LOGINMemasuki bulan kedelapan belas pernikahan, hubungan Alex dan Selena semakin renggang. Mereka jarang menghabiskan waktu bersama dan Selena semakin sering pulang larut, bahkan sering tidak pulang dengan alasan pekerjaan. Alex pun berhenti banyak bertanya karena setiap pembicaraan selalu berakhir dengan pertengkaran.
Alex memilih lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor dan fokus pada pekerjaan. Viona, sekretarisny
Beberapa minggu berlalu sejak masalah warisan antara Frans dan William selesai. Kasus yang sebelumnya memenuhi pikirannya setiap hari akhirnya berakhir dengan tenang. Namun setelah semuanya selesai, Frans justru mulai sering memikirkan Valeria. Awalnya hanya saat mengingat mediasi mereka, tetapi lama-kelamaan wajah Valeria muncul tanpa alasan yang jelas. Ia teringat cara Valeria berbicara, sikapnya yang tenang, dan keberaniannya dalam mengambil keputusan.Suatu sore, Frans duduk sendirian di ruang kerjanya. Semua dokumen di atas meja sudah selesai diperiksa, tetapi pikirannya justru tertuju pada hal lain. Ia mengambil ponsel dan membuka daftar kontak. Jarinya berhenti pada nama Valeria. Frans tersenyum kecil, lalu meletakkan kembali ponselnya tanpa melakukan apa pun."Kenapa akhir-akhir ini kamu sering muncul di pikiranku?"
Frans membaca pesan itu dua kali lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Selama hampir satu jam ia duduk sendirian sambil memikirkan banyak hal, tentang kasusnya, Valeria, dan keputusan yang ia buat selama tiga tahun terakhir. Dari sudut pandangnya sekarang, beberapa keputusan itu tidak lagi terasa tepat. Pesan dari nomor tidak dikenal tersebut semakin membuat semuanya terasa lebih jelas.Ia mengambil ponselnya lagi dan menghubungi pengacaranya."Hentikan semua langkah yang sedang berjalan," kata Frans begitu panggilan tersambung."Frans, kita sudah...""Aku tahu sudah sejauh mana," potong Frans dengan tegas. "Hentikan semuanya. Aku akan menghubungimu lagi."Frans mengakhiri panggilan lalu terdiam beberapa saat sebelum mening
Kafe di seberang gedung Sinclair & Partners bernama Amber, sebuah tempat yang tidak terlalu besar namun selalu terlihat penuh dengan orang-orang yang datang dari gedung-gedung di sekitarnya selama jam kerja.Valeria menatap pesan Alex selama beberapa detik sebelum menoleh ke Ethan."Kamu ingin aku ikut?" tanya Ethan dengan nada yang tidak mengarahkan ke jawaban manapun."Tidak perlu," jawab Valeria. "Aku akan menghubungimu nanti."Ethan mengangguk dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana. Valeria menatap kafe di seberang jalan sebentar, lalu menyeberang.Alex duduk di meja dekat jendela, sama seperti caranya selalu memilih tempat duduk yang memungkinkan ia melihat ke luar. Ia sudah melihat Valeria masuk dan berdiri sebelum Valeria sempat sampai ke mejanya."Terima kasih sudah mau datang," kata Alex dengan nada yang tidak menyembunyikan kelegaan di baliknya."Kamu bilang ada yang perlu dikatakan," jawab Valeria sambil duduk, meletakkan tasnya di sisi kursi. "Aku
Valeria tiba di gedung Sinclair & Partners tepat pukul sembilan pagi. Ethan berjalan di sampingnya dengan sebuah map tipis. Keduanya tetap tenang meski tahu pertemuan itu tidak akan biasa. Sebelum masuk, Valeria sempat memastikan semua yang ingin disampaikannya sudah siap. Di lantai dua belas, resepsionis menyambut mereka dan mengarahkan mereka ke ruang pertemuan."Frans Sinclair sudah menunggu," kata resepsionis itu dengan nada profesional.Valeria mengangguk lalu masuk. Ruangan itu cukup luas dengan meja oval dan dinding kaca yang menghadap kota. Beberapa dokumen sudah tersusun rapi di atas meja. Frans duduk di ujung meja bersama dua orang. Salah satunya adalah pengacaranya, sementara yang lain tidak Valeria kenal. Dari sikapnya, pria itu tampak bukan sekadar staf biasa. Valeria duduk berhadapan dengan Frans, sementara Ethan duduk di sampingnya.
Valeria membaca pesan itu tiga kali.Setiap kali ia membacanya, kalimat terakhirnya terasa semakin berat di dadanya. “Sesuatu tentang pernikahanmu dulu dengan Alex. Dan tentang mengapa pernikahan itu sebenarnya tidak seharusnya terjadi.” Natalia yang berdiri di sampingnya melihat perubahan di wajah Valeria dan langsung mendekat."Ada apa?" tanya Natalia pelan, matanya bergerak ke layar ponsel Valeria.Valeria menyerahkan ponselnya tanpa berkata apapun.Natalia membacanya. Keningnya berkerut. "Siapa yang kirim ini?""Tidak tahu," jawab Valeria singkat, mengambil ponselnya kembali. "Tapi formatnya sama dengan pesan-pesan sebelumnya."Natalia menatapnya dengan ekspresi yang sudah tidak lagi ringan seperti tadi. "Kamu akan cari tahu?""Entahlah," jawab Valeria.Ia membalas pesan itu dengan satu kalimat. “Apa maksudnya?”Balasan datang tidak sampai tiga menit, lebih cepat dari yang Valeria perkirakan untuk seseorang yang biasanya memberikan informasi sepotong demi sepotong.“Yang seharusny
Valeria masih berada di kantornya pukul tujuh malam. Gedung fakultas sudah mulai sepi, tetapi lampu meja dan laptopnya masih menyala. Ia hanya duduk dengan secangkir teh yang sudah dingin sambil memikirkan semua yang terjadi sejak Ethan dan Rania pergi.Ponselnya tiba-tiba bergetar. Nama Ethan muncul di layar dan Valeria langsung mengangkat panggilan itu sebelum dering kedua."Rekaman sudah diperiksa," kata Ethan langsung tanpa pembukaan. "Asli. Tidak ada editan. Dan isinya persis seperti yang Rania ceritakan."Valeria meletakkan cangkir tehnya. "Seberapa jelas?""Sangat jelas," jawab Ethan dengan nada tegas. "Frans menyebut namamu tiga kali. Pengacaranya juga menjelaskan rencananya dengan detail, termasuk kapan mereka akan mengajukan keberatan resmi terhadap netralitasm
Makan malam berlangsung seperti biasa, percakapan ringan, tawa kecil, dan topik-topik aman tentang bisnis, pendidikan, serta kehidupan sosial. Semua orang tampak nyaman, kecuali Valeria. Ia duduk tenang, sesekali menjawab saat ditanya, namun lebih sering diam, mengamati, dan menunggu.Hingga akhirn
“Siapa yang telepon Val?” tanya Nadia penasaran.Valeria terdiam, dia hanya menunjukkan ponselnya ke Natalia.“Gak diangkat?” tanya Natalia lagi.Hening sesaat. Awalnya Valeria sengaja tidak ingin mengangkat telepon Alexander, tapi ia berubah pikiran.Valeria menarik napas dalam-dalam, lalu akhirny
“Mama? Ada apa mama tiba-tiba telepon?” gumam Valeria.Tangannya sempat bergetar sebelum akhirnya menekan tombol hijau di layar ponselnya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan suaranya. “Halo, Ma…” ucapnya, berusaha terdengar biasa.“Val, kamu di mana sekarang?” suara lembut Helena L
“Pasti Alex senang dengan kejutan aku. Hari ini ulang tahunnya dan aku ingin membuatkan acara spesial untuknya.” ujar Valeria sambil tersenyum.Kotak kue itu terasa lebih berat dari seharusnya. Valeria Laurent menatapnya sekilas sebelum kembali melangkah masuk ke dalam gedung megah milik keluarga P







