INICIAR SESIÓNAleksander tersenyum seraya menghampirinya dengan Rafael yang masih nyaman berada dalam pelukannya. "Aku baru saja sampai. Kamu kelihatan sangat sibuk."
Rafael memeluk leher Aleksander erat-erat. "Daddy nggak bersuara sama sekali. Daddy licik."
Aleksander terkekeh. "Daddy sebenarnya ingin memberi kejutan untuk Mami, tapi ada seseorang yang malah membongkarnya."
Sore harinya, setelah makan siang berakhir dan anggota keluarga yang lebih tua perlahan masuk ke dalam rumah untuk beristirahat, taman mulai menjadi lebih tenang.Evalia sudah mengganti gaun pernikahannya dengan pakaian yang lebih sederhana dan nyaman. Ia duduk di salah satu area tempat duduk taman dekat danau, menikmati cahaya matahari yang lembut.Di sampingnya, Estella duduk menemani."Selamat, Kak," kata Estella dengan hangat. "Aku sangat bersyukur akhirnya bisa menghadiri pernikahanmu. Walaupun aku tahu ini sebenarnya adalah pembaruan janji pernikahan."Evalia tertawa kecil. "Kamu harus berterima kasih kepada anak kembarku untuk itu."Estella berkedip bingung. "Apa? Bagaimana bisa?"
Aleksander melanjutkan dengan suara yang lebih lembut. "Tapi entah bagaimana, di antara hari-hari sulit itu dan hari-hari ketika kita kembali bertemu, lalu menjadi orang tua bersama... sesuatu berubah."Ibu jari Aleksander mengusap lembut jemari Evalia. "Kamu menjadi orang yang paling aku percaya. Orang yang selalu ingin aku temui ketika pulang setiap hari."Dada Evalia terasa sedikit sesak mendengar kata-kata itu."Kamu memberiku sebuah keluarga," lanjut Aleksander. "Kamu memberiku seorang putra yang cerdas dan putri-putri yang luar biasa. Kamu memberiku kehidupan yang nggak pernah aku bayangkan sebelumnya."Tatapan Aleksander semakin hangat. "Jadi hari ini, di depan keluarga dan teman-teman kita, aku ingin kembali berjanji kepadamu." Ia menggenggam tangan Evalia sediki
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sesaat.Tiba-tiba, Aleksander mendekat dan berbisik pelan di telinganya. "Istriku... katakan sesuatu padaku."Evalia bergumam pelan, masih bersandar santai di tubuhnya. "Hmm?""Siapa informan terpercaya milikmu?"Seluruh tubuh Evalia langsung menegang. Untuk sesaat, ia bertanya-tanya apakah dirinya salah dengar. Namun, ketika perlahan mengangkat kepala dan melihat senyum penuh kecurigaan di wajah Aleksander, ia sadar bahwa pendengarannya tidak salah.Pikirannya seketika memasuki mode panik.'Nggak. Nggak. Jangan percakapan ini lagi...'Evalia buru-buru berusaha memasang ekspresi polos. "Informan ter
Evalia terdiam sejenak. Topik itu membuatnya merasa tidak nyaman. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia mengulurkan tangan dan menekan sebuah tombol kecil di dekat sandaran tangan. Sekat antara kursi depan dan belakang perlahan naik, memisahkan mereka dari pengemudi.Suara lembut mekanisme sekat yang bergerak memenuhi kabin selama beberapa saat.Aleksander sedikit mengangkat alis.Tindakan itu saja sudah cukup untuk memberitahunya bahwa percakapan ini serius.Aleksander mengamati wajah Evalia dengan saksama. Ada keseriusan dalam sorot matanya yang membuat Aleksander langsung waspada.Aleksander bertanya dengan lembut, meski sedikit ketidaksabaran sempat terpancar di matanya. "Apa yang kamu dengar tentang Wiratama Group?"
Di dalam mobil, Aleksander duduk di kursi yang sama seperti pagi tadi. Dia tampak santai, seolah telah menunggu di sana cukup lama.Evalia masuk ke dalam mobil di sampingnya dan mulai memasang sabuk pengaman.Aleksander tidak langsung menjawab. Dia hanya menunggu dengan sabar sampai Evalia selesai memasangnya. Setelah itu, dia meraih tangan istrinya. Jemarinya menggenggam tangan Evalia dengan lembut, memberikan tekanan kecil yang menenangkan."Aku datang untuk memastikan istriku nggak terlihat terlalu lelah saat keluar dari kantornya," kata Aleksander dengan tenang.Evalia tidak bisa menahan senyum mendengar perkataannya. "Hubby," katanya sambil menoleh dengan ekspresi geli, "apa aku terlihat seperti seseorang yang suka stres?"
Jonathan berkedip. Dia jelas tidak menyangka Evalia akan menerimanya secepat itu... tanpa bertanya lebih banyak. Entah mengapa, dadanya tiba-tiba terasa nyeri.Sebelum Jonathan sempat mengatakan apa pun, Evalia kembali berbicara. “Karena kau sudah nggak lagi bekerja di sini,” ucapnya tenang, "aku ingin kau menjual saham perusahaanmu kepadaku.”Jonathan membeku.“Jangan khawatir soal harga,” lanjut Evalia. “Aku akan membelinya dengan harga premium. Lebih tinggi daripada yang mungkin ditawarkan orang lain.”Jonathan menatapnya. Sesaat, dia tidak tahu apakah harus tertawa atau menghela napas. Situasi ini terasa begitu familiar. Perasaan déjà vu tiba-tiba menyelimutinya. Karena itulah tepat yang Aleksander katakan kepadanya sebelumnya.
Sayangnya, harapan Eva itu tak akan pernah terjadi.Dari balik kaca gelap mobil itu, Eva melihat Waluyo Wijaya duduk di kursi belakang. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan tak berperasaan. Ia bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah taksi yang baru saja keluar dari area kediamannya.Rasanya seolah E
Evalia nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya."Papi…tega banget. Gimana bisa Papi mempermalukan aku kayak gini di depan media?" Genggaman tangan Evalia di ponselnya semakin kuat. Baru lima hari sejak Eva memberitahu ayahnya keputusan tentang hidupnya sendiri. Dan hari ini, ia sud
“Papi!” seru Lestari, suaranya gemetar. “Dia anak kita! Kumohon…”“Dia sudah buat pilihannya,” ujar Waluyo dingin, napasnya berembus pelan seperti asap cerutu yang baru saja padam. “Sekarang aku yang buat pilihanku.”Aura ruangan itu menegang. Tak ada yang berani menatap matanya langsung, bahkan ud
Malam itu, makan malam keluarga terasa seperti hukuman bagi Eva.Aroma sup ayam yang hangat justru membuat perutnya mual. Lidahnya kelu. Di hadapan ayahnya, Waluyo Wijaya, Eva ingin bicara tentang bayi di rahimnya, tentang kebohongan yang membelit napasnya setiap hari, tapi suaranya terkurung di te







