로그인Kedua mobil itu akhirnya berpisah di persimpangan jalan keluar restoran. Mobil Papa berbelok ke arah barat, dan Bumi memutar kemudi ke arah timur, membelah malam Jakarta yang mulai merenggang dari kemacetan.Di dalam kabin mobil yang hangat dan sunyi, hanya terdengar deru halus mesin. Kiara tertidur pulas tanpa beban, napas kecilnya teratur berhembus.Maura terus-terusan melirik ke samping, memastikan selimut biru-pink itu masih membungkus rapi tubuh mungil keponakannya."Mas..." panggil Maura pelan."Hm?" gumam Bumi, matanya fokus menatap jalanan lengang di depannya dengan satu tangannya mengendalikan kemudi."Kok Mas tadi langsung ngide nyuruh aku bawa Kiara pulang sih? Bukannya biasanya Mas cemburu sama bocah ini?""Mas juga kangen, asal semalem aja.""Kenapa emang kalau dua malem, atau seminggu." pancing Maura."Enak aja. Kalau seminggu, kapan Mas bisa nidurin kamu.""Mesum!!""Bukan mesum, itu kebutuhan biologis yang sah menurut hukum dan agama," sahut Bumi santai, tanpa mengalih
Pintu yang ditutup dari luar mengakhiri jejak langkah Ethan yang baru saja meninggalkan ruangan. Suasana yang tadinya tegang seketika berubah jadi hening dan kuyu.Mama bahkan langsung menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Wajahnya yang biasa teduh kini tampak cemas."Pa... Mama takut," ucap Mama tak bisa menutupi kecemasannya itu.Papa menoleh, mengusap bahu istrinya mencoba memberi ketenangan, meski dia sendiri punya ketakutan yang tak beda jauh. "Takut kenapa, Ma? Kan tadi udah disepakati, tes DNA dulu.""Ya itu dia masalahnya..." Mama menggeleng pelan, matanya menatap Bumi, Maura dan suaminya bergantian. "Ethan itu bukan orang biasa, kita tahu itu. Kalau sampai hasil tes DNA besok terbukti positif Kiara anaknya, apa kita beneran bisa nahan Kiara di rumah kita? Mama takut dia pakai segala cara buat ambil cucu kita."Maura yang merasakan atmosfer makin berat refleks meremas lengan kemeja suaminya. Ia menatap Bumi penuh harap, tahu betul bahwa di saat-saat seperti inilah pemik
Mendapat izin dari Papa, Ethan tak memberi jeda untuk langsung menuju ke arah stoller itu. Dia menundukkan badannya, menatap wajah mungil Kiara yang tertidur lelap dengan napas teratur, berbalut selimut dan baju warna senada, biru dan pink. Bibir Ethan bergetar halus, tangannya terulur mengambang di udara, ingin rasanya menyentuh pipi tembam itu, namun akal sehatnya menahan jemarinya agar tak membuat sang bayi terbangun.Tak bisa dipungkiri, wajah itu, hampir sama dengan wajahnya.Ada kilat emosi dalam di matanya sebelum akhirnya ia menegakkan tubuh, berbalik, dan duduk di kursi yang telah disediakan.Suasana kembali menghening. Papa Ardi memajukan tubuhnya, menopang kedua lengan di atas meja."Kita langsung ke intinya saja ya, Mas," suara Papa memecah hening tanpa kompromi. "Kami tidak kenal anda, dan kami tak paham kenapa anda meminta bertemu.""Saya ingin menjenguk putri saya, Om," sahut Ethan mantap. Tatapannya lurus, menyiratkan keberanian yang sengaja dibentuk untuk menutupi get
"Lagian kamu yang langsung heboh," sahut Bumi tanpa merasa bersalah. Matanya tetap fokus menatap padatnya jalanan sore di balik kacamatanya."Ya lagian Mas bilangnya sepotong-sepotong! Terus... rencana Mas sendiri, gimana pas ketemu Ethan?"Bumi mengelus punggung tangan Maura pelan dengan ibu jarinya. "Mas cuma nurut maunya Papa sama Mama aja. Mas cuma bantu ngomong dan pastikan situasi aman, maksudnya Kiara aman nggak diambil dia. Selebihnya, biar Papa dan Mama yang ambil keputusan.""Hm..." gumam Maura. Dialalu diam saja. Kepalanya menyandarkan ke jok mobil sambil menatap lurus ke depan. Wajahnya merengut sebal. "Dira terus, Dira terus..." keluhnya. "Perasaan dari awal urusan kita nggak jauh-jauh dari nama itu."Suaminya menoleh, tampakenimbang kata. Tau kalau itu adalah topik sensitif. "Udah, biarin," katanya. "Orang gila nggak usah kamu pikirin. Kamu lagi hamil, nggak bagus stres gara-gara hal nggak penting."Maura seketika menoleh patah-patah, tatapannya sengit tepat ke arah raha
Bumil itu turun, saat klakson mobil berwarna hitam yang sangat dihafal Maura berbunyi dua kali dari luar pagar kosan. Bumi sudah sampai.Maura yanh sudah bersiap langsung pamit dan berjalan cepat ke lantai bawah.Sedang dua temannya ikut keluar kamar, tapi cuma berhenti di balkon lantai dua. Keduanya menyandarkan siku di pembatas besi, memicingkan penuh rasa ingin tahu untuk menyaksikan adegan penjemputan secara langsung.Di bawah sana, Bumi tampak sudah berdiri di samping pintu penumpang yang dibukanya lebar-lebar. Pria tegap berkacamata itu mengenakan kemeja kerja yang gulungan lengannya sudah ditarik hingga siku. Begitu melihat Maura keluar, raut wajahnya yang tadinya datar seketika merekah.Tanpa mempedulikan situasi sekitar, Bumi mendekat. Tangan besarnya terulur, menyambar tas Maura untuk dipindahkan ke bahunya sendiri, lalu jemarinya merayap menyelipkan helai rambut Maura ke belakang telinga istrinya dengan sangat telaten. Bumi bahkan sempat menunduk, mendaratkan satu kecupan s
"Ya, kan beda konsep, Ra!" sanggah Risti tak terima, wajahnya berkerut dramatis sambil menepuk dadanya sendiri. "Ngurusin orang sakit mah atas dasar kemanusiaan! Lagian si Leon ngurusin gue juga cuma gara-gara gue sogok martabak manis kemarin!"Maura terkekeh pelan, mengambil sebutir kacang atom lalu melemparnya tepat mengenai dahi Risti. "Halah, alasan! Awas aja entar lo kualat, terus mendadak bucin setengah mati sama si Leon.""Ih, amit-amit! Mending gue jomblo seumur hidup daripada harus jadian sama manusia modelan Leon!" Risti mengetuk-ngetuk jidatnya sendiri lalu memukul lantai kosannya dengan penuh penghayatan. "Leon tuh pelitnya minta ampun kalau diajak patungan! Beda jauh sama Pak Bumi yang langsung beliin lo kaus jutaan tanpa kedip!""Itu juga beda konsep, kocak!" sahut Maura terkikik.Lama setelahnya. Saat matahari mulai condong ke barat, pintu kamar kos yang setengah terbuka itu mendadak terdorong pelan. Sesosok pria jangkung masuk dengan bahu agak merosot, membawa aroma re
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s







