ANMELDENMatahari terik siang itu membakar aspal saat mobil milik Bumi meluncur membelah kemacetan kota. Usai menyelesaikan jadwal mengajar terakhirnya di kampus, Pak Dosen itu tak ke kantor.Dia memacu kendaraannya menuju salah satu kawasan bisnis paling bergengsi, tempat gedung pencakar langit milik sebuah konglomerasi besar berdiri megah.Di dalam mobil, Bumi mengetukkan jemarinya pada kemudi. Tatapan matanya lurus, dan penuh perhitungan. Informasi yang dikirimkan oleh tim informannya tadi pagi sudah sangat solid. Pria yang baru mendarat dari Zurich itu, sosok yang ia duga kuat sebagai ayah dari janin yang dikandung Dira, ternyata menduduki posisi strategis di perusahaan raksasa tersebut.Bumi memarkirkan mobilnya sempurna di area parkir. Setelah mematikan mesin, ia menghela napas panjang, merapikan tatanan rambutnya di spion, lalu melangkah keluar dengan keanggungan dan wibawa yang tak tergoyahkan.Tak ada janji temu. Sebenarnya dia juga tak yakin bisa menemuinya. Bahkan dengan menyebut di
"Apa maksudmu,"Hening mendadak menyergap kamar itu, hanya menyisakan deru napas mereka yang perlahan mulai teratur. Pria itu tidak segera menjauh, tidak ada sedikit pun keraguan di matanya saat ia menatap istrinya yang berkaca. Tampak sekali dia menahan untuk tidak menangis.Bagaimana tidak, setelah berpuluh tahun, akhirnya perasaannya yang janggal seperti dikonfirmasi kebenarannya. Dia anak haram. Entah, anak haram yang bagaimana, tapi yang jelas dia bukan anak kadung seperti sang kakak. Maka tak aneh dia di perlakukan berbeda.Bumi justru menarik Maura lebih rapat ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah istrinya di ceruk lehernya yang bidang. Dekapan itu begitu erat."Dengar," suara Bumi rendah. "Siapa yang bilang kamu nggak pantas buat aku? Siapa yang berhak nilai harga dirimu, selain dirimu sendiri?""T- Tapi aku anak haram," balas istrinya lirih, tersendat. "Mas Bumi terhormat dan aku cuma anak haram.""Nggak ada sayang," potong pria itu. "Kamu istriku, bukan anak haram." lanj
Gadis itu menggeser pantat sedikit, merapat makin menempel ke perut tegap Bumi tanpa sadar, mengira usapan itu cuma bagian dari mimpinya.Bumi meyeringai tipis di balik kegelapan. Niat jahil Pak Dosen yang tadinya sempat meredup kini membara lagi. Tangan tegapnya tidak ada berniat untuk diam.Justru, tangannya sengaja mengusap naik makin ke atas, menerobos lipatan kain piyama yang longgar. Dengan gerakan terukur dan, jemari Bumi merayap naik menembus batas hingga telapak tangannya meremas lembut sebelah gundukan hangat di dada istrinya."Nngghh... Mas Bumi, ih..." gumam Maura terganggu. Kelopak matanya yang berat perlahan terbuka setengah, merasakan usapan dan remasan yang makin kurang ajar di dadanya. "Ngantuk..." rengeknya.Bumi bukannya takut, malah makin berani. Dia menyusupkan hidungnya ke ceruk leher sang istri, mendaratkan ciuman-ciuman kecil yang membuat Maura merinding seketika."Mas, kan udah bilang tadi." bisik Bumi dengan suara seraknya yang begitu seksi, sedang tangannya
Gadis itu menggeser pantat sedikit, merapat makin menempel ke perut tegap Bumi tanpa sadar, mengira usapan itu cuma bagian dari mimpinya.Bumi meyeringai tipis di balik kegelapan. Niat jahil Pak Dosen yang tadinya sempat meredup kini membara lagi. Tangan tegapnya tidak ada berniat untuk diam.Justru, tangannya sengaja mengusap naik makin ke atas, menerobos lipatan kain piyama yang longgar. Dengan gerakan terukur dan, jemari Bumi merayap naik menembus batas hingga telapak tangannya meremas lembut sebelah gundukan hangat di dada istrinya."Nngghh... Mas Bumi, ih..." gumam Maura terganggu. Kelopak matanya yang berat perlahan terbuka setengah, merasakan usapan dan remasan yang makin kurang ajar di dadanya. "Ngantuk..." rengeknya.Bumi bukannya takut, malah makin berani. Dia menyusupkan hidungnya ke ceruk leher sang istri, mendaratkan ciuman-ciuman kecil yang membuat Maura merinding seketika."Mas, kan udah bilang tadi." bisik Bumi dengan suara seraknya yang begitu seksi, sedang tangannya
Bumi mengetukkan jemarinya pelan di bahu Maura, matanya menatap lurus ke arah dinding kamar dengan kilat penuh perhitungan. "Kalian udah coba mendekat?""Belum, Pak. Tim kami menahan diri untuk tidak mendekat mendadak, Pak." jelas sang informan cepat.Bumi berdehem pelan, mengutak-atik siasat di dalam kepalanya."Ya. Jangan sampai buat dia curiga," tegas Bumi dingin namun tetap terukur. "Tetap awasi dari radius aman. Pastikan kamu tahu kapan jadwal dia keluar rumah dan siapa saja yang berinteraksi dengannya.""Siap, Pak Bumi. Laporan berkala akan terus kami kirimkan."Sambungan telepon itu pun terputus. Bumi meletakkan kembali HP ke atas nakas, membiarkan keheningan kembali menguasai kamar mereka.Maura, yang sejak tadi menyimak pembicaraan separuh itu, memiringkan wajahnya makin menempel ke dada bidang Bumi. "Gimana, Mas?"Bumi menunduk, mengikis jarak di antara mereka lalu mendaratkan kecupan hangat di puncak kepala Maura. Senyum tipisnya kembali terukir, mengusir aura intimidatif y
Dua puluh menit kemudian, setelah Bumi tampak segar selesai mandi. Mereka sudah duduk berhadapan di meja makan.Aroma sabun mandi berbautr dengan aroma masakan Maura, mala itu."Harum banget istri Mas," goda Bumi langsung mengambil telapak tangan Maura lalu menciumnya gemas, padahal jelas-jelas aroma sabun mandi pria itu yang mendominasi ruangan."Apasih! Makanan tuh yang harum!" kata malu-malu, mengambilkam nasi hangat yang melimpah ke piring suaminya.Makan malam berlangsung riuh dan hangat. Di balik status dosenkiller yang ditakuti mahasiswa se-kampus, Bumi di meja makan adalah sosok pria lokal yang hobi mencuri potongan ayam dari piring istrinya hanya demi melihat Maura bersungut-sungut gemas.Gelak tawa kecil dan percakapan ringan mengalir begitu saja, mengikis sisa-sisa amarah Maura pada sang mama serta kepeningan Bumi atas urusan kantor.Begitu nasi di piring mereka tandas, Bumi menarik kotak dimsum mendekat. Ia menyumpit satu dimsum udang yang masih hangat, lalu mengarahkanny
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang







