Masuk"Habis dihajar paksu kayaknya, lo ya?!" tebak Risti tiba-tiba. Matanya memicing tajam, senyum jahil mulai terbit tipis di bibirnya.Seperti di tonjok tepat di pipi, wajah gadis itu langsung merona tanpa diminta.Dan tanpa bisa dibantah, itu menjadi konfirmasi kalau tuduhan itu benar."IYA RIS! FIX IYA!" seru Leon kegirangan sampai melompat kecil di area parkiran. "Di-gas berapa kali lo semalem sampai kek gini, hah?! Ngaku nggak lo!""Heh! Mulut lo, ya! Udah, kocak! Jangan sebut-sebut dia di sini, dilihat orang!" bisik Maura panik.Dia refleks menyergap, menarik kuat-kuat lengan Risti dan Leon sekaligus, memaksa dua curut itu untuk segera masuk ke dalam gedung fakultas hukum yang sudah mulai ramai dilewati mahasiswa lain.Sialnya, setiap kali Maura menarik langkah kakinya dengan cepat, pangkal pahanya kembali berdenyut ngilu."Shhh" desisnya, berusaha membuat jalannya biasa saja tapi tetap susah.Risti dan Leon yang melihat itu bukannya kasihan, malah kompak tertawa cekikikan di sepanj
Dengan sisa tenaga yang tinggal seujung, Maura memutar tubuhnya di atas permukaan sofa kulit yang lembab. Dia meringkuk, merintih kecil dengan mata terpejam rapat, berusaha keras mencari posisi paling nyaman menurutnya untuk meredam rasa perih dan denyutan asing dan masih tertinggal nyata di pusat tubuhnya.Bumi tidak bersuara. Pria itu hanya diam, tapi tangan besarnya bergerak lambat, mengusap lembut pinggang Maura yang masih basah oleh keringat.Sentuhan penuh kehati-hatian itu terasa begitu menenangkan, menyalurkan perhatian yang teramat dalam tanpa perlu kata-kata yang rumit.Lalu kemudian, tanpa aba-aba, Bumi menyelipkan lengannya di bawah tengkuk dan lipatan lutut Maura. Dengan satu gerakan, dia menggendong tubuh mungil istrinya."Ach! Sakit, Pak!" pekik gadis itu tertahan."Pindah ke kamar," kata Bumi rendah.Reflek Maura berpegangan ke bahu Bumi.Dengan tubuh mereka yang sama-sama polos, pria itu melangkah tegas melewati ruang tengah yang temaram, meninggalkan begitu saja baju
Pujian itu mengalun rendah, terserap di antara keheningan malam dan deru napas mereka yang kian pendek.Maura tidak tahu harus bereaksi apa lagi selain membiarkan jemari tangannya tertanam erat di bahu kokoh Bumi, meremas kulit pria itu sebagai satu-satunya penopang kewarasannya yang sudah terbang entah ke mana.Bumi sama sekali tidak memberi jeda. Kecupannya turun ke rahang, menelusuri di leher jenjang, meninggalkan sensasi panas yang membuat Maura refleks mendongak, memberikan akses lebih dalam bagi suaminya.Tiap sentuhan Bumi malam ini terasa begitu intens, seolah pria itu sedang melampiaskan seluruh rasa sesak dan rindu yang dia tahan berbulan-bulan, yang terlalu berlebihan.Di bawah temaram cahaya yang menyorot samar dari kejauhan, Bumi kembali menyejajarkan wajahnya. Ditatapnya Maura yang matanya sayu dan bibir yang sedikit bengkak kemerahan."Maura, liat aku," bisik Bumi serak, menuntut kesadaran penuh dari gadis di bawahnya.Memaksa gadis igu mengerjap, mencoba memfokuskan ma
"P-Pak Bumi..." cicit Maura cengo. Suaranya teredam di dada bidang pria itu, tenggelam di antara detak jantung Bumi yang berdegup kencang dengan aroma parfum mahal yang mendadak terasa seperti bius.Pria itu perlahan menarik diri. Tapi, sepasang lengan kokohnya sama sekali tidak melepas pinggang Maura. Kedua tangannya masih bergelayut posesif di sana, menahan tubuh mungil itu agar tetap terkunci dalam jarak yang sangat intim. Bumi menunduk, menatap lekat gadis di dekapanya.Dan untuk pertama kalinya, ada senyum tipis, mengembang di wajahnya yang biasanya kaku."Nggak terjadi apa-apa, kan? Dua hari ini?" tanya Bumi rendah, suaranya sehalus beludru.Gadis di depannya masih cengo menanggapi. Alih-alih mendorong pria itu, dia malah cuma menggeleng kaku.Melihat reaksi menggemaskan itu, sebelah tangan Bumi naik. Telapak tangannya yang besar dan hangat menangkup pipi Maura, mengusapnya pelan dengan ibu jari. Entah apa yang sedang berkecamuk di dalam pikiran sang dosen saat ini, tapi dari ke
"Maksudnya?"Bumi mematikan keran air. Suasana dapur mewah itu mendadak hening seketika. Lalu pria itu berbalik pelan, menyandarkan pinggulnya pada tepian wastafel, lalu melipat kedua lengannya di depan dada. Maniknya menatap Maura lurus-lurus, mengunci pandangan gadis itu."Maksudnya?" kata Bumi. "Aku pengen kamu cepet hamil," lanjutnya.Hamil katanya?! Cepet hamil?!**Dua hari telah berlalu dengan amat sunyi di dalam rumah itu. Semua itu menguap begitu saja sejak kepergian Bumi dua hari lalu.Pria itu hanya mengatakan ada urusan dinas di luar kota.Tapi, Maura tidak bodoh. Dia tahu betul ke mana kaki pria jangkung itu pergi. Beberapa kali sebelum keberangkatannya, Maura memergoki Bumi beberapa kali bertelepon dengan seseorang dan selalu membahas tentang Dira.Sebenarnya, ada ribuan pertanyaan yang menumpuk di kepala Maura. Dia ingin bertanya seserius sejauh mana informasi tentang kakaknya, di mana Dira bersembunyi, dan bagaimana keadaannya. Tapi, entah kenapa dia enggan.Bumi pun t
Bumi masuk ke dapur dan menaruh dua plastik besar di atas meja makan. Maura menyusul di belakangnya setengah menyeret satu plastik besar yang paling berat, lalu menghempaskannya dengan napas terengah-engah tepat di sebelah Bumi."Masak apa?" tanya Bumi lalu."Bunga kol sama goreng ayam," balas Maura datar. Dia tampak sibuk mengeluarkan bongkahan bunga kol berukuran jumbo yang tadi dia beli dengan perasaan menggebu-gebu."Ditumis?" tanya Bumi lagi, memindai bunga kol itu layaknya dosen menguji draf judul skripsi."Iya," Maura menyahut pendek.Jemarinya mulai sibuk memilah sayuran lain, berusaha keras mengabaikan presensi pria jangkung di sebelahnya."Aku bantu motongin aja," kata Bumi, tangannya sudah terulur hendak membawa bunga kol ke dapur, tapi refleks Maura menepis pelan tangan Bumi."Nggak usah, Pak! Saya bisa sendiri. Tuan rumah duduk manis aja. Entar ada kabar dari mbak Dira nggak tahu," Kalimat terakhir lolos begitu saja dari mulut Maura sebelum otaknya sempat menyensor. Aduh,







