MasukManik matanya menatap dalam-dalam ke dasar mata sang istri, mencari sisa-sisa pertahanan gadis itu."Kamu aman sama Mas, Ra. Jangan dengerin," bisik Bumi amat halus, lalu mengecup kening Maura sekilas.Begitu Bumi memutar dan duduk di balik kemudi, kabin mobil seketika mengisolasi mereka dari dunia luar.Hanya ada deru halus mesin dan hembusan pendingin udara. Bumi menggenggam erat tangan kiri Maura di atas konsol tengah, menautkan jemari mereka tanpa berniat melepasnya sepanjang perjalanan.Di sampingnya, Maura menyandarkan kepala ke kaca jendela, menatap pendar lampu jalanan yang membias kabur. Kata anak haram sukses menari-nari kejam di kepalanya, menghantam hatinya hingga porak-poranda.Papa dan Mamanya bahkan tak memberikan sepatah kata pun penjelasan atau bantahan malam itu. Mereka hanya diam, membiarkan Maura pulang membawa serpihan kebenaran pahit yang tak utuh.**Jalanan kota malam itu bisu, diselimuti keremangan lampu-lampu jalan yang membiaskan garis-garis cahaya kabur di
Dengan gestur yang kelewat tenang dan sarat ketegasan, pria itu menyalami Papa mertuanya dengan sopan, lalu berganti mencium punggung tangan Mama. Saat berada di hadapan Dira, Bumi hanya mengangguk singkat sekadar basa-basi, sama sekali tidak mengangkat tangan oadahal Dira sudah bersiap menyambut drngan jemarinya.Tatapannya yang tajam seketika lunak saat beradu pandang dengan manik mata istrinya.Pria itu merendahkan tubuhnya, berdiri di samping sofa sang istri. Tanpa peduli pada tiga pasang mata yang mengawasi mereka, jemari tegap Bumi terulur, mengusap lembut punggung Maura yang terasa begitu dingin.Usapannya begitu hangat dan protektif, seolah berniat mengikis habis jejak luka di tubuh ringkih itu."Maaf ya, Mas terlambat," bisik Bumi dengan suara beratnya yang menenangkan, bergetar lembut di telinga Maura. "Capek, hm? Mau pulang sekarang?"Maura menatap wajah suaminya di balik kacamata berbingkai tipis itu. Tatapan Bumi seolah menjadi perisai kokoh yang siap memeluk dan melindun
Dira mendadak bungkam, membuang muka, malas menanggapi sang papa. Maura yang langsung bangkit, enggan sebenarnya, tapi dia tetap bangkit."Baru pulang pa?" sambut istri Bumi itu, menyalami papanya.Papa Maura sempat menoleh sebenyar ke arah Dira yang memilih bisu dengan raut mautnya, memendam helaan napas pendek sebelum perhatiannya kembali sepenuhnya tertumpah pada putri bungsunya.Raut lelah di wajah pria paruh baya itu seketika melunak, digantikan binar kehangatan yang jarang pudar."Udah dari tadi, Ra?" tanya Papa, mengusap pelan puncak kepala Maura."Baru kok, Pa." sahut Maura dengan senyum tipis yang diusahakan selincah biasanya, meredam getar canggung di dadanya."Ya udah, Papa mandi bentar ya," ujar Papa lembut, sebelum melenggang meninggalkan dua anaknya lagi di ruang tengah.Sepeninggal sang papa, keheningan mendadak kembali merayap tebal. Suara sibuk di dapur bahkan terasa sangat jelas, seolah makin mempertegas jarak yang membentang di antara Maura dan kakaknya. Televisi be
Sudah sore saat itu. Maura baru turun dari grab, baru saja masuk rumah. Keheningan langsung menyambutnya, hanya diselingi derum halus pendingin ruangan yang baru otomatis menyala. Rumah sepi, tapi terasa sangat nyaman akhir-akhir ini. Aroma suaminya masih tertinggal tipis di udara, dan Maura sangat menyukainya.Tidak lama-lama, Maura langsung ke kamar atas. Dua paperbag jumbo berisi baju-baju dan barang-barang milik Dira yang kemarin malam sempat memicu perdebatan dengan Bumi sudah berdiri rapi di sudut lemari. Barang-barang yang menjadi saksi bisu atas masa lalu suaminya.Setelah sempat mandi kilat, gadis itu berdiri di depan cermin kamar mandi. Menatap lekat-lekat pantulan dirinya, meneliti lekuk alis, bentuk hidung, hingga garis bibirnya sendiri. Sebersit kepahitan yang samar mendadak merayap naik, menyayat dadanya tanpa ampun.Berpuluh-puluh tahun dia hidup dalam buaian hangat keluarga itu, dan baru akhir-akhir ini kenyataan menghantamnya begitu telak.Dia tak lagi yakin kalau mer
Maura terpaku menatap suaminya. Kalimat sederhana itu rasanya meluncur begitu hangat, mengikis sisa-sisa keraguan yang mungkin sempat bertengger di relung hatinya.Ada kedewasaan dan ketegasan sikap dari seorang Bumi yang selalu berhasil membuatnya luluh. Atau mungkin karena dia sangat pandai membuat kata, pasalnya Bumi adalah seorang Dosen."Nanti kalau sampai di rumah Papa, tolong sampein in ya," lanjut Bumi lembut. "Bilang kalau aku berhenti in nyari ayah dari cucunya. Bilang aja lasannya udah buntu."Maura menggigit bibir bawahnya, menahan senyum mekar yang hampir saja jebol. Entah, dia senang saja. Manik matanya berbinar menatap wajah samping suaminya yang mendadak terlihat sepuluh kali lebih tampan dari biasanya."Kenapa ngeliatinnya gitu?" tegur Bumi terkekeh, menyadari tatapan intens istrinya. "Makin terpesona?""Dikit sih," aku Maura gengsi, lalu mengusap punggung tangan Bumi dengan ibu jarinya. "Ya udah, nanti aku sampaikan ke Papa sama Mama. Makasih ya, Pak Dosen... udah bi
Mereka menghabiskan waktu dengan duduk berdampingan di sofa, menunggu makanan itu datang. Berulang kali Bumi menawarkan makanan, akan di buatnya sendiri karena Maura tambah pucat. Tapi istrinya menolak.Pria itu menyalakan televisi, memindahkan saluran ke siaran berita malam untuk menghidupkan suasana ruang tengah yang hening.Lampu temaram ruang tengah, suara pembawa berita di TV yang mengalun datar, serta dekapan hangat lengan Bumi yang melingkar di bahu, menciptakan kenyamanan yang sukar dilukiskan. Maura menyamankan posisinya, awalnya ragu, tapi kemudoan maura menatuh jrmarinya di atas jemari Bumi, mengusap tangan berurat itu.Rasa mual dan kelelahan hari itu perlahan sirna, tergantikan oleh kehangatan sederhana yang dihadirkan oleh Bumi di sampingnya.Sekali lagi Maura mendongak, menikmati raut itu dari bawah dagu."Mahasiswi sama dosen, emang boleh begini?" batinnya.Bumi masuk membawa bungkus makanan dari depan. Tanpa heboh ke meja makan, mereka memilih menggelar makanan itu di
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta







