LOGINArsen menoleh dengan terkejut.
"Bagaimana bisa kamu nggak memberitahuku?" bentak Theodore. "Apa aku bukan papimu? Apa kamu lupa Evalia adalah cucu keponakanku? Aku berhak tahu kalau sesuatu terjadi pada keluarga kita!"
Arsen tidak bergeming, meskipun raut wajahnya menegang. "Aku ingin menunggu sampai dia pulih. Aku nggak mau Opa khawatir. Dan aku juga nggak ingin Papi me
Eva berdiri dekat jendela ruang tamu, matanya mengikuti pemandangan di hadapannya dengan kegembiraan yang tak mampu ia sembunyikan.Marni, yang sejak pagi masih mampu mempertahankan ketenangan dirinya dengan luar biasa, kini tampak sepenuhnya berubah. Saat melihat Evan melangkah melewati pintu, bertahun-tahun pengendalian diri yang ia bangun runtuh seketika, digantikan oleh emosi murni yang selama ini ia pendam.Meskipun Evan tidak memiliki ingatan apa pun tentang ibunya, sesuatu yang tak terucapkan telah terjadi di antara mereka. Sebuah pengenalan tanpa kenangan. Sebuah ikatan tanpa sejarah.Dada Eva terasa sesak ketika melihat Marni menggenggam tangan Evan dengan lembut. Jemarinya bergetar meskipun senyum di wajahnya memancarkan kebahagiaan yang luar biasa.Ekspresi Ev
Wanita tidak tahu malu itu. Pelukan itu. Terlalu dekat. Terlalu tiba-tiba. Terlalu disengaja.Mata Aleksander sedikit melebar. "Sial! Kau benar-benar keterlaluan…" Kemarahannya meledak dalam pikirannya. "Apa-apaan, Hana? Apa kau sedang mencari kematian? Beraninya kau menjebakku dalam situasi seperti ini?"Dari luar, Aleksander tampak cukup tenang. Namun kedutan kecil di wajahnya mengkhianati kepanikan yang sebenarnya berkecamuk di dalam dirinya.Evalia menyadarinya. Tentu saja dia menyadarinya. "...Aleksander," ucapnya perlahan, hiburan tampak menari di matanya, "wajahmu sedang menunjukkan sesuatu yang sangat menghibur saat ini."Aleksander mengembuskan napas tajam sambil mengusap rambutnya. "Dia yang memasukkannya."E
Evalia membaca nama itu, pandangannya terpaku pada nomor telepon yang tertulis di bawahnya.Dia menatap kertas tersebut, pikirannya langsung dipenuhi berbagai pertanyaan yang bergerak liar. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul tanpa diundang, bertabrakan dengan ketenangan yang biasanya selalu dia miliki.‘Siapa wanita ini?’‘Mengapa ini ada di saku Aleksander?’‘Apakah dia rekan bisnisnya?’‘Nggak. Nggak... itu nggak masuk akal.’Evalia menggeleng pelan, mencoba menyingkirkan pikiran tersebut. Namun, usahanya gagal. Pikiran-pikiran itu kembali memenuhi kepalanya.‘Jika wanita itu berhubungan dengan bisnis, dia pasti akan memberikan kartu
Aleksander mengakhiri panggilan secara perlahan. Dia menatap lurus ke depan, melihat pantulan samar dirinya pada kaca mobil yang gelap.Pikirannya kini terlalu sibuk untuk mengingat bagian samar dari kehidupannya sebelum dia bertemu Evalia.Seorang supermodel. Sebuah pertemuan yang terlupakan. Kemungkinan adanya seorang anak. Rasa kesalnya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih berat. Lebih berbahaya.Karena bagi Aleksander Batubara, melupakan bahwa dirinya pernah tidur dengan seorang wanita bukanlah sesuatu yang sekadar aneh. Itu mustahil. Dan dia sangat membenci ketika sesuatu yang mustahil tiba-tiba muncul ke permukaan.Dimas berdeham dengan hati-hati. "...Boss?"Aleksander tidak menoleh. "Ya?"
Bahu wanita itu bergetar ketika ia melanjutkan dengan suara yang pecah. "Aku nggak ingin melakukan ini. Aku nggak ingin datang ke sini. Tapi aku nggak punya siapa-siapa lagi. Aku takut. Aku nggak tahu harus melakukan apa lagi. Kondisinya sangat buruk. Aku membutuhkan bantuanmu."Aleksander tidak mengatakan apa pun. Satu kata pun tidak.Keheningannya terasa lebih berat daripada kemarahan."Kau nggak mengingatku," bisik wanita itu, lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan. Bibirnya bergetar. "Aku tahu. Mungkin kau bahkan nggak pernah menoleh kembali. Tapi aku mengingat semuanya. Dan sekarang... sekarang ada seorang anak."Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, seolah hanya dengan cara itu ia bisa tetap berdiri. "Dia sakit. Aku membutuhkan bantuan. Aku nggak akan dat
“Kau nggak keberatan apa pun,” balas Jovan. “Kau hanya nggak mau mengakui kalau kau sudah berubah.”Surya menepuk bahu Jovan. “Santai saja. Kita rayakan bersama yang lain.”“Ya,” gumam Jovan. “Bersama para lajang, yang patah hati, dan yang nggak tersedia secara emosional.”Aleksander berdiri sambil merapikan jasnya. “Baiklah. Cukup mengeluh.”Semua mata langsung tertuju kepadanya.“Kita makan siang,” kata Aleksander singkat. “Aku lapar.”Surya langsung berdiri. “Akhirnya. Kukira kau nggak akan pernah mengatakan itu.”Jovan
Evalia nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya."Papi…tega banget. Gimana bisa Papi mempermalukan aku kayak gini di depan media?" Genggaman tangan Evalia di ponselnya semakin kuat. Baru lima hari sejak Eva memberitahu ayahnya keputusan tentang hidupnya sendiri. Dan hari ini, ia sud
“Papi!” seru Lestari, suaranya gemetar. “Dia anak kita! Kumohon…”“Dia sudah buat pilihannya,” ujar Waluyo dingin, napasnya berembus pelan seperti asap cerutu yang baru saja padam. “Sekarang aku yang buat pilihanku.”Aura ruangan itu menegang. Tak ada yang berani menatap matanya langsung, bahkan ud
Malam itu, makan malam keluarga terasa seperti hukuman bagi Eva.Aroma sup ayam yang hangat justru membuat perutnya mual. Lidahnya kelu. Di hadapan ayahnya, Waluyo Wijaya, Eva ingin bicara tentang bayi di rahimnya, tentang kebohongan yang membelit napasnya setiap hari, tapi suaranya terkurung di te
Masa depan cemerlang Evalia Wijaya baru saja hancur karena satu gelas wiski. Setidaknya, itulah yang ia ingat malam itu.Tak pernah sekalipun dalam hidupnya, Eva membayangkan langkah kecil menuju bar hotel akan menjadi awal kehancuran dirinya. Satu gelas. Satu tawa. Satu tatapan mata dari pria yang







