เข้าสู่ระบบDia memasang raut wajah nomor satu paling datar dan tenang se-alam semesta, enggan menunjukkan sedikit pun kerapuhan di depan wanita di hadapannya.Maura menoleh perlahan ke arah Papanya, menunggu bantahan. Namun, Sang Papa hanya menunduk diam seribu bahasa. Bungkamnya pria paruh baya itu seolah menjadi stempel pengesahan atas segala tuduhan yang mulanya cuma awang-awang.Di tengah situasi emosional yang siap meledak itu, Bumi berdiri."Sepertinya sudah cukup, Pa," pangkas Bumi dingin, suara baritonnya bergetar menahan amarah yang sangat pekat. "Tujuan kami ke sini untuk mencari fakta medis dan kejelasan, bukan untuk mendengarkan hinaan tidak berdasar pada istri saya."Bumi berbalik, menunduk menatap Maura, dia merengkuh bahu istrinya, membantu Maura berdiri."Ayo kita pulang, Sayang," bisik Bumi tepat di telinga Maura. "Nggak ada lagi yang perlu kita dengarkan di sini."Maura mengangguk kaku. Sambil digandeng protektif oleh suaminya, Maura keluar meninggalkan rumah besar yang kini te
Tak butuh waktu lama, Bumi kembali ke ruang tengah membawa piring. Dia menarik kursi kecil untuk duduk tepat di hadapan Maura, menyodorkan suapan pertama dengan sangat sabar."Ayo, makan dulu," bujuk Bumi.Maura menerima suapan demi suapan dalam diam. Kunyahannya lambat, namun rasa hangat dari makanan dan perhatian suaminya perlahan mengembalikan sisa-sisa tenaganya yang sempat terkuras.Di sela-sela suapan kelima, Bumi merapikan helai rambut Maura yang menutupi dahi, lalu bertanya dengan suara rendah yang amat menenangkan."Jadi... kamu pengennya gimana? Tanya Papa dulu?" tanya Bumi lembut.Maura berhenti mengunyah sejenak. Ia menatap tumpukan berkas tua di atas meja kaca, lalu cuma mengangkat kedua bahunya ragu. Pikiran dan perasaannya masih terlalu kalut untuk menyusun rencana."Tanya Papa dulu nggak apa-apa, mumpung hari Minggu. Nanti malam Mas antar," kata Bumi memberi usulan tanpa sedikit pun nada memaksa. "Mau?"Maura menoleh, menatap iris mata suaminya.Setelah terdiam beberap
Papanya tersenyum lepas, merangkul mesra seorang wanita muda berwajah manis dengan rambut bergelombang yang sama sekali tak pernah Maura lihat sebelumnya. Wanita itu jelas bukan Mamanya, apalagi Dira.Rasa dingin mendadak merayapi tengkuk Maura. Jarinya yang gemetar kembali merogoh ke dalam amplop, mengeluarkan sekumpulan lembaran kertas tua yang tepinya sudah agak rapuh.Itu adalah salinan dokumen medis dan rekam medis dari sebuah rumah sakit bersalin di luar kota, bertanggal puluhan tahun lalu.Mata Maura membelalak lebar saat menyapu baris demi baris tulisan di sana. Nama Papanya tercantum jelas sebagai penanggung jawab pasien atas nama wanita yang namanya sangat asing.Dewi Tri."Dewi, Tri." gumam Maura sendirian.Di lembar paling akhir, surat sebuah salinan surat keterangan kelahiran yang kolom nama ibunya telah dikosongkan secara sengaja, namun stempel resmi rumah sakit itu menyatakan status bayi yang dilahirkan. Anak Kandung.Jantung Maura berdegup kencang tak beraturan. Tangan
"Hamil kocak!" sentak Maura gemas, meski suaranya tetap terdengar agak parau."HA?! Isi pej**-nya pak Bumi?!""Congor Lo, kocak!" sentak Maura.Suasana ruangan itu seketika hening selama tiga detik. Risti beku di tempatnya. Matanya yang bulat membelalak makin lebar."Hah?! Serius lo?!" pekik Risti histeris, refleks berdiri dari kursi sampai kursinya terdorong ke belakang. "Demi apa?! Pak Dosen Killer itu, mau punya buntut?!""SSSHHH! Berisik banget sih. Pelan aja!" bisik Maura panik, menunjuk pintu kamar. "Ini klinik, bukan lapangan basket! Nanti suster masuk disangkanya lo kesambet!"Risti buru-buru menutupi mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Dia kembali duduk dengan gerakan heboh, mendekatkan wajahnya ke arah Maura dengan binar mata yang meletup-letup."Bentar, bentar... Lo mau ngeprank apa seriusa?!" ulang Risti."Serius." balas Maura kesal."Yang bener?""Ya emang bener."Risti lalu menunjuk perut Maura dengan jari telunjuknya, ragu-ragu. Tampak aneh."Jadi, di dalam sini bener
Malam itu, sang calon Direktur sekaligus Dosen itu harus menerima kekalahan telak di tangannya sendiri. Hukum karma berlaku instan, pasal protektif yang dia gaungkan seharian kini berbalik mengunci pergerakannya tanpa celah.Bumi melihati punggung Maura yang tertutup selimut tebal. Suara kekehan kecil istrinya yang berusaha diredam di balik bantal masih terdengar jelas, makin menyulut gemas di dada Bumi.Pria itu mengacak rambutnya sekali lagi, lalu mendengus pasrah. Tanpa aba-aba, dia memajukan tubuhnya, menempel rapat ke punggung Maura dan melingkarkan kedua lengan tegapnya di pinggang sang istri."Awas ya, kalau udah lewat trimester pertama, Mas tagih bunga sama dendanya sekaligus," bisik Bumi tepat di telinga Maura, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher istrinya yang beraroma sabun vanila.Maura mendadak merinding mendengar ancaman manis itu. Ia memutar tubuhnya perlahan di dalam dekapan Bumi, mendongak menatap wajah suaminya yang tampan."Karena aku murah hati, utang itu n
Mobil hitam itu akhirnya terparkir mulus di garasi rumah mereka. Belum sempat Maura meraih gagang pintu, Bumi sudah melompat keluar, buru-buru memutari kap mobil, lalu membukakan pintu untuk istrinya."Pelan-pelan turunnya. Awas kaki kamu kepeleset," bisik Bumi penuh kehati-hatian, mengulurkan kedua tangannya bak memapah benda bersejarah, yang kalau lecet saja nilai sejarahnya berkurang.Di satu sisi Maura memutar bola matanya pasrah. "Mas... aku cuma lemes dikit, bukan habis dioperasi caesar."Bumi tak mengindahkan protesan itu. Tangannya tetap kokoh menggandeng jemari Maura, menuntunnya menyeberangi teras sampai masuk ke dalam rumah.Pria itu mendudukkan Maura di sofa ruang tengah, mengganjal punggung istrinya dengan dua bantal empuk sekaligus."Kamu diam di sini. Jangan berdiri, jangan angkat-angkat barang. Mas yang siapkan makan malam," perintah Bumi tegas, kelewat otoriter.Maura cuma bisa melongo memandangi punggung suaminya yang sibuk mondar-mandir di dapur. Kemeja kerja abu-ab
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s







