Mag-log inJadi benar. Ia bukan Elyssia.
Kael melangkah maju. Hanya satu langkah, namun cukup untuk membuat bayangannya menelan Elora sepenuhnya. Wanita itu tidak mundur, namun napasnya tertahan sepersekian detik. Terlalu singkat untuk disebut takut, terlalu jelas untuk diabaikan. Kael mencatatnya. "Kau tahu apa arti kebohongan ini?" tanyanya pelan. Elora menelan ludah. "Aku tahu apa yang dipertaruhkan." "Tidak," bantah Kael dingin. "Kau tidak tahu." Jika ia mau, Kael bisa mengakhiri semuanya malam ini. Satu perintah, satu keputusan dingin, dan keluarga Avelyne akan runtuh seperti bangunan rapuh yang disapu badai. Nama mereka dihapus dari catatan bangsawan. Kehormatan mereka dilenyapkan tanpa sisa. Namun, sesuatu menahannya. Bukan belas kasihan. Bukan pula keraguan. Melainkan insting seorang jenderal. Insting yang telah lama belajar membedakan dalang dan pion. Wanita di hadapannya ini bukan perencana. Terlalu lurus dalam keteguhannya. Terlalu siap menerima konsekuensi. Tidak ada kilat licik di matanya, hanya kelelahan yang ditahan dan keberanian yang dipaksakan. Ia adalah umpan. "Kau akan tinggal di istana," lanjut Kael. "Kau akan menjalani peranmu sebagai Duchess Draven. Di depan publik, kau istriku. Di balik pintu tertutup, kau tidak melakukan apa pun tanpa izinku." Elora mengangguk perlahan. "Aku mengerti." Kael menatapnya tajam, mencari kepanikan, air mata, atau kepalsuan. Namun yang ia temukan hanyalah keteguhan sunyi. Keteguhan seseorang yang tahu dirinya berdiri di tepi jurang, tapi memilih tetap tegak. Itu tidak biasa. Hari-hari berikutnya, Kael mengamati Elora dari kejauhan. Di jamuan istana, ia melihat bagaimana para bangsawan menilai setiap geraknya. Mata mereka tajam seperti pisau yang menunggu celah. Elora tersenyum saat perlu, menunduk saat dituntut, dan berbicara seperlunya. Tidak cemerlang. Namun juga tidak ceroboh. Ia bertahan dan entah mengapa, itu membuat Kael gelisah. *** Laporan datang pada suatu malam yang dingin. Mata-mata Kael berdiri tegak, wajahnya serius. "Dewan Istana sudah mencium kejanggalan," katanya. "Mereka curiga tentang pengantin pengganti." Kael menghela napas pelan. "Apa keputusan mereka?" "Belum diumumkan, tapi satu nama mulai disebut sebagai solusi." Kael menoleh tajam. "Siapa?" "Elora Avelyne." Udara seakan membeku. Kael tahu bagaimana Dewan Istana bekerja. Stabilitas adalah berhala mereka. Jika keseimbangan kerajaan terancam, mereka tidak akan ragu mengorbankan siapa pun—terlebih seorang Duchess yang tidak seharusnya berada di sana, dengan darah yang nilai politiknya belum sepenuhnya terbaca. Malam itu, Kael berdiri di balkon kamarnya, menatap istana Valerion yang diterangi obor. Untuk pertama kalinya sejak ia mengangkat sumpah sebagai Jenderal Agung, Kael merasakan sesuatu yang tidak pernah ia beri nama. Kemarahan. Bukan pada pengkhianatan, melainkan pada sistem yang siap menelan orang tidak bersalah demi ketertiban semu. Di kejauhan, lonceng istana berdentang pelan. Elora berdiri di balik tirai kamarnya, menatap halaman istana yang lengang. Obor-obor masih menyala, namun kehangatannya tidak pernah benar-benar mencapai tempatnya berdiri. Sejak melangkah masuk ke istana Valerion, ia tahu satu hal. Setiap langkahnya diawasi, setiap napasnya dinilai. Ia meremas ujung gaunnya. Ia bukan Elyssia dan kebenaran itu seperti pisau yang menggantung tepat di atas kepalanya. Elora teringat malam ketika kakaknya pergi. Tidak ada penjelasan panjang, tidak ada air mata. Hanya satu kalimat singkat. Jika aku tinggal, aku akan mati dengan caraku sendiri. Sejak saat itu, kehormatan keluarga menjadi beban yang jatuh ke bahunya. Bahu yang tidak pernah dilatih untuk memikul politik, intrik, dan darah bangsawan. Ia tahu Dewan Istana bukan sekadar dewan. Mereka algojo berwajah terhormat. Jika ia gagal memainkan peran ini, yang hilang bukan hanya nyawanya tetapi seluruh nama Avelyne. Langkah kaki terdengar di lorong. Elora menegang, lalu menenangkan diri sebelum pelayan membuka pintu. Ia kembali mengenakan wajah Duchess—tenang, patuh, tak terbaca. Namun jauh di dalam dadanya, sebuah sumpah lahir diam-diam. Jika aku harus menjadi umpan, maka aku akan memilih bagaimana kail itu melukai. Elora mengangkat dagunya. Ia mungkin bukan wanita yang dipersiapkan untuk istana. Namun, ia tidak akan menyerah menjadi korban. Kael tahu, pernikahan ini baru permulaan. Dan ketika ia akhirnya mengakui satu kebenaran yang tidak ingin ia terima, bahwa ia tidak ingin Elora menjadi korban. Kael Draven mengerti ia sedang melangkah menuju pilihan yang bisa menghancurkan segalanya. Ia belum jatuh cinta. Namun, ia telah memilih untuk melindungi dan di istana Valerion, itu adalah bentuk pengkhianatan paling berbahaya.Aula besar di Istana Valerion belum benar-benar pulih dari kekacauan yang terjadi beberapa saat sebelumnya. Anak panah yang ditembakkan dari balkon masih tergeletak di atas lantai batu, menjadi pengingat bahwa musuh tidak hanya berada di luar tembok istana—tetapi mungkin juga di dalamnya. Obor-obor kembali dinyalakan di sepanjang dinding aula. Cahaya mereka bergoyang tertiup angin malam yang masuk dari pintu besar yang setengah terbuka.Di tengah ruangan, para bangsawan berdiri dalam kelompok kecil, saling berbisik dengan wajah tegang. Di depan tangga singgasana, tiga sosok berdiri dengan jarak yang cukup jauh satu sama lain. Elora Avelyne berdiri tegak dengan ekspresi tenang, meski matanya terus mengawasi setiap gerakan di ruangan itu. Tidak jauh darinya, Aethran Valerion berdiri dengan sikap kaku. Tatapannya sesekali melirik potret besar Lady Mirela yang masih terpajang di tengah aula. Di sisi lain, Adrian Valerion tampak jauh lebih santai. Ia bersandar pada salah satu pi
Aula kerajaan di Istana Valerion masih diselimuti ketegangan setelah potret besar itu dibuka. Potret Lady Mirela berdiri tegak di tengah ruangan, diterangi cahaya obor yang bergetar. Wajah wanita itu terlihat tenang, bahkan hampir tersenyum—seolah tidak peduli bahwa kemunculannya kembali telah mengguncang seluruh kerajaan. Namun perhatian semua orang kini tidak hanya tertuju pada Mirela. Melainkan pada pria yang berdiri di sampingnya dalam lukisan itu. Seorang panglima kerajaan yang telah lama menghilang.Kael Draven berdiri beberapa langkah dari potret itu, menatapnya dengan mata tajam. “Pedang itu,” gumamnya pelan. Di sampingnya, Cassren Vale menyipitkan mata. “Kau mengenalinya?” Kael mengangguk sedikit. “Lambang di gagang pedangnya adalah lambang komando penjaga istana dua puluh tahun lalu.” Cassren menghembuskan napas perlahan. “Itu berarti dia memimpin penjagaan saat malam kelahiran bayi Ratu Isolde.” Bisikan langsung memenuhi au
Aula kerajaan di Istana Valerion belum sempat kembali tenang sejak kematian Lord Vareon Halbrecht. Tubuh bangsawan tua itu telah dibawa keluar oleh para penjaga, namun bayangan kematiannya masih terasa berat di udara. Empat pewaris masih berdiri di depan tangga singgasana. Elora Avelyne berdiri dengan tangan saling menggenggam untuk menahan kegelisahan. Di sampingnya, Aethran Valerion terlihat semakin tidak sabar. Sedikit di belakang, Rhevan masih menjaga sikap seperti seorang prajurit. Sementara di tengah aula, Adrian Valerion memperhatikan semuanya dengan ketenangan yang sulit ditebak.Di tangan Kael Draven, panah hitam milik pasukan bayangan masih berkilau di bawah cahaya obor. “Pasukan rahasia kerajaan,” gumam Kael. Cassren Vale berdiri di sampingnya. “Pasukan itu seharusnya sudah lama dibubarkan.” Kael menggeleng pelan. “Tidak.” Ia menatap ujung panah itu sekali lagi. “Pasukan seperti itu tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya… menunggu perin
Tubuh Lord Vareon Halbrecht masih terbaring di lantai marmer aula kerajaan Istana Valerion. Darahnya perlahan merambat di antara celah batu putih, membentuk garis merah yang menakutkan di tengah ruangan yang sebelumnya menjadi tempat perdebatan takhta. Tidak ada yang berbicara. Para bangsawan berdiri kaku. Beberapa di antara mereka bahkan tidak berani mendekati tubuh Halbrecht.Sementara di tangga singgasana, empat orang yang kini menjadi pusat nasib kerajaan masih berdiri di tempat mereka. Elora Avelyne menatap tubuh Halbrecht dengan wajah pucat. Di sampingnya, Aethran Valerion terlihat tegang, rahangnya mengeras. Sedikit di belakang mereka, Rhevan berdiri tanpa bergerak. Dan di tengah aula— Adrian Valerion memperhatikan semuanya dengan tatapan tenang yang membuat beberapa bangsawan merasa tidak nyaman.Keheningan itu akhirnya pecah. “Cari pemanahnya!” Suara Cassren Vale menggema keras di aula. Beberapa penjaga langsung berlari menuju jendela besar tempa
Aula kerajaan di Istana Valerion tidak lagi terasa seperti tempat kekuasaan. Tempat itu kini seperti medan perang tanpa pedang. Empat orang berdiri di depan tangga singgasana. Empat nama yang tiba-tiba menjadi pusat masa depan kerajaan.Elora Avelyne berdiri dengan punggung tegak, meski jantungnya masih berdetak keras. Di sampingnya, Aethran Valerion menatap lurus ke arah pria yang baru saja mengklaim takhta. Sedikit di belakang mereka, Rhevan berdiri kaku, tangannya masih menggenggam gagang pedang. Dan di tengah aula— Adrian Valerion berdiri dengan tenang. Seolah kehadirannya di istana bukan sesuatu yang mustahil.Bisikan para bangsawan mulai terdengar di seluruh ruangan. “Empat pewaris…” “Ini gila…”“Kerajaan tidak akan bertahan…” Beberapa bangsawan bahkan sudah mulai bergerak mendekati orang yang mereka anggap paling menguntungkan. Situasi mulai terasa seperti bara yang siap meledak.Di depan tangga singgasana, Cas
Cassren menyipitkan mata. Ia merasa wajah itu familiar. Namun sebelum ia sempat mengingat— pria itu berhenti di tengah aula. Tatapannya menyapu ruangan perlahan. Kemudian berhenti pada tiga orang di tangga singgasana.Elora merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. Tatapan pria itu terasa seperti seseorang yang sedang menilai mangsanya. “Menarik,” katanya pelan. Suaranya tenang, namun menggema jelas di aula yang sunyi. “Jadi rumor itu benar.” Ia menunjuk ke arah tangga singgasana. “Tiga pewaris berdiri di satu ruangan.”Aethran tersenyum tipis. “Rumor apa pun yang kau dengar, kau datang ke tempat yang salah.” Pria itu memandangnya dengan tatapan penuh arti. “Aku rasa tidak.” Beberapa penjaga bergerak maju. Cassren mengangkat tangan. “Berhenti di situ.” Pedangnya terangkat. “Siapa kau?”Pria itu tidak langsung menjawab. Sebaliknya ia memandang beberapa bangsawan yang berdiri di sisi aula. Tatapannya berhenti pada salah satu dari mer







