LOGINKamar pengantin itu terlalu besar untuk disebut hangat. Api di perapian menyala rendah, memantulkan bayangan panjang di dinding batu. Tirai merah gelap bergoyang pelan tertiup angin malam, membawa aroma dupa istana yang menyengat, bukan wangi bunga, melainkan bau kekuasaan.
Elora berdiri kaku di dekat ranjang, jemarinya mencengkeram kain gaunnya sendiri. Mahkota pengantin telah dilepas, rambutnya terurai sederhana. Seharusnya malam ini menjadi awal hidup baru-begitu kata semua orang. Namun, yang Elora rasakan hanyalah ancaman. Pintu kamar terbuka. Kael Draven masuk tanpa suara berlebihan, langkahnya mantap seperti saat ia memasuki medan perang. Jubah jenderalnya dilepaskan dan diletakkan di kursi, memperlihatkan pakaian hitam sederhana yang biasa dikenakannya saat tidak berada di hadapan istana. Ia tidak menatap Elora. Ia menutup pintu. Kunci berputar. Suara itu membuat jantung Elora berdegup keras. "Tenang," ucap Kael datar, membelakanginya. "Tidak akan ada yang terjadi malam ini." Elora membeku. Bukan karena lega, melainkan karena cara Kael mengatakannya terdengar seperti perintah, bukan janji. Kael berbalik. Tatapannya jatuh pada Elora, menilai, mengukur, seperti seorang prajurit menilai medan sebelum bertempur. "Kau tahu kenapa kamar ini dijaga dua lapis?" tanyanya. Elora menggeleng pelan. "Bukan untuk melindungimu." Kael melangkah mendekat. "Tapi untuk memastikan kau tidak pergi." Dada Elora menegang. "Aku tidak berniat kabur." "Aku tahu," jawab Kael cepat. "Kalau kau ingin kabur, kau sudah melakukannya sebelum berdiri di altar." Kalimat itu menghantam lebih keras dari tuduhan. Kael berhenti hanya satu langkah darinya. Cukup dekat untuk membuat Elora bisa merasakan hawa dingin dari tubuh pria itu. "Dengarkan baik-baik," ucap Kael rendah. "Mulai malam ini, kau adalah istriku di mata kerajaan. Setiap langkahmu diperhatikan. Setiap kata bisa menjadi senjata." Elora menelan ludah. "Lalu ... apa yang harus kulakukan?" "Bertahan hidup." Keheningan jatuh di antara mereka. Elora menguatkan diri. "Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kakakku. Aku dipaksa-" "Aku tahu," potong Kael. Elora tersentak. "Tu-tuan tahu?" "Cukup untuk menyadari bahwa kau bukan bagian dari rencana ini," jawab Kael dingin. "Tapi jangan salah-itu tidak membuatmu aman." Ia melangkah menjauh, menuju meja kecil di dekat jendela. Sebilah belati perak tergeletak di sana, berkilau diterpa cahaya api. Kael mengambilnya dan menyelipkan ke sarung kecil di balik ikat pinggangnya. "Mulai besok," katanya, "akan ada orang yang mencoba mengujimu. Dayang, Bangsawan atau bahkan pendeta." "Menguji ... apa?" "Apakah kau cukup lemah untuk dijadikan sandera." Elora merasakan tenggorokannya mengering. Kael menoleh lagi. "Satu kesalahan kecil, dan istana akan menyimpulkan bahwa mengorbankanmu lebih mudah daripada mengendalikan aku." Jantung Elora berdegup keras. "Lalu ... Tuan akan membiarkan itu terjadi?" Untuk pertama kalinya, ekspresi Kael berubah-bukan lembut, bukan marah, melainkan lelah. "Aku tidak membiarkan apa pun," ujarnya pelan. "Aku hanya belum tahu siapa musuhku." Ia melangkah menuju pintu kecil di sisi kamar. Pintu menuju ruang jaga. "Aku akan tidur di ruang sebelah," kata Kael. "Itu cukup untuk meyakinkan istana." Elora menatap punggungnya. "Kenapa Tuan membantuku?" Kael berhenti sejenak. "Karena jika kau mati," ucapnya tanpa menoleh, "Aku kehilangan satu-satunya bukti bahwa pernikahan ini adalah kebohongan." Pintu itu terbuka. Namun, sebelum Kael benar-benar keluar, terdengar ketukan pelan dari pintu utama kamar. Tiga ketukan. Teratur. Kael langsung menegang. Tangannya bergerak ke gagang pedang. "Siapa?" tanyanya. "Utusan istana," jawab suara pria dari balik pintu. "Ada pesan mendesak ... untuk Nyonya Draven." Elora membeku. Kael menoleh padanya. Tatapannya tajam, penuh peringatan. "Jangan bicara," bisiknya. "Apa pun yang terjadi." Kael membuka pintu sedikit. Seorang pelayan berpakaian hitam menyerahkan sepucuk surat bersegel lambang kerajaan. Kael mengambilnya, lalu menutup pintu kembali. Ia membuka segel. Wajahnya mengeras. "Apa isinya?" tanya Elora pelan. Kael menatapnya lama sebelum menyerahkan surat itu. Tulisan di dalamnya singkat. -Kami tahu siapa dirimu sebenarnya. Dan kami tahu siapa yang seharusnya berada di tempatmu. Bersiaplah.- Tangan Elora gemetar. Ia menatap Kael dengan napas tertahan. "Tu-tuan ..." suaranya nyaris tak terdengar. Kael menarik napas panjang. "Mulai malam ini," katanya dingin, "kau bukan hanya istriku." Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapannya. "Kau adalah target."Aula besar di Istana Valerion belum benar-benar pulih dari kekacauan yang terjadi beberapa saat sebelumnya. Anak panah yang ditembakkan dari balkon masih tergeletak di atas lantai batu, menjadi pengingat bahwa musuh tidak hanya berada di luar tembok istana—tetapi mungkin juga di dalamnya. Obor-obor kembali dinyalakan di sepanjang dinding aula. Cahaya mereka bergoyang tertiup angin malam yang masuk dari pintu besar yang setengah terbuka.Di tengah ruangan, para bangsawan berdiri dalam kelompok kecil, saling berbisik dengan wajah tegang. Di depan tangga singgasana, tiga sosok berdiri dengan jarak yang cukup jauh satu sama lain. Elora Avelyne berdiri tegak dengan ekspresi tenang, meski matanya terus mengawasi setiap gerakan di ruangan itu. Tidak jauh darinya, Aethran Valerion berdiri dengan sikap kaku. Tatapannya sesekali melirik potret besar Lady Mirela yang masih terpajang di tengah aula. Di sisi lain, Adrian Valerion tampak jauh lebih santai. Ia bersandar pada salah satu pi
Aula kerajaan di Istana Valerion masih diselimuti ketegangan setelah potret besar itu dibuka. Potret Lady Mirela berdiri tegak di tengah ruangan, diterangi cahaya obor yang bergetar. Wajah wanita itu terlihat tenang, bahkan hampir tersenyum—seolah tidak peduli bahwa kemunculannya kembali telah mengguncang seluruh kerajaan. Namun perhatian semua orang kini tidak hanya tertuju pada Mirela. Melainkan pada pria yang berdiri di sampingnya dalam lukisan itu. Seorang panglima kerajaan yang telah lama menghilang.Kael Draven berdiri beberapa langkah dari potret itu, menatapnya dengan mata tajam. “Pedang itu,” gumamnya pelan. Di sampingnya, Cassren Vale menyipitkan mata. “Kau mengenalinya?” Kael mengangguk sedikit. “Lambang di gagang pedangnya adalah lambang komando penjaga istana dua puluh tahun lalu.” Cassren menghembuskan napas perlahan. “Itu berarti dia memimpin penjagaan saat malam kelahiran bayi Ratu Isolde.” Bisikan langsung memenuhi au
Aula kerajaan di Istana Valerion belum sempat kembali tenang sejak kematian Lord Vareon Halbrecht. Tubuh bangsawan tua itu telah dibawa keluar oleh para penjaga, namun bayangan kematiannya masih terasa berat di udara. Empat pewaris masih berdiri di depan tangga singgasana. Elora Avelyne berdiri dengan tangan saling menggenggam untuk menahan kegelisahan. Di sampingnya, Aethran Valerion terlihat semakin tidak sabar. Sedikit di belakang, Rhevan masih menjaga sikap seperti seorang prajurit. Sementara di tengah aula, Adrian Valerion memperhatikan semuanya dengan ketenangan yang sulit ditebak.Di tangan Kael Draven, panah hitam milik pasukan bayangan masih berkilau di bawah cahaya obor. “Pasukan rahasia kerajaan,” gumam Kael. Cassren Vale berdiri di sampingnya. “Pasukan itu seharusnya sudah lama dibubarkan.” Kael menggeleng pelan. “Tidak.” Ia menatap ujung panah itu sekali lagi. “Pasukan seperti itu tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya… menunggu perin
Tubuh Lord Vareon Halbrecht masih terbaring di lantai marmer aula kerajaan Istana Valerion. Darahnya perlahan merambat di antara celah batu putih, membentuk garis merah yang menakutkan di tengah ruangan yang sebelumnya menjadi tempat perdebatan takhta. Tidak ada yang berbicara. Para bangsawan berdiri kaku. Beberapa di antara mereka bahkan tidak berani mendekati tubuh Halbrecht.Sementara di tangga singgasana, empat orang yang kini menjadi pusat nasib kerajaan masih berdiri di tempat mereka. Elora Avelyne menatap tubuh Halbrecht dengan wajah pucat. Di sampingnya, Aethran Valerion terlihat tegang, rahangnya mengeras. Sedikit di belakang mereka, Rhevan berdiri tanpa bergerak. Dan di tengah aula— Adrian Valerion memperhatikan semuanya dengan tatapan tenang yang membuat beberapa bangsawan merasa tidak nyaman.Keheningan itu akhirnya pecah. “Cari pemanahnya!” Suara Cassren Vale menggema keras di aula. Beberapa penjaga langsung berlari menuju jendela besar tempa
Aula kerajaan di Istana Valerion tidak lagi terasa seperti tempat kekuasaan. Tempat itu kini seperti medan perang tanpa pedang. Empat orang berdiri di depan tangga singgasana. Empat nama yang tiba-tiba menjadi pusat masa depan kerajaan.Elora Avelyne berdiri dengan punggung tegak, meski jantungnya masih berdetak keras. Di sampingnya, Aethran Valerion menatap lurus ke arah pria yang baru saja mengklaim takhta. Sedikit di belakang mereka, Rhevan berdiri kaku, tangannya masih menggenggam gagang pedang. Dan di tengah aula— Adrian Valerion berdiri dengan tenang. Seolah kehadirannya di istana bukan sesuatu yang mustahil.Bisikan para bangsawan mulai terdengar di seluruh ruangan. “Empat pewaris…” “Ini gila…”“Kerajaan tidak akan bertahan…” Beberapa bangsawan bahkan sudah mulai bergerak mendekati orang yang mereka anggap paling menguntungkan. Situasi mulai terasa seperti bara yang siap meledak.Di depan tangga singgasana, Cas
Cassren menyipitkan mata. Ia merasa wajah itu familiar. Namun sebelum ia sempat mengingat— pria itu berhenti di tengah aula. Tatapannya menyapu ruangan perlahan. Kemudian berhenti pada tiga orang di tangga singgasana.Elora merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. Tatapan pria itu terasa seperti seseorang yang sedang menilai mangsanya. “Menarik,” katanya pelan. Suaranya tenang, namun menggema jelas di aula yang sunyi. “Jadi rumor itu benar.” Ia menunjuk ke arah tangga singgasana. “Tiga pewaris berdiri di satu ruangan.”Aethran tersenyum tipis. “Rumor apa pun yang kau dengar, kau datang ke tempat yang salah.” Pria itu memandangnya dengan tatapan penuh arti. “Aku rasa tidak.” Beberapa penjaga bergerak maju. Cassren mengangkat tangan. “Berhenti di situ.” Pedangnya terangkat. “Siapa kau?”Pria itu tidak langsung menjawab. Sebaliknya ia memandang beberapa bangsawan yang berdiri di sisi aula. Tatapannya berhenti pada salah satu dari mer







