LOGINDamian bersandar dinding rumah sakit dengan wajah pucat pasi. Tangannya bergetar hebat memegangi kepalanya saat matanya menatap pintu ruang pemeriksaan di depannya tanpa kedip.‘Tuhan, jangan lagi... jangan ambil dia juga,’ ratap Damian dalam hati, matanya tak berkedip menatap pintu ruang pemeriksaan.Trauma masa lalu menghantam tanpa ampun, bayangan kelam akan kematian istri pertamanya kembali datang menghantui. Rasa takut melumpuhkan seluruh sendinya, Damian benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangan lagi.Dari ujung koridor, Dylan melangkah lebar-lebar dengan raut wajah panik bercampur cemas.“Mama kenapa, Pi?” tanya Dylan setengah memekik begitu sampai di hadapan ayahnya.Damian hanya menggeleng pelan, tak sanggup bersuara. Raut wajahnya dipenuhi ketakutan yang mendalam serta beban rasa bersalah yang teramat sangat.Melihat kehancuran dan ketakutan di mata ayahnya, Dylan justru mendesis lirih. Dengan nada dingin dan sinis, ia menatap Damian tajam.“Aku harap Papi nggak menyes
Jovita merona, lalu buru-buru mengalihkan pembicaraan. “Di kulkas sepertinya masih ada masakan dari Bi Siti... tinggal diangetin aja.”Jovita bergerak hendak memungut pakaian dan celananya yang berserakan di lantai. Namun belum sempat jemarinya meraih, Raymond sudah lebih dulu menyelimuti tubuh polos Jovita dengan kemeja putih miliknya yang longgar.“Pakai ini saja, biar cepat,” potong Raymond santai.Ketika Jovita berniat meraih kain segitiga kecil miliknya yang tertinggal di sudut sofa, jemari Raymond dengan sigap merebut dan menyembunyikannya di belakang punggung.“Kamu nggak butuh benda ini untuk malam ini,” bisik Raymond dengan tatapan nakal.Jovita membelalakkan mata, memprotes halus. “Om... jangan aneh-aneh ya di dapur nanti!”Bukannya mundur atau merasa bersalah, tawa renyah Raymond justru pecah. Pria itu menarik Jovita ke dalam pelukannya dari belakang, menumpukan dagunya di bahu Jovita seraya berbisik tepat di telinganya.“Kamu kan belum pernah merasakan sensasinya bermain d
Raymond menundukkan wajahnya lebih dalam. Lidahnya menyapu pelan sepanjang celah basah Jovita, menekan titik sensitif itu dengan ujung lidah sebelum menghisapnya perlahan.‘Tuhan, rasanya mau meledak...’ batin Jovita kacau. Desahan halus keluar dari bibirnya, jemarinya mencengkeram erat tepi sofa saat tubuhnya sedikit terangkat tanpa sadar.Raymond tidak terburu-buru. Ia membuka paha istrinya lebih lebar dengan kedua tangan, lalu menjilat lagi, kali ini lebih dalam, lebih kasar. Lidahnya masuk ke celah yang sudah basah, bergerak pelan sambil sesekali menghisap kuat di titik puncaknya. Suara gesekan basah terdengar jelas di antara napas mereka.“Ahh… Om…” erang Jovita, suaranya bergetar.Tanpa peringatan, Raymond menyelipkan dua jari sekaligus. Jari-jarinya masuk jauh ke dalam, menggesek dinding hangat yang seketika menyempit ketat, sementara lidahnya tetap bergerak tanpa ampun di atas. Tempo permainan itu kian cepat. Setiap dorongan jari diiringi hisapan yang membuat kedua paha Jovita
Raymond memejamkan mata terlebih, mengawali permohonan.“Semoga kita berdua selalu diberikan kebahagiaan, rumah tangga ini terus bertahan selamanya. Hanya maut yang memisahkan.”Jovita tersenyum haru, lalu ikut memejamkan mata dan menyahut riang, “Semoga Jojo bisa lulus dengan nilai sempurna di sidang skripsi nanti! Lalu bisa menjadi istri yang baik buat Om Ray.”Raymond tertawa kecil mendengar kepolosan istrinya, lalu melanjutkan permohonan berikutnya. “Semoga kita cepat dikaruniai anak-anak yang lucu dan menggemaskan.”“Semoga Om Ray selalu setia dan sayang keluarga, tidak lirik perempuan lain lagi,” timpal Jovita cepat tanpa membuka mata.“Jojo juga harus selalu setia sama Om, jangan sampai tergoda pria yang lebih muda,” balas Raymond tak mau kalah.Jovita mengulum senyum, lalu membisikkan doa dengan nada jahil yang mengoda. “Dan... semoga stamina Om Raymond tetap terjaga sampai tua nanti!”Mendengar permohonan terakhir yang makin mengada-ada dan menjurus itu, Raymond langsung memb
“Aku jujur padanya kalau aku sudah menikah lagi. Saat Karin bertanya apa aku mau punya anak dari istri baruku, aku jawab 'mau'. Aku nggak bohong, kan? Aku memang sangat mau punya anak lagi... tapi hanya dari kamu, Jovita.”Penjelasan itu mengalir jujur, tanpa kebohongan yang disembunyikan. Raymond tak ingin salah paham sekecil apa pun melingkupi hubungan mereka dan tumbuh menjadi duri.“Kita tidak bisa menyembunyikan pernikahan kita selamanya, aku juga ingin menjalani rumah tangga yang normal seperti pasangan lainnya.”Penjelasan tulus itu merobohkan pertahanan Jovita. Pertahanan yang sejak tadi ia bangun atas dasar prasangka seketika runtuh. Air mata kelegaan meluncur deras menyusuri pipinya. Tanpa ragu, ia merangsek maju, menghambur ke pelukan Raymond dan memeluk erat pinggang suaminya.Mengetahui Jovita sampai cemburu buta hingga menangis terisak, Raymond bukannya marah melainkan malah merasa sangat gemas. Pria itu menyunggingkan senyum jahil seraya menatap wajah istrinya yang masi
Di dalam taksi yang melaju membelah malam, Jovita duduk terpaku di sudut kursi dengan hati yang dipenuhi kegamangan.Sebagai seorang istri, statusnya jelas dan sah secara hukum maupun agama. Namun di mata publik, keberadaannya bagaikan bayangan tak kasat mata.Pikiran buruk mulai menggerogoti Jovita, seandainya Raymond benar-benar menghamili perempuan lain, apakah ia punya keberanian untuk melabrak seperti istri sah lainnya?Sebuah pertanyaan pahit menyeruak, Haruskah mereka bercerai saja?Memasuki pintu apartemen, keheningan menyambut Jovita. Tak lama kemudian, lampu ruangan menyala. Di hadapannya, Raymond berdiri membawa sebuah kue ulang tahun berukuran kecil.“Selamat ulang tahun untuk pernikahan kita,” ujar Raymond lembut dengan senyum hangat melingkupi wajahnya. “Semoga kebahagiaan selalu hadir membersamai kita.”Jovita mengerutkan dahi, bingung. Seingatnya, mereka menikah secara siri tepat di hari ulang tahun Viola. Lantas mengapa Raymond justru merayakannya malam ini?“Om tidak
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se







