Share

109.

Author: anfebizha
last update publish date: 2026-06-18 15:00:22

"Ini apa? Powerbank cuma satu? Kamu pikir gunung itu ada stopkontak buat ngecas HP kalau bateraimu habis di tengah jalan? Kamu mau tersesat, hah?"

Bumi menarik keluar powerbank dari dalam carrier Maura, lalu meletakkannya di lantai dengan suara dentuman yang cukup dramatis.

Pria itu kini tampak seperti inspektur barang terlarang, membongkar habis isi tas gunung Maura yang tadinya sudah tersusun rapi.

Maura cuma bisa melongo. Dia duduk di tepi ranjang di kamarnya, tangannya memeluk guling, semen
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
finally update yeaayyy... duh yg mo ditinggal ayang naik gunung, cerewet amat pak... sabar, cuma 2 hari doang ditinggal mas. ntr kalo ketemu, gempur lagi.yuhuuu makasih banyak updatenya kakak syng, ditunggu next chapter yaa :*
goodnovel comment avatar
Aflinda Nurdin
Duh yg mau di tinggal ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Pengganti Mas Dosen   114.

    Angga terus menatap layar HP-nya cemas, sesekali mengangkatnya tinggi-tinggi ke arah langit yang sedikit terbuka, mencari sinyal di tengah kegelapan Merbabu."Sial! Baterai tinggal sepuluh," gumamnya frustrasi.Maura yang sedari tadi meringkuk kedinginan di sebelah Leon yang sudah lelap, berrgegas merogoh tasnya yang dia jadikan bantal. "Gue ada powerbank," katanya sambil menyodorkan benda itu ke arah Angga."Untung banget, Ra. Powerbank gue ketinggalan di carrier," sahutnya lega.Setelah menyolok ces, dia menoleh pada Maura, "Lo udah coba hubungi keluarga lo? Wa aja nggak papa Sekalipun nggak terkirim. Entar kalau kebetulan ada sinyal masuk, pesannya bakal otomatis terkirim."Maura diam sesaat. "Udah tadi, tapi belum bilang kalau kita tersesat.""Bilang aja," saran Angga.Meski ragu. Jemarinya yang kaku karena dingin kembali mengetik di layar. Menulis pesan ke Bumi.'Pak, maaf banget. Aku sama Leon sama satu temen lagi, salah jalur dan kejebak di sabana, nggak tau sabana mana. Sinyal

  • Istri Pengganti Mas Dosen   113.

    Angga berhenti, memutar senter ke segala arah. Cahayanya hanya menabrak batang-batang pohon besar dan semak belukar yang tampak makin rapat."Sial, bener kata lo, Ra. Harusnya kalau kita turun dari puncak, tanda jalur harusnya ada di sebelah kiri. Ini malah sepi banget."Leon yang masih memegangi kakinya yang bengkak, mencoba duduk di atas batang kayu. "Jadi kita beneran nyasar? Di tengah hutan? Sore-sore begini? Gelap!""Nggak usah bikin panik, Yon!" Desis Maura, meski dia sendiri sudah keringat dingin."Gue nggak bikin panik, kenyataan ini mah!" Leon menunjuk ke arah kegelapan. "Coba cek HP lo, siapa tahu ada satu garis sinyal, atau ada keajaiban dunia ke-delapan!"Maura segera mengeluarkan HP-nya. Layarnya menyala, tapi tetap menunjukkan logo No Service, yang sangat menyebalkan. Dia memutar-mutar HP-nya ke udara, berharap sinyal jatuh dari langit."Nihil. Sinyal bener-bener mati suri.""Coba kita cari area yang agak lapang," usul Leon sambil menahan ringis. "Biasanya kalau jalur pe

  • Istri Pengganti Mas Dosen   112.

    Setelah empat jam istirahat, panitia pendakian akhirnya memulai ritual sakral, pembagian regu.Maura, yang sedari tadi sudah berdoa agar bisa satu tenda dengan Risti, harus menelan pil pahit. Risti terlempar ke Regu tiga, sedang Maura masuk ke regu tujuh bersama Leon."Oke, setiap regu total sepuluh orang. Kalian harus kompak, nggak ada yang jalan sendirian!" instruksi ketua regu, seorang senior bernama Kak Bram yang posturnya tinggi besar.Maura menatap dua rekan perempuan lainnya. Satu bernama Siska, yang sepertinya terlalu sibuk memoles sunblock, dan satunya lagi bernama Dina, yang tampak sudah sangat pro dan sibuk menata carrier-nya sendiri.Merasa tidak ada chemistry, Maura secara naluriah langsung bergeser ke samping Leon, menempel erat ke lengan temannya itu."Yon, gue sama lo ya," bisik Maura dengan muka memelas."Lah, emang lo mau ke mana lagi, Ra? Kan kita satu regu," sahut Leon, lalu menatap Maura dengan seringai jail. "Tapi serius, nempel banget nih? Gue takut nanti suami

  • Istri Pengganti Mas Dosen   111.

    "Lo yakin aman?" kata Risti saat Maura mulai memejamkan mata.Bus baru saja berangkat, Maura duduk tepat di samping Risti, sementara Leon ada di kursi depan mereka, bersama seorang adik tingkat."Aman," gumam Maura, mengubah posisinya agar lebih nyaman."Itu Lo udah gak sakit lagi?""CK." decak Maura jengah, karena dari kemarin pembahasannya itu Mulu nggak ada yang lain. "Gue udah normal. Kayak biasanya." imbuhnya."Ngomong-ngomong, protektif juga ya dia," kata Risti. "Gue baru liat, ternyata orang itu bisa sampe segitunya sama Lo.""Dia emang gitu. Protektifnya udah masuk kategori abnormal. Tadi sore aja dia bongkar carrier gue cuma buat mastiin obat-obatan gue lengkap. Gue berasa lagi di-sidang skripsi, padahal gue cuma mau naik gunung!" kata Maura berbisik lirih. Tahu kalau di belakang mereka ada orang asing. Mereka kenal, cuma tidak sedekat itu."Kalau gue jadi Lo, gue udah jingkrak-jingkrak. Di perhatiin segitunya sama dosen paling high-demand di kampus." heboh Risti, "mana kaya

  • Istri Pengganti Mas Dosen   120.

    Sepanjang perjalanan ke kampus, atmosfer di dalam mobil terasa begitu kontras.Maura sibuk merengut sambil menatap kaca jendela, meratapi nasibnya yang harus dikawal ketat bak anak TK di hari pertama sekolah. Sedang Bumi menyetir dengan satu tangan santai, sesekali bersiul pelan, sebuah pemandangan langka yang nyaris mustahil ditemukan mahasiswanya di ruang perkuliahan.Begitu mobil hitam mengkilap itu berhenti sekitar lima puluh meter dari gerbang utama kampus, Maura langsung menegang. Bagaimana tidak di depan mobil itu, tak jauh, bus pariwisata berukuran besar sudah terparkir manis dengan lampu kota yang menyala. Beberapa anak pencinta alam, termasuk Leon dan Risti, tampak sedang mengobrol heboh di dekat bagasi bus."Bapak nggak usah turun, tasnya biar saya ambil sendiri dari bagasi belakang," kata Maura buru-buru, tangannya sudah bersiap membuka sabuk pengaman.Tidak ada jawaban dari Bumi. Pria itu mematikan mesin mobil, menarik rem tangan, lalu menatap Maura datar. "Kamu pikir aku

  • Istri Pengganti Mas Dosen   109.

    "Ini apa? Powerbank cuma satu? Kamu pikir gunung itu ada stopkontak buat ngecas HP kalau bateraimu habis di tengah jalan? Kamu mau tersesat, hah?"Bumi menarik keluar powerbank dari dalam carrier Maura, lalu meletakkannya di lantai dengan suara dentuman yang cukup dramatis.Pria itu kini tampak seperti inspektur barang terlarang, membongkar habis isi tas gunung Maura yang tadinya sudah tersusun rapi.Maura cuma bisa melongo. Dia duduk di tepi ranjang di kamarnya, tangannya memeluk guling, sementara otaknya masih loading melihat Bumi yang entah kesambet jin gunung apa sore ini. Dosen yang biasanya bicara sesingkat pesan broadcast itu, kini berubah jadi ceramah berjalan.Dia memungut tas kecil merah berisi obat-obatan milik Maura. Membuka isinya, mengernyit, lalu menatap Maura tajam. "Mana anti nyerinya, obat panas, alkohol buat luka? Jangan bilang kamu cuma bawa koyo sama balsem otot. Kamu mau naik gunung, Maura, bukan mau ikut lomba lari karung!""Cuma daki dua hari Pak, bukan ekspedi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status