Share

Bab 2 Sekutu

Penulis: Dhesu Nurill
last update Terakhir Diperbarui: 2024-05-02 15:25:59

"Bagaimana caranya, Nya?"

Bi Asih bingung bagaimana membantu majikannya. Sementara dia hanyalah orang biasa dan hampir sepuh yang tak punya kekuatan atau kekuasaan.

Hana diam sejenak. Di saat sedang sakit seperti ini, berpikir keras pasti akan membuat kesehatannya menurun. Namun demikian, jika diam saja maka dirinya yang akan hancur.

"Begini, Bi. Saya tidak bisa bebas bergerak sebab kondisi saya. Jadi, saya akan pasang CCTV dan minta bantuan orang untuk mengintai."

"Hah? Maksud Nyonya, intel?"

Hana menyergah. Wanita itu sempat tersenyum mendengar jawaban Bi Asih.

"Bukan, Bi. Orang biasa yang bisa dijadikan mata-mata. Nanti, saya kasih bayaran yang setimpal. Apa Bi Asih punya kenalan atau saudara yang bisa bantu saya?"

Wanita yang rambutnya sebagian memutih itu terlihat berpikir, mengingat-ingat siapa yang mungkin bisa membantu Hana. Sampai satu nama terlintas.

"Ada, Nya! Keponakan saya. Usianya 20 tahunan, seusia Non Kalila. Namanya Rendi."

Mata sayu Hana berbinar. "Benarkah? Apa dia bisa dipercaya?"

"Bisa, Nya. Dia itu anak pintar, cuma ayahnya meninggal. Jadi, terpaksa dia yang bekerja. Dia pernah jadi sopir di pasar, kirim sayuran."

"Bagus, Bi! Sekalian saja dia kerja di sini sebagai sopir Kalila juga mata-mata untuk saya. Gajinya dua kali lipat, bagaimana?"

Bi Asih terlihat senang. Mengingat kalau Rendi itu hanya kerja serabutan. Pernah jadi sopir beberapa bulan, tapi berhenti karena majikannya pindah ke kota lain. Ini juga akan lebih mudah sebab Rendi tidak mungkin berkhianat pada Hana yang juga majikan Bi Asih.

"Bisa-bisa, Nya."

"Bagus, Bi. Hari ini saya akan pesan CCTV sama toko langganan saya, biar langsung pasang hari ini juga. Bi Asih panggil Rendi ke sini, ya?"

Wanita itu langsung patuh, segera pergi untuk memanggil Rendi. Sementara Hana menghubungi toko langganannya untuk pasang CCTV. 

Kebetulan, saat Hana masih kerja di perusahaan, dia bagian GA atau general affair. Dia juga suka memesan CCTV untuk keperluan kantor. Jadi, mudah baginya mendapatkan benda itu.

***

"Nama saya Hana," ucap Hana sembari menyalami tangan Rendi.

Pemuda berperawakan tegap itu membungkukkan badan dan menyebutkan namanya. Kulitnya kecokelatan, khas orang pekerja keras yang ada di lapangan.

Ditelisik, Rendi itu tampan. Hanya saja karena sering bekerja kasar dan terus berada di bawah matahari langsung, wajahnya terlihat kelelahan. Cekungan matanya begitu jelas.

Hana tersenyum kecil. Tampaknya, dia bisa menggunakan Rendi untuk menghancurkan Kalila.

"Apakah Bi Asih sudah menjelaskan kenapa kamu saya panggil ke sini?"

Rendi mengangguk dengan patuh. "Sudah, Nyonya."

"Bagus. Saya akan menjelaskan ulang. Dengarkan baik-baik."

Hana menjelaskan apa saja tugas Rendi di sini. Wanita itu akan memberikan gaji besar dan menyekolahkan adik-adik Rendi.

Tentu saja pemuda itu senang. Bi Asih pun sangat berterima kasih kepada Hana.

"Ingat, Rendi. Kalau kamu setia, aku akan memberikan apa pun kebutuhan keluargamu dan menjaminya. Tapi, kalau kamu berkhianat, jangan harap bisa lepas dariku."

Hana mengatakan itu dengan serius dan mata membara. Rendi dan Bi Asih kaget mendengarnya.

Padahal, setahu Bi Asih, Hana adalah wanita penyabar dan lemah lembut. Tetapi, sekalinya disakiti sisi buruknya keluar dengan jelas.

Hana akan pastikan semua bukti terkumpul. Dengan begitu, dia bisa menyingkirkan Kalila dan Aji. Memberikan hukuman berat pada keduanya.

***

Dua hari kemudian, Kalila dan Aji pun pulang. Mereka keluar dari mobil yang sama sembari bergandengan tangan. Hana yang melihat dari jendela ruang tamu pun geram bukan main.

Bahkan, tampak sekali keduanya mesra. Hati Hana semakin membara. Sayangnya, untuk saat ini dia tidak bisa membongkar kebusukan keduanya.

Sang wanita harus benar-benar bisa mengumpulkan bukti. Untunglah, kemarin lusa Hana sudah memasang CCTV di ruang kerja Aji, kamar Kalila dan taman belakang rumah. Karena, tempat-tempat itulah yang diduga dijadikan tempat mereka bermesraan.

Hana terus melihat gerak-gerik keduanya, sampai akhirnya di depan pintu, Kalila melepaskan rangkulan tangan. Tampak seperti bersiap untuk berubah ekspresi.

Aji membukakan pintu dan Hana pun mundur dari jendela. Pria itu tampak kaget saat melihat istrinya ada di sana.

"Ya Tuhan! Hana, sedang apa kamu di sini?"

Kalila juga ikut kaget melihat kakaknya sudah ada di ruang tamu. Biasanya di jam sekarang, Hana sedang tiduran di kamar atau duduk di taman belakang.

"Loh, kenapa Kakak ada di sini?"

Kekagetan keduanya membuat Hana muak. Ingin sekali memaki keduanya. Sayangnya, Hana harus menahannya sekuat hati.

"Aku hanya sedang duduk di sini saja. Bosan kalau terus di kamar," timpal Hana, berusaha bersikap seperti biasanya.

Walaupun saat ini hatinya membara. Tetapi, untuk menguak kejahatan mereka, Hana harus sabar dan seolah dirinya tidak tahu apa-apa.

Kalila tampak menghela napas lega. Dia menyenggol lengan Aji pelan, seolah memberi isyarat. Hana juga melihat itu, tapi dia pura-pura tidak tahu.

"Em, Hana. Tadi, apa kamu melihat ke luar?"

Hana diam sejenak. Dalam hati dia mengutuk pria itu. Tetapi, dengan cepat Hana tersenyum sebaik mungkin.

"Enggak, Mas. Ngapain aku lihat ke luar, kaya ada pemandangan yang bagus aja," cetus Hana.

Lagi-lagi Kalila menghela napas lega. Aji pun tersenyum, pria itu mendorong kursi roda Hana untuk kembali ke kamar.

Hana mengeratkan genggaman pada pakaiannya. Ternyata, menahan diri agar emosi tidak meledak itu, tidak mudah.

Baru juga beberapa langkah, seseorang datang. "Nyonya, mesin mobil sudah saya cek. Masih bagus dan siap dipakai."

Kalila dan Aji kembali dikagetkan dengan kedatangan seorang pria. Dia adalah Rendi. 

"Han, siapa pria ini?"

"Oh, dia Rendi. Saudaranya Bi Asih. Katanya, butuh pekerjaan. Ya, aku suruh jadi sopir aja, Mas. Lagian, mobilku nganggur."

"So-sopir buat siapa, Kak?"

"Buat kamu," jawab Hana, dengan senyuman khasnya.

"Hah?! Aku gak pakai mobil, Kak."

"Loh, kenapa? Aku kasihan sama kamu. Sudah ngurusi aku, anak dan suami. Jadi, ini bentuk terima kasihku padamu."

Aji dan Kalila saling pandang. Mereka kaget dengan semua ini. Tetapi, gelagat Hana sama sekali tidak mencurigakan.

"Kamu tenang saja. Rendi ini bisa nyetir dan punya SIM. Jadi, kamu pasti aman. Iya kan, Ren?"

"Iya, Nyonya." Rendi menjawab itu sembari menatap Aji dan Kalila yang masih mematung, mencerna keputusan Hana.

"Ya sudah, Mas. Aku ke kamar dulu. Sudah waktunya istirahat," cetus Hana sembari mendorong kursi rodanya sendiri.

Rendi pun memilih mengikuti Hana, tidak mau sampai terjerat masalah di hari pertamanya bekerja.

"Mas, kenapa tiba-tiba pakai sopir? Nanti, aku gak bisa semobil dengan kamu lagi, dong!" seru Kalila kesal, setelah tidak ada Hana dan Rendi.

"Ya, aku juga kaget dengernya. Hana belum pernah cerita apa pun tentang pria itu."

"Jadi, gimana dong?" Wajah Kalila tampak khawatir.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Penyakitan Melakukan Pembalasan   Bab 70 Dipenjara atau Kehilangan Nyawa?

    Hana tidak memedulikan tangisan adiknya. Hatinya sudah kebal dengan semua drama yang dilakukan oleh sang adik. Lagipula, Hana menyangsikan ketulusan hati Kalila, apalagi dengan tangisan itu yang mungkin saja hanya kepalsuan.Bagi Hana, sekarang dia tidak mau lagi memedulikan orang yang tak penting, meskipun itu adalah saudara sendiri. Jika orang lain baik kepadanya, maka dia akan memberikan kebaikan berlipat-lipat pula. Tetapi, jika orang itu memberikan keburukan kepada Hana, dia akan menyingkirkannya dengan berbagai cara. Sudah cukup wanita itu melakukan pengorbanan selama ini, baik itu kepada adiknya maupun kepada suaminya. Untuk sekarang, Hana ingin benar-benar membahagiakan diri sendiri dan anaknya."Kak, aku mohon, Kak! Tolong aku!" seru Kalila setengah berteriak. Tiba-tiba saja dia memegangi kaki Hana.Wanita itu, yang hendak pergi, pun terhenti oleh pergerakan adiknya."Kak, aku mohon tolong kali ini saja! Beri aku kesempatan kedua. Apakah Kakak tega melakukan semua ini kepada

  • Istri Penyakitan Melakukan Pembalasan   Bab 69 Aku Tetap Menghukummu

    Hana akhirnya membalikkan badan sembari melipat tangan di depan dada. Tatapannya datar, tidak ada ketakutan, kesedihan, ataupun kekecewaan. Sudah terlalu banyak hal yang membuat Hana merasa sakit, bahkan mungkin saat ini perasaannya hambar kepada adiknya sendiri.Kasih sayangnya kini hanya tersisa setetes, sama seperti ikatan darah yang memang tidak bisa dihancurkan oleh apa pun. Kalau saja adiknya ini orang lain, mungkin dia akan melakukan semuanya dengan totalitas tanpa berpikir dua kali. Namun, Hana takut kalau orang tuanya merasa sedih, jadi dia hanya akan memberikan hukuman beberapa persen saja."Aku sudah punya banyak bukti, sebelum kamu mengatakan kalau kamu sendiri punya buktinya."Kalila, mendengar itu, terkesiap. Tubuhnya menegang di tempat. Raut wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Dia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang barusan didengar, seolah sebuah pukulan mutlak mendarat di hatinya sampai ia tidak bisa mencerna kata-kata kakaknya.Melihat kebingungan di mata K

  • Istri Penyakitan Melakukan Pembalasan   Bab 68 Harga Kebebasan

    Hana terdiam. Dia menatap lurus ke depan. Sudah diduga kalau adiknya itu pasti akan cuci tangan dengan cara menyerahkan bukti-bukti kejahatan Aji, agar dirinya bersih dari tuduhan apa pun.Mungkin kalau saja kasus ini tidak melibatkan perselingkuhan, tentu Hana akan memihak kepada Kalila. Tetapi, rasa sakitnya itu sudah terlalu mendalam, bahkan untuk memaafkan adiknya saja dia tak bisa.Dia melakukan ini hanya demi ikatan darah yang tidak bisa diganggu gugat. Hana akan menyelamatkan nyawa Kalila dari Aji hanya sampai batas itu, dan bukan berarti akan menyelamatkan Kalila dari hukuman yang seharusnya diterima.Terlihat Hana menarik napas panjang. Meskipun dari belakang, Kalila dengan jelas melihat pundak kakaknya naik turun, menandakan kalau wanita itu sedang berusaha tenang.Jantung Kalila berdetak dengan sangat kencang. Dia berharap kakaknya bisa memberikan toleransi kepadanya agar tidak dihukum atau membusuk di dalam penjara. Kalila janji, setelah masalah ini selesai, dia akan pergi

  • Istri Penyakitan Melakukan Pembalasan   Bab 67 Mengumpulkan Bukti (1)

    Setelah Aji diikat dengan kuat dan rapi di gudang, Rendy dan Bi Asih pun membantu Hana untuk mencari bukti-bukti yang sekiranya bisa dijadikan alat untuk menghancurkan Aji, terutama perselingkuhan suaminya dan adiknya. Namun sebelum itu, Hana pun menemui Kalila yang sedari tadi ada di kamar. Sejauh ini adiknya menurut dan tidak mengeluarkan suara apa pun yang bisa mencurigakan. "Tolong, ya. Cari apa pun yang sekiranya bisa dijadikan bukti dan juga cari saja di manapun. Entah itu di mobil, di tas kerja Mas Aji atau di manapun. Aku ingin bukti itu segera didapatkan sebelumnya Mas Aji sadar kembali." Kedua orang itu menganggukkan kepala, sementara Hana langsung berjalan ke tempat Kalila. Di dalam, wanita itu sudah benar-benar ketakutan. Bagaimana kalau Aji tahu keberadaannya di sini? Pasti wanita itu akan berada dalam bahaya atau mungkin nyawanya akan hilang detik itu juga.Tubuhnya tersentak saat mendengar pintu terbuka. Dia mematung tempat, takut jika yang datang itu Aji, tapi Kal

  • Istri Penyakitan Melakukan Pembalasan   Bab 66 Buat Dia Tak Berdaya

    "Kenapa kamu bertanya seperti itu, Hana? Tentu saja aku hanya ingin tahu, tidak lebih," ucap Aji, gelagatnya mencurigakan. Terlihat sekali canggung dan Hana sudah menangkap semua kebohongan itu sejak dia bertanya tentang kamar Kalila. Hana sudah yakin kalau semua ini tidak bisa ditunda lagi. "Ya sudah, Mas. Cepat sarapan, takut nanti telat. Jangan sampai kamu kesiangan. Nanti kesempatan untuk mencari kerja akan hilang," ujar Hana.Aji pun menurut saja dan dia langsung menyantap makanan dengan tenang. Sementara itu Nara hanya diam saja melihat pembicaraan kedua orang tuanya. Dia terlalu kecil untuk memahami yang sedang dibicarakan Hana juga ayahnya.Hana makan secara perlahan, dia ingin melihat suaminya menghabiskan makanannya terlebih dahulu. Baru dia akan menyusul untuk menghabiskan makanan yang ada di piring. Karena wanita itu sedang menunggu sesuatu yang sangat penting, yakni reaksi obat yang diberikan oleh Bi Asih ke minuman milik Aji. Tak butuh waktu lama sampai Aji selesai ma

  • Istri Penyakitan Melakukan Pembalasan   Bab 65 Inilah Waktunya

    Pria itu pun bergegas untuk membersihkan diri. Dia tidak tahu ke mana Kalila, yang pasti tujuannya kali ini adalah bertemu dengan rekannya yang sudah dimintai bantuan untuk mencari di mana keberadaan Kalila. Dia juga harus pastikan kalau bukti yang Kalila punya itu segera dimusnahkan.Suara ketukan pintu membuat Aji terkesiap, kebetulan pria itu sedang memakai jam tangan. Suara Hana juga terdengar dari sana."Mas, kamu sudah bangun, kan? Ayo kita sarapan! Nara juga sudah menunggu," ucap istrinya membuat Aji yang bernapas lega. Dia kira Hana ingin mengatakan apa, ternyata hanya mengajaknya sarapan. Semenjak Kalila hilang begitu saja, entah kenapa hatinya tidak tenang. Ketakutan jika Hana tahu tentang kejahatannya, termasuk memalsukan obat saat Hana sakit dulu. "Nggak bisa dibiarin. Bisa-bisa aku gila kalau ketakutan seperti ini. Lagi pula sebaiknya memang Hana tidak tahu apa-apa. Kalau aku sudah bertemu Kalila, aku juga akan membuat Hana kehilangan segalanya, termasuk Nara," ujar Aji

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status