登入Arena mendadak senyap.Puluhan pasang mata terpaku pada tubuh raksasa botak yang terkapar tak bergerak di atas tanah arena, lalu perlahan beralih kepada satu-satunya sosok yang masih berdiri tegak di tengah ring.Arjune.Tanpa sedikit pun menunjukkan tanda kelelahan, ia mengangkat tangan untuk merapikan topi hitamnya yang sedikit miring. Setelah itu, tatapannya terarah lurus ke balkon lantai dua.Di sana, Leo tanpa sadar melangkah mundur satu langkah. Gelas wiski yang tadi digenggamnya telah pecah berserakan di lantai. Wajah cekingnya kehilangan warna, sementara tangan yang semula mencengkeram bahu Mika perlahan mengendur.Marcus, penguasa pelabuhan barat, melangkah maju melewati Leo tanpa sedikit pun melirik anak buahnya yang dilanda kepanikan. Sudut bibir pria berwajah penuh bekas luka itu terangkat tipis.Lalu... Ia bertepuk tangan pelan.Prok. Prok. Prok.Seolah tepukan itu menjadi aba-aba, keheningan arena langsung pecah. Sorak-sorai penonton kembali menggema, disusul hiruk-pikuk
“Baju gue…” Wanita itu refleks menatap bagian depan gaunnya yang basah. Tangannya buru-buru mengusap noda alkohol yang menyebar di kain. Namun ketika mendongak dan melihat wajah Arjune, omelannya mendadak tertahan di tenggorokan.“Ah… ya udah, sih,” ia tertawa canggung, mendadak salah tingkah. “Untung enggak banyak.”Arjune mengeluarkan saputangan dari saku celananya, lalu mengulurkannya dengan gerakan santai. “Sorry.”Mika menerima saputangan itu tanpa ragu.“Kalau nodanya enggak hilang, gue ganti gaunnya,” tambah Arjune, suaranya berat dan tenang.Wanita itu terkekeh geli sembari menepuk-nepuk gaunnya dengan saputangan. “Enggak usah. Tapi lo bisa ganti dengan cara lain.”Mereka saling menatap selama beberapa detik, sebelum akhirnya wanita itu mengulurkan tangan terlebih dahulu. “Mika.”Arjune menyambut uluran tangan tersebut, meremasnya lembut. “Al.”“Al?” Mika memiringkan kepala, lalu menggeleng sambil tertawa renyah. “Al, El, Dul?”Sudut bibir Arjune terangkat tipis, pura-pura ter
Pulpen di tangan Arjune menggores kertas tanpa ragu.Sret. Sret.Ia melempar benda itu ke meja. "Sudah?"Baskara menarik dokumen pembatalan tersebut. Setelah memeriksa coretan tinta di atasnya, ia menutup map dengan senyum puas. "Keputusan bijak. Sekarang kembali ke ruanganmu dan benahi penampilanmu.""Tugas saya sudah selesai, Pak Presiden," sahut Arjune dingin. "Saya izin undur diri."Tanpa menunggu jawaban, Arjune berbalik. Langkah lebarnya membawa tubuhnya keluar, meninggalkan ruang kepresidenan bersama dentum pintu yang menutup tegas.Di koridor, Yanuar sudah menunggu dengan cemas. Ia melirik sekilas, menahan napas melihat sorot mata Arjune yang berapi-api. "Kita ke dermaga sekarang? Tim SAR sudah siap melakukan penyisiran.""Batalkan," potong Arjune pendek. Langkahnya terus memburu ke arah lift pribadi.Yanuar tertegun, setengah berlari mengejar. "Tapi, Pak—""Tim SAR tidak akan pernah menemukannya, Yanuar." Pertemuan dengan ayahnya tadi membawa Arjune pada satu kesimpulan mutla
Tiga jam setelah ledakan, Pelabuhan Selatan dikepung sirene darurat. Ratusan personel Tim SAR, dan kepolisian memenuhi dermaga. Bau hangus besi terbakar dan solar bercampur menjadi satu udara yang menyesakkan.Arjune berdiri tegap di ujung dermaga. Setelan jas hitamnya basah kuyup, sementara hujan deras yang mengguyur sejak tadi perlahan mematikan sisa kobaran api di permukaan laut."Bagaimana perkembangannya?" tanya Arjune. Suaranya datar, formal, dan dingin.Komandan SAR menelan ludah. Ia sudah memantau jalannya evakuasi hampir lebih dari tiga jam, namun tekanan dari pria di hadapannya ini tetap terasa mengintimidasi. "Kami masih melakukan penyisiran, Pak Arjune. Arus bawah laut malam ini cukup kuat, dan visibilitas di dalam air hampir nol."Arjune menatap kosong ke kegelapan laut. Ia tahu tim SAR sudah cukup lelah melakukan pencarian dan cuaca buruk saat ini sama sekali tidak mendukung. Namun, ego menolak keras. Ia menolak untuk menghentikan pencarian itu."Tiga jenazah kru kapal t
Tepat sebelum pintu ganda ruang sidang dibuka, Yanuar menahan lengan Arjune dan berbisik panik, "Pak, posisi evakuasi Nyonya Villeta baru saja bocor ke Departemen Keamanan."Arjune mengepalkan tangan di balik saku jasnya. Hantaman informasi itu terasa lebih menyakitkan daripada pukulan stik bisbol Baskara tadi malam. Namun, sebagai Kepala Divisi Humas dan Protokol Kepresidenan, menahan emosi di hadapan publik adalah keahlian utamanya.Arjune mengatur napas, menegakkan punggungnya yang memar, lalu melangkah masuk.Ruangan itu senyap. Di meja melingkar, para petinggi militer dan pejabat penting Dewan Keamanan sudah menunggunya. Di hadapan media, orang-orang ini selalu menjilat keluarga Yudanegara. Namun malam ini, tatapan mereka berubah. Persis segerombolan serigala yang siap menerkam seonggok daging segar yang sedang terluka."Silakan duduk, Saudara Arjune," buka pria paruh baya di tengah meja—Haryo, perwakilan menteri senior. "Kita tidak punya banyak waktu."Arjune tetap berdiri tegak
Pelabuhan Selatan tampak hampir lengang. Hanya beberapa lampu kuning temaram yang menyala di sepanjang dermaga, bergoyang pelan tertiup angin laut yang berembus kencang membawa aroma asin menusuk hidung. Villeta berdiri bergeming. Tatapannya lurus tertuju pada kapal kargo besar yang bersandar di ujung pelabuhan. "Itu kapalnya?" tanya Villeta memecah kesunyian. Bastian mengangguk ringkas. "Iya." "Hanya itu?" "Memangnya kamu mengharapkan kapal pesiar?" sahut Bastian datar. Villeta tidak menanggapi. Sepasang matanya tetap terkunci pada lambung kapal tua bercat abu-abu kusam tersebut. Sulit dipercaya bahwa dalam beberapa jam ke depan, besi tua yang mengapung itu akan membawanya pergi, meninggalkan seluruh lembaran hidupnya di sini. Langkah kaki terdengar mendekat. Alex berjalan menghampiri Villeta sambil menyodorkan sebuah map cokelat. “Ini dokumen identitas barumu.” Villeta menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar. Di dalam map itu terdapat paspor, kartu identitas, dan beber
"Apa yang kamu lakukan di pelabuhan, Letta?"Haruskah ia jujur? Jika rumor pengkhianatan itu benar, ia harus bagaimana? Tidak, Arjune tidak boleh tahu tentang tujuan aslinya sekarang. Ia harus menguji apakah pria ini bisa dipercaya atau tidak."Distrik sembilan bukan tempat biasa yang bisa kamu kun
Sisa-sisa alkohol yang mengalir di pembuluh darahnya bekerja lebih baik daripada dukungan apa pun yang pernah ia terima. Rasa hangat itu membakar keraguan Villetta, mengubah ketakutan yang biasanya melumpuhkan menjadi sebuah keberanian yang sembrono. Ruang tengah yang biasanya terlihat megah kin
Kalimat terakhir Arjune semalam masih menggema di kepala Villetta, berputar layaknya kaset rusak yang tak mau berhenti. Tetaplah di jangkauan saya. Kata-kata itu terasa seperti pelukan hangat sekaligus jerat yang mencekik secara bersamaan. Lamunannya pecah saat suara bel pintu apartemen berbunyi n
"...lakukan dengan bersih. Saya tidak mau ada jejak yang tersisa."Suara Arjune terdengar dari arah balkon, memecah keheningan kamar. Villetta mencoba menggerakkan ujung jarinya, namun rasa nyeri di kepalanya berdenyut hebat. Ia menahan napas, menajamkan pendengarannya di balik selimut."Pastikan di







