MasukDi sebuah kafe privat nan tenang, Karina tampak menyesap cangkir kopinya perlahan saat sebuah suara mengalihkan perhatiannya.“Ada perlu apa sampai putri pengusaha besar Adhiwangsa ingin bertemu denganku?”Karina mengalihkan pandangannya. Di hadapannya kini berdiri Felisa, tampil elegan namun sarat aura dingin. Felisa menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan, lalu melangkah anggun dan duduk tepat di seberang Karina.Dengan napas berat dan raut wajah penuh amarah yang tertahan, Karina mulai bicara.“Raymond mengaku padaku... kalau dia melakukan kesalahan yang sama.”Felisa mengerutkan dahi, terkejut mendengar ucapan itu. “Apa maksudmu?”Dalam hidup tentu manusia banyak melakukan kesalahan, termasuk Raymond. Tapi Felisa sangat tahu, kesalahan yang dianggap fatal dan tak ingin Raymond ulang adalah, tidur dengan perempuan sebelum menikah.Karina menatap Felisa dengan pandangan sinis menajam. “Ternyata ada wanita sundal lain yang menggunakan cara menjijikkan persis seperti dirimu d
BRAK!Raymond tersentak kaget ketika suara pintu ruang kerjanya terhempas sangat keras. Karina baru saja membanting pintu saat melangkah keluar dengan derai air mata dan amarah yang meluap.Hening.Raymond mencoba menenangkan diri, menarik napas panjang, lalu membuka berkas laporan keuangan perusahaan di layar monitornya. Kedua alisnya bertaut erat, dahi berkerut dalam mengamati angka-angka yang tertera di sana.Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka perlahan. Jimmy melangkah masuk dengan raut penasaran yang tak bisa disembunyikan.“Ada perlu apa lagi Karina datang?” tanya Jimmy tanpa basa-basi.Raymond menyugar rambutnya ke belakang dengan ekspresi lesu, lalu bersedekap dada. Sambil bersandar santai di kursinya, ia melirik Jimmy dengan sorot mata jahil.“Menurutmu... setampan apa sih aku ini, Jim? Sampai-sampai Karina masih saja gigih mengejarku?”Bukannya pujian atau rasa kagum yang didapat, selembar kertas di atas meja langsung diremas dan melayang tepat mengenai dada Raymond, di
Jimmy memberi isyarat pamit dengan tepukan pelan di bahu Raymond sebelum akhirnya melangkah keluar, melewati Karina yang berdiri anggun di ambang pintu.“Lama tidak jumpa, Ray,” sapa Karina dengan nada suara tenang. Ia melangkah masuk, membiarkan pintu tertutup rapat di belakangnya. “Bagaimana kabarmu?”“Seperti yang kamu lihat,” jawab Raymond singkat, tetap duduk tegak di balik meja kerjanya tanpa menunjukkan reaksi berlebihan.Karina mendekat perlahan, matanya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang terkesan sangat mapan.“Sepertinya bisnismu semakin berkembang saja. Kudengar Vastu Chandra sedang dapat banyak proyek di mana-mana.”Raymond mengangguk tipis. Secara statistik, laporan keuangan perusahaannya memang menunjukkan tren lonjakan yang signifikan beberapa bulan terakhir ini.“Ini semua berkat hasil kerja keras tim yang profesional.”Karina menyunggingkan senyum sinis. Dari laporan intelijen bisnis yang didapatnya, putri konglomerat itu merasa semakin yakin dengan duga
Langkah Jovita tertahan, wajahnya memerah karena terkejut setengah mati. Ia menunduk, menggigit bibir bawahnya karena teramat malu untuk memberikan jawaban atas pertanyaan sindiran yang tepat sasaran dari pemuda di sebelahnya itu.Jovita menarik napas panjang, menata gejolak di dadanya. Ia teringat kembali pada posisinya, hubungannya dengan Raymond sah secara hukum dan agama. Tidak ada alasan sedikit pun merasa malu, apalagi bersalah pada Dylan.Jovita mengangkat kepalanya, menjawab dengan raut wajah tenang.“Ada urusan pekerjaan.”“Di Kaliurang?” potong Dylan cepat dengan senyum miring yang sinis. “Di sana dingin, pasti asik banget.”Jovita tersenyum garing, berusaha tidak terprovokasi ucapan Dylan.“Itu cuma kebetulan, Dyl. Om Ray cuma ingin aku belajar langsung di lapangan, jadi ilmunya tidak sebatas teori ngambang dari kampus.”Pernyataan Jovita memang tidak salah. Tak bisa dipungkiri, kemampuan arsitektur Jovita berkembang sangat pesat semenjak magang di Vastu Chandra, atau lebih
Setelah berhasil menguasai gejolak di dadanya, Raymond mengumbar tersenyum hangat. Ia melangkah menghampiri sang putri dan menyapanya dengan nada akrab seperti tidak terjadi apa-apa.“Belum tidur?” sapa Raymond renyah.“Belum,” jawab Viola singkat.Suara gadis itu terdengar dingin dan berjarak, seolah ada benteng tebal yang enggan ia robohkan untuk bicara lebih panjang.Raymond mencoba mengabaikan nada ketus itu.“Papa bawakan oleh-oleh Bakpia Pathok. Tuh, sudah Papa titipkan ke Bi Lastri.”Viola hanya mengangguk samar tanpa minat. “Makasih.”Melihat respons yang begitu seadanya, Raymond sadar betul bahwa putrinya masih memendam amarah dan belum sanggup menerima kehadiran wanita lain sebagai pengganti ibunya. Arsitek senior itu mencoba mencairkan suasana yang kaku.“Gimana di rumah selama Papa pergi? Nggak ada masalah, kan?”Viola menggeleng pelan, matanya enggan menatap lurus ke arah papanya.“Terus, bagaimana perkembangan skripsimu?” lanjut Raymond, mencoba mencari topik lain. Ia me
@Dylan Hadiningrat[Vio sudah curiga papanya pergi dengan perempuan][Tapi dia belum tahu itu kamu][Satu lagi, Vio baru saja menemui mantan kekasih papanya][Kamu harus hati-hati] Jovita membaca pesan itu berulang kali dengan napas tertahan. Tak bisa dipungkiri, ada takut yang menyelinap di batinnya. Meskipun gejolak cemburu di dada Raymond belum seutuhnya menguap setiap kali melihat nama Dylan, tapi dalam hati kecilnya, Raymond harus mengakui keberanian dan iktikad baik pemuda itu. Dylan telah memberinya informasi dan peringatan yang sangat berharga dan tidak mungkin dia abaikan begitu saja. Raymond menatap sopir yang sedari tadi fokus. Dia merasa beruntung mengikuti saran Jimmy menyewa sopir professional untuk perjalanan bisnis kali ini. selain bisa hemat tenaga, mereka bisa membicarakan hal serius selama perjalanan. Raymond menatap wajah Jovita yang masih pucat. “K
Pagi belum sepenuhnya pecah kala Jovita berusaha menggeser lengan kekar yang melingkari pinggangnya. Tubuhnya terasa begitu lemas dan remuk setelah semalaman penuh menjadi pelampiasan gairah liar Raymond yang tak terbendung.Begitu Jovita bergerak sedikit saja untuk turun dari ranjang, lengan tegap
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari







