تسجيل الدخول
"Buka baju kamu."
Perintah itu memotong kesunyian malam. Villetta, yang baru saja keluar dari kamar mandi, mematung di depan meja rias. Jemarinya yang tengah mengencangkan simpul camisole tipisnya mendadak kaku. Jari-jarinya mendingin seketika. Ia tidak berani berbalik, tapi ia bisa merasakan kehadiran pria itu tepat di belakang punggungnya. "June?" Letta berbisik, suaranya hampir tidak terdengar. "Saya bilang buka, Viletta. Sekarang." Suara itu lebih tinggi dari biasanya. Ada getaran serak yang tidak wajar di sana. Letta memberanikan diri berputar pelan, jemarinya meremas pinggiran meja marmer di belakangnya. Matanya membelalak saat melihat penampilan Arjune Harisidharta Yudanegara. Pria yang biasanya tampil tanpa cela sebagai anak tunggal Presiden—si perfeksionis yang rambutnya tak pernah sehelai pun berantakan—kini tampak kacau. Wajahnya pucat. Jas hitam mahalnya entah dibuang ke mana. Kemeja putihnya sudah terlepas dari sabuk, dasinya menggantung awut-awutan dengan simpul yang sudah ditarik paksa. Arjune berdiri di sana, napasnya memburu pendek-pendek, bahunya naik turun dengan ritme yang tidak beraturan. Ia tampak seperti pria yang baru saja melewati badai atau baru saja kehilangan kendali atas sesuatu yang sangat besar. Letta menelan ludah dengan susah payah. Pernikahan perjodohan mereka sudah berjalan empat tahun, dan selama itu pula mereka hidup seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi atap. Arjune tidak pernah menyentuhnya. Jangankan menyentuh, masuk ke area pribadinya di kamarnya seperti ini pun hampir tidak pernah dilakukan sang suami. Arjune bahkan memastikan tidak ada satu pun orang di luar sana yang tahu siapa istrinya Sejak kapan pernikahan ini berubah menjadi hubungan yang mengharuskan mereka melakukan kontak fisik? Ia merasa terpojok, merasa asing dengan tatapan lapar yang bukan karena nafsu, tapi karena obsesi. "Kenapa?" Letta bertanya dengan suara gemetar, matanya menatap kancing kemeja Arjune yang terbuka dua teratas. Arjune melangkah maju. Satu langkah besar yang membuat Letta terdesak hingga pinggulnya menabrak meja rias. "Apa kamu sedang mencoba menegosiasikan perintah?" Letta terjepit di antara marmer yang dingin dan tubuh Arjune yang memancarkan panas kemarahan. Ia bisa melihat dengan jelas bulir keringat yang mengalir dari pelipis Arjune menuju rahangnya yang mengeras kuat. "Saya butuh bukti," geram Arjune, wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Letta. "Bukti apa? Kamu bicara apa, June? Aku baru saja mau istirahat—” Villetta meremas camisolenya hingga buku jarinya memutih. Ingatannya kembali pada tangan kasar penculik yang merenggut pakaiannya sore tadi. Dia teringat betapa keras dia menggosok kulitnya di bawah pancuran air tadi hanya untuk menghapus jejak kejadian itu. "Jangan bohong." Arjune menyela, tangannya tiba-tiba mencengkeram sisi meja di kanan dan kiri tubuh Letta, mengurungnya sepenuhnya. “Mereka bilang kamu punya tanda di dada.” Jantung Letta serasa berhenti berdetak. Seluruh tubuhnya mendadak lemas, seolah semua tulang di kakinya berubah menjadi air. “Buktikan.” Ia merapatkan camisole satinnya hingga ke batas leher, menyembunyikan kulitnya serapat mungkin. Ada rasa ngeri yang merayap di dadanya, sebuah rahasia yang bahkan ia sendiri belum sanggup untuk melihatnya di depan cermin sejak tiba di rumah setengah jam yang lalu. "Aku nggak tahu apa yang kamu bicarakan," dusta Letta, matanya menatap ke bawah, menghindari tatapan mata elang Arjune yang seolah bisa menguliti jiwanya. "Lihat saya, Letta." Arjune membentak, tangannya yang satu berpindah mencengkeram dagu Letta, memaksanya menatap pria itu. Napas Arjune yang panas menyapu wajahnya. Pria ini bukan lagi putra presiden yang santun di depan kamera. Ada kilatan gelap di matanya, jenis kemarahan yang merasa hak miliknya telah diusik oleh pihak luar. Arjune selama ini adalah pria yang gila kontrol, dan mendengar hal itu membuatnya kehilangan akal sehat. "Dia bilang ada punya tanda di sana. Di dada kiri kamu," Arjune berbisik, suaranya kini terdengar seperti desisan ular yang mematikan. "Bagaimana bisa dia tahu?” "Enggak ada apa pun, June. Tolong." Letta mencoba mendorong dada Arjune, namun pria itu tidak bergeming sedikit pun. Tubuhnya terasa seperti tembok beton yang dingin. "Kalau begitu tunjukkan.” Arjune meraih kancing teratas daster Letta dengan kasar. "Saya tidak suka ada rahasia di dalam rumah saya sendiri. Terutama rahasia yang sudah diketahui oleh musuh saya." "Lepas!" Letta memekik, tangannya memukul lengan Arjune dengan panik. "Kamu nggak punya hak!" “Di rumah ini, kamu masih milik saya. Sejak ayahmu menyerahkanmu, kamu milik saya.” Letta berusaha mati-matian menahan tangan Arjune, namun pria itu terlalu kuat. Arjune didorong oleh rasa penasaran yang sudah menjadi obsesi gelap Arjune tidak melepaskannya. Jemarinya yang besar dan kasar meraba area sekitar kancing daster Letta, menekan permukaan kain itu tepat di atas dada Letta. Letta mematung, napasnya tertahan di kerongkongan saat merasakan jemari Arjune yang bergetar menekan kulitnya dari balik kain. Ada sensasi panas yang menjalar, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya bahkan dari suaminya sendiri. Mata Arjune menatap tajam ke arah tangan yang meraba kain tersebut, seolah mencoba menembus kain satin itu hanya dengan sentuhan. Ia bisa merasakan jantung Letta yang berdegup kencang di bawah telapak tangannya— tidak beraturan. Arjune nyaris menarik kancing itu hingga lepas, namun tangannya tertahan saat melihat Letta memejamkan mata dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipi. Napas Arjune tercekat seketika, seluruh tubuhnya menegang kaku bagai batu. Di balik pakaian tertutup yang selalu dikenakan Villetta, tato mawar hitam di dada wanita itu tak lagi menarik perhatiannya. "Apa... apa-apaan ini?" bisik Arjune, suaranya tercekat di tenggorokan. Pemandangan di hadapannya justru jauh lebih mengerikan dari apa yang dia bayangkan. Kulit putih Villetta dipenuhi oleh lebam kebiruan yang kontras, melingkar jelas di leher seperti bekas jeratan tali. "Bukan urusan kamu!” pekik Villetta dengan suara gemetar. Namun, mata Arjune terpaku pada bawah tulang selangka Villetta. Bekas cengkeraman kemerahan yang kasar bersanding dengan goresan baru yang masih basah. "Siapa yang melakukan ini, Villetta?!" bentak Arjune, mencengkeram sisa pakaian itu hingga urat tangannya menonjol. "Jawab." Arjune mundur satu langkah. Matanya melebar menatap jemarinya sendiri yang menyisakan bercak darah tipis dari luka Villetta. "Aku bertanya sekali lagi," desis Arjune, suaranya mendadak merendah namun terasa dingin. "Siapa orangnya?" "Jangan berani-berani menyentuhku," desis Villetta dengan suara bergetar menahan tangis. "Menjauh dariku, Arjune!" Pria di hadapannya ini tidak boleh tahu bahwa beberapa jam lalu, Villetta baru saja lolos dari sekapan sekelompok pria bersenjata. Letta berhasil lolos dengan merangkak di antara kerikil tajam demi mempertahankan nyawanya yang tak berharga, dan ia tidak butuh belas kasihan dari suami dingin yang menganggapnya sebagai aib. “Aku tidak butuh belas kasihanmu!" tekan Villetta, memalingkan wajahnya dengan ketus. Letta hanya bisa terisak tanpa suara di depan meja rias. Ia ingin berteriak bahwa ia baru saja melewati neraka yang tak ingin ia ingat. Namun, melihat tatapan Arjune yang begitu gelap, ia tahu suaminya hanya peduli pada siapa yang berani menyentuh miliknya. Melihat penolakan itu, Arjune menarik tangannya kembali seolah baru saja menyentuh sesuatu yang sangat berbahaya. Ia berdiri tegak, membetulkan letak dasinya yang berantakan. Arjune berbalik, melangkah keluar kamar menuju balkon. Ia merogoh ponselnya dengan gerakan kasar, jarinya menekan satu nomor dengan cepat. "Istri saya aman. Cari pengirim pesan itu," perintahnya dingin.Arjune terdiam sejenak, menatap kegelapan malam dengan mata yang menyipit tajam. "Pastikan tidak ada satu pun media yang tahu tentang teror ini. Istri saya adalah rahasia saya.“Setelah mematikan ponsel, Arjune kembali melangkah masuk dari balkon. Langkah sepatu pantofelnya beradu tajam dengan lantai marmer, lalu terhenti tepat di ambang pintu keluar kamar. Punggungnya yang tegap membelakangi Letta yang masih gemetar."Mulai sekarang jangan keluar rumah tanpa sepengetahuan saya," ucapnya dingin, sebelum akhirnya benar-benar pergiSisa-sisa alkohol yang mengalir di pembuluh darahnya bekerja lebih baik daripada dukungan apa pun yang pernah ia terima. Rasa hangat itu membakar keraguan Villetta, mengubah ketakutan yang biasanya melumpuhkan menjadi sebuah keberanian yang sembrono. Ruang tengah yang biasanya terlihat megah kini terasa gelap dan mengancam, hanya menyisakan sorot lampu kota dari balik jendela besar yang menembus kegelapan. Di tengah kesunyian itu, Arjune berdiri menghadap kaca, membelakangi ruangan. Ia masih mengenakan kemeja yang sama dengan yang Villetta lihat di televisi—citra pria sempurna yang dipuja negeri—namun dari punggungnya saja, Villetta bisa merasakan aura yang jauh lebih pekat dan berbahaya. “Berapa lama lagi kamu menguji kesabaran saya?” Pria itu berbalik, menatap Villetta dengan sorot mata yang mampu membekukan aliran darah. Villetta, yang kepalanya masih berdenyut dan langkahnya tidak stabil, justru tertawa miris. Alkohol dari botol koleksi Arjune yang ia tenggak di tempat Mira
Kalimat terakhir Arjune semalam masih menggema di kepala Villetta, berputar layaknya kaset rusak yang tak mau berhenti. Tetaplah di jangkauan saya. Kata-kata itu terasa seperti pelukan hangat sekaligus jerat yang mencekik secara bersamaan. Lamunannya pecah saat suara bel pintu apartemen berbunyi nyaring. Begitu Villetta membuka pintu, sosok wanita paruh baya dengan riasan sempurna dan aura menuntut sudah berdiri di sana.“Mama meneleponmu beberapa kali, kenapa kamu tidak mengangkatnya?” Tanpa menunggu izin, ibunya melangkah masuk, aroma parfum mahalnya langsung menjajah ruangan.“Ponselku mati, Ma,” dusta Villetta sembari menutup pintu.“Bukannya kemarin kamu harus datang ke klinik fertilitas?” Sang Ibu berbalik, menatap Villetta dengan sorot mata menilai yang tajam. Ia berjalan menuju ruang tamu, diikuti Villetta yang mengekor di belakangnya dengan perasaan waswas.“Ah, Mama juga yang harus bersusah payah membawakan obat kesuburan untukmu.” Wanita itu meletakkan sebotol vitamin dan
"...lakukan dengan bersih. Saya tidak mau ada jejak yang tersisa."Suara Arjune terdengar dari arah balkon, memecah keheningan kamar. Villetta mencoba menggerakkan ujung jarinya, namun rasa nyeri di kepalanya berdenyut hebat. Ia menahan napas, menajamkan pendengarannya di balik selimut."Pastikan dia tidak bisa bicara lagi. Jika dia melawan, lenyapkan saja."Villetta tersentak di balik kelopak matanya yang masih terpejam. Lenyapkan? Siapa yang sedang Arjune bicarakan dengan nada sedingin es itu?"Ya. Kabari saya jika tugas itu sudah selesai."Suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat dari balkon. Villetta segera mengatur ritme napasnya, berpura-pura masih terlelap meski jantungnya kini beradu liar. Sebuah tangan yang dingin tiba-tiba menyentuh keningnya dengan gerakan yang sangat pelan."Nghh..." Villetta mengerang pelan, sengaja membuka matanya dengan sandiwara yang payah."Sudah bangun?" tanya Arjune datar.Villetta menatap suaminya yang kini sudah mengenakan kemeja rapi . "Mas Arjun
Lampu sorot dari deretan kamera paparazzi langsung menyambar ketika sedan hitam mewah mereka berhenti tepat di depan lobi Amanpuri Grand Ballroom. Arjune turun lebih dulu, membetulkan letak kancing jasnya dengan gerakan kaku yang sempurna sebelum berputar mengulurkan tangan. Kilatan blitz semakin menggila saat kaki Villetta yang terbalut gaun sutra biru belahan tinggi menyentuh lantai."Ikuti langkah saya, Letta," bisik Arjune rendah, memberikan tekanan kecil pada jemari dingin istrinya."Pak Arjune! Boleh diperkenalkan siapa wanita di sebelah Anda?" teriak salah satu jurnalis dari balik barikade.Arjune mengabaikan pertanyaan itu, menatap lurus ke depan dengan dagu terangkat kokoh. Selama empat tahun pernikahan dingin mereka, ini adalah kali pertama Arjune membawanya kehadapan publik."Jangan tegang, Letta. Angkat wajahmu dan tersenyum," bisik Arjune tepat di telinganya."Ba-baik," sahut Villetta terbata, nyaris seperti embusan angin.Jemari panjang pria itu beralih melingkar posesif di p
Villetta terjaga dengan perasaan seolah seluruh sarafnya baru saja disengat listrik. Arjune, suami pajangannya itu tidak mengizinkan dirinya untuk pergi tanpa sepengetahuan. Sejak kapan pria itu perlu peduli dengan dirinya? Viletta membuka mata, bukan karena alarm yang memekakkan telinga, bukan juga karena suara ketukan pintu dari asisten rumah tangga yang biasanya membawakan teh hangat pagi hari. Alih-alih rutinitas yang menenangkan, ia disambut oleh kehadiran Arjune yang terasa tidak pada tempatnya di dalam kamarnya sendiri. Mata Villetta terbelalak, menangkap sosok Arjune yang duduk di kursi dekat jendela. Tirai hanya terbuka setengah, menciptakan kontras cahaya yang dramatis, namun itu cukup untuk memperlihatkan posisi pria itu yang kaku, hampir menyerupai siaga tempur. Satu tangannya menopang dagu, sementara tatapannya terkunci lurus ke arah ranjang tempat Villetta baru saja membuka mata. Arjune belum mengganti pakaian semalam, kemeja putihnya yang sedikit kusut masih mel
"Buka baju kamu." Perintah itu memotong kesunyian malam. Villetta, yang baru saja keluar dari kamar mandi, mematung di depan meja rias. Jemarinya yang tengah mengencangkan simpul camisole tipisnya mendadak kaku. Jari-jarinya mendingin seketika. Ia tidak berani berbalik, tapi ia bisa merasakan kehadiran pria itu tepat di belakang punggungnya. "June?" Letta berbisik, suaranya hampir tidak terdengar. "Saya bilang buka, Viletta. Sekarang." Suara itu lebih tinggi dari biasanya. Ada getaran serak yang tidak wajar di sana. Letta memberanikan diri berputar pelan, jemarinya meremas pinggiran meja marmer di belakangnya. Matanya membelalak saat melihat penampilan Arjune Harisidharta Yudanegara. Pria yang biasanya tampil tanpa cela sebagai anak tunggal Presiden—si perfeksionis yang rambutnya tak pernah sehelai pun berantakan—kini tampak kacau. Wajahnya pucat. Jas hitam mahalnya entah dibuang ke mana. Kemeja putihnya sudah terlepas dari sabuk, dasinya menggantung awut-awutan dengan s







