Share

18. Teka-teki

Penulis: Rosa Rasyidin
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-30 18:13:15

"Tuangkan araknya, Mo Yan. Lalu mulailah bicara. Aku ingin tahu seberapa busuk akar pohon keluarga Bai sebenarnya."

Pangeran Rui menyandarkan kepalanya di bantalan sutra kereta yang berguncang pelan. Matanya terpejam, menikmati aroma dupa yang memenuhi ruang sempit itu.

Di hadapannya, Mo Yan, orang kepercayaannya yang bermata satu dan selalu mengenakan penutup mata hitam di sebelah kiri, menuangkan arak ke cawan kecil dengan tanpa terguncang sama sekali.

"Sesuai perintah, Pangeran Rui. Hamba sudah mengumpulkan informasi dari mulut-mulut pelayan yang pernah dibuang dari kediaman Bai. Keluarga itu tampak bersih di luar, tapi berantakan di dalam."

"Langsung ke intinya. Siapa pemegang kendali di sana?"

"Secara nama, Bai Xuanzhi, tapi dia hanyalah boneka," jawab Mo Yan cepat. "Istri pertamanya, Nyonya Yun, meninggal dua puluh tahun lalu. Laporan resmi menyebutkan penyakit menular yang mengerikan hingga jenazahnya harus segera dibakar tanpa upacara adat. Tapi rumor di kalangan budak mengata
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    39. Ketenangan yang Semu

    "Sedikit ke kiri, ah, ya, di situ. Tekan lebih dalam, jangan takut leherku tidak akan patah. Ototku ini sudah sekeras besi karena mengangkat kayu bakar setiap malam.""B-baik, Nyonya Li," sahut salah satu dayang medis. Jemarinya memijat tengkuk Muyin dengan baik dan benar, karena takut kalau salah kepalanya yang akan melayang.Muyin menarik napas panjang, matanya terpejam menikmati sensasi ngilu yang perlahan berubah menjadi kelegaan luar biasa. Ia berbaring membelakangi langit di atas dipan yang sudah diberi kain bersih dan tebal. Di bagian betis, seorang dayang lain sedang sibuk menusukkan jarum akupuntur ke titik-titik meridian."Dan kau, pastikan menusuk titik Zusanli dengan benar. Aku mau besok kakiku sudah ringan lagi. Kalau sampai aku masih jalan pincang, kau yang kuseret keliling desa." Muyin mengucapkan ancaman itu sambil tersenyum dan memejamkan mata."Hamba mengerti, Nyonya! Hamba akan lakukan yang terbaik!" jawab dayang itu panik, ia jadi buru-buru memutar jarum perak itu

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    38. Rasanya Bagaimana?

    Tabib Xu memejamkan matanya. Ruangan itu terasa hening, semua menunggu keputusan sang legenda medis. Mata Tabib Xu terbuka perlahan dan terlihat sangat berat."Kalian semua salah. Ini bukan penumpukan dahak, dan bukan sekadar ketidakseimbangan Yin dan Yang." Tabib Xu membelai janggut putihnya dan Ia menatap Muyin lekat-lekat."Nadi yang Nyonya Muda rasakan seperti langkah kaki kuda yang cepat adalah tanda kehidupan lain di dalam tubuhnya."“Maksudnya?” Muyin tak mengerti."Dua atau tiga bulan.” Tabib Xu mengulang lagi.“Apanya, Guru?” Muyin garuk-garuk kepala.“Heei, padahal kau perempuan masak tidak paham, Nyonya Muda Li, pasien itu hamil muda dan sangat berbahaya hamil di tengah wabah,” ucap Tabib Xu.Suasana di tenda berubah menjadi jauh lebih tegang. Dua tabib istana ternganga, wajah mereka pucat menyadari kesalahan yang hampir mereka buat."Celaka dua belas, tiga belas, empat belas, lima belas. Ini membuat segalanya menjadi rumit. Ramuan untuk membunuh wabah ini bersifat keras da

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    37. Diagnosa Awal

    "Muyin, bawa kotak jarummu kemari!" perintah Tabib Xu.Muyin, yang baru saja selesai meminum toniknya, segera bergegas menghampiri. Dua tabib istana turut hadir dan di hadapan merka terbaring seorang perempuan muda dengan wajah bintik-bintik merah dan tubuh lemah lesu serta mirip seperti bunga layu.Bibirnya pecah-pecah seperti tidak mendapat pasokan air munum, kondisi yang sangat mengkhawatirkan."Lihat ini." Tabib Xu menunjuk dada pasien yang naik turun tak beraturan. "Ramuan herbal sudah masuk, tapi Qi kotor di dalam tubuhnya menolak keluar. Demamnya sudah tujuh hari tidak turun. Jika dibiarkan semalam lagi, organ dalamnya akan terbakar habis dan dia akan meninggal serta menambah daftar korban yang tutup usia karena wabah."“Ini tidak bisa dibiarkan.”“Kalau wabah tidak selesai, bisa-bisa kepala kita dipenggal oleh kaisar,” ujar dua tabib bergantian.Tabib Xu menatap ke arah Muyin. "Aku sudah tua, mataku mulai rabun untuk mencari titik meridian yang halus di malam hari. Kau saja y

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    36. Bunga Rindu

    "Ini benar-benar gila! Bagaimana mungkin kementerian mengirim kita ke kandang babi seperti ini?"Suara keluhan itu mengganggu konsentrasi Muyin. Di gerbang desa, rombongan bantuan dari ibukota baru saja tiba.Dua orang tabib paruh baya terlihat turun dengan wajah masam, diikuti empat orang dayang medis yang mengenakan seragam hijau lumut berbahan halus. Cara berpakaian yang tidak cocok untuk ditempat yang sedang terkena wabah.Salah satu dayang medis, yang tampaknya paling senior, mengangkat roknya tinggi-tinggi dengan ujung jari. Wajahnya terlihat jijik saat melihat tanah becek bercampur muntahan dan lumpur di hadapannya."Sepatu sutraku bisa rusak kalau menginjak tanah ini.""Lihat orang-orang itu, kulit mereka bintik-bintik dan baunya ugh, aku bisa muntah sekarang juga.""Benar, Kak. Seharusnya kita melayani selir di istana yang wangi, bukan mengurus petani rendahan yang bau busuk begini," timpal dayang lainnya sambil menutup hidung dengan sapu tangan yang wangi.Mereka berdiri mem

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    35. Merajut Dendam

    Muyin bergerak perlahan mendekati seorang wanita tua yang terbaring lemah di atas tumpukan jerami kering. Wanita itu, yang dipanggil warga desa sebagai Nenek Qin, tubuhnya kurus kering dengan kulit keriput karena pengaruh usia."Nenek, waktunya minum obat," ucap Muyin lembut sambil berlutut.Ia meniup uap panas dari sendok kayu, lalu menyodorkannya ke bibir Nenek Qin. Namun, wanita tua itu tidak membuka mulutnya. Matanya yang cekung karena demam justru terbuka lebar, dan menatap wajah Muyin tanpa berkedip. Tatapan itu begitu intens bahkan sambil menitikkan air mata."Nenek, apakah obatnya terlalu panas?" tanya Muyin karena keheranan.Tangan Nenek Qin yang gemetar hebat perlahan terangkat. Jari-jarinya yang kasar dan keriput berusaha menyentuh ujung lengan baju Muyin."Nyonya Yu, apakah ini benar dirimu? Apakah Nyonya kembali menjemput dan membawa hamba pergi?"Muyin tersentak. Sendok di tangannya nyaris terjatuh. Yu adalah nama marga ibu kandungnya, Yu Xi Rou."Siapa?" Muyin meletakka

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    34. Nyonya Muda Li

    Bau anyir muntahan dan keheningan yang mencekam adalah suasana yang tergambar di Desa Lu sekarang. Pintu-pintu rumah tertutup rapat, dan hanya terdengar suara batuk yang bersahut-sahutan dari balik dinding kayu rumah warga.Tanpa membuang waktu untuk beristirahat atau menyapa para penduduk, Tabib Xu langsung mengambil alih wilayah kosong di tengah desa, yang dekat dengan sumber air."Jangan diam saja. Wabah bergerak lebih cepat dari angin!" ucap Tabib Xu. Ia tahu Keyi ketakutan melihat mayat ditutupi tikar di pinggir jalan.Muyin sempat menutup hidung agar ia tak ikut-ikutan muntah. Lalu ia teringat bahwa seorang tabib harus menutup mulut serta hidung agar tidak tertular penyakit. Wanita dengan lesung pipi itu meraih sapu tangan putih di lengan baju dan menutup separuh wajahnya.“Terlihat sangat mengerikan. Belum pernah aku melihat kematian tragis seperti ini, selain kematian kakakku,” gumam Muyin sambil menghapus satu titik air matanya."Buka peralatannya sekarang, Nyonya Muda." Tabi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status