LOGINRaymond menatap Kaisar, mempertahankan ketenangan meski aura di antara mereka terasa makin menegang.“Ada atau tidak ada perempuan lain dalam hidupku, itu adalah privasiku. Dan aku tidak wajib memberikan penjelasan apa pun padamu,” tegas Raymond, suaranya tenang namun dingin tak tergoyahkan.Raymond jeda sejenak, memperbaiki posisi duduknya sebelum melanjutkan. “Di sini aku ingin bicara padamu sebagai seorang ayah. Saat aku dihadapkan pada pilihan sulit antara memilih Karina atau putriku... terpaksa aku memilih putriku. Aku tidak mungkin bermain-main dengan keselamatan anakku sendiri. Aku harap kau bisa memahami keputusanku ini.”Kaisar mengangguk perlahan. Wajahnya menyirat keteduhan yang matang. Sebagai pria yang memikul beban keluarga dan bisnis skala besar, ia bisa mengerti naluri Raymond.“Aku paham, Ray,” jawab Kaisar akhirnya. “Aku harap peristiwa dan masalah pribadi ini tidak membuat urusan bisnis kita terganggu. Semoga kita tetap bisa bekerja sama dengan baik ke depannya.”Se
PLAK!Suara tamparan memecah keheningan ruangan. Karina seketika tersudut, memegangi pipinya yang memerah panas seraya meneteskan air mata.Kaisar berdiri dengan napas memburu, menyambar beberapa lembar foto dari meja dan melemparnya tepat ke wajah Karina hingga kertas-kertas itu berserakan di lantai.“Apa-apaan ini, Karin?!” bentak Kaisar dengan suara menggelegar. “Bisa-bisanya kamu berhubungan dan berkumpul lagi dengan Felisa?! Kamu mau menghancurkan reputasi dirimu sendiri dan keluarga Adhiwangsa? Semua orang di kalangan atas tahu Felisa itu wanita panggilan kelas atas pascabercerai dari Raymond!”Karina mendongak, berusaha membela diri di balik tangisnya. “Aku cuma butuh informasi, Kak! Cuma Felisa yang tahu banyak tentang Raymond!”Kemarahan Kaisar justru semakin menjadi mendengar pembelaan adiknya.“Lupakan Raymond! Buka hatimu untuk laki-laki lain! Papa sudah mencarikan jodoh terbaik untukmu, jadi jangan permalukan keluarga Adhiwangsa lagi dengan mengejar pria yang tidak mengin
Lidah Raymond menjilat tanpa ampun, dua jarinya bergerak semakin dalam, menekan titik yang membuat paha Jovita bergetar hebat.Napas Jovita itu semakin pendek. Tangannya masih menekan kepala suaminya, kuku-kuku menancap di rambut Raymond.“Om… aku… ahh…”Tubuhnya menegang. Punggung melengkung, dinding dalamnya menyempit di sekitar jari Raymond, dan erangan panjang keluar saat klimaks pertama menyapunya. Cairan basah membasahi bibir dan dagu pria itu. Raymond tidak berhenti seketika. Ia terus menghisap pelan sampai getaran di tubuh istrinya mereda, baru kemudian mengangkat wajah.Bibirnya basah, mata gelap. Ia naik ke atas, siap menekan tubuh Jovita ke kasur, tapi tangan kecil istrinya menahan dadanya.“Biarkan aku…” bisik JovitaRaymond mengerutkan alis, tapi menurut. Ia berbalik terlentang di samping istrinya. Jovita duduk, masih terengah. Menatap sang suami yang lembur hampir setiap malam, ia tahu betul betapa lelahnya pria itu.Malam ini, Jovita tidak ingin hanya menerima. Dia ingi
Di tengah kesibukannya mengecek draf master plan dan menyetujui beberapa dokumen anggaran di meja kerjanya, perhatian Raymond sejenak teralih pada layar monitor. Pria itu tengah melihat-lihat katalog koleksi perhiasan model terbaru dari sebuah merek perhiasan mewah ternama.Beberapa gambar kalung dan cincin berdesain elegan sempat ia simpan di ponselnya. Awalnya Raymond berniat mengirimkannya pada Jovita untuk bertanya mana yang disukai istrinya, tapi jemarinya mendadak tertahan. Jika Jovita sampai tahu lebih awal, itu bukan lagi sebuah kejutan manis untuk perayaan ulang tahun pernikahan pertama mereka yang tinggal menghitung hari."Maaf, Jo... belum bisa memberi perayaan yang spesial di depan umum," gumam Raymond pelan pada dirinya sendiri. Pria itu lalu mendesah berat, mengacak rambutnya frustrasi. "Ini semua gara-gara Jimmy…"Gara-gara sahabat sekaligus orang kepercayaannya itu masih mengambil cuti mendampingi sang istri pascamelahirkan, semua urusan Vastu Chandra praktis menumpuk
Di ruang kerjanya, Raymond mengerutkan dahi membaca pesan masuk di layar ponselnya. Bi Lastri, asisten rumah tangganya itu, tumben mengirim pesan kepadanya, biasanya dia langsung menelepon.@MAK LASTRI[TUAN GA USAH PULANG]Raymond terkekeh sinis dalam hati. Dia yang punya rumah, dia yang membayar gaji ART itu setiap bulan, tapi bisa-bisanya perempuan paruh baya tersebut lancang melarangnya pulang ke rumah sendiri.Belum sempat rasa kesalnya membuncah, pesan berikutnya sudah masuk.@MAK LASTRI[ADA NY FELI]Mata Raymond menyempit. Tanpa berpikir panjang, jemarinya langsung mengetik balasan singkat.@Raymond Chandra[Baik, terima kasih]@MAK LASTRI[BIBI MASAK SOTO][SAYA TITIP NON JOJO BUAT TUAN MAKAN MALAM]Raymond menghembuskan napas lega. Terkesan dengan asisten rumah tangganya yang sangat pengertian.Dengan terhindarnya bentrok tak berguna bersama sang mantan istri, kini Raymond bisa berfokus penuh melahap sisa beban pekerjaan yang menumpuk selama Jimmy mengambil cuti.Semangat Ra
Jovita mendatangi Jimmy yang sedang mengayun tubuh mungil Jasmine. “Boleh gendong, Pak?” Tangannya terulur dengan mata berbinar penuh antusias.“Awas lho, Jo... kalau sampai diompoli bisa langsung 'nular' hamil,” goda Jessica dari atas ranjang, menyunggingkan senyum jahil. “Tapi kalau dilihat-lihat, kamu memang sudah pantes banget gendong bayi.”Jovita hanya bisa mengukir senyum canggung tanpa tahu harus merespons seperti apa.Jimmy yang menangkap kekakuan itu langsung menyahut cepat menetralkan suasana. “Tenang aja, Jo. Baby Jas pakai pampers kok, aman.”Viola yang berdiri di samping tempat tidur tertawa pelan, lalu berceletuk, “Gimana mau ketularan, Tan... cowok aja belum punya.”Jimmy melirik Viola sejenak, lalu membalas santai. “Harus nikah dulu, Vio... baru boleh mikirin punya anak.”Deg.Sindiran halus yang tak disengaja itu sukses membuat Viola seketika gelagapan. Lidahnya mendadak kelu. Kalimat Jimmy seolah menghantam tepat di ulu hati, memicu ingatan pahitnya akan skandal kel
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini







