MasukMaura sengaja memalingkan wajahnya, menolak menatap langsung sepasang mata di balik kacamata minus yang selalu sukses melelehkan pertahanannya. Tapi sengatan hangat dari usapan jemari Bumi di dagunya membuat tenggorokannya mendadak kering."Siapa yang cemburu..." cicit Maura pelan, berusaha mempertahankan nada judesnya meski suaranya malah terdengar seperti cicitan anak ayam kehilangan induk. "Lagian Mbak-Mbak baju merah tadi ngapain coba pake senyum-senyum gaje? Mas Bumi juga, ngapain pake dianggukin segala?! Kan bisa cuek aja, pura-pura buta gitu!"Bumi menahan tawa yang sudah berada di ujung tenggorokan. Kalau sampai tawa itu pecah sekarang, taruhannya adalah rujak buah di pangkuan Maura bisa melayang ke wajahnya."Masa Mas harus pura-pura buta sama orang yang nyapa?" jemarinya naik mengelus pipi Maura yang kian mengembung lucu. ""Ya tapi kan tetep aja senyumnya mencurigakan!" balas Maura pantang kalah. Matanya menatap tajam bungkusan plastik rujak di pangkuannya, melampiaskan kek
"Nggak cemburu, tapi judes gitu," kekeh Bumi renyah, suara baritonnya mengalun hangat memenuhi kabin mobil.Pandangannya tertuju pada Maura yang bibirnya mengerucut makin maju. Jemari Bumi terulur, mengusap lembut pipi istrinya yang kian berisi, membiarkan sentuhannya menenangkan emosi Maura yang naik turun.Ya, tentu karena dia sedang hamil."Lagian, buat apa Mas balas senyum?" lanjut Bumi santai. "Mata Mas udah nggak tertarik sama perempuan, selain istri Mas sendiri.""Prett!!" sahut Maura kesal.Bumi lagi-lagi cuma terkekeh mendengar respons istrinya. Tangan kirinya sengaja merangkul bahu Maura, menarik tubuh yang kini makin berisi itu agar bersandar di sampingnya dengan sebelah tangannya santai memegang kemudi."Prett-nya galak amat," goda Bumi, memiringkan kepala untuk mengecup sekilas di pelipis. "Beneran nggak tertarik, Sayang. Di mata Mas, mahasiswi itu cuma mahasiswa yang butuh bimbingan skripsi. Kalau kamu kan butuh bimbingan hidup.""Gombal!" dia mendongak sedikit. "Dosen k
"Kagak ada! Muka lo noh yang kayak tukang utang judi!" elak Maura cepat, menyentil lengan Leon. "Maag gue kumat! Semalem gue begadang belajar sambil minum kopi, makanya perut gue mual.""Maag?" Risti menaikkan sebelah alisnya curiga, melipat tangan di dada. "Satu semester kemarin lu makan seblak level delapan plus ceker pedas jam dua belas malam aja santai aja. Sekarang minum kopi dikit langsung pucat kayak vampir kurang darah?""Ya kan maag orang bisa berubah-ubah daya tahannya!" Maura makin sewot, mencari-cari alasan dengan otak yang makin buntu. "Lagian akhir-akhir ini gue lagi diet, tahu!"Leon langsung tertawa menyembur. "Diet?! Hahaha!Seorang Maura diet? Paksu mulai ngeluh berat?!"Tepat saat Maura kehabisan kata-kata dan bersiap melemparkan botol mineral ke wajah Leon, sosok Bumi muncul dari koridor gedung depan.Dari kejauhan Maura sudah sadar.Leon yang tadinya asyik tertawa mendadak menyenggol lengan Risti, matanya melirik sosok tinggi tegap yang berjalan santai di sepanjang
Hari pertama ujian bagi Maura dibuka dengan drama tingkat tinggi. Bukan karena soal ujiannya yang mendadak menggunakan bahasa Kalbu, melainkan karena ulah kakak kandungnya yang benar-benar di luar nalar.Di dalam mobil, di parkiran dosen yang ramah angin, Maura berdiri menyandarkan punggungnya di tembok dengan wajah merengut maksimal. Sydah perutnya tak enak sejak pagi, di tambah daram keluarga ini. Lengkap sudah.Di sebelahnya, Bumi yang mengenakan kemeja rapi duduk santai, menggenggam satu botol susu kedelai hangat."Mas... Mbak Dira beneran terbang hari ini?" tanya Maura untuk kelima kalinya, matanya masih menatap layar HP yang menampilkan pesan singkat dari Mama.Mereka seolah meratapi nasip, tak langsung turun, malh dia berdua di mobil sambil menunggu parkiran sepi.Bumi melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul sembilan pagi, lalu membetulkan letak kaca matanya. "Iya, Sayang. Pesawatnya take off jam tujuh pagi tadi,.kata papa.""Gila! Bener-bener alien!" cicit Maura gemas. "A
"Nurun siapa kamu sampai picik begitu, Dira..." gumam Mama parau, suaranya tercekik di tenggorokan. "Seburuk-buruknya bapakmu dulu, dia tetap ngurusin anak selingkuhannya, nggak pernah nelantarin. Tapi kamu?"Mama memandangi Kiara yang masih terlelap tenang di boks bayi. Bayi mungil bernasib malang itu sama sekali tak tahu bahwa ibu kandungnya baru saja melempar dirinya seperti barang titipan yang tak bernilai."Apa ini karmaku, mengesampingkan Maura selama ini," desisnya.Penyesalan mendalam menghantam dada Mama sampai rasanya sesak luar biasa. Ia menyesali segala pemanjaan yang dulu ia berikan pada Dira, menyesali skenario perjodohan yang hampir merusak hidup Maura, dan kini harus menyaksikan cucunya sendiri menjadi korban keegoisan Dira."Maafkan Oma ya, Nak..." bisik Mama penuh haru, melangkah mendekati boks lalu mengusap lembut jemari mungil Kiara yang mencuat bebas. "Bundamu memang gila, tapi Oma nggak bakal biarkan kamu sendirian."**"Mas... Mbak Dira itu beneran manusia kan?
Kamar utama Dira di lantai dua tampak benderang diterpa sinar mentari pagi yang menerobos dari jendela besar di ruangan itu.Suasana kamar itu sebenarnya terasa begitu tenang. Di atas ranjang berseprai pastel, Kiara terlelap sangat lelap. Dua tangan kecilnya mencuat bebas dari bedongan, terangkat ke atas samping kepalanya.Bocah blasteran itu memang ajaib. Usianya baru dua minggu, tapi tabiatnya sudah mirip anak balita, sama sekali tak betah dibedong rapat. Kalau kainnya diikat kencang, tangisnya bisa pecah meruntuhkan plafon kamar. Tapi begitu kedua tangannya dibiarkan bebas mencuat keluar, dia langsung tenang dan tertidur pulas.Mama berdiri di samping boks, telaten merapikan selimut kecil Kiara. Setelah memastikan sang cucu aman, matanya beralih menatap Dira yang sedang duduk selonjoran di tepi ranjang. Perempuan itu tampak santai, mengikir kuku jarinya seolah tak pernah terjadi tragedi susu basi dua hari lalu.Mama menarik napas panjang, menahan kesal yang sudah menggumpal di dada
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang







