Share

Bab 2

Author: Izhaha
last update publish date: 2026-04-09 06:02:09

Villetta terjaga dengan perasaan seolah seluruh sarafnya baru saja disengat listrik. Arjune, suami pajangannya itu tidak mengizinkan dirinya untuk pergi tanpa sepengetahuan. Sejak kapan pria itu perlu peduli dengan dirinya?

Viletta membuka mata, bukan karena alarm yang memekakkan telinga, bukan juga karena suara ketukan pintu dari asisten rumah tangga yang biasanya membawakan teh hangat pagi hari.

Alih-alih rutinitas yang menenangkan, ia disambut oleh kehadiran Arjune yang terasa tidak pada tempatnya di dalam kamarnya sendiri.

Mata Villetta terbelalak, menangkap sosok Arjune yang duduk di kursi dekat jendela.

Tirai hanya terbuka setengah, menciptakan kontras cahaya yang dramatis, namun itu cukup untuk memperlihatkan posisi pria itu yang kaku, hampir menyerupai siaga tempur.

Satu tangannya menopang dagu, sementara tatapannya terkunci lurus ke arah ranjang tempat Villetta baru saja membuka mata. Arjune belum mengganti pakaian semalam, kemeja putihnya yang sedikit kusut masih melekat dengan kancing kerah yang terbuka. Ia tampak seperti seseorang yang tidak menyentuh ranjang barang semenit pun.

Villetta menahan napas, dadanya terasa sesak.

Arjune tidak berkedip, sorot matanya begitu fokus hingga Villetta merasa seperti seorang mangsa. Ia tahu polanya—semakin ia menunjukkan rasa gentar, semakin pria itu akan menekannya dengan aura dominasi yang seolah sudah mendarah daging.

"Sudah bangun," Arjune akhirnya bersuara.

Suaranya tidak sedingin biasanya, namun membuat Villetta merasa terhimpit. Villetta hanya bisa mengangguk pelan, mencoba mengumpulkan sisa kesadarannya yang masih berantakan.

Rasa nyeri di lehernya kembali berdenyut, seolah luka itu ikut bereaksi terhadap kehadiran suaminya.

"Kenapa mas disini?" tanya Villetta dengan suara parau.

Alih-alih menjawab, pria itu bangkit dari kursinya dengan gerakan yang terlalu efisien dan waspada untuk ukuran pria yang kurang tidur.

Saat Arjune melangkah mendekat, Villetta menangkap aroma logam yang samar bercampur dengan bau tajam tembakau yang menempel pada serat kain kemejanya. Villetta mengernyit di balik selimutnya, pria itu merokok?

Seingatnya, Arjune adalah figur yang sangat menjaga citra dan kebersihan tubuhnya.

"Turun ke bawah. Makan," perintah Arjune singkat.

Kalimat itu memutus segala rasa ingin tahu Villetta. Itu adalah instruksi tanpa ruang negosiasi, sebuah penegasan kembali tentang tembok besar yang selama ini memisahkan mereka.

Suasana di meja makan sama sekali tidak menunjukkan kehangatan sarapan pada umumnya. Ini menyenangkan dalam artian yang paling ironis melihat bagaimana Arjune memperhatikan setiap detail gerak Villetta.

Pria itu tidak makan, ia hanya duduk menyesap kopinya sambil menghitung setiap suapan Villetta, bahkan setiap kali Villetta hanya sekadar memindahkan letak sendok karena rasa mual yang kembali mengaduk perutnya.

"Kamu sakit?," ujar Arjune. Nadanya datar, namun tatapannya seolah sedang mencatat perilaku menyimpang dari "aset" miliknya.

"Saya tidak terlalu lapar."

Arjune diam sebentar, meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting keramik yang nyaring di tengah sunyi ruangan.

"Biasakan."

Villetta terpaksa mengangkat kembali sendoknya, mencoba menyuap sup jagung yang sudah disiapkan Bi Laras, yang sehari-hari memasak di rumah dinginnya. Meski lidahnya terasa hambar.

Ia menunduk, berusaha menghindari tatapan intens pria itu yang mulai terasa seperti ancaman fisik. Namun, kalimat selanjutnya dari Arjune sukses membuat sendok di tangan Villetta berdenting keras menghantam pinggiran mangkuk porselen.

“Mulai malam ini, kita tidur bersama.”

Villetta tersedak pelan, matanya membelalak menatap Arjune yang masih tampak tenang.

Selama tiga tahun pernikahan mereka, kamar adalah satu-satunya zona aman—sebuah suaka di mana Villetta bisa bernapas tanpa harus berpura-pura menjadi istri sempurna di bawah pengawasan Arjune. Namun sekarang, pria itu baru saja merobek batasan itu tanpa aba-aba.

"Kenapa?" tanya Villetta, suaranya bergetar menahan cemas yang meluap.

Arjune tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. "Saya tidak suka mengulang keputusan, Letta. Keamanan kamu adalah prioritas saya sekarang, dan saya tidak bisa menjamin itu jika kamu tidur di kamar yang berbeda."

"Keamanan?" batin Villetta menjerit. Nada bicara Arjune tidak terdengar seperti suami yang khawatir ia terdengar seperti komandan yang sedang menata ulang strategi pertahanan. Ini adalah bagian dari rencana restrukturisasi hidupnya yang dipaksakan. Setelah pertengkaran di kemarin malam, Arjune sedang memasang sangkar emas yang jauh lebih sempit.

"Tapi kamar Mas—"

"Akan jadi kamar kita," potong Arjune. Pria itu bangkit, merapikan manset kemeja putihnya. Untuk sesaat, Villetta melihat lecet kemerahan di buku jari pria itu—seperti bekas pukulan—sebelum manset itu tertutup sempurna.

"Barang-barang kamu akan dipindahkan siang ini. Jangan mencoba bernegosiasi,”

Villetta berdiri dengan sentakan yang begitu kuat hingga kursinya berderit nyaring menantang sunyi. Brak! Ia menggebrak meja, tubuhnya condong ke depan. Amarahnya meledak, menembus lapisan keraguan yang sejak tadi menyelimutinya.

“Saya... dan... Mas...” Villetta tergagap, napasnya memburu.

"Kita tidak pernah seperti ini. Kenapa tiba-tiba?"

Arjune tidak terkejut dengan ledakan itu. “Apa ada masalah?”

“Pasangan normal mungkin seperti itu, tapi kita berdua.. Pernikahan ini bukan karena kita saling menginginkan! Mas tahu saya hanya menggantikan posisi kakak saya yang kabur. Saya hanya pengisi kekosongan. Kita tidak punya alasan untuk mulai tidur di satu ranjang sekarang.”

Arjune mengerutkan dahi, sebuah reaksi kecil yang jarang ia tunjukkan. Ia kemudian bergerak mengitari meja hingga sampai tepat di sisi Villetta.

Villetta mematung, mengikuti arah gerak pria itu dengan waspada seperti mangsa yang sedang memantau predator yang mendekat.

Arjune tidak terkejut dengan ledakan itu.

"Jadi maksudmu…"

Arjune justru melangkah memutari meja hingga menyudutkan tubuh ringkih Villetta.

"Kita harus berciuman, dan tidur bersama untuk bisa satu kamar?"

"Bukan itu maksudku, Mas," cicit Villetta, wajahnya memaling ke samping demi menghindari tatapan intimidatif itu.

"Lalu apa?" Arjune menumpu sebelah tangannya di meja, mengurung pergerakan Villetta sepenuhnya. "Kamu yang mengingatkanku tentang hubungan normal ini, Letta. Bukankah hal yang lumrah kita melakukan hal hanya sekedar ‘tidur bersama’."

Villetta menahan napas saat melihat pria itu perlahan membuka satu kancing teratas kemejanya sendiri. Refleks, Villetta langsung memejamkan mata erat-erat begitu wajah Arjune semakin mendekat.

"Aku tanya sekali lagi," bisik Arjune tepat di telinga Villetta, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. "Kamu sepakat dengan apa yang saya perintahkan, atau saya harus memakai cara paksa?"

Arjune tersenyum miring, tampak puas melihat tubuh Villetta yang semakin meringkuk ketakutan di bawah kuasanya. Pria itu kemudian menjauhkan wajahnya, lalu melirik sekilas ke arah jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Bersiaplah," ucap Arjune dingin sambil merapikan kembali kerah kemejanya. "Kita akan pergi setelah ini."

Villetta mengernyit, tangannya masih mengepal di atas meja porselen. “Kemana? Mas bilang saya tidak boleh ke mana-mana.”

“Saya bilang kamu tidak boleh pergi sendiri,” koreksi Arjune datar sembari memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

Arjune membenarkan dasinya yang belum tersimpul. “Tapi jika bersama saya, itu pengecualian. Ada seseorang yang harus kita temui, dan saya butuh kamu ada di samping saya sebagai istri.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 63

    Udara dingin merayap perlahan dari celah dinding batu, menusuk kulit kaki Diana hingga memaksanya membuka mata.Saat kesadarannya terkumpul sepenuhnya, sisa-sisa kehangatan semalam mendadak menguap, berganti menjadi denyut penyesalan yang menghantam telak di dada. Suara tetesan air yang jatuh membentur batu menggema teratur—seolah sedang menghitung tiap detik kepanikan yang kian membuncah di dalam kepalanya.Nyut...Rasa nyeri di tulang pinggangnya menarik Diana kembali pada kenyataan. Di antara rasa sakit fisik itu, pikirannya mulai bersahutan liar. Apa yang harus ia lakukan? Kata apa yang sanggup ia ucapkan saat harus menatap mata Arjune dalam keadaan sadar penuh?Belum sempat Diana merangkai kata, sebuah kehangatan tiba-tiba menyelimuti bahunya. Seseorang menyelimutinya."Enggh..." desah Diana pelan."Tidurmu nyenyak?"Suara berat itu terdengar tepat di dekat telinganya. Belum sempat Diana mencerna situasi, sepasang lengan kekar merengkuh pinggangnya dari belakang, menarik tubuhnya

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 62

    Pada akhirnya, Diana kembali berakhir di pelukan yang sama.Mungkin... tidak apa-apa kalau malam ini ia menyerah sebentar. Hanya sementara, ia cuma ingin menikmati rasa hangat ini.Diana tak peduli lagi apakah saat ini Arjune menganggapnya sebagai Villeta atau Diana. Baginya, mau sejauh apapun ia mencoba lari, takdir selalu membawanya ke garis akhir yang sama—meluruh pasrah di dalam dekapan pria ini.Sial.Sentuhan Arjune tak lagi ragu. Telapak tangannya yang lebar dan panas merayap naik dari pinggang Diana yang basah akibat sisa air hujan, menelusuri tiap lekuk tubuhnya dengan gerakan posesif—seolah sedang menuntut kembali hak milik yang sempat terenggut darinya selama tiga tahun terakhir.Napas mereka beradu hebat, makin lama makin liar. Setiap kali jemari Arjune mengusap kulitnya, sengatan gairah merayap cepat menyengat seluruh saraf Diana. Wanita itu meremas erat bahu tegap Arjune, melengkungkan punggungnya saat rasa melayang makin melahap habis sisa akal sehatnya.Arjune menyusuri

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 61

    “...Tampan.”“Hah?”Diana perlahan mendongakkan wajahnya. Semburat merah merayap hangat memenuhi pipinya yang semula pucat. Dengan mata yang menyorot sayu dan tak fokus, ia menatap lekat wajah Arjune—seolah sedang mengamati sesuatu yang teramat menarik.“Pak Arjune...” gumamnya pelan. Bibirnya merekah lembut, membentuk senyum polos yang sedikit kekanak-kanakan. “Anda sangat tampan.”Arjune mengernyitkan dahi. “Apa-apaan ini? Kamu sedang menggodaku?”Diana cepat-cepat menggeleng, walau gerakannya terasa lambat—seperti kesadarannya yang mulai mengambang di udara.“Enggak...”Ia mengangkat telunjuknya yang bergetar halus, menunjuk tepat di depan hidung Arjune.“Kamu...” bisiknya lirih, disusul kekehan geli yang lolos begitu saja. “Sangat... tampan.”Arjune menatap wanita itu tanpa berkedip. Ada yang tidak beres. Cara Diana berbicara dan menatapnya terasa terlalu jujur, terlepas dari sifat aslinya yang biasa tertutup.“Kamu kenapa?” tanya Arjune pelan, melirik curiga. “Jangan bilang kamu

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 60

    Kata orang, Diana adalah anak yang beruntung.Ia terlahir dari keluarga berada, dengan seorang ayah yang memiliki reputasi besar di panggung politik. Wajahnya bahkan sangat mirip dengan sang kakak, Viona. Namun, kemiripan fisik itu tidak lantas membuat takdir mereka berjalan sejajar. Viona begitu mudah bergaul dan selalu mampu menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada. Sementara Diana adalah gadis pemalu yang canggung, tidak mudah membuka percakapan, dan lebih sering memilih menarik diri ke dalam kesendirian.Diana tidak pernah keberatan dengan semua ketimpangan itu.Setidaknya, sampai sebelum pernikahan politiknya dengan Arjune terjadi.Pernikahan yang sejak awal tidak pernah benar-benar ia impinkan itu justru perlahan menjelma menjadi sepotong kebahagiaan tak terduga. Diana pernah menggantungkan harapan bahwa pernikahan itu akan memberinya kehangatan yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Namun, kenyataan tiga tahun kehidupan mereka justru terbentang penuh jarak. Tiga tahun hid

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 59

    Pria berparang itu menurunkan senjatanya beberapa sentimeter. Matanya menyipit, menatap Arjune seolah sedang berusaha menemukan celah dari sikap tenang pria tersebut."Menyerah?" Nada suaranya terdengar tidak percaya. "Segampang itu?"Arjune mengangkat kedua tangannya sedikit lebih tinggi. "Saya datang ke sini untuk melihat keadaan, bukan berperang dengan warga sendiri."Diana yang berdiri di sampingnya melirik cepat. Warga sendiri? Entah kenapa, kalimat itu terasa aneh keluar dari mulut Arjune. Pria yang selama ini bahkan tampak tidak peduli pada sebagian besar orang di sekitarnya, tiba-tiba menyebut mereka sebagai warga sendiri."Jangan percaya, Ketua!" teriak seorang pria dari kerumunan. "Itu cuma taktiknya saja!"Beberapa pria lain ikut mengangkat senjata mereka. Suasana yang sempat mereda kembali menegang. Diana menahan napas. Satu kesalahan kecil saja, dan keadaan bisa berubah menjadi kekacauan yang fatal.Pria yang dipanggil Ketua mengangkat satu tangan. "Diam." Suaranya tidak

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 58

    Diana berjalan menyusuri jalan setapak yang licin di lereng bukit, mengikuti langkah kecil anak laki-laki di depan mereka yang sesekali menoleh dengan gelisah.Di sampingnya, Arjune melangkah tenang. Tanah merah yang menempel di pantofel kulit mahalnya sama sekali tidak mengurangi ketegasan setiap langkah pria itu.Melihat ketenangan tersebut, dada Diana justru semakin bergemuruh.Apa dia benar-benar tidak menyadari kalau ini mencurigakan? Atau... memang sengaja membiarkan dirinya masuk ke dalam jebakan?"Apa sebenarnya yang sedang Anda rencanakan, Pak Arjune?" tanyanya akhirnya. Suaranya sengaja ditekan agar tidak terdengar oleh anak yang berjalan beberapa meter di depan mereka.Arjune tetap menatap jalan setapak di hadapannya."Rencana apa?"Diana menghentikan langkahnya. "Anda bukan orang bodoh. Anda pasti tahu anak itu sedang memancing kita."Arjune ikut berhenti. Ia berbalik perlahan, menatap Diana yang berdiri beberapa undakan di bawahnya.Angin perbukitan menerbangkan rambut Di

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 6

    Sisa-sisa alkohol yang mengalir di pembuluh darahnya bekerja lebih baik daripada dukungan apa pun yang pernah ia terima. Rasa hangat itu membakar keraguan Villetta, mengubah ketakutan yang biasanya melumpuhkan menjadi sebuah keberanian yang sembrono. Ruang tengah yang biasanya terlihat megah kin

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 5

    Kalimat terakhir Arjune semalam masih menggema di kepala Villetta, berputar layaknya kaset rusak yang tak mau berhenti. Tetaplah di jangkauan saya. Kata-kata itu terasa seperti pelukan hangat sekaligus jerat yang mencekik secara bersamaan. Lamunannya pecah saat suara bel pintu apartemen berbunyi n

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 4

    "...lakukan dengan bersih. Saya tidak mau ada jejak yang tersisa."Suara Arjune terdengar dari arah balkon, memecah keheningan kamar. Villetta mencoba menggerakkan ujung jarinya, namun rasa nyeri di kepalanya berdenyut hebat. Ia menahan napas, menajamkan pendengarannya di balik selimut."Pastikan di

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 3

    Lampu sorot dari deretan kamera paparazzi langsung menyambar ketika sedan hitam mewah mereka berhenti tepat di depan lobi Amanpuri Grand Ballroom. Arjune turun lebih dulu, membetulkan letak kancing jasnya dengan gerakan kaku yang sempurna sebelum berputar mengulurkan tangan. Kilatan blitz semakin m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status