Home / Romansa / Istri Rahasia Om Raymond / 46. Muslihat Raymond

Share

46. Muslihat Raymond

last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-28 10:56:11

Raymond memperbaiki posisi berdirinya, lalu menatap Jovita dengan tatapan dingin yang dipaksakan.

Di hadapan Jimmy yang masih menahan tawa, Raymond sengaja memasang topeng profesionalnya sebagai seorang atasan yang kaku.

“Jovita,” panggil Raymond dengan nama asli dan terdengar formal. Suaranya sengaja dibuat sinis dan penuh penekanan.

“Ingat, kamu berada di biro arsitek ini atas rekomendasi dan permintaan langsung dari Viola. Belajarlah dengan benar dan tunjukkan progres yang jelas. Jangan samp
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
vyv
pulang kantor samperin aja om si jovita istrimu itu biar ga ngambek ...
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
ha ha ha bingung sendiri kan?
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Istri Rahasia Om Raymond   47. Menafkahi Istri

    Waktu menunjukkan pukul lima sore lewat sedikit ketika Jovita berlari kecil menyusuri trotoar, membelah keramaian pejalan kaki. Mata mahasiswa magang itu bergerak waspada ke sekeliling sebelum akhirnya membuka pintu dan menyelinap masuk ke dalam mobil SUV hitam milik Raymond yang terparkir aman sekitar satu blok dari gedung Vastu Chandra. Begitu pantat Jovita menyentuh jok kulit, Raymond yang sudah menunggu di balik kemudi langsung menodongnya dengan pertanyaan bernada sinis. "Lama sekali. Pakai acara say goodbye dulu ya sama Aris?" Jovita yang masih terengah-engah langsung menoleh, menyangkal dengan dahi berkerut jengkel. "Nggaklah!" Raymond mendengus pelan, melirik jam tangannya. "Lalu kenapa telat?" "Tadi saya ke toilet dulu,” jawab Jovita lirih, “Sama Aris?” Ada amarah di suara Raymond. Apalagi dia teringat penolakan Jovita di kamar mandi rumah sakit tadi pagi. “Apaan sih, Om?” Jovita cemberut wajahnya terlihat tidak nyaman. “Pakai pembalut," sambungnya polos tan

  • Istri Rahasia Om Raymond   46. Muslihat Raymond

    Raymond memperbaiki posisi berdirinya, lalu menatap Jovita dengan tatapan dingin yang dipaksakan.Di hadapan Jimmy yang masih menahan tawa, Raymond sengaja memasang topeng profesionalnya sebagai seorang atasan yang kaku.“Jovita,” panggil Raymond dengan nama asli dan terdengar formal. Suaranya sengaja dibuat sinis dan penuh penekanan.“Ingat, kamu berada di biro arsitek ini atas rekomendasi dan permintaan langsung dari Viola. Belajarlah dengan benar dan tunjukkan progres yang jelas. Jangan sampai performa kerjamu di sini membuat Viola kecewa.”Raymond sengaja mencatut nama anaknya, di depan para karyawan. Bukan tanpa sebab, ini adalah bagian dari muslihat taktis agar ia memiliki alasan logis untuk tetap memantau dan berada di dekat Jovita dalam lingkungan kerja tanpa memicu desas-desus.Sementara itu Jovita hanya bisa menunduk dalam-dalam sambil mengangguk samar.“Baik, Pak Raymond. Saya mengerti,” ucap gadis itu lirih.Ada rasa takut, bersalah, dan malu yang bercampur aduk di dalam d

  • Istri Rahasia Om Raymond   45. Cemburu Buta

    “Besok jangan telat lagi ya, Jo,” ujar Aris, nada suaranya tegas mengingatkan.Di kubikel kerja, Aris melipat gulungan cetak biru di atas meja lalu menatap Jovita dengan raut wajah serius, terlihat professional dan mengayomi sebagai mentor.“Tidak ada gunanya kamu bela-belain lembur sampai malam kalau paginya diawali dengan tidak disiplin. Di Vastu Chandra, manajemen waktu itu nomor satu.”Jovita menunduk dalam, meremas jemarinya yang mendadak dingin.“Iya, Mas. Maaf, saya akan berusaha nggak ulangi lagi.”Dalam hati, Jovita merutuk habis-habisan. Ia menyalahkan Raymond yang telah mengurungnya di kamar hotel hingga tak bisa memanfaatkan waktu pagi ini.Tapi, saat ingatan tentang bagaimana pria matang itu menyentuhnya dan bagaimana ia meringkuk di dada bidang Raymond melintas di benaknya, Jovita tidak bisa berbohong. Sepasang pipinya seketika merona merah, memancarkan semburat hangat yang untungnya tertutup oleh helai rambutnya yang menjuntai.Aris yang tidak menyadari pergolakan batin

  • Istri Rahasia Om Raymond   44. Seberapa Besar Nyalimu?

    Sebuah pulpen montblanc melayang di udara, tepat sasaran menuju dada Jimmy sebelum akhirnya ditangkap dengan tangkas oleh pria itu sambil tertawa renyah.“Keluar dari ruanganku, Jim. Kembali kerja,” usir Raymond tajam.Kilat salah tingkah di mata Raymond tidak bisa disembunyikan dari pengamatan sang sahabat. Semburat tipis di tulang pipinya menegaskan bahwa todongan Jimmy baru saja menghantam telak egonya.Jimmy meletakkan pulpen itu kembali ke atas meja kerja Raymond dengan bunyi ketukan pelan. Seringai usil di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi serius yang melenyapkan seluruh atmosfer bercanda di antara mereka.Jimmy mendesah berat, lalu menopang kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Raymond.“Lalu, apa rencanamu sekarang?” tanya Jimmy, nadanya kini berubah menjadi suara seorang penasihat bisnis yang dingin dan rasional. “Kau tahu betul siapa Haryo Adhiwangsa.”Raymond tidak menyahut. Ia hanya menegakkan punggung, bersedekep dada, dan siap men

  • Istri Rahasia Om Raymond   43. Umpan Cantik

    “Bagaimana bisa, Ray?” Jimmy setengah berteriak, matanya masih terpaku pada selembar surat bukti nikah siri di tangannya dengan tatapan tidak percaya. “Kamu gila? Kapan kamu melakukan semua ini?”Raymond tidak langsung menjawab. Ia hanya mengetukkan jarinya ke atas meja kerja dengan tenang, lalu memberikan perintah singkat, “Lihat tanggal yang tertera di sana.”Jimmy dengan cepat menggeser pandangannya ke baris tanggal dokumen tersebut. Mulutnya sedikit terbuka saat menyadari sebuah memori yang familiar. “Ini... hari ulang tahun Viola?” gumam Jimmy lirih.Raymond mengangguk lambat, pandangannya menerawang jauh. “Waktu itu Viola memintaku untuk mengantar Jojo pulang karena sudah kemalaman. Tapi di sana, aku justru melihat dia disiksa habis-habisan sama ayah kandungnya sendiri.”Napas Raymond memberat saat mengingat kejadian malam itu. “Pria itu terus-menerus meminta uang. Karena Jojo menolak memberikan, dia mulai kalap. Pria tua itu berteriak-teriak histeris di lingkungan sekitar,

  • Istri Rahasia Om Raymond   42. Jujur pada Sahabat

    Melewati barisan kubikel karyawan magang, langkah kaki Raymond mendadak melambat. Sepasang matanya menangkap pemandangan yang seketika menyulut api cemburu di dadanya.Di sana, Jovita sedang duduk berdekatan dengan Aris, salah satu arsitek muda berbakat di Vastu Chandra. Yang saat ini mendapat tugas untuk membimbing anak-anak magang.Keduanya tampak begitu serius mendiskusikan sebuah cetak biru di atas meja kerja, sesekali Aris tersenyum ramah yang dibalas dengan anggukan dan tawa tipis oleh Jovita.“Nah, garis potongan yang ini sudah bagus, Jo. Kamu punya insting yang kuat untuk detail fungsional,” puji Aris sambil tersenyum ramah, wajahnya berjarak cukup dekat dengan Jovita karena sama-sama memandangi kertas kalkir.“Tapi ingat, ke depannya harus lebih fokus lagi ya, biar kamu nggak sering-sering mengulang revisi dari awal. Sayang energinya.”Jovita tertawa tipis, sebuah tawa lepas yang sama sekali tidak ia tunjukkan saat menatap Raymond siang ini.“Sip, Mas. Jangan bosan-bosan ya m

  • Istri Rahasia Om Raymond   24. Malam Kedua

    Raymond melangkah masuk dengan gerakan lambat, setelah mengunci pintu dari dalam. Setiap gerakannya teraasa mengintimidasi. Ia melepaskan jasnya, menyisakan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya sudah terbuka, memamerkan urat-urat lehernya yang menegang.Tatap Matanya langsung tertuju pada Jovit

  • Istri Rahasia Om Raymond   23. Kunjungan Tengah Malam

    “Bagaimana kalau kita coba berpikir sedikit lebih dewasa... dan mengesampingkan ego masing-masing?”Jovita memindahkan ponselnya ke telinga kiri, lalu meringkuk di atas tempat tidur dengan lutut ditekuk.Di seberang saluran telepon, suara Viola terdengar sangat nyaring, memecah keheningan malam kam

  • Istri Rahasia Om Raymond   21. Bisnis dan Cinta yang Sejalan

    Suasana restoran privat di hotel bintang lima malam itu terasa begitu intim sekaligus intimidatif.Cahaya lampu kristal yang temaram memantul di atas meja marmer panjang yang dipenuhi hidangan kelas atas. Raymond duduk berhadapan dengan Haryo Adhiwangsa dan istrinya, Daniar.“Draf konsep alternatif

  • Istri Rahasia Om Raymond   20. Cemburu

    Di ruang kerja khusus anak magang, Jovita duduk di depan sebuah meja draf digital besar. Di sampingnya berdiri sosok arsitek muda bernama Aris.Pria berusia dua puluh enam tahun itu adalah mentor yang ditunjuk langsung untuk membimbing Jovita selama tiga bulan ke depan.Sebagai alumni magang di bir

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status