LOGINBerulang kali Raymond melirik jam tangan di pergelangan kirinya sembari memacu mobilnya membelah lalu lintas kota.Perasaannya sama sekali tidak tenang. Ia tidak ingin Jovita terlalu lama berada dalam situasi canggung saat berduaan dengan Viola.Tapi, bagaimanapun juga, jembatan perdamaian di antara istri dan putrinya tetap harus diusahakan demi keutuhan keluarga mereka.Setibanya di pekarangan rumah yang sudah beberapa hari tak diinjakkannya itu, Raymond bergegas turun dan melangkah cepat ke dalam. Tapi, baru beberapa langkah melewati pintu utama, dahi Raymond seketika berkerut heran mendapati pemandangan yang sangat janggal.Bi Lastri tampak berdiri kaku di dekat pintu kaca menuju taman belakang, menyembunyikan sebagian tubuhnya di balik lipatan gorden tebal.Raymond melangkah mendekat tanpa suara, lalu berbisik lirih di samping asisten rumah tanganya itu, "Ada apa, Bi?"Bi Lastri terkejut, buru-buru menempelkan jari telunjuknya di depan bibir, memberi kode agar sang majikan tidak b
“Bagaimana kabar baby-nya, Jo?” Suara Viola dibuat sehalus dan sepeduli mungkin. “Katanya kemarin kamu sempat bedrest total, ya?”Jovita mengusap perutnya secara refleks, mencoba bersikap sewajarnya. “Sudah jauh mendingan, Vio. Sekarang sudah bisa beraktivitas seperti biasa lagi.”“Syukurlah kalau begitu...” Viola tersenyum makin lebar, lalu mengibaskan tangannya pelan mengisyaratkan ke arah pintu utama. “Yuk, masuk. Kita ngobrol santai di dalam aja.”Sambil melangkah berdampingan memasuki rumah megah tersebut, Viola berusaha setengah mati menjaga intonasi dan tutur katanya agar tetap manis di hadapan Jovita, meski sejujurnya hal itu sangat bertentangan dengan gejolak emosi dan kekesalan yang tengah membakar hatinya saat ini.Setibanya di dalam rumah, Viola langsung berbalik menatap Jovita dengan raut ramah yang dibuat-buat.“Jo, kita ke kamarku saja yuk, seperti biasa. Di atas kan lebih santai dan leluasa buat ngobrol,” ajaknya halus.Jovita tertegun. Lidahnya mendadak kaku saat memi
Raymond terdiam beberapa saat, mendengarkan dengan penuh perhatian suara di seberang telepon. Wajah tegasnya perlahan melunak, menyunggingkan senyum hangat yang tulus.“Baik, nanti papa sampaikan sama Jojo,” ujar Raymond lembut. Pria itu mengusap tengkuknya, lalu melanjutkan dengan penuh keharuan.“Papa senang banget kalau kamu mau menerima Jojo sebagai mamamu. Papa yakin... dia bakal jadi mama sekaligus sahabat yang sangat baik buat kamu.”Jovita menahan napasnya. Binar amarah yang sempat menyala di matanya seketika runtuh, berganti dengan rasa haru yang membuncah begitu menyadari siapa sosok di balik telepon tersebut.Raymond menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menambahkan instruksi dengan suara tenang namun penuh penekanan.“Ketemuannya di rumah saja, ya. Kalau nanti siang papa longgar, papa pulang agar kita bisa makan siang bareng. Kalau nggak, kamu bisa ngobrol sama Jojo sepuasnya.”“Yah… padahal aku pengin ajak Jojo nongkrong di kafe biasanya,” sahut suara di seberang sa
“Sukanya ninggalin istri sendiri di kamar...” keluh Jovita pelan dengan bibir memanyunkan rasa sebal.Sambil merapatkan tali jubah satin yang membalut tubuhnya, ia bergegas melangkah keluar menuju area dapur. Namun, rasa jengkelnya seketika menguap begitu pandangannya menangkap sosok sang suami.Di depan kompor, Raymond tengah sibuk memasak hanya dengan mengenakan celana training santai. Punggung lebar serta tubuh bagian atasnya yang atletis terpampang jelas, dihiasi jejak-jejak kemerahan, tanda cinta yang baru saja ditinggalkan Jovita dari pergelutan hangat mereka pagi tadi.Jovita mengusap lembut perutnya yang masih terasa hangat, bergumam manis pada calon buah hatinya, “Lihat... Daddy sudah buatkan sarapan enak buat kalian.”Raymond menoleh saat mendengar langkah kaki dan gumaman tipis itu. Senyum tampannya terkembang melihat sang istri sudah berdiri tak jauh darinya.“Sudah bangun?”Jovita tak menjawab, tanpa ragu mendekat dan melingkarkan kedua tangannya dengan manja di pinggang
"Masih pagi begini sudah berani menagih, Hm?" bisik Raymond serak.“Kan janji adalah utang, Om. Apalagi ini janji nafkah, utangnya dobel-dobel.”Raymond tersenyum tipis, suara tawa beratnya bergetar pelan di dalam dada. Rasanya pertahanan dirinya yang dibangun berhari-hari runtuh seketika melihat tatapan memohon sekaligus menggoda dari sang istri.Raymond menangkup lembut kedua pipi Jovita lalu menariknya ke dalam ciuman hangat yang dalam. Sentuhan bibir mereka yang bertaut mengalirkan kerinduan luar biasa yang selama ini tertahan. Ciuman di pagi hari itu terasa manis, penuh kelembutan, namun perlahan berubah semakin pekat dan bergairah.Jovita melingkarkan kedua tangannya di leher Raymond, membalas setiap lumatan suaminya dengan kepasrahan yang manis. Raymond berhati-hati betul membalikkan posisi, menyangga bobot tubuhnya dengan siku agar tidak menekan perut Jovita.Dengan penuh kelembutan, Raymond menuntun istrinya memasuki momen intim yang hangat dan memastikan setiap sentuhannya t
“APA?!” Felisa menjerit saat mendengar cerita putrinya, matanya membelalak tak percaya. “Jojo... anak kandung dari istri barunya Pak Damian Hadiningrat?!”Tak sanggup menanggung sesak dan amarahnya sendirian, Viola membuat janji bertemu dengan mamanya untuk mencurahkan kegundahan hatinya.Mereka terpaksa bertemu di sebuah kafe privat di luar, sebab Raymond telah memberikan perintah tegas kepada seluruh penjaga rumah untuk melarang Felisa menginjakkan kaki di kediamannya lagi.“Iya, Ma!” sahut Viola terdengar frustrasi dan penuh kekesalan.“Info dari temen yang kerja di perusahaan papanya Dylan, tadi malam mereka baru saja mengadakan pertemuan keluarga. Seluruh keluarga Hadiningrat menerima Jojo dengan tangan terbuka... termasuk Dylan dan papanya! Malah katanya Pak Damian sendiri yang meminta Papa untuk bertemu!”“Dylan nggak takut Jojo akan merongrong warisannya?”“Nggak tahu, Ma. Dari dulu kan, Dylan memang suka Jojo.”“Sekarang mereka jadi saudara, harusnya Dylan nggak kejar Jojo la
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita







