تسجيل الدخولVilletta terjaga dengan perasaan seolah seluruh sarafnya baru saja disengat listrik. Arjune, suami pajangannya itu tidak mengizinkan dirinya untuk pergi tanpa sepengetahuan. Sejak kapan pria itu perlu peduli dengan dirinya?
Viletta membuka mata, bukan karena alarm yang memekakkan telinga, bukan juga karena suara ketukan pintu dari asisten rumah tangga yang biasanya membawakan teh hangat pagi hari. Alih-alih rutinitas yang menenangkan, ia disambut oleh kehadiran Arjune yang terasa tidak pada tempatnya di dalam kamarnya sendiri. Mata Villetta terbelalak, menangkap sosok Arjune yang duduk di kursi dekat jendela. Tirai hanya terbuka setengah, menciptakan kontras cahaya yang dramatis, namun itu cukup untuk memperlihatkan posisi pria itu yang kaku, hampir menyerupai siaga tempur. Satu tangannya menopang dagu, sementara tatapannya terkunci lurus ke arah ranjang tempat Villetta baru saja membuka mata. Arjune belum mengganti pakaian semalam, kemeja putihnya yang sedikit kusut masih melekat dengan kancing kerah yang terbuka. Ia tampak seperti seseorang yang tidak menyentuh ranjang barang semenit pun. Villetta menahan napas, dadanya terasa sesak. Arjune tidak berkedip, sorot matanya begitu fokus hingga Villetta merasa seperti seorang mangsa. Ia tahu polanya—semakin ia menunjukkan rasa gentar, semakin pria itu akan menekannya dengan aura dominasi yang seolah sudah mendarah daging. "Sudah bangun," Arjune akhirnya bersuara. Suaranya tidak sedingin biasanya, namun membuat Villetta merasa terhimpit. Villetta hanya bisa mengangguk pelan, mencoba mengumpulkan sisa kesadarannya yang masih berantakan. Rasa nyeri di lehernya kembali berdenyut, seolah luka itu ikut bereaksi terhadap kehadiran suaminya. "Kenapa mas disini?" tanya Villetta dengan suara parau. Alih-alih menjawab, pria itu bangkit dari kursinya dengan gerakan yang terlalu efisien dan waspada untuk ukuran pria yang kurang tidur. Saat Arjune melangkah mendekat, Villetta menangkap aroma logam yang samar bercampur dengan bau tajam tembakau yang menempel pada serat kain kemejanya. Villetta mengernyit di balik selimutnya, pria itu merokok? Seingatnya, Arjune adalah figur yang sangat menjaga citra dan kebersihan tubuhnya. "Turun ke bawah. Makan," perintah Arjune singkat. Kalimat itu memutus segala rasa ingin tahu Villetta. Itu adalah instruksi tanpa ruang negosiasi, sebuah penegasan kembali tentang tembok besar yang selama ini memisahkan mereka. Suasana di meja makan sama sekali tidak menunjukkan kehangatan sarapan pada umumnya. Ini menyenangkan dalam artian yang paling ironis melihat bagaimana Arjune memperhatikan setiap detail gerak Villetta. Pria itu tidak makan, ia hanya duduk menyesap kopinya sambil menghitung setiap suapan Villetta, bahkan setiap kali Villetta hanya sekadar memindahkan letak sendok karena rasa mual yang kembali mengaduk perutnya. "Kamu sakit?," ujar Arjune. Nadanya datar, namun tatapannya seolah sedang mencatat perilaku menyimpang dari "aset" miliknya. "Saya tidak terlalu lapar." Arjune diam sebentar, meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting keramik yang nyaring di tengah sunyi ruangan. "Biasakan." Villetta terpaksa mengangkat kembali sendoknya, mencoba menyuap sup jagung yang sudah disiapkan Bi Laras, yang sehari-hari memasak di rumah dinginnya. Meski lidahnya terasa hambar. Ia menunduk, berusaha menghindari tatapan intens pria itu yang mulai terasa seperti ancaman fisik. Namun, kalimat selanjutnya dari Arjune sukses membuat sendok di tangan Villetta berdenting keras menghantam pinggiran mangkuk porselen. “Mulai malam ini, kita tidur bersama.” Villetta tersedak pelan, matanya membelalak menatap Arjune yang masih tampak tenang. Selama tiga tahun pernikahan mereka, kamar adalah satu-satunya zona aman—sebuah suaka di mana Villetta bisa bernapas tanpa harus berpura-pura menjadi istri sempurna di bawah pengawasan Arjune. Namun sekarang, pria itu baru saja merobek batasan itu tanpa aba-aba. "Kenapa?" tanya Villetta, suaranya bergetar menahan cemas yang meluap. Arjune tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. "Saya tidak suka mengulang keputusan, Letta. Keamanan kamu adalah prioritas saya sekarang, dan saya tidak bisa menjamin itu jika kamu tidur di kamar yang berbeda." "Keamanan?" batin Villetta menjerit. Nada bicara Arjune tidak terdengar seperti suami yang khawatir ia terdengar seperti komandan yang sedang menata ulang strategi pertahanan. Ini adalah bagian dari rencana restrukturisasi hidupnya yang dipaksakan. Setelah pertengkaran di kemarin malam, Arjune sedang memasang sangkar emas yang jauh lebih sempit. "Tapi kamar Mas—" "Akan jadi kamar kita," potong Arjune. Pria itu bangkit, merapikan manset kemeja putihnya. Untuk sesaat, Villetta melihat lecet kemerahan di buku jari pria itu—seperti bekas pukulan—sebelum manset itu tertutup sempurna. "Barang-barang kamu akan dipindahkan siang ini. Jangan mencoba bernegosiasi,” Villetta berdiri dengan sentakan yang begitu kuat hingga kursinya berderit nyaring menantang sunyi. Brak! Ia menggebrak meja, tubuhnya condong ke depan. Amarahnya meledak, menembus lapisan keraguan yang sejak tadi menyelimutinya. “Saya... dan... Mas...” Villetta tergagap, napasnya memburu. "Kita tidak pernah seperti ini. Kenapa tiba-tiba?" Arjune tidak terkejut dengan ledakan itu. “Apa ada masalah?” “Pasangan normal mungkin seperti itu, tapi kita berdua.. Pernikahan ini bukan karena kita saling menginginkan! Mas tahu saya hanya menggantikan posisi kakak saya yang kabur. Saya hanya pengisi kekosongan. Kita tidak punya alasan untuk mulai tidur di satu ranjang sekarang.” Arjune mengerutkan dahi, sebuah reaksi kecil yang jarang ia tunjukkan. Ia kemudian bergerak mengitari meja hingga sampai tepat di sisi Villetta. Villetta mematung, mengikuti arah gerak pria itu dengan waspada seperti mangsa yang sedang memantau predator yang mendekat. Arjune tidak terkejut dengan ledakan itu. "Jadi maksudmu…" Arjune justru melangkah memutari meja hingga menyudutkan tubuh ringkih Villetta. "Kita harus berciuman, dan tidur bersama untuk bisa satu kamar?" "Bukan itu maksudku, Mas," cicit Villetta, wajahnya memaling ke samping demi menghindari tatapan intimidatif itu. "Lalu apa?" Arjune menumpu sebelah tangannya di meja, mengurung pergerakan Villetta sepenuhnya. "Kamu yang mengingatkanku tentang hubungan normal ini, Letta. Bukankah hal yang lumrah kita melakukan hal hanya sekedar ‘tidur bersama’." Villetta menahan napas saat melihat pria itu perlahan membuka satu kancing teratas kemejanya sendiri. Refleks, Villetta langsung memejamkan mata erat-erat begitu wajah Arjune semakin mendekat. "Aku tanya sekali lagi," bisik Arjune tepat di telinga Villetta, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. "Kamu sepakat dengan apa yang saya perintahkan, atau saya harus memakai cara paksa?" Arjune tersenyum miring, tampak puas melihat tubuh Villetta yang semakin meringkuk ketakutan di bawah kuasanya. Pria itu kemudian menjauhkan wajahnya, lalu melirik sekilas ke arah jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. "Bersiaplah," ucap Arjune dingin sambil merapikan kembali kerah kemejanya. "Kita akan pergi setelah ini." Villetta mengernyit, tangannya masih mengepal di atas meja porselen. “Kemana? Mas bilang saya tidak boleh ke mana-mana.” “Saya bilang kamu tidak boleh pergi sendiri,” koreksi Arjune datar sembari memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Arjune membenarkan dasinya yang belum tersimpul. “Tapi jika bersama saya, itu pengecualian. Ada seseorang yang harus kita temui, dan saya butuh kamu ada di samping saya sebagai istri.”Sisa-sisa alkohol yang mengalir di pembuluh darahnya bekerja lebih baik daripada dukungan apa pun yang pernah ia terima. Rasa hangat itu membakar keraguan Villetta, mengubah ketakutan yang biasanya melumpuhkan menjadi sebuah keberanian yang sembrono. Ruang tengah yang biasanya terlihat megah kini terasa gelap dan mengancam, hanya menyisakan sorot lampu kota dari balik jendela besar yang menembus kegelapan. Di tengah kesunyian itu, Arjune berdiri menghadap kaca, membelakangi ruangan. Ia masih mengenakan kemeja yang sama dengan yang Villetta lihat di televisi—citra pria sempurna yang dipuja negeri—namun dari punggungnya saja, Villetta bisa merasakan aura yang jauh lebih pekat dan berbahaya. “Berapa lama lagi kamu menguji kesabaran saya?” Pria itu berbalik, menatap Villetta dengan sorot mata yang mampu membekukan aliran darah. Villetta, yang kepalanya masih berdenyut dan langkahnya tidak stabil, justru tertawa miris. Alkohol dari botol koleksi Arjune yang ia tenggak di tempat Mira
Kalimat terakhir Arjune semalam masih menggema di kepala Villetta, berputar layaknya kaset rusak yang tak mau berhenti. Tetaplah di jangkauan saya. Kata-kata itu terasa seperti pelukan hangat sekaligus jerat yang mencekik secara bersamaan. Lamunannya pecah saat suara bel pintu apartemen berbunyi nyaring. Begitu Villetta membuka pintu, sosok wanita paruh baya dengan riasan sempurna dan aura menuntut sudah berdiri di sana.“Mama meneleponmu beberapa kali, kenapa kamu tidak mengangkatnya?” Tanpa menunggu izin, ibunya melangkah masuk, aroma parfum mahalnya langsung menjajah ruangan.“Ponselku mati, Ma,” dusta Villetta sembari menutup pintu.“Bukannya kemarin kamu harus datang ke klinik fertilitas?” Sang Ibu berbalik, menatap Villetta dengan sorot mata menilai yang tajam. Ia berjalan menuju ruang tamu, diikuti Villetta yang mengekor di belakangnya dengan perasaan waswas.“Ah, Mama juga yang harus bersusah payah membawakan obat kesuburan untukmu.” Wanita itu meletakkan sebotol vitamin dan
"...lakukan dengan bersih. Saya tidak mau ada jejak yang tersisa."Suara Arjune terdengar dari arah balkon, memecah keheningan kamar. Villetta mencoba menggerakkan ujung jarinya, namun rasa nyeri di kepalanya berdenyut hebat. Ia menahan napas, menajamkan pendengarannya di balik selimut."Pastikan dia tidak bisa bicara lagi. Jika dia melawan, lenyapkan saja."Villetta tersentak di balik kelopak matanya yang masih terpejam. Lenyapkan? Siapa yang sedang Arjune bicarakan dengan nada sedingin es itu?"Ya. Kabari saya jika tugas itu sudah selesai."Suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat dari balkon. Villetta segera mengatur ritme napasnya, berpura-pura masih terlelap meski jantungnya kini beradu liar. Sebuah tangan yang dingin tiba-tiba menyentuh keningnya dengan gerakan yang sangat pelan."Nghh..." Villetta mengerang pelan, sengaja membuka matanya dengan sandiwara yang payah."Sudah bangun?" tanya Arjune datar.Villetta menatap suaminya yang kini sudah mengenakan kemeja rapi . "Mas Arjun
Lampu sorot dari deretan kamera paparazzi langsung menyambar ketika sedan hitam mewah mereka berhenti tepat di depan lobi Amanpuri Grand Ballroom. Arjune turun lebih dulu, membetulkan letak kancing jasnya dengan gerakan kaku yang sempurna sebelum berputar mengulurkan tangan. Kilatan blitz semakin menggila saat kaki Villetta yang terbalut gaun sutra biru belahan tinggi menyentuh lantai."Ikuti langkah saya, Letta," bisik Arjune rendah, memberikan tekanan kecil pada jemari dingin istrinya."Pak Arjune! Boleh diperkenalkan siapa wanita di sebelah Anda?" teriak salah satu jurnalis dari balik barikade.Arjune mengabaikan pertanyaan itu, menatap lurus ke depan dengan dagu terangkat kokoh. Selama empat tahun pernikahan dingin mereka, ini adalah kali pertama Arjune membawanya kehadapan publik."Jangan tegang, Letta. Angkat wajahmu dan tersenyum," bisik Arjune tepat di telinganya."Ba-baik," sahut Villetta terbata, nyaris seperti embusan angin.Jemari panjang pria itu beralih melingkar posesif di p
Villetta terjaga dengan perasaan seolah seluruh sarafnya baru saja disengat listrik. Arjune, suami pajangannya itu tidak mengizinkan dirinya untuk pergi tanpa sepengetahuan. Sejak kapan pria itu perlu peduli dengan dirinya? Viletta membuka mata, bukan karena alarm yang memekakkan telinga, bukan juga karena suara ketukan pintu dari asisten rumah tangga yang biasanya membawakan teh hangat pagi hari. Alih-alih rutinitas yang menenangkan, ia disambut oleh kehadiran Arjune yang terasa tidak pada tempatnya di dalam kamarnya sendiri. Mata Villetta terbelalak, menangkap sosok Arjune yang duduk di kursi dekat jendela. Tirai hanya terbuka setengah, menciptakan kontras cahaya yang dramatis, namun itu cukup untuk memperlihatkan posisi pria itu yang kaku, hampir menyerupai siaga tempur. Satu tangannya menopang dagu, sementara tatapannya terkunci lurus ke arah ranjang tempat Villetta baru saja membuka mata. Arjune belum mengganti pakaian semalam, kemeja putihnya yang sedikit kusut masih mel
"Buka baju kamu." Perintah itu memotong kesunyian malam. Villetta, yang baru saja keluar dari kamar mandi, mematung di depan meja rias. Jemarinya yang tengah mengencangkan simpul camisole tipisnya mendadak kaku. Jari-jarinya mendingin seketika. Ia tidak berani berbalik, tapi ia bisa merasakan kehadiran pria itu tepat di belakang punggungnya. "June?" Letta berbisik, suaranya hampir tidak terdengar. "Saya bilang buka, Viletta. Sekarang." Suara itu lebih tinggi dari biasanya. Ada getaran serak yang tidak wajar di sana. Letta memberanikan diri berputar pelan, jemarinya meremas pinggiran meja marmer di belakangnya. Matanya membelalak saat melihat penampilan Arjune Harisidharta Yudanegara. Pria yang biasanya tampil tanpa cela sebagai anak tunggal Presiden—si perfeksionis yang rambutnya tak pernah sehelai pun berantakan—kini tampak kacau. Wajahnya pucat. Jas hitam mahalnya entah dibuang ke mana. Kemeja putihnya sudah terlepas dari sabuk, dasinya menggantung awut-awutan dengan s







