LOGINSetelah hampir satu jam berlatih, akhirnya Estella berhasil memarkir mobilnya dengan cukup baik. Mobil sport merah muda itu berhenti tepat di dalam garis parkir.
Estella menoleh kepada Jonathan dengan wajah penuh kemenangan. “Aku berhasil!” Jonathan mengangguk singkat. “Ya. Cukup bagus.” Senyum Estella mengembang lebar. “Berarti aku sudah bisa parkir?” “Sudah.” Estella mengepalkan kedua tangannya kecil karena senang. NCahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai, menerangi kamar Fablo yang masih sunyi. Pria itu perlahan membuka mata, tetapi alih-alih segera bangun, ia justru menatap langit-langit dengan pikiran yang kembali terseret pada kejadian semalam. Kedatangan Benev di hotel. Pertengkaran mereka. Dan pengakuan pria itu bahwa dirinya belum menceraikan Estella. Fablo mengusap wajahnya kasar. “Apa maksudnya? Kenapa semuanya begitu rumit?” Fablo menghembuskan napas panjang, lalu menyingkirkan selimut dan beranjak dari ranjang. Ia membersihkan diri sebelum turun ke lantai satu untuk sarapan. Namun, begitu tiba di ruang makan, langkahnya melambat. Tidak ada Estella. Hanya seorang pelayan yang sedang menata hidangan di atas meja. Fablo menarik kursi, tetapi sebelum duduk, ia menoleh kepada wanita itu. “Estella belum pulang?” Pelayan tersebut menggeleng sopan. “Belum, Tuan. Sampai pagi in
Estella menyeka air matanya dengan kasar, lalu berbalik dan masuk kembali ke kamar. Ia tak ingin melihat wajah Benev lebih lama. Pria itu sudah cukup menyakitinya, dan ia tidak punya tenaga untuk menghadapi kebohongan lain darinya. Fablo hendak menyusul, tetapi Benev segera menghadangnya. “Biarkan dia sendiri,” ujar Fablo dingin. “Justru kau yang harus pergi.” Benev menatapnya tajam. “Ini urusan suami istri. Jangan ikut campur.” Fablo mendengus. “Suami istri? Kau baru saja mengatakan sendiri bahwa kau tidak menceraikannya. Lalu, di mana kau ketika dia menangis karena merasa dibuang olehmu?” Rahang Benev mengeras. “Jangan menguji kesabaranku, Fablo.” Suaranya merendah, tetapi ancaman di dalamnya terdengar jelas. “Pulanglah sebelum aku kehilangan kesabaran dan membuatmu menyesali keputusanmu untuk ikut campur dalam rumah tanggaku.” Fablo terdiam. Ia ingin membalas, tetapi dari soro
Tatapan Benev melewati bahu Fablo, menyapu bagian dalam kamar sebelum berhenti pada Estella yang terbaring di atas ranjang. Rahangnya mengeras. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Kemudian, ia kembali menatap Fablo dengan sorot mata yang semakin tajam. “Apa yang sedang kau lakukan bersama istriku?” “Istriku?” Sudut bibir Fablo terangkat sinis. “Estella bukan istrimu.” Benev tersenyum miring, “Minggir!” “Tidak.” Fablo menghalangi pintu dengan tubuhnya. “Kau tidak akan masuk dan menyentuh Estella seujung jari pun.” Satu alis Benev terangkat, kedua tangannya terlipat di dada. “Kau siapa berani-beraninya melarang seorang suami menemui istrinya sendiri?” Alih-alih menjawab, Fablo justru melangkah keluar kamar, lalu menutup pintu di belakangnya. Begitu berhadapan langsung dengan Benev, ia mendorong dada pria itu dengan keras hingga keduanya terpisah beberapa langkah. “Ak
Fablo menelan ludah dengan susah payah. Kalimat yang baru saja keluar dari mulut Estella membuatnya kehilangan kata-kata selama beberapa detik. “Apa yang kamu katakan?” ia berusaha tersenyum tipis, menyembunyikan kegugupan yang mulai mengusik dadanya. “Sebentar lagi Kakak selesai bekerja. Setelah itu, kita pulang.” Fablo hendak beranjak, tetapi Estella segera meraih lengannya. “Aku serius, Kak.” Gadis itu mendongak, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Lagipula, aku bukan istri orang lagi. Aku tidak punya ikatan dengan siapa pun. Aku bebas melakukan apa pun yang kuinginkan.” Fablo berbalik dan menghembuskan napas panjang. “Jangan menganggap hal seperti ini sepele, Este. Ada banyak hal yang harus kamu pikirkan sebelum mengambil keputusan.” Estella tersenyum hambar. “Aku bahkan belum pernah disentuh suamiku sendiri, Kak.” Deg! Jantung Fablo seolah menghantam dadanya sendiri. Ia ti
Estella mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang nyaris tak terkendali. Jemarinya mencengkeram setir erat-erat, sementara tubuhnya gemetar menahan gejolak emosi yang sejak tadi menghantam tanpa ampun. Matanya memerah, dipenuhi air mata yang berkali-kali mengaburkan pandangan. Bayangan akta perceraian itu terus berputar di kepalanya, seolah tak memberinya kesempatan untuk bernapas lega. Tanpa sadar, ia membelokkan mobil menuju bar tempat Fablo bekerja. Begitu tiba, Estella langsung turun dan melangkah masuk dengan wajah pucat. Fablo yang sedang berada di balik meja bar sontak mengangkat kepala. Senyum tipis muncul di wajahnya saat melihat sepupunya datang, tetapi segera menghilang ketika menyadari keadaan Estella. “Estella? Bukannya kau mau ke perusahaan ayahmu?” Belum sempat Fablo mendekat, Estella sudah menerjang ke dalam pelukannya. Tangisnya pecah seketika. Kedua tangannya mencengkeram pa
“Hari ini kelasmu sampai jam berapa, Este?” tanya Fablo ketika mereka berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir di halaman rumah. “Sampai sore, Kak.” Fablo mengangguk, lalu membukakan pintu mobil untuknya. “Kalau begitu, bagaimana kalau malam nanti kamu ikut ke bar? Siapa tahu kamu penasaran ingin melihat suasana di sana pada malam hari. Lagipula, sekarang kamu sudah cukup umur. Tidak ada salahnya mengenal dunia luar dan mencoba hal-hal baru.” Estella terdiam sejenak sebelum menggeleng pelan. “Tidak, Kak. Setelah kuliah, aku berencana pergi ke perusahaan Ayah.” “Oh, begitu.” Fablo tidak memaksanya. “Baiklah. Kamu bisa datang lain kali kalau sudah punya waktu luang. Sekarang, ayo berangkat. Jangan sampai terlambat masuk kelas.” Estella mengangguk kecil, kemudian masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, ia lebih banyak diam sambil memandangi pemandangan di luar jendela. Pikirannya masih







