เข้าสู่ระบบAleksander membuka mata. Ia tak bergerak. Mungkin saja panggilan itu berhenti sendiri. Mungkin si penelepon menyerah.
Benar, suara itu berhenti.
Tapi beberapa detik kemudian, ponsel itu kembali berdering. Kali ini lebih nyaring dan menuntut.
Aleksander mendesis pelan. Pupus sudah harapan akan istirahat tenang.
<
Tangan Lestari bergetar saat menggenggam tangan putrinya. “Kamu benar. Mami pengecut. Tapi sekarang nggak lagi. Mami nggak peduli apa yang terjadi pada Papi-mu atau perusahaan itu. Mami di pihak kamu sekarang.”Senyum tipis kembali muncul di wajah Stella. Ia menggenggam tangan ibunya lebih erat. “Kalau begitu, siap-siap saja. Papi nggak akan diam?”Belum sempat Lestari menjawab, suara berat menggema dari lantai bawah. “Lestari! Estella! Di mana kalian?!”Keduanya membeku.“Aduh…” Lestari berbisik, wajahnya pucat.Pintu kamar mendadak terbuka keras.Waluyo Wijaya berdiri di sana, wajahnya merah padam, dasinya berantakan,
Sejak awal, Aleksander memang lebih blak-blakan darinya. Ia selalu ingin Evalia melawan. Sejak pertama kali mereka bertemu di Jepara, pria itu sudah menawarkan bantuan berkali-kali.Aleksander pernah berkata, “Aku bisa menghancurkannya untukmu, Eva. Bilang saja. Aku kirim foto pernikahan kita, kuhancurkan nama Wijaya dengan tanganku sendiri.”Namun Evalia selalu menolak. Ia tidak ingin balas dendanmnya bergantung pada kekuatan Aleksander. Ia ingin melakukannya dengan caranya sendiri.Namun sekarang, setelah apa yang Laras lakukan pada Stella, ia sadar tidak bisa menahan diri lagi.“Iya,” aku Evalia pelan, jari-jarinya melingkar di ponsel. “Aku nggak mau menyeret seluruh keluarga ke dalam ini, Alex. tapi setelah apa yang Laras lakukan k
“Tenang saja, Estella,” ujar Jonathan dengan suara tetap kalem. “Saya nggak akan melakukan apa pun padamu.”Itu sama sekali tidak menenangkan. Namun Estella hanya menatapnya, bingung.Jonathan kembali duduk, meletakkan laptop di atas meja, lalu mulai mengetik cepat. Suara ketikan memenuhi ruangan.Tak lama, terdengar bunyi panggilan.Video call? Estella mengernyit. Dia menelepon siapa lagi?Belum sempat Estella bertanya, suara yang sangat familiar terdengar dari speaker.“Kak Eva?” Estella langsung mencondongkan
Hampir seluruh divisi keuangan berdiri di sana, menatap dengan mata membesar. Sebagian pura-pura sibuk. Beberapa lainnya mengangkat ponsel, setengah bersembunyi di balik map atau gelas kopi.Wajah Laras seketika pucat. “Kalian ngapain di sini?” bentaknya panik. “Balik kerja! Sekarang!”Tak seorang pun bergerak.Laras kehilangan kendali. Ia hanya bisa menatap mereka, terengah, campuran marah dan panik. “Hapus semua rekaman kalian!” hardiknya. “Kalau saya lihat satu saja foto atau video beredar, kalian semua saya pecat!”Kerumunan itu berguncang gelisah.Beberapa orang ragu-ragu, pura-pura menghapus sesuatu, tapi semuanya sudah terlambat. Setengah kantor sudah lebih dulu mengungga
Gedung Wijaya Group menjulang tinggi di tengah padanya kawasan bisnis Jakarta. Pagi itu, lalu lintas di Jalan Sudirman masih riuh oleh klakson dan deru mesin, sementara di dalam gedung, suasana justru terasa dingin dan terkontrol.Stella melangkah melewati pintu kaca otomatis. Suara hak sepatunya beradu tegas dengan lantai marmer yang mengilap, menggema pelan di lobi yang luas.Hari ini bukan hari kerja biasa.Hari ini adalah hari di mana Laras akhirnya harus membayar semuanya.Senyum tipis terukir di bibir Stella. Ia sudah bisa membayangkan wajah Laras, senyum palsu itu retak sedikit demi sedikit di bawah tekanan.“Ini bakal seru,” batin Estella.Ia masuk ke dalam lif
Kenangan tadi malam kembali terlintas, membuat jantung Evalia berdegup lebih cepat. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Sudah, Evalia… bisa mati malu nanti,” bisiknya pada diri sendiri.Dengan pipi yang masih panas, Evalia membungkus tubuhnya dengan selimut, lalu berdiri perlahan.Cahaya pagi Jakarta mengalir masuk melalui jendela besar. Evalia berjalan mendekat, membiarkan hangat matahari menyentuh kulitnya.Di luar, gedung-gedung tinggi berdiri megah di kejauhan, jalanan mulai ramai oleh kendaraan, dan langit pagi berwarna pucat keemasan. Pemandangan itu terasa hidup, kontras dengan ketenangan di dalam ruangan.Evalia menyentuh kaca jendela, berbisik pelan. “Jadi ini tempatmu selama ini… pantas saja kamu menyukainya, Aleksander.&rd







