Mag-log inSuasana di dalam ruang meeting utama lantai lima belas kantor pusat Arkatama Group terasa begitu dingin dan tegang. Pencahayaan dari lampu gantung modern berpadu dengan siluet gedung-gedung pencakar langit di balik dinding kaca besar. Di ujung meja oval berstruktur kayu jati mahal, Bumi duduk tegap memimpin jalannya meeting direksi tahunan.Sebagai Direktur Utama salah satu konglomerasi properti terbesar, pembawaan Bumi begitu dominan. Kemeja putih terpasang sempurna di tubuh tegapnya. Kacamata minusnya memantulkan grafik pada layar proyektor raksasa."Penurunan pendapatan sebesar empat koma dua persen di kuartal ketiga pada divisi perumahan kelas menengah bukan angka yang bisa ditoleransi begitu saja," ujar Bumi dengan suara baritonnya yang tenang, datar, namun sarat penekanan yang membuat para jajaran direksi menahan napas."B-bahwa hal ini dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga acuan dan penundaan proyek tahap dua, Pak..." sahut Manajer Keuangan dengan nada sedikit gemetar, mengusap
"Gak percaya gimana?!" potong Leon cepat, mulutnya masih penuh nasi hangat dan kuah gule. Ia buru-buru menelan makanannya sebelum menatap Risti sengit. "Gue itu kurang gercep apa coba? Udah tiga tahun kita tengkar mulu kayak kucing sama anjing, masa mau gitu terus sampai berubah jadi fosil?!""Ya tapikan aneh, Yon!" sergah Risti mendelik gemas, menunjuk Leon dengan ujung sendoknya. "Masak gue nikah sama lo?!"Maura seketika menyemburkan tawa ngakak sampai harus memegang perut buncitnya. "Kalian beneran pacaran apa gimana sih! Gue nggak bisa ngebayangin kalian malam pertama.""Kita malam pertama main sodok, mereka main remi sayang." cetus Bumi.Sontak, tawa Maura makin pecah mendengar sahutan ceplos suaminya. Risti sampai hampir tersedak es buah, Leon mendadak melotot dengan muka merah padam, tak menyangka kalimat vulgar bernuansa santai itu bisa meluncur mulus dari mulut mantan dosen mereka yang berwibawa.Maura yang masih kegelian langsung mendekatkan wajahnya ke telinga Bumi, berbis
"B-beneran, Pak," jawab Leon cepat, suaranya sedikit mencicit sebelum ia buru-buru berdeham memperbaiki intonasinya. "Kan sesuai saran Bapak waktu itu."Bumi cuma manggut-manggut pelan. Tangan besarnya merapikan mengetuk sofa dengan gerakan yang begitu tenang, menambah aura intimidatif yang tak kasat mata."Bagus," kata Bumi datar. Ia kemudian menyandarkan punggung tegapnya ke sofa, menatap dua manusia di hadapannya dengan raut yang dicoba sebisa mungkin untuk tidak kaku. "Gimana kampus? Masih sibuk ngurusin gosip tentangku kah?"Pertanyaan yang diniatkan Bumi sebagai pembuka percakapan santai itu justru terdengar bak ancaman terselubung di telinga Leon dan Risti. Udara dingin dari AC di ruang tengah terasa makin menusuk tulang."Udah enggak ada, Pak," jawab Risti cepat, mengukir senyum formal yang dipaksakan. "Masih ada tipis-tipis aja yang ngomongin. Tapi enggak penting, cuma angin lalu.""Ehm... yang gantiin aku?" tanya Bumi lagi, memiringkan kepalanya sedikit."Lebih killer, Pak!"
Bumi terkekeh pelan, tawa rendah yang mengalun halus di sudut dapur mereka. Pria itu menyandarkan pinggulnya ke tepi countertop, melipat kedua tangan di dada dengan jemari yang masih agak basah usai mencuci tangan."Bagus kalau takut," sahut Bumi. "Enak aja istri dosen disuruh ngerjain tugas. Berani bayar berapa mereka." lata Bumi."Bayar pun nggak ada gunanya masuk kantong kamu," balas Maura sambil menuangkan sirup vanilla ke dalam mangkuk es buah."Kenapa?" tanya Bumi datar. "Duitmu banyak. Beda lagi kalau masuk kantong aku," cetus Maura tanpa beban."Bukannya duitku, duit kamu juga?" kata Bumi lempeng.Maura seketika menghentikan gerakan sendok sayurnya. Ia menoleh antusias, wajahnya cerah seketika dengan binar mata yang melotot lebar. "Beneran?!" tanya Maura memastikan, takut salah dengar."Iya lah. Emang enggak?" respon Bumi santai, tetap melipat kedua tangannya di dada."Minta dong!" celoteh Maura cepat sambil menjulurkan sebelah tangannya dengan cengiran tanpa dosa."Kemarin
Hari itu sengaja Bumi pulang agak siang, karena keingat istrinya. Baru ja tifa sore, saat mobil Bumi terdengar merapat di garasi rumah. Sedang di dapur, Maura yang sedang sibuk mengupas bawang merah sampai matanya sedikit berair. Derap langkah kaki Bumi hampir tak terdengar. Pria itu menyusup masuk lewat pintu samping yang terhubung langsung dari garasi ke area dapur. Senyumnya langsungvmerekah melihat siluet mungil istrinya yang berdiri membungkuk di depan counter top, sibuk mengiris bawang sambil terisak sesekali.Tanpa bersuara, Bumi mendekat. Saat sampai di belakang sang istri kedua lengan kokohnya melingkar mulus di pinggang Maura, menarik lembut tubuh yang kini makin berisi itu ke dalam dekapannya yang hangat dan kokoh. Tentu istrinya berjingkat. "Apaan!! Ngagetin!!" pekiknya kesal. Meski sedetik kemudian napasnya berembus lega begitu aroma maskulin khas suaminya menyeruak memenuhi indra penciuman. Bumi malah menaruh dagunya di bahu kanan perempuan itu, menyembunyikan wajah
Risti tertawa pelan di seberang telepon, kali ini nadanya melunak dan menyiratkan kejujuran yang hangat."Ya yakinlah, Ra. Kalau nggak suka, ngapain gue buang-buang waktu ngelayanin debat unfaedah dia tiap hari?" gumam Risti, desahan napasnya terdengar pasrah tapi penuh kelegaan. "Gue tahu Leon luar dalam. Keliatannya doang dia ajaib, tengil, sama suka ngasal. Tapi pas gue lagi tumbang, atau pas bisnis online gue lagi seret, cuma dia cowok yang selalu siap berdiri di depan gue tanpa perlu diminta.""Trus gue lo anggep apa?!" sengit Maura."Lo kan cewek,msa mau gue kawinin?!" Risti menghela napas panjang setelah terkekeh, "Dia emang absurd, Ra. Tapi dia jujur, nggak pernah main belakang, dan tanggung jawabnya ke gue tuh nyata. Gue tahu pernikahan itu bukan main-main, makanya gue berani iyain karena gue tahu persis siapa dia.""Gue juga tahu, sayangnya gue udah punya suami.""Belum punya suamipun, gue yakin lo nggak doyyan sama si Leon. Biar gue aja!"Kempret!" umpat Maura. Rasa khawati
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s







