LOGINAsap tipis membumbung dari piring-piring yang tertata rapi di atas meja kayu panjang di ruang tengah. Sarapan pagi itu benar-benar bersahaja, nasi hangat, tempe goreng tepung, sambal terasi, dan urap sayur berisi kenikir dan tauge segar.Bumi duduk bersila di tikar pandan bersama suami Bu Dewi dan Ragil, sementara Arka kecil sibuk mengunyah tempe di sebelah maura, diseberangnya. Bu Dewi sibuk menuangkan teh hangat manis dari teko tua.Diam-diam Maura menatap suaminya dengan cemas. Ia tahu betul bagaimana pencernaan Bumi yang sensitif terhadap makanan apalagi makanan level bawah begini. Masih sangat jelas teringat kejadian kemarin saat pria itu sempat kelimpungan gara-gara makanan pinggir jalan.Tapi di hadapannya sekarang, pria yang terbiasa makan di restoran berbintang itu justru makan dengan begitu lahap. Bumi bahkan sudah menambah porsi nasinya, menyiramkan sendok demi sendok urap sayur dan melahap tempe goreng dengan tenang.Di tengah riuhnya obrolan sang bapak yang antusias mence
Ya, selimut orang kaya."Sudah, tidur sana. Nanti game-nya diterusin besok lagi. Kasihan mata kamu, udah merah itu," ucap Bumi datar, namun sarat akan perhatian seorang kakak."I-iya, Pak... Makasih banyak, Pak," bisik Ragil patah-patah, masih berusaha mencerna takdir ajaib apa yang baru saja mengetuk pintunya malam ini.Bumi hanya mengangguk tipis, lalu memutar arah menuju kamar sempit di belakang. Pria itu menyelinap masuk ke dalam kamar yang gelap, dan mengunci pintu.Bumi mendekati kasur, membentangkan selimut tebal tambahan di atas tubuh Maura yang masih lelap. Begitu merasakan kehangatan ekstra, tubuh Maura yang tadinya agak meringkuk perlahan rileks lagi.Bumi merebahkan tubuhnya di samping sang istri, menyelusup masuk ke balik selimut yang sama, lalu merengkuh pinggang Maura dari belakang.Maura yang setengah terbangun karena pergerakan itu bergumam halus, menyandarkan punggungnya makin rapat ke dada tegap suaminya. "Dari mana...""Habis nongkrong sama adik ipar," bisik Bumi d
Malam makin larut, hawa dingin pegunungan makin menusuk hingga ke tulang. Meski Maura sudah lelap dalam dekapan hangatnya, Bumi bisa merasakan tubuh istrinya sesekali menggigil tipis. Kasur busa di atas keramik itu benar-benar mengalirkan dingin tanpa ampun.Bumi mengelus lengan Maura pelan, memindahkan kepala istrinya ke bantal. Pria itu menyibak selimut, berdiri perlahan, lalu menyelinap keluar kamar.Dia butuh selimut, dan ada selimut di mobil.Suasana rumah begitu remang dan sunyi. Begitu langkah kaki Bumi melewati lorong kecil menuju ruang tamu, disana Pak Supri tidur. Tidak sendiri, di seberang meja ada sosok lain berbaring di kursidengan HP di tangannya.Bumi menghentikan otomatis. Itu pasti Ragil, anak sulung Ibu Dewi, adik laki-laki pertama Maura yang kamarnya sedang mereka pakai.Bumi mendekat santai, berhenti di depan pintu untuk membuka kunci. "Belum tidur, Gil?" sapanya lalu.Ragil sedikit terlonjak, mengalihkan pandangannya sebentar dari layar, lalu mengangguk canggung d
Kamar ukuran dua setengah kali dua setengah meter itu terasa begitu sesak begitu diisi oleh tubuh tegap Bumi dan seorang ibu hamil. Tak ada plafon di atas kepala, langsung memperlihatkan jajaran genting tanah liat dan kayu tua yang mulai menghitam. Lantainya memang sudah berkeramik putih, tapi lewat situlah, hawa dingin pegunungan terasa semakin dingin. Apalagi kasur busa di kamar itu digelak langsung di atas lantai tanpa ranjang.Dinding kamarnya beroles cat putih yang kini memudar kekuningan, dihiasi beberapa bercak cokelat bekas noda rembesan air hujan.Setelah pintu kayu di tutup, Bumi memutar matanya memperhatikan sekeliling. Entah bingung, dntah kagum.Di sudut ruangan, berdiri satu lemari plastik empat susun warna biru dan sebuah meja kayu kecil berisi tumpukan buku pelajaran, milik adik laki-laki pertama Maura, anak sulung Bu Dewi. Di atas kasur, hanya ada satu selimut bulu yang tak tebal dan dua buah bantal.Bumi lalu duduk bersila di tepi kasur, menatap dua bantal itu dengan
Kehangatan di ruang tamu kecil itu mendadak terhenti saat derap langkah kaki berbalut sepatu boot karet terdengar dari arah halaman luar. Pintu bambu di halman samping berderit perlahan, derap kaki itu lerlahan menjauh ke arah belakang."Itu suami saya," kata Bu Dewi lalu, matanya sempat melirik cemas ke arah pintu samping. "Baru pulang dari ladang."Bumi mengangguk paham,l. Atmosfer hangat yang tadi menyelimuti ruang tamu kecil itu mendadak hening sejenak, diiringi suara gemericik air dari kamar mandi belakang yang sayup-sayup terdengar di antara rintik gerimis.Tak lama kemudian, sosok pria paruh baya muncul dari balik tirai pembatas ruangan. Beliau sudah mengenakan kaos oblong dan celana kain santai, rambutnya yang basah disisir rapi ke belakang. Wajahnya yang tegas namun ramah menyunggingkan senyum tebal begitu melihat keberadaan dua tamu asing berpenampilan rapi di rumahnya."Ada tamu ternyata," katanya ramah sambil melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangan.Bumi berdiri dengan
Bumi langsung mengangguk santai tanpa perlu berpikir dua kali. "Aman, Bu. Sesuai intruksi dari ibu," celetuk Bumi, membuat Maura yang tadinya masih cengo mendadak melotot sambil menyenggol lengan suaminya.Tampaknya, setelah kesepakan kecil itu, suasana mencekam di ruang tamu kecil itu berangsur mencair. Ibu Dewi tampak bernapas lebih lega. Beliau merapikan cangkir tehnya, lalu mulai bercerita dengan nada suara yang jauh lebih hangat dan jujur.Beliau menceritakan kisah masa lalunya bersama Bapak Ardi. Dulu, Bu Dewi hanyalah gadis desa polos yang bekerja di kota dan terbawa perasaan oleh kebaikan Ardi. Beliau sama sekali tidak tahu kalau pria itu sudah beristri."Ibu yang salah, Nak... Ibu terlalu polos dan bodoh saat itu," bisik Bu Dewi dengan penyesalan mendalam di matanya. "Begitu tahu keadaan sebenarnya dan melahirkan kamu, Ibu sadar tempat Ibu bukan di sana. Ibu nggak mau merusak rumah tangga orang, makanya Ibu memilih pergi."Ibu Dewi menatap Maura lekat-lekat, lalu merunduk lag
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta







