Share

Bab 16

Penulis: Mariahlia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-14 07:18:34

"Aku udah tau semuanya!!! Dan aku bakalan bilang sama Papi dan Mami." Teriak seorang gadis berpenampilan modis, menatap tajam ke arah Arsen yang masih menampilkan ekspresi datarnya.

"Nona.. Nona tidak perlu berteriak-teriak seperti ini. Pak Arsen juga mendengar apa yang anda katakan–"

"Paul diam!!! Saya tidak sedang berbicara sama kamu!" Semburnya marah pada Paul, membuat Paul langsung terdiam, bukan karena takut, tapi telinganya sudah terasa sangat panas mendengar teriakkan cempreng gadis
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri Rahasia Sang CEO    Bab 79

    Pagi itu berjalan lebih sibuk dari biasanya.Bukan karena ada yang mendesak.Bukan karena ada kabar buruk.Melainkan karena Arsen, dengan nada hati-hati yang hampir seperti orang meminta izin, berkata setelah sarapan:“Kita ke rumah Papi siang ini, ya.”Kalimat itu sederhana.Namun tangan Kamila yang sedang melipat kain kecil Dania sempat berhenti sepersekian detik.Rumah besar.Rumah keluarga Arsen.Tempat yang selama ini hanya ia dengar dalam potongan-potongan cerita. Tentang ruang tamu yang luas dengan langit-langit tinggi. Tentang tangga melingkar dengan pegangan kayu mengilap. Tentang halaman depan yang lebih mirip taman kecil daripada pekarangan rumah.Tentang standar.Tentang harapan.Tentang tatapan-tatapan yang dulu membuatnya merasa seperti tidak cukup.Kamila mengangkat wajahnya perlahan.“Sekarang?” tanyanya pelan.Arsen mengangguk. “Papi sudah beberapa kali minta ketemu Dania lagi. Cintya juga cerewet banget.”Nama itu membuat sesuatu bergerak pelan di dalam dada Kamila.

  • Istri Rahasia Sang CEO    Bab 78

    Hujan turun tanpa tergesa.Bukan hujan deras yang menggedor atap seng kontrakan seperti kemarahan yang tak bisa ditahan. Hanya butir-butir kecil yang jatuh konsisten, seperti seseorang yang memilih bertahan daripada menyerah.Langit di luar jendela tampak kelabu pekat. Lampu-lampu rumah tetangga memantulkan cahaya kuning yang lembut di genangan kecil halaman. Bau tanah basah merayap masuk melalui celah ventilasi, bercampur dengan aroma sabun bayi dan teh hangat yang belum sepenuhnya habis di meja.Kamila masih memeluk Arsen dari belakang.Tangannya tidak kencang.Tidak juga longgar.Hanya cukup untuk mengatakan: aku di sini.Arsen berdiri diam beberapa detik, membiarkan dirinya merasakan pelukan itu sepenuhnya. Dulu, pelukan sering terasa seperti tuntutan. Sekarang, pelukan terasa seperti pilihan.Ia menutup tangannya di atas tangan Kamila.Hangat.Nyata.“Dingin?” tanyanya pelan.Kamila menggeleng, meski pipinya masih menempel di punggung Arsen.“Enggak.”Sunyi kembali turun.Tapi su

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 77

    Pagi berikutnya tidak datang dengan perubahan yang bisa dilihat.Tidak ada pernyataan besar. Tidak ada keajaiban yang tiba-tiba membuat semua rasa takut menghilang.Hanya napas.Napas Dania yang kecil dan teratur.Napas Arsen yang lebih dalam, stabil, seperti gelombang yang tidak tergesa-gesa.Dan napas Kamila sendiri—yang untuk pertama kalinya dalam waktu lama tidak terasa seperti sesuatu yang harus ia paksa.Ia terbangun lebih dulu, seperti biasa.Langit masih abu-abu lembut. Udara dini hari menggantung tipis di dalam kontrakan kecil itu, membuat semuanya terasa sunyi tapi tidak sepi.Kamila tetap berbaring.Semalam, setelah ciuman singkat di pelipis Arsen, ia kembali ke kamar dengan langkah pelan. Jantungnya berdebar bukan karena panik—melainkan karena sesuatu yang lebih rapuh.Harapan.Harapan selalu lebih menakutkan dari ketakutan itu sendiri.Ia memiringkan tubuh, menatap Dania yang terbaring di boks kecil di samping tempat tidur. Tangan bayi itu sedikit terbuka, jari-jarinya me

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 76

    Pagi berikutnya datang tanpa suara yang dramatis. Tidak ada kilat, tidak ada telepon mendadak, tidak ada ketukan pintu yang membuat jantung melonjak. Hanya cahaya tipis yang menyusup lewat celah tirai, menggambar garis-garis lembut di dinding kamar. Kamila terbangun lebih dulu. Bukan karena Dania menangis—bayi itu masih tertidur, wajahnya setengah tertutup selimut tipis. Bukan juga karena alarm. Tubuhnya hanya sudah terbiasa bangun sebelum dunia sepenuhnya bergerak. Ia tidak langsung bangkit. Ia tetap berbaring, memandangi langit-langit yang sederhana, mencoba merasakan apakah dadanya masih sesak seperti beberapa minggu lalu. Tidak. Ada sisa ketegangan, tentu saja. Itu belum benar-benar hilang. Tapi tidak lagi seperti tangan tak terlihat yang mencekik. Di sisi lain kamar, Arsen tertidur di sofa kecil yang dipaksakan masuk beberapa hari lalu. Tubuhnya terlalu panjang untuk furnitur itu; satu kakinya hampir menyentuh lantai. Tangannya terlipat di dada, wajahnya tenang dengan gar

  • Istri Rahasia Sang CEO    Bab 75

    Pagi berikutnya datang tanpa suara yang dramatis.Tidak ada kilat, tidak ada telepon mendadak, tidak ada ketukan pintu yang membuat jantung melonjak. Hanya cahaya tipis yang menyusup lewat celah tirai, menggambar garis-garis lembut di dinding kamar.Kamila terbangun lebih dulu.Bukan karena Dania menangis—bayi itu masih tertidur, wajahnya setengah tertutup selimut tipis. Bukan juga karena alarm. Tubuhnya hanya sudah terbiasa bangun sebelum dunia sepenuhnya bergerak.Ia tidak langsung bangkit.Ia tetap berbaring, memandangi langit-langit yang sederhana, mencoba merasakan apakah dadanya masih sesak seperti beberapa minggu lalu.Tidak.Ada sisa ketegangan, tentu saja. Itu belum benar-benar hilang. Tapi tidak lagi seperti tangan tak terlihat yang mencekik.Di sisi lain kamar, Arsen tertidur di sofa kecil yang dipaksakan masuk beberapa hari lalu. Tubuhnya terlalu panjang untuk furnitur itu; satu kakinya hampir menyentuh lantai. Tangannya terlipat di dada, wajahnya tenang dengan garis kelel

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 74

    Cahaya matahari tidak lagi jatuh lurus dari atas, melainkan menyelinap rendah, memanjang, menyentuh lantai ruang keluarga dengan warna keemasan yang lembut. Debu-debu kecil kembali terlihat, berputar pelan di udara, seperti mengingatkan bahwa waktu terus bergerak meski manusia sering tertinggal di satu titik. Dan Kamila membiarkan Arsen tinggal di kontrakannya. Ia takut sendirian, takut terjadi sesuatu lagi pada Dania. Dan Arsen sama sekali tidak keberatan. Ia bahkan merasa senang. Kamila duduk di sofa, Dania di pelukannya.Anak itu terbangun setengah, matanya terbuka sebentar lalu tertutup lagi, seperti belum yakin apakah dunia cukup aman untuk disambut sepenuhnya. Kamila menyesuaikan posisinya, menggeser sedikit agar kepala Dania lebih nyaman. Gerakannya halus, hampir tak terlihat—seperti seseorang yang takut mengganggu keseimbangan sesuatu yang rapuh.Arsen memperhatikan dari ambang pintu.Ia tidak masuk. Tidak duduk di sebelah. Ia hanya berdiri, bersandar ringan di kusen, membiar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status