LOGINPagi datang tanpa kehangatan. Elora duduk tegak di kursi makan panjang yang menghadap taman dalam, dikelilingi pilar batu dan tirai sutra merah tua. Jamuan pagi itu seharusnya sederhana—roti hangat, buah, dan teh kerajaan. Namun, suasananya jauh dari santai.
Terlalu banyak mata yang mengamati. Para bangsawan wanita duduk berderet, senyum mereka tipis dan penuh perhitungan. Di ujung meja, Kael Draven duduk tenang, posturnya tegap, wajahnya dingin seperti biasanya. Ia tidak berbicara padanya sejak pagi. Seolah mereka orang asing. "Elora Avelyne." Suara itu datang dari seberang meja. Lady Miravel, wanita bangsawan yang dikenal dekat dengan istana. Tersenyum ramah dan keramahan yang tidak bisa dibaca oleh siapapun. "Sebagai istri jenderal perang," lanjutnya, "tentu kau paham betapa pentingnya etika istana." Elora mengangguk pelan. "Aku akan berusaha sebaik mungkin." "Berusaha?" Lady Miravel terkekeh. "Atau kau memang tidak dibekali cukup?" Beberapa tawa kecil terdengar. Elora merasakan telapak tangannya berkeringat. Ia bisa merasakan tatapan Kael—bukan menolong, tapi mengawasi. Seperti sedang menilai apakah ia akan runtuh atau bertahan. Tanpa disuruh, seorang pelayan melangkah mendekat, menuangkan teh ke cangkir Elora. Aroma herbalnya samar, hampir tertutup oleh wangi bunga. "Elora." Lady Miravel berkata lagi, "kenapa kau tidak memimpin doa pagi? Sebagai nyonya rumah pastinya selalu memberikan kesan terbaik untuk para tamunya." Itu bukan permintaan. Elora tahu, satu kesalahan kecil akan dicatat. Ia bangkit, menarik napas, lalu mengucapkan doa singkat sesuai adat. Suaranya tenang, meski jantungnya berdegup keras. Saat ia duduk kembali, matanya menangkap sesuatu. Pelayan yang menuangkan teh … bukan pelayan yang sama seperti tadi dan cairan di cangkirnya berkilau sedikit berbeda. Elora teringat kata-kata Kael malam tadi. "Mereka akan mengujimu." Tangannya berhenti sebelum menyentuh cangkir. Lady Miravel memperhatikannya. "Kenapa tidak diminum? Teh itu pilihan khusus dari dapur istana." Semua mata tertuju padanya. Elora mengangkat cangkir itu perlahan, mendekatkannya ke bibir, lalu berhenti. "Aku belum terbiasa minum teh tanpa madu," katanya lembut. "Bolehkah aku memintanya?" Hening. Lady Miravel tersenyum tipis. "Tentu saja. Pelayan?" panggilnya dengan suara tinggi, tapi sedikit ditekan. Pelayan yang sama kembali, wajahnya sedikit pucat, menuangkan madu ke dalam cangkir Elora. Cairan teh berubah warna, lebih keruh. Kael akhirnya bergerak. Ia berdiri. Suara kursinya ditarik membuat semua orang terdiam. "Cukup," ucap Kael dingin. "Istriku tidak perlu membuktikan apa pun di meja ini." Lady Miravel tersenyum sopan. "Kami hanya ingin memastikan keselamatannya." Kael menatap pelayan itu tajam. "Ganti cangkirnya." Pelayan terkejut. "Tu-Tuan?" "Sekarang!" titah Kael Draven. Perintah dari Kael tidak ada yang berani menentang. Cangkir Elora diambil. Diganti dengan yang baru. Beberapa bangsawan saling pandang. Kael duduk kembali, lalu menoleh pada Elora untuk pertama kalinya pagi itu. Tatapannya tajam, namun ada sesuatu di sana. Pengakuan diam-diam. Jamuan berakhir dengan cepat. Saat para bangsawan pergi, Kael berdiri di samping Elora. "Kau melakukan hal yang benar." Elora mengangkat wajahnya. "Teh itu .…" "Diracuni ringan. Ada racun di dalam teh itu dan untungnya kau sangat peka," jawab Kael datar. "Tidak mematikan, tapi cukup untuk membuatmu sakit dan terlihat lemah." Elora menggigil. "Ini baru permulaan," lanjut Kael. "Mereka ingin tahu seberapa lama kau bisa bertahan." Sebelum Elora sempat menjawab, seorang pengawal berlari mendekat, wajahnya tegang. "Tuan Jenderal," katanya tergesa. "Kami menemukan sesuatu di kamar Nyonya." Kael langsung menegang. "Apa?" "Sebuah surat. Diselipkan di balik tirai." Elora menahan napas saat pengawal menyerahkan surat itu. Setelah itu sang pengawal pergi dari sana. Kael membukanya. Wajahnya mengeras. "Baca," katanya, menyerahkan surat itu pada Elora. Tulisan tangan itu tajam, tidak dikenal. Kau lolos hari ini, tapi bukan besok. Jika ingin hidup, katakan pada suamimu, kami tahu tentang ibunya. Tangan Elora gemetar. Ia menatap Kael, napasnya tercekat. "Tu-tuan Kael … ini?" Masih sama seperti pertama. Walaupun sudah diajari juga, ia belum bisa menerapkan. Mungkin karena belum terbiasa. Kael menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras. "Sepertinya," ucapnya pelan, "mereka mulai kehilangan kesabaran." Dan untuk pertama kalinya, Elora melihat sesuatu yang berbahaya di mata suaminya—niat untuk melawan balik.Musim telah berganti. Salju tipis yang dulu menutup halaman Istana Valerion kini telah mencair, digantikan oleh rerumputan muda yang perlahan tumbuh di antara batu-batu tua. Udara pagi terasa lebih hangat, meski sisa dingin masih sesekali menyusup bersama angin. Kerajaan itu masih berdiri. Namun tidak lagi sama. Rhevan berdiri di balkon tinggi yang menghadap ke halaman utama. Di bawah sana, para prajurit berlatih. Gerakan mereka rapi. Disiplin. Namun jika diperhatikan lebih dalam ada sesuatu yang berbeda. Mereka tidak lagi bertarung untuk kekuasaan. Mereka bertarung untuk bertahan. "Pasukan barat sudah kembali." Suara Elora terdengar dari belakang. Tenang seperti biasa. Rhevan tidak langsung menoleh. "Korban?" "Lebih sedikit dari yang kita perkirakan." Jeda. "Namun masih ada." Rhevan mengangguk pelan. Tidak ada kemenangan tanpa kehilangan. Ia sudah belajar itu. Dengan cara yang paling kejam. "Ada laporan lain?" tanyanya. Elora melangkah mendekat. Kini berdiri di sampingny
Aula utama Istana Valerion telah berubah. Pilar-pilar retak. Lantai marmer ternodai darah. Singgasana di ujung ruangan berdiri utuh namun sunyi. Tidak ada penjaga. Tidak ada bangsawan. Hanya lima orang. Kael. Elvaris. Rhevan. Aethran. Dan Elora. Angin dingin menyusup dari jendela yang pecah. Membawa bau logam. Dan akhir dari segalanya. Kael melangkah maju. Setiap langkahnya mantap. Tanpa ragu. Pedangnya terangkat. Namun bukan lagi sebagai pengawal. Melainkan sebagai seseorang yang akhirnya memilih. “Ini berakhir di sini.” Sunyi. Elvaris berdiri di hadapannya. Bayangan menyelimuti sebagian wajahnya. Namun matanya tetap sama. Dalam. Dingin. Tak tergoyahkan. “Seharusnya sejak awal,” jawabnya pelan. Ia melangkah maju. “Namun mereka memilih untuk memperpanjang penderitaan ini.” “Ti
Pedang mereka berhenti. Hanya beberapa inci dari leher masing-masing. Napas berat terdengar di lorong sempit yang dipenuhi bayangan. Darah menetes dari ujung bilah, jatuh satu per satu ke lantai batu yang dingin. Kael dan Elvaris saling menatap. Tidak ada yang mundur. Tidak ada yang menang. Dan untuk pertama kalinya tidak ada yang tahu harus melanjutkan ke mana. “Cukup.” Suara itu memotong. Tenang. Namun tidak bisa diabaikan. Elora. Ia melangkah maju dari ujung lorong. Langkahnya pelan. Namun setiap pijakannya terasa seperti menekan waktu itu sendiri. “Kalau kalian terus bertarung…” Tatapannya menyapu Kael, lalu Elvaris. “kalian hanya akan mengulang kesalahan yang sama.” Sunyi. Pedang masih terangkat. Namun tidak bergerak. Elora berhenti di antara mereka. Dan untuk pertama kalinya ia tidak berdiri sebagai istri dan bukan sebagai bangsawan. Melainkan satu-satunya orang yang mengetahui seluruh kebenaran. “Malam itu…” katanya pelan. Semua menahan napas. “tidak ada yang bena
Lorong dalam istana dipenuhi bau besi dan darah. Api obor yang tersisa berkelip lemah, menciptakan bayangan panjang di dinding batu yang retak. Di kejauhan, suara pertempuran mulai mereda, digantikan oleh sunyi yang lebih menekan. Langkah kaki terdengar. Pelan. Teratur. Kael tidak perlu menoleh. Ia sudah tahu. “Akhirnya…” ucapnya pelan. Langkah itu berhenti beberapa meter di depannya. “Elvaris.” Sunyi. Lalu suara itu menjawab. “Nama yang indah untuk sesuatu yang seharusnya tidak ada.” Kael memutar tubuhnya perlahan. Dan di sanalah ia berdiri. Adrian—tidak, tapi Elvaris. Tanpa senyum kali ini. Tanpa permainan. Hanya tatapan dingin yang dalam, seperti jurang yang tidak memiliki dasar. “Kau datang untuk menyelesaikan ini?” tanya Kael. “Tidak,” jawab Elvaris tenang. Jeda. “Aku datang untuk mengambil kembali apa yang kau pakai tanpa pernah menjadi milikmu.” Udara terasa lebih berat. Kael menggenggam pedangnya lebih erat. “Kalau itu takhta—” “Bukan hanya takhta.” Poto
Darah pertama menetes di lantai aula. Lalu yang kedua. Lalu tidak bisa dihitung lagi. Jeritan menggema di antara pilar yang retak. Api obor bergoyang liar, bayangannya menari seperti iblis yang menertawakan kekacauan. Istana Valerion akhirnya jatuh ke dalam perang. Kael bergerak tanpa ragu. Pedangnya menebas satu pengkhianat, lalu berputar, menahan serangan dari arah samping. Gerakannya cepat. Presisi. Tanpa emosi. Namun matanya tajam. Mengamati. Mencari pola. Dan ia menemukannya. “Ini bukan serangan acak…” gumamnya. “Formasi tiga arah!” teriak Elora dari sisi lain aula. Suaranya tegas. “Lindungi sisi barat—mereka memancing kita ke tengah!” Kael langsung bereaksi. “Rhevan!” “Aku di sini!” Rhevan melompat dari satu bentrokan ke bentrokan lain, darah menodai lengannya. Namun langkahnya tidak goyah. “Ambil sisi kiri. Jangan biarkan mereka memecah barisan!” “Dimengerti!”
Debu masih berjatuhan. Asap memenuhi aula yang retak. Suara batu runtuh, jeritan, dan langkah kaki bercampur menjadi satu kekacauan yang memekakkan telinga. Namun di tengah semua itu waktu terasa melambat. Karena semua orang tahu… ada sesuatu yang lebih penting daripada runtuhnya istana. “E—” Suara itu lemah. Hampir tenggelam. Namun cukup untuk menarik perhatian. Kael menoleh. Rhevan ikut menoleh. Aethran membeku— Mirela. Tubuhnya gemetar. Darah mengalir dari pelipisnya. Namun matanya terkunci pada satu titik kosong. Seolah ia melihat seseorang yang tidak terlihat oleh yang lain. “El…” Napasnya tersendat. “Elvaris…” Sunyi. Nama itu jatuh. Pelan. Namun menghantam lebih keras dari ledakan apa pun. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang berbicara. Seolah dunia berhenti. “Elvaris…” ulang Mirela, suaranya pecah. “Dia… anak itu…” “Elvaris…” Rh
Keheningan itu bertahan terlalu lama. Semua mata tertuju pada satu orang. Kael Draven. Namun bukannya terkejut— ia justru tertawa pelan. Pendek dan dingin. “Salah orang!” Bisikan langsung pecah di seluruh aula. Marcell Dorne membeku, wajah tuanya memucat. “Yang Mulia, aku—”
Malam menyelimuti Istana Valerion dengan keheningan yang menyesakkan. Namun di balik dinding batu yang tampak tenang itu, ketegangan justru semakin menebal. Di ruang pribadinya, Aethran Valerion berdiri membelakangi jendela. Tangannya mengepal kuat. Pengakuan Lady Mirela masih terngiang di kepala
Malam turun tanpa bintang. Rhevan berdiri di lorong belakang aula Dewan, wajahnya tenang seperti biasa. Namun pesan yang ia terima beberapa saat lalu membuat udara terasa lebih berat. Seseorang ingin bertemu dengannya. Diam-diam. Di ruang pertemuan kecil yang hanya diterangi satu lilin, dua sosok
Langit Valerion mulai gelap ketika kereta tanpa lambang memasuki gerbang samping istana. Tidak ada terompet penyambutan. Tidak ada pengawal tambahan. Hanya tiga sosok yang turun dengan wajah setenang mungkin.Kael berjalan lebih dulu, jubah hitamnya menyapu lantai batu. Di belakangnya, Elora dan Rh







