MasukAleksander membuka mata. Ia tak bergerak. Mungkin saja panggilan itu berhenti sendiri. Mungkin si penelepon menyerah.
Benar, suara itu berhenti.
Tapi beberapa detik kemudian, ponsel itu kembali berdering. Kali ini lebih nyaring dan menuntut.
Aleksander mendesis pelan. Pupus sudah harapan akan istirahat tenang.
<
Estella menyalahkan wajah Bayu. Suaranya. Dan bagaimana pria itu memeluknya malam itu setelah menariknya menjauh dari bahaya.Tidak masuk akal rasanya seseorang masih bisa wangi setelah habis berkelahi dengan sekelompok preman. Benar, kan?“Nggak. Stop mikir. Tidur, Stella,” gumam Estella pada diri sendiri sambil memiringkan badan. Ia memejamkan mata rapat-rapat.Lima detik kemudian. Matanya terbuka lagi. Belum mengantuk. Estella berganti posisi. Memejamkan mata. Membuka lagi. Tetap belum bisa tidur.“Ya ampun…” gerutu Estella sambil membenamkan wajah ke bantal.Jam digital di atas nakas menunjukkan pukul 00.18. Delapan jam lagi Estella harus masuk kerja pagi. Waktu tidurnya saja sudah kurang, s
Estella teringat ucapan ibunya beberapa waktu lalu bahwa seluruh lantai paling atas memang hanya terdiri dari satu unit penthouse. Sementara dirinya tinggal di lantai sepuluh. Nyaman, terang, tapi tetap apartemen biasa.‘Sekretaris kakak iparku ternyata hidup semewah ini…’ batin Estella.Estella buru-buru menekan tombol lift reguler sebelum pikirannya semakin kemana-mana.“Kalau kamu?” tanya Bayu.“Lantai sepuluh.”Bayu mengangguk pelan. “Baiklah. Sampai ketemu lagi, Stella.” Ia kemudian berjalan menuju lift khusus penghuni penthouse dan menempelkan kartu aksesnya.
Aleksander mengusap rahangnya pelan. Berbagai jadwal pekerjaan memenuhi pikirannya. Belum lagi rencana perjalanan bisnis ke Singapura serta berbagai persoalan keluarga yang beberapa hari terakhir menyita perhatiannya.Melihat Aleksander masih diam, Evalia buru-buru melanjutkan. “Aku nggak akan lama. Berangkat pagi dengan pesawat pertama, lalu pulang malamnya. Kalau memang perlu, aku juga bisa menunggu beberapa hari setelah pemakaman.”Akhirnya Aleksander menoleh. “Bagaimana kalau kita berangkat hari Selasa?”Evalia tertegun. “Kita?”“Tentu.” Jawaban Aleksander terdengar begitu santai, seolah itu keputusan paling masuk akal. “Aku ikut.”“Aleksander, nggak perlu. Sungguh. Reza dan Lisa bisa menemaniku. Aku akan baik-baik saja.”
“Eva…” Aleksander menggenggam tangan Evalia sedikit lebih erat. “Kamu nggak harus memulai percakapan dengannya. Bahkan bisa jadi beliau juga nggak akan bertanya apa-apa.”Evalia mengangkat wajahnya.Sorot mata Aleksander yang hangat perlahan mengikis kecemasan yang sejak tadi mengikat dadanya. “Yang penting, Mama, Oma, dan Opa sudah menyukaimu,” ucap Aleksander lembut. “Aku yakin anggota keluarga yang lain juga akan begitu.”Aleksander berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan hati-hati. “Kalau soal Papa… beliau pasti akan menerimamu setelah benar-benar mengenalmu dan menyadari kalau kamu berbeda dari ayahmu.”Dada Evalia menghangat. Bukan karena rasa takut, melainkan secercah harapan yang perlah
Aleksander ikut makan di sampingnya. Awalnya mereka hanya menikmati hidangan dalam keheningan. Namun ketika Evalia kembali menanyakan soal Mahendra, kali ini Aleksander tidak menghindar. Ia menjelaskan semuanya dengan sabar, seolah mandi tadi benar-benar berhasil menghapus sisa-sisa beban yang memenuhi pikirannya.Sampai akhirnya Evalia menyinggung komentar-komentar yang ia baca di media sosial. Banyak warganet berspekulasi bahwa Mahendra meninggal akibat narkoba, bukan karena serangan jantung.Gerakan tangan Aleksander langsung berhenti di udara. Tatapannya beralih kepada Evalia. Tetap tenang, tetapi kali ini jauh lebih tajam. “Pendapat mereka nggak sepenuhnya salah.”Sendok di tangan Evalia terlepas dan beradu pelan dengan mangkuk. “Serius?”Ale
Semakin lama keheningan itu berlangsung, semakin berat rasa tidak nyaman yang mengendap di dada Evalia. Ia merasa tak berdaya. Bingung. Haruskah ia menghubungi Elenora? Atau Amanda, ibu mertuanya? Apakah ia sebaiknya mengirimkan karangan bunga duka, atau melakukan sesuatu yang lainTak ada pilihan yang terasa benar. Tak ada yang terasa cukup pantas.Hingga makan malam usai, Evalia masih belum menemukan jawabannya. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dengan menemani Rafael dan menyiapkan putranya untuk tidur. Namun, pikirannya terus kembali kepada Aleksander.Saat Evalia hendak membacakan dongeng sebelum Rafael terlelap, Jono muncul di ambang pintu kamar. Pria itu meminta izin untuk berbicara sebentar.“Sayang, tunggu sebentar, ya. Mami bicara dengan Pak Jono dulu.&r
Evalia refleks menegang, dan langsung menyesal melihatnya. Aleksander keluar dengan rambut setengah basah, hanya mengenakan celana panjang piyama hitam longgar tanpa atasan. Pria itu tampak santai, sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk seolah benar-benar sendi
Rafael kembali menyuap, kali ini dengan mulut penuh, sambil berkata tidak jelas, “Daddy koki terbaik di dunia!”Senyum Aleksander semakin lebar. Ada rasa bangga yang menghangat di dadanya, rasa yang melebihi
Garis telepon sepi lagi.“Dion? Kamu masih di sana?”“Ada,” gumam Dion pelan. “Aku lagi mencerna semua ini. Aleksander Batubara, tanpa prenup,
Begitu ucapan itu meluncur, Evalia berharap langit Jepara runtuh menelannya hidup-hidup.‘Ya Tuhan, kenapa aku malah ngomong begitu? Petir, tolong sambar aku sekarang jug







