LOGIN“Ayah...” gumam Jovita lirih, bola matanya melebar menatap sosok pria di depan pintu masuk.Meski sudah lama tak bertatap muka, Jovita masih mengenali garis wajah dan postur ayahnya dengan sangat baik.Raymond seketika menoleh, memiringkan tubuhnya ke arah Jovita. “Dia... ayahmu?”Raymond kembali melemparkan pandangannya ke arah kerumunan satpam dan pria lusuh itu untuk memastikan. Raymond memang tidak terlalu mengenali wujud ayah mertuanya, mengingat mereka hanya pernah bertemu sekali saat pernikahan siri yang tergesa-gesa dulu, itu pun dalam suasana penuh tekanan.Melihat kekacauan di depan dan menyadari riwayat sang ayah mertua yang penuh masalah, Raymond langsung mengambil keputusan tegas.“Kalau begitu, kamu masuk dulu lewat pintu samping. Biar aku yang urus dia.”“Tapi, Om...” potong Jovita panik, jemarinya cemas mencengkeram lengan kemeja Raymond.“Nggak ada tapi-tapian, Sayang,” potong Raymond lembut namun sangat tidak menerima bantahan. “Aku enggak mau membahayakan kamu dan a
Joni mengepalkan tangannya erat-erat, matanya menatap tajam ke arah aspal jalanan. Otaknya berputar keras, memikirkan bagaimana cara agar ia bisa kembali bangkit dari keterpurukan ini.Pria yang dulunya pengusaha kaya itu sudah tidak punya apa-apa lagi. Harta, perusahaan, bahkan keluarganya sudah hancur tak berbekas. Sekarang dia hidup di jalanan, bertahan hidup dari belas kasihan orang.Tiba-tiba, ingatan Joni tertuju pada sosok anak perempuannya. Pria itu bergumam lirih, “Seharusnya sekarang Jojo sudah lulus... Dia pasti sudah kerja.”Joni mengerutkan dahi, mencoba mengingat kembali potongan-potongan masa lalu yang berhubungan dengan putri tunggalnya itu. Binar licik seketika melintas di matanya.“Bukankah... dia sudah menikah dengan papa sahabatnya itu?”Sebuah seringai tipis terukir di bibirnya yang kering. Sebuah rencana picik mulai terbangun di dalam kepalanya. Joni menatap sekeliling tempat kumuh itu dengan tekad bulat untuk segera angkat kaki dari sana.‘Aku harus menemui Jojo
“Dasar jalang! Gara-gara kau, perusahaanku hancur! Keluargaku hancur!” teriak pengemis itu dengan suara serak melengking, matanya melotot penuh kemurkaan.Mata Felisa membelalak lebar ditimpa rasa takut yang membuncah. Mengenali suara dan pancaran dendam dari masa lalunya, wanita itu menjerit kecil lalu buru-buru bangkit dan bersembunyi ketakutan di balik punggung Julian.“Jul! Usir dia, Jul! Usir!”Pengemis itu hendak menerjang maju dan meraih rambut Felisa, namun dengan sigap pemilik warung tenda yang melintas langsung menghadang dan mencengkeram lengan pengemis tersebut.“Hei, hei! Mau ngapain kamu?!” bentak pemilik warung dengan nada tinggi. “Jangan bikin rusuh di sini! Ini tempat orang makan, jangan bikin onar! Keluar!”“Lepas! Iblis betina itu harus bayar semuanya!” raung pengemis itu berontak, berusaha menjangkau Felisa yang makin menyusut di belakang Julian.“Keluar! Pergi! Atau aku panggil petugas keamanan di sini!” ancam pemilik warung sembari mendorong paksa pengemis itu ke
Malam semakin larut saat Raymond dan Jovita akhirnya beranjak dari taman belakang dan melangkah menaiki satu per satu anak tangga menuju kamar utama di lantai dua.“Nggak usah buru-buru, Sayang,” bisik Raymond saat Jovita menariknya. “Masih ada waktu semalaman penuh buat kita,” sambungnya sambil terkekeh pelan, mendekap pinggang Jovita yang kian berisi dari belakang untuk membantunya berjalan menaiki tangga.Jovita menoleh sedikit, menyunggingkan senyum manja. “Baby yang udah nggak sabar pengin ketemu Daddy-nya.”Raymond menyahut geli, mengusap lembut perut istrinya. “Ah, bilang aja Mommy-nya yang udah ngebet.”Begitu melangkah masuk ke dalam kamar, keheningan ruangan seketika merayap. Raymond memutar kunci memastikan tak aka nada gangguan, keduanya seolah langsung melepas seluruh beban dan ketegangan yang menumpuk seharian.Tanpa memberi jeda, Jovita membalikkan badan dan memagut bibir Raymond dengan begitu penuh rasa damba, menumpahkan seluruh rindu dan kehangatan yang mendalam. Keb
Elvi masih bersandar santai di atas brankar menatap putranya penuh selidik.“Dyl, kenapa sikap kamu ke Jojo tadi kelihatan agak beda? Cuek dan ketus gitu, kalian ada masalah?”Dylan yang sedang menata botol susu adiknya menghembuskan napas pendek.“Kesal aja, Ma. Kalau Jojo mau datang ke sini jenguk Mama ya datang aja, kenapa harus ajak Vio segala? Bikin suasana jadi enggak asik.”“Apa salahnya kalau Jojo ajak Vio, mereka kan keluarga.”Damian yang duduk di samping brankar menyela sembari menyipitkan mata. “Kamu benar-benar begitu sama Viola? Atau cuma pura-pura di depan Papi aja?”Dylan menatap papinya dengan tatapan sinis, lalu menghembuskan napas kasar.“Sudah deh, Papi... enggak usah bahas dia lagi. Nanti adikku malah terlalu banyak mendengar omongan buruk. Kalau bisa, nanti kalau ada acara apa-apa di keluarga kita, kasih pesan khusus sama Om Raymond, nggak usah ajak anaknya yang manja itu.”Elvi tersenyum geli melihat nada antipati Dylan yang begitu kentara terhadap Viola. “Janga
"Dedek namanya siapa, Bun? Biar nggak bingung kalau mau panggil,” tanya jovita penasaran.Elvi tersenyum manis lalu mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan, menatap putra sambungnya."Nama adiknya siapa tadi, Dyl? Ini Jojo tanya."Dylan mendongak bangga, memperbaiki dekapan di lengannya sembari mengusap pipi gembil adiknya."Davian, diambil dari Damian, Elvita dan Dylan. Lengkap," jawab Dylan dengan nada mantap dan penuh rasa bangga. “Panggilannya Davi.”“Nama panjangnya Davian Rafael Hadiningrat,” sahut Elvita sambil mengusap punggung tangan Jovita. Sudah terlalu lama dia meninggalkan putrinya, berharap kelahiran anak keduanya tidak membuat Jovita merasa semakin terasing.Damian yang mendengar itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala seraya terkekeh masam."Coba kalian bayangkan... Sejak dia lahir tadi malam, Saya cuma sempat menggendongnya sebentar pas baru keluar dari kamar bersalin. Setelah masuk ruang perawatan... adiknya langsung dikuasai penuh sama kakaknya."Dylan tak mau
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me







