Masuk“Besok jangan telat lagi ya, Jo,” ujar Aris, nada suaranya tegas mengingatkan.Di kubikel kerja, Aris melipat gulungan cetak biru di atas meja lalu menatap Jovita dengan raut wajah serius, terlihat professional dan mengayomi sebagai mentor.“Tidak ada gunanya kamu bela-belain lembur sampai malam kalau paginya diawali dengan tidak disiplin. Di Vastu Chandra, manajemen waktu itu nomor satu.”Jovita menunduk dalam, meremas jemarinya yang mendadak dingin.“Iya, Mas. Maaf, saya akan berusaha nggak ulangi lagi.”Dalam hati, Jovita merutuk habis-habisan. Ia menyalahkan Raymond yang telah mengurungnya di kamar hotel hingga tak bisa memanfaatkan waktu pagi ini.Tapi, saat ingatan tentang bagaimana pria matang itu menyentuhnya dan bagaimana ia meringkuk di dada bidang Raymond melintas di benaknya, Jovita tidak bisa berbohong. Sepasang pipinya seketika merona merah, memancarkan semburat hangat yang untungnya tertutup oleh helai rambutnya yang menjuntai.Aris yang tidak menyadari pergolakan batin
Sebuah pulpen montblanc melayang di udara, tepat sasaran menuju dada Jimmy sebelum akhirnya ditangkap dengan tangkas oleh pria itu sambil tertawa renyah.“Keluar dari ruanganku, Jim. Kembali kerja,” usir Raymond tajam.Kilat salah tingkah di mata Raymond tidak bisa disembunyikan dari pengamatan sang sahabat. Semburat tipis di tulang pipinya menegaskan bahwa todongan Jimmy baru saja menghantam telak egonya.Jimmy meletakkan pulpen itu kembali ke atas meja kerja Raymond dengan bunyi ketukan pelan. Seringai usil di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi serius yang melenyapkan seluruh atmosfer bercanda di antara mereka.Jimmy mendesah berat, lalu menopang kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Raymond.“Lalu, apa rencanamu sekarang?” tanya Jimmy, nadanya kini berubah menjadi suara seorang penasihat bisnis yang dingin dan rasional. “Kau tahu betul siapa Haryo Adhiwangsa.”Raymond tidak menyahut. Ia hanya menegakkan punggung, bersedekep dada, dan siap men
“Bagaimana bisa, Ray?” Jimmy setengah berteriak, matanya masih terpaku pada selembar surat bukti nikah siri di tangannya dengan tatapan tidak percaya. “Kamu gila? Kapan kamu melakukan semua ini?”Raymond tidak langsung menjawab. Ia hanya mengetukkan jarinya ke atas meja kerja dengan tenang, lalu memberikan perintah singkat, “Lihat tanggal yang tertera di sana.”Jimmy dengan cepat menggeser pandangannya ke baris tanggal dokumen tersebut. Mulutnya sedikit terbuka saat menyadari sebuah memori yang familiar. “Ini... hari ulang tahun Viola?” gumam Jimmy lirih.Raymond mengangguk lambat, pandangannya menerawang jauh. “Waktu itu Viola memintaku untuk mengantar Jojo pulang karena sudah kemalaman. Tapi di sana, aku justru melihat dia disiksa habis-habisan sama ayah kandungnya sendiri.”Napas Raymond memberat saat mengingat kejadian malam itu. “Pria itu terus-menerus meminta uang. Karena Jojo menolak memberikan, dia mulai kalap. Pria tua itu berteriak-teriak histeris di lingkungan sekitar,
Melewati barisan kubikel karyawan magang, langkah kaki Raymond mendadak melambat. Sepasang matanya menangkap pemandangan yang seketika menyulut api cemburu di dadanya.Di sana, Jovita sedang duduk berdekatan dengan Aris, salah satu arsitek muda berbakat di Vastu Chandra. Yang saat ini mendapat tugas untuk membimbing anak-anak magang.Keduanya tampak begitu serius mendiskusikan sebuah cetak biru di atas meja kerja, sesekali Aris tersenyum ramah yang dibalas dengan anggukan dan tawa tipis oleh Jovita.“Nah, garis potongan yang ini sudah bagus, Jo. Kamu punya insting yang kuat untuk detail fungsional,” puji Aris sambil tersenyum ramah, wajahnya berjarak cukup dekat dengan Jovita karena sama-sama memandangi kertas kalkir.“Tapi ingat, ke depannya harus lebih fokus lagi ya, biar kamu nggak sering-sering mengulang revisi dari awal. Sayang energinya.”Jovita tertawa tipis, sebuah tawa lepas yang sama sekali tidak ia tunjukkan saat menatap Raymond siang ini.“Sip, Mas. Jangan bosan-bosan ya m
Jimmy melangkah masuk setelah mengantar para investor. Tapi, langkah kaki Jimmy melambat begitu ia merasakan atmosfer canggung yang mendadak mencekik ruangan tersebut.Sebagai orang yang tadi pagi mendengar ‘desahan gila’ Raymond di telepon dan tahu persis rahasia apa yang sedang disembunyikan sahabatnya.Jimmy langsung bisa membaca situasi dari ekspresi tegang Raymond. Dipandanginya sang sahabat dengan tatapan prihatin sekaligus ngeri, seolah tahu betul ada beban baru yang luar biasa berat yang baru saja dijatuhkan ke atas pundak sang arsitek.Raymond berdeham pelan, mencoba menguasai kembali gejolak emosinya sebelum menatap lurus ke mata Haryo.“Sebenarnya itu usul yang sangat bagus, Om.” Raymond terdiam, menjeda kalimatnya. “Tapi... bisakah kita membicarakan dan menjadwalkan ulang hal ini setelah kondisi Vio benar-benar pulih?”Senyum di wajah cantik Karina seketika luntur. Gurat kekecewaan yang mendalam kembali tercetak jelas di sana, ia menyadari bahwa ini artinya dia harus menga
Raymond mengangguk hormat ke arah Haryo Adhiwangsa dan para investor, lalu mengambil posisinya di ujung meja utama tanpa menunjukkan riak kepanikan sedikit pun.Melihat ketenangan yang ditunjukkan Raymond setelah membuat jantungnya hampir copot, Jimmy hanya bisa mendengus kesal dalam diam, memutar bola matanya jengah melihat tingkah sahabatnya yang berlagak suci itu.Rapat akhirnya resmi dibuka. Suasana di dalam ruangan mendadak hening dan penuh fokus begitu Raymond berdiri di depan layar proyektor utama, siap mempresentasikan mahakarya terbaru dari biro arsitek Vastu Chandra.Arcade Square, mega-proyek mall terbesar yang digadang-gadang akan menjadi ikon baru pusat perbelanjaan modern.Di atas layar, Raymond menampilkan maket digital tiga dimensi yang memukau. Desain Arcade Square memadukan lekukan fasad kaca antipanas yang megah dengan integrasi hutan vertikal di sepanjang dinding luar mall.Begitu Raymond mengambil posisinya di depan layar proyektor utama, suasan seketika berubah m
Raymond melangkah masuk dengan gerakan lambat, setelah mengunci pintu dari dalam. Setiap gerakannya teraasa mengintimidasi. Ia melepaskan jasnya, menyisakan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya sudah terbuka, memamerkan urat-urat lehernya yang menegang.Tatap Matanya langsung tertuju pada Jovit
“Bagaimana kalau kita coba berpikir sedikit lebih dewasa... dan mengesampingkan ego masing-masing?”Jovita memindahkan ponselnya ke telinga kiri, lalu meringkuk di atas tempat tidur dengan lutut ditekuk.Di seberang saluran telepon, suara Viola terdengar sangat nyaring, memecah keheningan malam kam
Suasana restoran privat di hotel bintang lima malam itu terasa begitu intim sekaligus intimidatif.Cahaya lampu kristal yang temaram memantul di atas meja marmer panjang yang dipenuhi hidangan kelas atas. Raymond duduk berhadapan dengan Haryo Adhiwangsa dan istrinya, Daniar.“Draf konsep alternatif
Di ruang kerja khusus anak magang, Jovita duduk di depan sebuah meja draf digital besar. Di sampingnya berdiri sosok arsitek muda bernama Aris.Pria berusia dua puluh enam tahun itu adalah mentor yang ditunjuk langsung untuk membimbing Jovita selama tiga bulan ke depan.Sebagai alumni magang di bir







