Share

I2. Kau Adalah Target

Penulis: Cheezyweeze
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-12 16:16:51

Kamar pengantin itu terlalu besar untuk disebut hangat. Api di perapian menyala rendah, memantulkan bayangan panjang di dinding batu. Tirai merah gelap bergoyang pelan tertiup angin malam, membawa aroma dupa istana yang menyengat, bukan wangi bunga, melainkan bau kekuasaan.

Elora berdiri kaku di dekat ranjang, jemarinya mencengkeram kain gaunnya sendiri. Mahkota pengantin telah dilepas, rambutnya terurai sederhana. Seharusnya malam ini menjadi awal hidup baru-begitu kata semua orang.

Namun, yang Elora rasakan hanyalah ancaman.

Pintu kamar terbuka. Kael Draven masuk tanpa suara berlebihan, langkahnya mantap seperti saat ia memasuki medan perang. Jubah jenderalnya dilepaskan dan diletakkan di kursi, memperlihatkan pakaian hitam sederhana yang biasa dikenakannya saat tidak berada di hadapan istana.

Ia tidak menatap Elora. Ia menutup pintu. Kunci berputar. Suara itu membuat jantung Elora berdegup keras.

"Tenang," ucap Kael datar, membelakanginya. "Tidak akan ada yang terjadi malam ini."

Elora membeku. Bukan karena lega, melainkan karena cara Kael mengatakannya terdengar seperti perintah, bukan janji.

Kael berbalik. Tatapannya jatuh pada Elora, menilai, mengukur, seperti seorang prajurit menilai medan sebelum bertempur.

"Kau tahu kenapa kamar ini dijaga dua lapis?" tanyanya. Elora menggeleng pelan. "Bukan untuk melindungimu." Kael melangkah mendekat. "Tapi untuk memastikan kau tidak pergi."

Dada Elora menegang. "Aku tidak berniat kabur."

"Aku tahu," jawab Kael cepat. "Kalau kau ingin kabur, kau sudah melakukannya sebelum berdiri di altar." Kalimat itu menghantam lebih keras dari tuduhan.

Kael berhenti hanya satu langkah darinya. Cukup dekat untuk membuat Elora bisa merasakan hawa dingin dari tubuh pria itu.

"Dengarkan baik-baik," ucap Kael rendah. "Mulai malam ini, kau adalah istriku di mata kerajaan. Setiap langkahmu diperhatikan. Setiap kata bisa menjadi senjata."

Elora menelan ludah. "Lalu ... apa yang harus kulakukan?"

"Bertahan hidup."

Keheningan jatuh di antara mereka. Elora menguatkan diri. "Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kakakku. Aku dipaksa-"

"Aku tahu," potong Kael.

Elora tersentak. "Tu-tuan tahu?"

"Cukup untuk menyadari bahwa kau bukan bagian dari rencana ini," jawab Kael dingin. "Tapi jangan salah-itu tidak membuatmu aman."

Ia melangkah menjauh, menuju meja kecil di dekat jendela. Sebilah belati perak tergeletak di sana, berkilau diterpa cahaya api. Kael mengambilnya dan menyelipkan ke sarung kecil di balik ikat pinggangnya.

"Mulai besok," katanya, "akan ada orang yang mencoba mengujimu. Dayang, Bangsawan atau bahkan pendeta."

"Menguji ... apa?"

"Apakah kau cukup lemah untuk dijadikan sandera."

Elora merasakan tenggorokannya mengering. Kael menoleh lagi. "Satu kesalahan kecil, dan istana akan menyimpulkan bahwa mengorbankanmu lebih mudah daripada mengendalikan aku."

Jantung Elora berdegup keras. "Lalu ... Tuan akan membiarkan itu terjadi?"

Untuk pertama kalinya, ekspresi Kael berubah-bukan lembut, bukan marah, melainkan lelah.

"Aku tidak membiarkan apa pun," ujarnya pelan. "Aku hanya belum tahu siapa musuhku."

Ia melangkah menuju pintu kecil di sisi kamar. Pintu menuju ruang jaga. "Aku akan tidur di ruang sebelah," kata Kael. "Itu cukup untuk meyakinkan istana."

Elora menatap punggungnya. "Kenapa Tuan membantuku?"

Kael berhenti sejenak. "Karena jika kau mati," ucapnya tanpa menoleh, "Aku kehilangan satu-satunya bukti bahwa pernikahan ini adalah kebohongan."

Pintu itu terbuka. Namun, sebelum Kael benar-benar keluar, terdengar ketukan pelan dari pintu utama kamar.

Tiga ketukan. Teratur.

Kael langsung menegang. Tangannya bergerak ke gagang pedang.

"Siapa?" tanyanya.

"Utusan istana," jawab suara pria dari balik pintu. "Ada pesan mendesak ... untuk Nyonya Draven."

Elora membeku.

Kael menoleh padanya. Tatapannya tajam, penuh peringatan. "Jangan bicara," bisiknya. "Apa pun yang terjadi."

Kael membuka pintu sedikit. Seorang pelayan berpakaian hitam menyerahkan sepucuk surat bersegel lambang kerajaan. Kael mengambilnya, lalu menutup pintu kembali. Ia membuka segel. Wajahnya mengeras.

"Apa isinya?" tanya Elora pelan.

Kael menatapnya lama sebelum menyerahkan surat itu. Tulisan di dalamnya singkat.

-Kami tahu siapa dirimu sebenarnya.

Dan kami tahu siapa yang seharusnya berada di tempatmu. Bersiaplah.-

Tangan Elora gemetar. Ia menatap Kael dengan napas tertahan. "Tu-tuan ..." suaranya nyaris tak terdengar.

Kael menarik napas panjang. "Mulai malam ini," katanya dingin, "kau bukan hanya istriku." Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapannya. "Kau adalah target."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I8. Sidang Kehormatan

    Aula Sidang Kehormatan dipenuhi cahaya pucat dari jendela-jendela tinggi. Pilar batu menjulang seperti saksi bisu, sementara bangku-bangku bangsawan terisi penuh. Tidak ada bisikan berlebihan hanya ketegangan yang menggantung. Elora melangkah masuk dengan kepala tegak. Gaun sederhana berwarna gading membungkus tubuhnya, tanpa perhiasan berlebihan. Ia tidak datang untuk memamerkan status. Ia datang untuk bertahan dan menyerang. Kael berdiri di sisi aula, tidak diizinkan duduk di lingkar sidang. Tatapannya terkunci pada Elora, rahangnya mengeras. Ia tahu ini medan yang tidak bisa ia lindungi dengan pedang. Di singgasana sidang, Lady Miravel duduk anggun. Wajahnya tenang, nyaris lembut. Seolah ia bukan orang yang memanggil sidang ini. Marsekal Kehormatan mengetukkan tongkat peraknya. "Sidang Kehormatan dimulai. Agenda hari ini-legitimasi dan kelayakan Duchess Draven." Beberapa kepala menoleh ke Elora. Tajam. Menilai. "Lady Miravel," lanjut Marsekal. "Sebagai saksi utama, silakan."

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I7. Bahasa Istana

    Pengawalan dimulai sejak matahari belum sepenuhnya naik. Elora melangkah keluar dari kamar dengan dua ksatria berdiri di kiri dan kanannya. Baju istana berwarna pucat yang dikenakannya tampak anggun, tapi berat di bahunya. Bukan karena kainnya, melainkan karena makna di baliknya.Ia tidak lagi hanya istri seorang jenderal.Ia adalah sasaran bergerak.Kael berjalan beberapa langkah di depan, jubah hitamnya berkibar pelan. Sejak surat ancaman itu ditemukan, sikapnya berubah-lebih tajam dan lebih waspada. Ia tidak lagi berpura-pura menjaga jarak."Mulai hari ini," ucap Kael tanpa menoleh, "kau tidak bergerak tanpa pengawal. Bahkan di dalam istana."Elora mengangguk. "Aku mengerti.""Kau tidak bertanya?" Kael meliriknya singkat."Apa gunanya bertanya," jawab Elora pelan, "jika jawabannya hanya satu-aku harus bertahan."Kael menatapnya lebih lama kali ini. Tidak ada ejekan. Hanya penilaian ulang.Mereka memasuki aula kecil tempat para wanita bangsawan biasanya berkumpul. Mereka tidak tahu

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I6. Etika yang Menikam

    Istana Valerion tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya berganti wajah dari cahaya emas menjadi bisikan gelap. Lady Miravel berdiri di depan jendela tinggi paviliunnya, memandangi halaman dalam yang masih diselimuti kabut pagi. Gaun gelapnya menjuntai anggun, kontras dengan senyum tipis yang terukir di bibirnya. Di tangannya, secangkir teh nyaris tak disentuh."Jadi ... dia mulai dilindungi." Suara itu datang dari belakang-pelan dengan hati-hati.Miravel tidak menoleh. "Bukan mulai," ujarnya lembut. "Dia sudah menjadi pusat perhatian di istana."Seorang bangsawan pria melangkah mendekat. "Jenderal Draven menolak beberapa agenda Dewan sejak pernikahan itu."Miravel akhirnya tersenyum. "Bagus.""Bagus ...?" Pria itu ragu."Artinya ia bertindak dengan emosi," jawab Miravel tenang. "Dan laki-laki yang bertindak dengan emosi selalu bisa diarahkan."Ia mengangkat cangkirnya, menyesap pelan. "Sekarang, kita hanya perlu memastikan Dewan Militer melihat istrinya bukan sebagai penguatan, mela

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I5. Bayangan di Balik Tirai Istana

    Elora berdiri di balik tirai jendela kamar istana, menatap halaman dalam yang mulai ramai oleh pelayan dan ksatria. Semua terlihat normal bahkan terlalu normal.Ia tahu, ketenangan ini palsu. Sejak pernikahannya dengan Kael Draven diumumkan secara resmi di hadapan Dewan Militer dan Bangsawan, gerak istana berubah. Tatapan yang dulu sekadar penasaran kini berubah menjadi perhitungan. Setiap langkahnya diukur. Setiap napasnya dinilai.Ia tidak lagi hanya Elora. Ia adalah istri Jenderal Perang.Ketukan di pintu terdengar pelan namun tegas. "Masuk," ucap Elora.Pintu terbuka dan seorang pelayan wanita masuk dengan kepala tertunduk. "Nyonya, Jenderal Draven memerintahkan agar Anda bersiap. Akan ada jamuan kecil di aula wanita bangsawan."Jamuan kecil. Elora menahan senyum pahit. Tidak ada jamuan yang kecil di istana."Apa Jenderal akan hadir?" tanyanya.Pelayan itu menggeleng. "Beliau dipanggil Dewan Militer pagi ini."Elora mengangguk. "Terima kasih."Saat pelayan itu pergi, Elora menarik

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I4. Ujian Seorang Istri

    Pagi datang tanpa kehangatan. Elora duduk tegak di kursi makan panjang yang menghadap taman dalam, dikelilingi pilar batu dan tirai sutra merah tua. Jamuan pagi itu seharusnya sederhana—roti hangat, buah, dan teh kerajaan. Namun, suasananya jauh dari santai.Terlalu banyak mata yang mengamati. Para bangsawan wanita duduk berderet, senyum mereka tipis dan penuh perhitungan. Di ujung meja, Kael Draven duduk tenang, posturnya tegap, wajahnya dingin seperti biasanya. Ia tidak berbicara padanya sejak pagi. Seolah mereka orang asing."Elora Avelyne."Suara itu datang dari seberang meja. Lady Miravel, wanita bangsawan yang dikenal dekat dengan istana. Tersenyum ramah dan keramahan yang tidak bisa dibaca oleh siapapun."Sebagai istri jenderal perang," lanjutnya, "tentu kau paham betapa pentingnya etika istana."Elora mengangguk pelan. "Aku akan berusaha sebaik mungkin.""Berusaha?" Lady Miravel terkekeh. "Atau kau memang tidak dibekali cukup?"Beberapa tawa kecil terdengar. Elora merasakan te

  • Istri Palsu Sang Jenderal Perang   I3. Umpan Dalam Istana

    Jadi benar. Ia bukan Elyssia.Kael melangkah maju. Hanya satu langkah, namun cukup untuk membuat bayangannya menelan Elora sepenuhnya. Wanita itu tidak mundur, namun napasnya tertahan sepersekian detik. Terlalu singkat untuk disebut takut, terlalu jelas untuk diabaikan. Kael mencatatnya."Kau tahu apa arti kebohongan ini?" tanyanya pelan.Elora menelan ludah. "Aku tahu apa yang dipertaruhkan.""Tidak," bantah Kael dingin. "Kau tidak tahu."Jika ia mau, Kael bisa mengakhiri semuanya malam ini. Satu perintah, satu keputusan dingin, dan keluarga Avelyne akan runtuh seperti bangunan rapuh yang disapu badai. Nama mereka dihapus dari catatan bangsawan. Kehormatan mereka dilenyapkan tanpa sisa.Namun, sesuatu menahannya.Bukan belas kasihan. Bukan pula keraguan. Melainkan insting seorang jenderal. Insting yang telah lama belajar membedakan dalang dan pion.Wanita di hadapannya ini bukan perencana. Terlalu lurus dalam keteguhannya. Terlalu siap menerima konsekuensi. Tidak ada kilat licik di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status