เข้าสู่ระบบ"Ya namanya juga proses. Kamu kaget kalau langsung gede!" Maura gemas sendiri melihat tingkah suaminya yang kadang ajeg dan kaku, tapi kalau sudah kadang bisa mendadak tidak sabaran begini.Pria itu kembali menempelkan bibirnya di perut sang istri, berbisik pelan dengan suara baritonnya yang berat dan dalam, menggetarkan kulit perut Maura."Dedek... dengar Papah ya," bisik Bumi. "Jangan nakal di dalam sana. Jangan bikin Mamah pusing, apalagi pusing gara-gara ngerjain tugas orang lain. Oke? Penanggung jawab kamu di luar sini cuma Papah."Maura tertawa renyah, rasa geli melilit perutnya bukan karena gerakan janin, melainkan karena bisikan dan embusan napas Bumi yang menggelitik. "Mas, geli tahu!"Bumi mendongak lagi, menatap istrinya. "Pokoknya dipanggil Papah, ya. Awas kalau panggil yang lain.""Iya, Papah Bumi...""Emang ada papah yang lain, kok jadi papah Bumi,"**"Ra! Buruan, kebelet tingkat dewa nih!" teriakan melengking Risti dari dalam kamar mandi kosan langsung menyambut kedata
"Nggak apa-apa kalau mau ketemuan, nggak apa-apa juga kalau mau tes DNA," sahut Papa di seberang telepon. "Tapi satu hal yang pasti, Bumi... Kiara nggak boleh dibawa ke mana-mana. Cucu Papa tetap di rumah ini, biar papa yang asuh"Bumi mengetukkan jemarinya perlahan di atas pembatas balkon besi yang dingin. Angi berhembus menyibah rambutnya, sosok tampan yang tampak dari belakang itu seakan di luar jangkauan untuk Maura yang melihatnya dari dalam.Sesaat Maura sempat berpikir, bagaimana bisa dia jadi istri sosok itu?"Tapi Pa," sela Bumi tenang, logikanya bergerak cepat menimbang segala kemungkinan hukum dan moral. "Kalau dari hasil tes nanti Ethan terbukti secara sah adalah ayah biologis Kiara, bisa jadi dia punya hak atas anaknya."Pak Ardi mendesah berat, sebuah hela napas panjang yang sarat kekecewaan pada masa lalu putri sulungnya. "Mereka belum pernah menikah, Bumi. Secara legalitas, Dira adalah pemegang hak asuh tunggal, dan Papa nggak akan biarkan orang asing tiba-tiba membawa
"Kenapa nggak disuruh masuk?" Maura menyambut di ambang pintu rumah yang sengaja ia buka lebar-lebar."Orang asing kenapa disuruh masuk?" jawab Bumi lempeng, menyeret dua koper besar melintasi ambang pintu lalu mendorong daun pintu kayu itu hingga tertutup lagi.Dia kemudian menatap istrinya, matanya memicing curiga. "Jangan-jangan kamu suka masukin orang asing.""Ngaco!!" sahut Maura tak terima, melotot galak dengan bibir yang sudah merengut sepuluh senti.Bumi terkekeh pelan. Tangan besarnya terulur, mengacak gemas puncak kepala istrinya. "Kalau nggak kenal baik, jangan disuruh masuk rumah. Apalagi kalau nggak ada aku di rumah. Paham?!" tegas Bumi.Maura mengangguk-angguk patuh, meski fokusnya jelas masih tertambat pada drama di luar tadi. "Iya, iya, paham... Trus Ethan tadi gimana?" tanyanya antusias, langsung mengekor tepat di belakang langkah tegap suaminya yang membawa koper-koper ke ruang tengah.Bumi meletakkan koper di samping sofa, lalu mengayunkan langkahnya lurus ke dapur.
Ketika mereka turun, pengemudi di mobil asing itu juga turun. Ya, tinggi besar, dan putih orang luar."Siapa, Mas?" bisik Maura curiga, matanya memicing meneliti sosok pria asing berpostur jangkung yang melangkah mendekati gerbang rumah mereka. Tampaknya memang sedang menunggu."Belum tahu..." jawab Bumi datar.Pria itu menyambar dan menyeret satu koper besar. Istrinya membawa tas mereka, berusaha membantu sambil terus membuntut di belakang punggung tegap suaminya.Pria asing itu menghentikan persis di depan mereka. Raut wajahnya kaku, matanya berwarna terang."Benar ini rumah Dira?" tanya pria asing itu langsung, suaranya berat dengan aksen luar negeri yang terasa di telinga. "Maaf mengganggu."Tapi sepertinya dia sangat fasih bahasa Indonesia.Bumi dan Maura sama-sama bingung. Bumi memandangi pria itu dengan sorot mata menilai yang dingin."Bukan," jawab Bumi singkat.Pria itu mengernyit, melirik sekilas alamat di layar yang digenggamnya, lalu kembali menatap Bumi penuh selidik."Ma
"Sepi banget, nggak ada yang menyambut kepulangan Nyonya dan Tuan Arkatama," seloroh Maura sambil mengayunkan tangannya yang bebas, tangannya yang lain bertengger nyaman di lengan tegap Bumi.Bumi terkekeh pelan sambil mendorong troli bagasi menembus keramaian area kedatangan Bandara. "Ya gimana mau ada yang jemput? Kamu kan yang melarang Mas ngabarin papa. Katanya nggaknmau ngerepotin.""Iya juga sih. Lagian kan praktis, tinggal pesen grab aja, biar praktis," sahut Maura.Sambil menunggu mobil jemputan mereka datang, Maura melipir agak ke tempat sepi, mengangkat telfon dari Leon."Halo, Le-""Ra, jangan kaget ya?" suara Leon dari seberang."Apaan?""Itu- Risti kecelakaan."Ucapan itu sukses membuat Maura melotot kosong. Wajah cantiknya seketika pucat pasi. "HAH?! Jangan bercanda lo ya?!"Bumi yang berdiri agak jauh langsung memasang posisi siaga. Dia cuma menoleh dari tempatnya, tapi matanya sudah menyelidik siap terkam."Sumpah! Serius! Ini Gue lagi nungguin-""Seriusan lo!!" pekik
"Kan kalau kerjaan kampus nggak ada, jadi nggak sesibuk dulu."Bumi tersenyum tipis. Ia meraih tangan Maura, membawa jemari halus itu ke bibirnya dan mendaratkan satu kecupan hangat di sana. "Seneng lah. Duduk di sini sama kamu, ngeliat kamu ketawa dari pagi sampai malam... ini jauh lebih berharga dari gelar apa pun yang pernah Mas kejar.""Bisa aja mantan dosen ini kalau gombal. Tapi gelarmu udah di langit, jangan sombong." goda Maura dengan cengiran manis yang memerah di pipi. "Tapi janji ya, habis ini kita harus sering-sering jalan gini.""Asal kamu janji nggak marah-marah. Pusing aku kalau kamu cemberut, apalagi seharian." balas Bumi memancing tawa renyah dari bibir Maura di tengah keheningan malam kota yang kian larut menuju pukul dua belas malam.**Mereka pulang esok harinya. Dari setengah siang suasana kamar dipenuhi oleh kesibukan persiapan kepulangan. Agak buru-buru dan panik, karena bangun kesiangan.Bumi mengemas seluruh pakaian dan barang bawaan ke dalam koper-koper besar
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan







