LOGINSeandainya bukan demi Viola, nomor Felisa sudah lama diblokir dan dihapus bersih dari ponsel Raymond. Pria itu tidak sudi menyisakan satu pun jejak dari masa lalu yang telanjur menjijikkan.Tapi malam ini, takdir memaksanya melangkah ke sebuah kafe demi menuntaskan sisa kemelut yang belum usai.Pintu kaca bergeser pelan. Felisa yang duduk gelisah di dekat jendela, dengan cangkir teh yang sudah mendingin mendadak kaku. Mantan suaminya benar-benar datang.Matanya membelalak tak nyaman. Raymond tidak sendiri. Di sisi pria itu, seorang wanita muda berbalut mantel rajut merapat manja, menggandeng lengannya posesif tapi tetap elegan.Raymond menarik kursi, membantu istrinya yang sedang berbadan dua duduk dengan nyaman. Jovita langsung melempar senyum manis, seolah menegaskan kepemilikannya.“Hai, Tante... Gimana kabarnya?” sapa Jovita, menyembunyikan rasa eneg di balik lengkung bibirnya.Perempuan waras mana yang rela melepas suaminya bertemu mantan istri. Apalagi yang masih cantik dan terk
“Baguslah kalau begitu.”Hampir saja kata-kata itu meluncur tanpa halangan dari mulut Jimmy. Tapi, kata-kata itu tertelan kembali di tenggorokan begitu ia menangkap gurat kesedihan yang teramat pekat di wajah Raymond.Sebagai sahabat karib yang paling tahu jatuh bangun hidup Raymond, Jimmy sangat paham betapa hancurnya hati pria itu. Meski kadang ia merasa gemas setengah mati karena Raymond terlampau sabar dan terkesan lemah hingga bertahun-tahun dimanfaatkan.“Aku rasa papamu benar, Ray,” ujar Jimmy melunak, menepuk pelan bahu sahabatnya. “Jika selama ini kamu selalu berseteru dengan papamu, ada baiknya untuk masalah yang satu ini... kamu ikuti saja maunya.”Raymond mendengus pahit, meneguk sisa sodanya.“Aku terpaksa menurut, Jim. Bukan karena aku mengalah pada cara Papa, tapi karena itu satu-satunya hal yang diinginkan Vio.”Jimmy tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana. “Anak pinter.”Raymond menatap malas sahabat di sampingnya. Harapan mendapat masukan yang bisa meringankan b
Seketika Elleonor menggeleng panik mendengar ucapan Roberto. Pertahanannya runtuh merasa ucapan di masa lalu yang memaksa Roberto menyingkirkan Raymond menjadi bumerang yang kini berbalik menghantamnya.“Nggak! Ini nggak adil!” teriak Elleonor histeris, air matanya tumpah ruah sembari melangkah maju membela sang anak kesayangan. “Bagaimana pun juga Julian adalah anak kandungmu! Darah dagingmu sendiri! Dia berhak atas semua yang kau miliki di keluarga ini!”Roberto menggeleng perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang mematikan.“Tidak, Elle...” balas Roberto telak, memangkas habis harapan wanita itu. “Bahkan secara hukum pun, Julian sama sekali tidak berhak. Kau ingat betul bagaimana status pernikahan kita, bukan?”Ingatan Elleonor mendadak terlempar kembali ke masa lalu. Bayangan pernikahannya yang tak pernah sekalipun naik status pilu dalam ingatan.Dulu, ketika hubungan gelap Roberto dengan dirinya tercium oleh istri sah, lelaki yang menikahinya secara siri itu
Seketika dunia di sekitar Raymond terasa berhenti berputar. Tanpa ragu sedikit pun, Raymond balik menggenggam tangan Viola jauh lebih erat, menyalurkan kehangatan yang selama ini tidak pernah luntur.“Apa pun yang terjadi, kamu tetap anakku, Vio,” tegas Raymond dengan suara bergetar penuh ketulusan. “Sampai kapan pun, status itu tidak akan pernah berubah.”Viola terisak semakin deras, dadanya sesak hingga ia kesulitan merangkai kata. Ia menatap pria yang selama puluhan tahun dikenal sebagai ayah kandung dengan pandangan kabur penuh genangan air mata.“Terima kasih, Pa...” ucap Viola terbata-bata. “Terima kasih untuk semuanya... Tapi sekarang, ini saatnya Papa bahagia bersama perempuan yang Papa cintai, dan merawat anak-anak yang murni darah daging Papa sendiri.”Raymond menatap mata Viola yang berkaca-kaca. Ia sadar, memaksakan kehendaknya saat ini justru hanya akan semakin menggores luka di hati putrinya yang sedang terpuruk. Dengan berat hati dan dada yang terasa berdenyut nyeri, Ra
“Hei... kenapa, Nak?” tanya Raymond dengan kelembutan yang selalu ia tunjukkan sejak Viola kecil.Raymond melangkah tenang namun pasti memasuki kamar Viola yang baru saja dibenahi. Ia langsung menghampiri tempat tidur, mendapati gadis itu masih duduk bersandar dengan sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya. Raymond merendahkan posisinya.Seketika itu juga, pertahanan Viola runtuh. Gadis itu menerjang maju, menghambur memeluk tubuh Raymond erat-erat, menumpahkan segala tangis yang sedari tadi menyesakkan dada. Isakannya pecah semakin menjadi-jadi, mencengkeram kemeja pria yang selama ini ia yakini sebagai ayah kandungnya itu.Raymond mengusap punggung Viola dengan penuh kasih sayang, berusaha meredakan gemetar di tubuh putrinya.“Kenapa, Sayang? Apa yang terjadi? Katakan pada Papa...”Perlahan, Viola mengurai pelukannya. Jemarinya sibuk menyeka air mata yang tak kunjung berhenti menetes. Dengan napas yang masih tersenggal, ia menatap Raymond penuh luka.“Aku nggak mau ketemu Mama lag
“Apa yang sebenarnya terjadi sampai Vio se-jijik itu melihat kalian?!” teriak Roberto menggelegar, suaranya memenuhi seluruh sudut ruangan, bahkan terdengar hingga lantai dua.“Dia terus-menerus histeris setiap kali kalian mencoba mendekatinya!” Roberto menatap Felisa dan Julian secara bergantian. “Vio tak pernah seperti ini sebelumnya. Dia memang manja, tapi tak pernah tak hormat pada orang tua.”“Paling juga itu cuma efek setelah Vio menjalani operasi besar, Pa.” Julian mengibaskan tangan berusaha menanggapi bentakan sang ayah dengan santai.“Kondisi emosi Vio kan belum stabil, wajar kalau dia impulsif. Apalagi sampai sekarang dia belum bisa bergerak leluasa dan harus menggunakan kursi roda. Pasti ada ketakutan kalau dia sampai tidak bisa pulih seperti dulu lagi,” sambung Julian terdengar tanpa beban.“Ya, bisa jadi!” sergah Roberto cepat dengan tatap mata tajam yang menusuk. “Tapi coba kamu pikir! Vio yang dulu begitu marah dan kecewa pada Raymond dan istrinya, bahkan mengabaikan m
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita







