali pulang. Sedangkan Daddy Rowan hanya tersenyum kecil, ia sudah melihat rekaman CCTV jika Charlie tidur semalaman. Namun, ia merasa tenang karena yakin jika Charlie tidak akan macam - macam. Justru kalau ada hal sesuatu yang terjadi ia lebih mencurigai putrinya sendiri. “Harusnya mommy dan daddy tahu, kapan Charlie pulang. Aku tidur, dan aku masih kesal dengan dia.”“Kenapa lagi? Bukankah ini yang kau mau, melihat Charlie terus mengejarmu?” tanya Daddy Rowan membuat semakin menggerutu. “Iya, aku ingin melihat Charlie benar-benar sayang dan cinta denganku Dad. Semalam dia sudah membicarakan ini, jika memutuskan pertunangan secara tiba-tiba aku tidak dewasa. Bahkan bisa memp







