共有

225.

作者: anfebizha
last update 公開日: 2026-08-13 22:28:59

Bumi mengetukkan jemarinya pelan di bahu Maura, matanya menatap lurus ke arah dinding kamar dengan kilat penuh perhitungan. "Kalian udah coba mendekat?"

"Belum, Pak. Tim kami menahan diri untuk tidak mendekat mendadak, Pak." jelas sang informan cepat.

Bumi berdehem pelan, mengutak-atik siasat di dalam kepalanya.

"Ya. Jangan sampai buat dia curiga," tegas Bumi dingin namun tetap terukur. "Tetap awasi dari radius aman. Pastikan kamu tahu kapan jadwal dia keluar rumah dan siapa saja yang berintera
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (4)
goodnovel comment avatar
Ritha Herawaty
tengkiu updatetannya kak
goodnovel comment avatar
Tiasa
Lanjut author
goodnovel comment avatar
Senja Anugrah
belum ada kelanjutan nya kaka author sayangg aku masih setia nih nungguin
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Istri Pengganti Mas Dosen   226.

    Gadis itu menggeser pantat sedikit, merapat makin menempel ke perut tegap Bumi tanpa sadar, mengira usapan itu cuma bagian dari mimpinya.Bumi meyeringai tipis di balik kegelapan. Niat jahil Pak Dosen yang tadinya sempat meredup kini membara lagi. Tangan tegapnya tidak ada berniat untuk diam.Justru, tangannya sengaja mengusap naik makin ke atas, menerobos lipatan kain piyama yang longgar. Dengan gerakan terukur dan, jemari Bumi merayap naik menembus batas hingga telapak tangannya meremas lembut sebelah gundukan hangat di dada istrinya."Nngghh... Mas Bumi, ih..." gumam Maura terganggu. Kelopak matanya yang berat perlahan terbuka setengah, merasakan usapan dan remasan yang makin kurang ajar di dadanya. "Ngantuk..." rengeknya.Bumi bukannya takut, malah makin berani. Dia menyusupkan hidungnya ke ceruk leher sang istri, mendaratkan ciuman-ciuman kecil yang membuat Maura merinding seketika."Mas, kan udah bilang tadi." bisik Bumi dengan suara seraknya yang begitu seksi, sedang tangannya

  • Istri Pengganti Mas Dosen   225.

    Bumi mengetukkan jemarinya pelan di bahu Maura, matanya menatap lurus ke arah dinding kamar dengan kilat penuh perhitungan. "Kalian udah coba mendekat?""Belum, Pak. Tim kami menahan diri untuk tidak mendekat mendadak, Pak." jelas sang informan cepat.Bumi berdehem pelan, mengutak-atik siasat di dalam kepalanya."Ya. Jangan sampai buat dia curiga," tegas Bumi dingin namun tetap terukur. "Tetap awasi dari radius aman. Pastikan kamu tahu kapan jadwal dia keluar rumah dan siapa saja yang berinteraksi dengannya.""Siap, Pak Bumi. Laporan berkala akan terus kami kirimkan."Sambungan telepon itu pun terputus. Bumi meletakkan kembali HP ke atas nakas, membiarkan keheningan kembali menguasai kamar mereka.Maura, yang sejak tadi menyimak pembicaraan separuh itu, memiringkan wajahnya makin menempel ke dada bidang Bumi. "Gimana, Mas?"Bumi menunduk, mengikis jarak di antara mereka lalu mendaratkan kecupan hangat di puncak kepala Maura. Senyum tipisnya kembali terukir, mengusir aura intimidatif y

  • Istri Pengganti Mas Dosen   224.

    Dua puluh menit kemudian, setelah Bumi tampak segar selesai mandi. Mereka sudah duduk berhadapan di meja makan.Aroma sabun mandi berbautr dengan aroma masakan Maura, mala itu."Harum banget istri Mas," goda Bumi langsung mengambil telapak tangan Maura lalu menciumnya gemas, padahal jelas-jelas aroma sabun mandi pria itu yang mendominasi ruangan."Apasih! Makanan tuh yang harum!" kata malu-malu, mengambilkam nasi hangat yang melimpah ke piring suaminya.Makan malam berlangsung riuh dan hangat. Di balik status dosenkiller yang ditakuti mahasiswa se-kampus, Bumi di meja makan adalah sosok pria lokal yang hobi mencuri potongan ayam dari piring istrinya hanya demi melihat Maura bersungut-sungut gemas.Gelak tawa kecil dan percakapan ringan mengalir begitu saja, mengikis sisa-sisa amarah Maura pada sang mama serta kepeningan Bumi atas urusan kantor.Begitu nasi di piring mereka tandas, Bumi menarik kotak dimsum mendekat. Ia menyumpit satu dimsum udang yang masih hangat, lalu mengarahkanny

  • Istri Pengganti Mas Dosen   223.

    Deru mesin mobil baru saja mati saat kendaraan itu terparkir sempurna di garasi rumah. Pria berwajah tampan itu keluar dari mobil, mengibaskan sedikit tas yang tersampir di lengannya, lalu merapikan tatanan rambutnya di kaca spion. Tangan kirinya menenteng kantong kresek kecil transparan berisi satu kotak dimsum ayam udang hangat yang sengaja ia belikan di jalan tadi. Dia takntahu apakah istrinya suka, tapi itu termasuk usaha dalam rangka menyogok sanh istri untuk proyek malam ini.Dengan senyum tipis yang sarat akan niat menggoda, Pak Dosen muda itu melangkah masuk menembus pintu depan. Namun, aroma uap cabai goreng yang menyengat langsung menyambut indra penciumannya dari arah dapur, diselingi suara denting ulekan batu yang dihantamkan ke cobek dengan tenaga ekstra."Sok-sokan minta maaf! Sok-sokan melas!" gerutu Maura heboh sendirian di depan meja dapur, mengulek sambal. "Akhirnya juga Dira lagi!"Bumi mendekat tanpa suara, menyandarkan tubuh tegapnya di sekat amtara ruang makan da

  • Istri Pengganti Mas Dosen   222.

    "Kamu yakin itu dia?" tanya Bumi dingin, memastikan tanpa ada sedikit pun riak ragu di intonasinya."Seratus persen yakin, Pak. Sudah di konfirmasi." sahut informan itu cepat. "Saat ini tim kami sedang membuntutinya dari area kedatangan menuju parkiran VIP. Sepertinya ada penjemputan khusus."Bumi bergeming. Pria itu bangkit dari kursinya, melangkah perlahan menuju jendela kaca raksasa yang menampakkan pemandangan lanskap kota yang mulai dihiasi lampu-lampu jalanan sore. Tatapannya meruncing, menembus kegelapan kota dengan kilat berbahaya.Pria itu adalah selingkuhan Dira, dan juga teman kuliah Bumi dulu.Bisa jadi adalah ayah dari janin yang dikandung Dira. Kenapa bisa jadi? Tentu karena bumi juga tak yakin, apakah Dira juga bermain dengan pria yang lain."Cari tahu semua informasi tentang dia. Di mana rumahnya," perintah Bumi dingin, memotong laporan informannya tanpa ragu. "Kalau bisa sih, dapetin rambutnya buat test dna, tapi kayanya susah.""Kamu usahakan Pak Bumi," sahut suara d

  • Istri Pengganti Mas Dosen   221.

    Napas sang mama tertahan di tenggorokan. Suara Maura tenang dari seberang telepon terasa bagai sembilu yang menggores harga dirinya.Dengan tangan tegang, dia menguatkan pegangannya di HP, berusaha menelan bulat-bulat gengsi dan amarah yang merintih di dalam dada."M-Maura, ini Mama," sapanya terbata, suaranya terdengar serak dan sangat jauh dari kesan angkuh yang biasanya dia perlihatkan.Di seberang sana, hening sejenak. Maura yang baru saja akan turun untuk memanasi lauk untuk makan malam, mendadak menghentikan langkahnya. Dia menjauhkan HP dari telinga sebentar untuk memastikan nama di layar, lalu menempelkannya lagi."Iya, Ma. Ada apa?" jawab Maura datar, tanpa embel-embel kehangatan, tapi tetap berusaha sopan.Di seberang hening. Sang mama tampak memijat pelipisnya sendiri, sesekali melirik ke samping, ke suaminya yang seakan menunggu dia memohon ke Maura. Gadis yang dia besarkan sejak bayi itu."Ma? Ada apa? Orang rumah sehat?" tanya Maura kemudian, memotong keheningan canggung

  • Istri Pengganti Mas Dosen   5. Harga Diri Yang Tergores

    Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s

  • Istri Pengganti Mas Dosen   4. Teori dari mana itu?

    “Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang

  • Istri Pengganti Mas Dosen   3. Mustahil

    Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T

  • Istri Pengganti Mas Dosen   2. Pesan Penentuan

    Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status