Share

I3. Umpan Dalam Istana

Author: Cheezyweeze
last update Last Updated: 2026-01-13 22:27:19

Jadi benar. Ia bukan Elyssia.

Kael melangkah maju. Hanya satu langkah, namun cukup untuk membuat bayangannya menelan Elora sepenuhnya. Wanita itu tidak mundur, namun napasnya tertahan sepersekian detik.

Terlalu singkat untuk disebut takut, terlalu jelas untuk diabaikan. Kael mencatatnya.

"Kau tahu apa arti kebohongan ini?" tanyanya pelan.

Elora menelan ludah. "Aku tahu apa yang dipertaruhkan."

"Tidak," bantah Kael dingin. "Kau tidak tahu."

Jika ia mau, Kael bisa mengakhiri semuanya malam ini. Satu perintah, satu keputusan dingin, dan keluarga Avelyne akan runtuh seperti bangunan rapuh yang disapu badai. Nama mereka dihapus dari catatan bangsawan. Kehormatan mereka dilenyapkan tanpa sisa.

Namun, sesuatu menahannya.

Bukan belas kasihan. Bukan pula keraguan. Melainkan insting seorang jenderal. Insting yang telah lama belajar membedakan dalang dan pion.

Wanita di hadapannya ini bukan perencana. Terlalu lurus dalam keteguhannya. Terlalu siap menerima konsekuensi. Tidak ada kilat licik di matanya, hanya kelelahan yang ditahan dan keberanian yang dipaksakan. Ia adalah umpan.

"Kau akan tinggal di istana," lanjut Kael. "Kau akan menjalani peranmu sebagai Duchess Draven. Di depan publik, kau istriku. Di balik pintu tertutup, kau tidak melakukan apa pun tanpa izinku."

Elora mengangguk perlahan. "Aku mengerti."

Kael menatapnya tajam, mencari kepanikan, air mata, atau kepalsuan. Namun yang ia temukan hanyalah keteguhan sunyi. Keteguhan seseorang yang tahu dirinya berdiri di tepi jurang, tapi memilih tetap tegak. Itu tidak biasa.

Hari-hari berikutnya, Kael mengamati Elora dari kejauhan. Di jamuan istana, ia melihat bagaimana para bangsawan menilai setiap geraknya. Mata mereka tajam seperti pisau yang menunggu celah. Elora tersenyum saat perlu, menunduk saat dituntut, dan berbicara seperlunya.

Tidak cemerlang. Namun juga tidak ceroboh. Ia bertahan dan entah mengapa, itu membuat Kael gelisah.

***

Laporan datang pada suatu malam yang dingin. Mata-mata Kael berdiri tegak, wajahnya serius.

"Dewan Istana sudah mencium kejanggalan," katanya. "Mereka curiga tentang pengantin pengganti."

Kael menghela napas pelan. "Apa keputusan mereka?"

"Belum diumumkan, tapi satu nama mulai disebut sebagai solusi."

Kael menoleh tajam. "Siapa?"

"Elora Avelyne."

Udara seakan membeku. Kael tahu bagaimana Dewan Istana bekerja. Stabilitas adalah berhala mereka. Jika keseimbangan kerajaan terancam, mereka tidak akan ragu mengorbankan siapa pun—terlebih seorang Duchess yang tidak seharusnya berada di sana, dengan darah yang nilai politiknya belum sepenuhnya terbaca.

Malam itu, Kael berdiri di balkon kamarnya, menatap istana Valerion yang diterangi obor. Untuk pertama kalinya sejak ia mengangkat sumpah sebagai Jenderal Agung, Kael merasakan sesuatu yang tidak pernah ia beri nama. Kemarahan. Bukan pada pengkhianatan, melainkan pada sistem yang siap menelan orang tidak bersalah demi ketertiban semu.

Di kejauhan, lonceng istana berdentang pelan. Elora berdiri di balik tirai kamarnya, menatap halaman istana yang lengang. Obor-obor masih menyala, namun kehangatannya tidak pernah benar-benar mencapai tempatnya berdiri. Sejak melangkah masuk ke istana Valerion, ia tahu satu hal. Setiap langkahnya diawasi, setiap napasnya dinilai.

Ia meremas ujung gaunnya. Ia bukan Elyssia dan kebenaran itu seperti pisau yang menggantung tepat di atas kepalanya.

Elora teringat malam ketika kakaknya pergi. Tidak ada penjelasan panjang, tidak ada air mata. Hanya satu kalimat singkat. Jika aku tinggal, aku akan mati dengan caraku sendiri. Sejak saat itu, kehormatan keluarga menjadi beban yang jatuh ke bahunya. Bahu yang tidak pernah dilatih untuk memikul politik, intrik, dan darah bangsawan.

Ia tahu Dewan Istana bukan sekadar dewan. Mereka algojo berwajah terhormat. Jika ia gagal memainkan peran ini, yang hilang bukan hanya nyawanya tetapi seluruh nama Avelyne.

Langkah kaki terdengar di lorong. Elora menegang, lalu menenangkan diri sebelum pelayan membuka pintu. Ia kembali mengenakan wajah Duchess—tenang, patuh, tak terbaca.

Namun jauh di dalam dadanya, sebuah sumpah lahir diam-diam. Jika aku harus menjadi umpan, maka aku akan memilih bagaimana kail itu melukai.

Elora mengangkat dagunya. Ia mungkin bukan wanita yang dipersiapkan untuk istana. Namun, ia tidak akan menyerah menjadi korban.

Kael tahu, pernikahan ini baru permulaan. Dan ketika ia akhirnya mengakui satu kebenaran yang tidak ingin ia terima, bahwa ia tidak ingin Elora menjadi korban. Kael Draven mengerti ia sedang melangkah menuju pilihan yang bisa menghancurkan segalanya.

Ia belum jatuh cinta. Namun, ia telah memilih untuk melindungi dan di istana Valerion, itu adalah bentuk pengkhianatan paling berbahaya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I8. Sidang Kehormatan

    Aula Sidang Kehormatan dipenuhi cahaya pucat dari jendela-jendela tinggi. Pilar batu menjulang seperti saksi bisu, sementara bangku-bangku bangsawan terisi penuh. Tidak ada bisikan berlebihan hanya ketegangan yang menggantung. Elora melangkah masuk dengan kepala tegak. Gaun sederhana berwarna gading membungkus tubuhnya, tanpa perhiasan berlebihan. Ia tidak datang untuk memamerkan status. Ia datang untuk bertahan dan menyerang. Kael berdiri di sisi aula, tidak diizinkan duduk di lingkar sidang. Tatapannya terkunci pada Elora, rahangnya mengeras. Ia tahu ini medan yang tidak bisa ia lindungi dengan pedang. Di singgasana sidang, Lady Miravel duduk anggun. Wajahnya tenang, nyaris lembut. Seolah ia bukan orang yang memanggil sidang ini. Marsekal Kehormatan mengetukkan tongkat peraknya. "Sidang Kehormatan dimulai. Agenda hari ini-legitimasi dan kelayakan Duchess Draven." Beberapa kepala menoleh ke Elora. Tajam. Menilai. "Lady Miravel," lanjut Marsekal. "Sebagai saksi utama, silakan."

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I7. Bahasa Istana

    Pengawalan dimulai sejak matahari belum sepenuhnya naik. Elora melangkah keluar dari kamar dengan dua ksatria berdiri di kiri dan kanannya. Baju istana berwarna pucat yang dikenakannya tampak anggun, tapi berat di bahunya. Bukan karena kainnya, melainkan karena makna di baliknya.Ia tidak lagi hanya istri seorang jenderal.Ia adalah sasaran bergerak.Kael berjalan beberapa langkah di depan, jubah hitamnya berkibar pelan. Sejak surat ancaman itu ditemukan, sikapnya berubah-lebih tajam dan lebih waspada. Ia tidak lagi berpura-pura menjaga jarak."Mulai hari ini," ucap Kael tanpa menoleh, "kau tidak bergerak tanpa pengawal. Bahkan di dalam istana."Elora mengangguk. "Aku mengerti.""Kau tidak bertanya?" Kael meliriknya singkat."Apa gunanya bertanya," jawab Elora pelan, "jika jawabannya hanya satu-aku harus bertahan."Kael menatapnya lebih lama kali ini. Tidak ada ejekan. Hanya penilaian ulang.Mereka memasuki aula kecil tempat para wanita bangsawan biasanya berkumpul. Mereka tidak tahu

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I6. Etika yang Menikam

    Istana Valerion tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya berganti wajah dari cahaya emas menjadi bisikan gelap. Lady Miravel berdiri di depan jendela tinggi paviliunnya, memandangi halaman dalam yang masih diselimuti kabut pagi. Gaun gelapnya menjuntai anggun, kontras dengan senyum tipis yang terukir di bibirnya. Di tangannya, secangkir teh nyaris tak disentuh."Jadi ... dia mulai dilindungi." Suara itu datang dari belakang-pelan dengan hati-hati.Miravel tidak menoleh. "Bukan mulai," ujarnya lembut. "Dia sudah menjadi pusat perhatian di istana."Seorang bangsawan pria melangkah mendekat. "Jenderal Draven menolak beberapa agenda Dewan sejak pernikahan itu."Miravel akhirnya tersenyum. "Bagus.""Bagus ...?" Pria itu ragu."Artinya ia bertindak dengan emosi," jawab Miravel tenang. "Dan laki-laki yang bertindak dengan emosi selalu bisa diarahkan."Ia mengangkat cangkirnya, menyesap pelan. "Sekarang, kita hanya perlu memastikan Dewan Militer melihat istrinya bukan sebagai penguatan, mela

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I5. Bayangan di Balik Tirai Istana

    Elora berdiri di balik tirai jendela kamar istana, menatap halaman dalam yang mulai ramai oleh pelayan dan ksatria. Semua terlihat normal bahkan terlalu normal.Ia tahu, ketenangan ini palsu. Sejak pernikahannya dengan Kael Draven diumumkan secara resmi di hadapan Dewan Militer dan Bangsawan, gerak istana berubah. Tatapan yang dulu sekadar penasaran kini berubah menjadi perhitungan. Setiap langkahnya diukur. Setiap napasnya dinilai.Ia tidak lagi hanya Elora. Ia adalah istri Jenderal Perang.Ketukan di pintu terdengar pelan namun tegas. "Masuk," ucap Elora.Pintu terbuka dan seorang pelayan wanita masuk dengan kepala tertunduk. "Nyonya, Jenderal Draven memerintahkan agar Anda bersiap. Akan ada jamuan kecil di aula wanita bangsawan."Jamuan kecil. Elora menahan senyum pahit. Tidak ada jamuan yang kecil di istana."Apa Jenderal akan hadir?" tanyanya.Pelayan itu menggeleng. "Beliau dipanggil Dewan Militer pagi ini."Elora mengangguk. "Terima kasih."Saat pelayan itu pergi, Elora menarik

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I4. Ujian Seorang Istri

    Pagi datang tanpa kehangatan. Elora duduk tegak di kursi makan panjang yang menghadap taman dalam, dikelilingi pilar batu dan tirai sutra merah tua. Jamuan pagi itu seharusnya sederhana—roti hangat, buah, dan teh kerajaan. Namun, suasananya jauh dari santai.Terlalu banyak mata yang mengamati. Para bangsawan wanita duduk berderet, senyum mereka tipis dan penuh perhitungan. Di ujung meja, Kael Draven duduk tenang, posturnya tegap, wajahnya dingin seperti biasanya. Ia tidak berbicara padanya sejak pagi. Seolah mereka orang asing."Elora Avelyne."Suara itu datang dari seberang meja. Lady Miravel, wanita bangsawan yang dikenal dekat dengan istana. Tersenyum ramah dan keramahan yang tidak bisa dibaca oleh siapapun."Sebagai istri jenderal perang," lanjutnya, "tentu kau paham betapa pentingnya etika istana."Elora mengangguk pelan. "Aku akan berusaha sebaik mungkin.""Berusaha?" Lady Miravel terkekeh. "Atau kau memang tidak dibekali cukup?"Beberapa tawa kecil terdengar. Elora merasakan te

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I3. Umpan Dalam Istana

    Jadi benar. Ia bukan Elyssia.Kael melangkah maju. Hanya satu langkah, namun cukup untuk membuat bayangannya menelan Elora sepenuhnya. Wanita itu tidak mundur, namun napasnya tertahan sepersekian detik. Terlalu singkat untuk disebut takut, terlalu jelas untuk diabaikan. Kael mencatatnya."Kau tahu apa arti kebohongan ini?" tanyanya pelan.Elora menelan ludah. "Aku tahu apa yang dipertaruhkan.""Tidak," bantah Kael dingin. "Kau tidak tahu."Jika ia mau, Kael bisa mengakhiri semuanya malam ini. Satu perintah, satu keputusan dingin, dan keluarga Avelyne akan runtuh seperti bangunan rapuh yang disapu badai. Nama mereka dihapus dari catatan bangsawan. Kehormatan mereka dilenyapkan tanpa sisa.Namun, sesuatu menahannya.Bukan belas kasihan. Bukan pula keraguan. Melainkan insting seorang jenderal. Insting yang telah lama belajar membedakan dalang dan pion.Wanita di hadapannya ini bukan perencana. Terlalu lurus dalam keteguhannya. Terlalu siap menerima konsekuensi. Tidak ada kilat licik di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status