Share

Bab 4

Penulis: Izhaha
last update Tanggal publikasi: 2026-04-09 06:03:26

"...lakukan dengan bersih. Saya tidak mau ada jejak yang tersisa."

Suara Arjune terdengar dari arah balkon, memecah keheningan kamar. Villetta mencoba menggerakkan ujung jarinya, namun rasa nyeri di kepalanya berdenyut hebat. Ia menahan napas, menajamkan pendengarannya di balik selimut.

"Pastikan dia tidak bisa bicara lagi. Jika dia melawan, lenyapkan saja."

Villetta tersentak di balik kelopak matanya yang masih terpejam. Lenyapkan? Siapa yang sedang Arjune bicarakan dengan nada sedingin es itu?

"Ya. Kabari saya jika tugas itu sudah selesai."

Suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat dari balkon. Villetta segera mengatur ritme napasnya, berpura-pura masih terlelap meski jantungnya kini bertalu liar menghantam rongga rusuk. Sebuah tangan yang dingin tiba-tiba menyentuh keningnya dengan gerakan yang sangat pelan.

"Nghh..." Villetta mengerang pelan, sengaja membuka matanya dengan sandiwara yang payah. Cahaya matahari yang menerobos gorden terasa menyilaukan.

"Sudah bangun?" tanya Arjune datar.

Villetta menatap suaminya yang kini sudah mengenakan kemeja rapi tanpa cela. "Mas Arjune..."

"Ada yang sakit?"

"Hanya... sedikit pusing," jawab Villetta sambil meraba keningnya, menemukan perban halus yang terpasang rapi di sana.

Ia melirik piyama longgar yang kini melekat di tubuhnya, menggantikan gaun malamnya yang hancur semalam. Rasa cemas mendadak menyergap hatinya.

"Bi Laras yang mengganti bajuku, kan?" tanya Villetta memastikan.

Arjune hanya mengangguk singkat sebagai jawaban. Pria itu tetap berdiri tegak di sisi ranjang, menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku celana dengan tatapan mengintimidasi.

"Ada apa, Mas? Kenapa menatap saya seperti itu?" tanya Villetta akhirnya, tidak tahan dengan kesunyian yang mencekik.

"Sebuah bom meledak di tengah acara semalam," sahut Arjune pendek.

Villetta berpura-pura terkejut, matanya mencari celah di wajah kaku suaminya. "Siapa yang melakukannya? Apa pelakunya sudah ditangkap?"

Arjune melangkah maju, membuat bayangan tubuhnya yang besar jatuh menimpa Villetta yang masih lemas di atas ranjang. "Pihak berwajib sedang menanganinya. Kamu tidak perlu mencemaskan hal yang bukan urusanmu, Letta."

Pandangan Villetta mendadak turun, terpaku pada balutan perban yang melingkari lengan kanan suaminya. Memori semalam berputar kembali—tentang bagaimana Arjune mendekapnya begitu erat di tengah kepulan asap.

"Mas sendiri... bagaimana? Lenganmu terluka?"

Arjune melirik sekilas ke arah lengannya yang terbalut kain putih, lalu kembali menatap Villetta dengan sorot mata tajam. "Hanya luka gores. Tidak sebanding dengan kekacauan yang harus saya bereskan hari ini."

Pria itu kemudian duduk di tepi ranjang, membuat kasur sedikit melesak di bawah bobot tubuhnya. Ia mengulurkan tangan, menggantung jemari panjangnya tepat satu inci sebelum menyentuh perban di dahi Villetta.

"Jangan pernah mencoba untuk lari dari jangkauan saya lagi, Letta," bisiknya rendah, terdengar seperti ancaman yang posesif. "Ledakan semalam membuktikan bahwa kamu tidak bisa bertahan satu detik pun tanpa saya."

Villetta hanya bisa mengangguk pelan dengan lidah yang mendadak kelu.

"Mandilah. Saya akan membuatkan makanan untukmu," ujar Arjune singkat, lalu berbalik melangkah keluar kamar.

Villetta segera turun dari ranjang setelah membersihkan diri di kamar mandi. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti tepat di depan kitchen island saat mendengar dan melihat pemandangan asing di depannya.

Arjune, putra presiden yang biasa memegang pena kebijakan, kini sedang bertarung melawan sebuah penggorengan. Celemek abu-abu melilit kemeja rapinya yang digulung asal, sementara sisa tepung tampak menempel di rahang tegasnya.

"Mas... ngapain?" tanya Villetta, menahan tawa yang hampir lolos melihat suaminya yang tampak frustrasi.

Arjune menoleh cepat, memegang sudit kayu seperti sedang memegang senjata tajam. Aroma mentega gosong kini mulai memenuhi udara dapur.

"Resepnya bilang masukkan telur setelah mentega cair," gumam Arjune kesal. "Tapi semuanya mendadak menggumpal."

Villetta mendekat, melirik isi wajan yang mulai menghitam di beberapa sisi.

"Itu karena apinya terlalu besar, Mas," ujar Villetta lembut.

Arjune berdehem, mencoba memulihkan martabatnya yang runtuh di depan kompor. "Wajannya yang bermasalah."

"Biar saya ambil alih," potong Villetta pelan. "Mas bisa bantu memotong sayuran saja. Tapi tolong, hati-hati."

Mereka akhirnya berdiri berdampingan di depan meja dapur. Villetta menyalakan ulang kompor untuk menyelamatkan masakan, sementara Arjune mulai memotong wortel di atas talenan.

Suara ketukan pisau beradu cepat dengan kayu talenan. Iramanya sangat konstan, cepat, dan tidak meleset satu kali pun dari garis potong. Villetta kembali terpaku memperhatikan gerakan jemari suaminya yang sangat lincah.

"Sepertinya Mas lebih ahli menggunakan pisau daripada saya," cetus Villetta spontan.

Arjune tidak menghentikan gerakannya. Fokusnya tetap pada sayuran di hadapannya, namun sudut bibirnya tampak tertarik tipis.

"Laki-laki bukannya memang harus pandai menggunakan pisau?" sahut Arjune datar.

Villetta mengangguk samar, menerima jawaban itu meski batinnya mendadak merasa asing. Ia mengambil alih potongan wortel lalu memasukkannya ke dalam wajan. Aroma harum tumisan kini mulai menguar indah.

"Mas, bisa bawakan air?" pinta Villetta singkat.

Arjune menurut tanpa membantah. Ia meraih wadah berisi air dan kembali ke sisi Villetta. Namun, ia menuangkan air itu terlalu cepat ke atas wajan yang masih berminyak panas.

"Tunggu, Mas—!" teriak Villetta panik.

Cesss!

Letupan liar minyak panas langsung memercik ke segala arah dengan suara desisan yang nyaring. Villetta refleks memejamkan mata erat-erat dan mencoba mundur untuk menghindar. Namun, sebelum minyak panas sempat menyentuh kulitnya, sebuah lengan kokoh menyentak bahunya dengan sangat kuat.

Wajah Villetta langsung terbenam di dada bidang Arjune yang keras. Pria itu menjadikan tubuhnya sendiri sebagai perisai penuh, melindunginya dari cipratan panas yang masih mendesis liar.

Keadaan dapur akhirnya kembali tenang. Villetta membuka matanya perlahan dan mendongak, melihat rahang Arjune yang sedikit meringis. Ada beberapa titik kemerahan yang muncul di punggung tangan kanan pria itu akibat menahan percikan.

"Mas tidak apa-apa? Kenapa ditumpahkan begitu saja?" tanya Villetta khawatir sekaligus bingung atas kecerobohan suaminya.

Arjune tidak melepaskan dekapannya sama sekali. Pria itu justru mempererat pelukan di pinggang Villetta, mengunci tatapan mereka dengan intensitas yang membuat napas Villetta tertahan. Ibu jarinya bergerak lembut mengusap pipi Villetta.

"Ke depannya, berdirilah lebih dekat dengan saya, Letta," bisik Arjune rendah, suaranya terdengar begitu dalam. "Agar jika ada kekacauan lain yang saya buat, saya tidak perlu menarikmu sejauh ini untuk memastikan kamu tetap aman.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 63

    Udara dingin merayap perlahan dari celah dinding batu, menusuk kulit kaki Diana hingga memaksanya membuka mata.Saat kesadarannya terkumpul sepenuhnya, sisa-sisa kehangatan semalam mendadak menguap, berganti menjadi denyut penyesalan yang menghantam telak di dada. Suara tetesan air yang jatuh membentur batu menggema teratur—seolah sedang menghitung tiap detik kepanikan yang kian membuncah di dalam kepalanya.Nyut...Rasa nyeri di tulang pinggangnya menarik Diana kembali pada kenyataan. Di antara rasa sakit fisik itu, pikirannya mulai bersahutan liar. Apa yang harus ia lakukan? Kata apa yang sanggup ia ucapkan saat harus menatap mata Arjune dalam keadaan sadar penuh?Belum sempat Diana merangkai kata, sebuah kehangatan tiba-tiba menyelimuti bahunya. Seseorang menyelimutinya."Enggh..." desah Diana pelan."Tidurmu nyenyak?"Suara berat itu terdengar tepat di dekat telinganya. Belum sempat Diana mencerna situasi, sepasang lengan kekar merengkuh pinggangnya dari belakang, menarik tubuhnya

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 62

    Pada akhirnya, Diana kembali berakhir di pelukan yang sama.Mungkin... tidak apa-apa kalau malam ini ia menyerah sebentar. Hanya sementara, ia cuma ingin menikmati rasa hangat ini.Diana tak peduli lagi apakah saat ini Arjune menganggapnya sebagai Villeta atau Diana. Baginya, mau sejauh apapun ia mencoba lari, takdir selalu membawanya ke garis akhir yang sama—meluruh pasrah di dalam dekapan pria ini.Sial.Sentuhan Arjune tak lagi ragu. Telapak tangannya yang lebar dan panas merayap naik dari pinggang Diana yang basah akibat sisa air hujan, menelusuri tiap lekuk tubuhnya dengan gerakan posesif—seolah sedang menuntut kembali hak milik yang sempat terenggut darinya selama tiga tahun terakhir.Napas mereka beradu hebat, makin lama makin liar. Setiap kali jemari Arjune mengusap kulitnya, sengatan gairah merayap cepat menyengat seluruh saraf Diana. Wanita itu meremas erat bahu tegap Arjune, melengkungkan punggungnya saat rasa melayang makin melahap habis sisa akal sehatnya.Arjune menyusuri

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 61

    “...Tampan.”“Hah?”Diana perlahan mendongakkan wajahnya. Semburat merah merayap hangat memenuhi pipinya yang semula pucat. Dengan mata yang menyorot sayu dan tak fokus, ia menatap lekat wajah Arjune—seolah sedang mengamati sesuatu yang teramat menarik.“Pak Arjune...” gumamnya pelan. Bibirnya merekah lembut, membentuk senyum polos yang sedikit kekanak-kanakan. “Anda sangat tampan.”Arjune mengernyitkan dahi. “Apa-apaan ini? Kamu sedang menggodaku?”Diana cepat-cepat menggeleng, walau gerakannya terasa lambat—seperti kesadarannya yang mulai mengambang di udara.“Enggak...”Ia mengangkat telunjuknya yang bergetar halus, menunjuk tepat di depan hidung Arjune.“Kamu...” bisiknya lirih, disusul kekehan geli yang lolos begitu saja. “Sangat... tampan.”Arjune menatap wanita itu tanpa berkedip. Ada yang tidak beres. Cara Diana berbicara dan menatapnya terasa terlalu jujur, terlepas dari sifat aslinya yang biasa tertutup.“Kamu kenapa?” tanya Arjune pelan, melirik curiga. “Jangan bilang kamu

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 60

    Kata orang, Diana adalah anak yang beruntung.Ia terlahir dari keluarga berada, dengan seorang ayah yang memiliki reputasi besar di panggung politik. Wajahnya bahkan sangat mirip dengan sang kakak, Viona. Namun, kemiripan fisik itu tidak lantas membuat takdir mereka berjalan sejajar. Viona begitu mudah bergaul dan selalu mampu menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada. Sementara Diana adalah gadis pemalu yang canggung, tidak mudah membuka percakapan, dan lebih sering memilih menarik diri ke dalam kesendirian.Diana tidak pernah keberatan dengan semua ketimpangan itu.Setidaknya, sampai sebelum pernikahan politiknya dengan Arjune terjadi.Pernikahan yang sejak awal tidak pernah benar-benar ia impinkan itu justru perlahan menjelma menjadi sepotong kebahagiaan tak terduga. Diana pernah menggantungkan harapan bahwa pernikahan itu akan memberinya kehangatan yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Namun, kenyataan tiga tahun kehidupan mereka justru terbentang penuh jarak. Tiga tahun hid

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 59

    Pria berparang itu menurunkan senjatanya beberapa sentimeter. Matanya menyipit, menatap Arjune seolah sedang berusaha menemukan celah dari sikap tenang pria tersebut."Menyerah?" Nada suaranya terdengar tidak percaya. "Segampang itu?"Arjune mengangkat kedua tangannya sedikit lebih tinggi. "Saya datang ke sini untuk melihat keadaan, bukan berperang dengan warga sendiri."Diana yang berdiri di sampingnya melirik cepat. Warga sendiri? Entah kenapa, kalimat itu terasa aneh keluar dari mulut Arjune. Pria yang selama ini bahkan tampak tidak peduli pada sebagian besar orang di sekitarnya, tiba-tiba menyebut mereka sebagai warga sendiri."Jangan percaya, Ketua!" teriak seorang pria dari kerumunan. "Itu cuma taktiknya saja!"Beberapa pria lain ikut mengangkat senjata mereka. Suasana yang sempat mereda kembali menegang. Diana menahan napas. Satu kesalahan kecil saja, dan keadaan bisa berubah menjadi kekacauan yang fatal.Pria yang dipanggil Ketua mengangkat satu tangan. "Diam." Suaranya tidak

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 58

    Diana berjalan menyusuri jalan setapak yang licin di lereng bukit, mengikuti langkah kecil anak laki-laki di depan mereka yang sesekali menoleh dengan gelisah.Di sampingnya, Arjune melangkah tenang. Tanah merah yang menempel di pantofel kulit mahalnya sama sekali tidak mengurangi ketegasan setiap langkah pria itu.Melihat ketenangan tersebut, dada Diana justru semakin bergemuruh.Apa dia benar-benar tidak menyadari kalau ini mencurigakan? Atau... memang sengaja membiarkan dirinya masuk ke dalam jebakan?"Apa sebenarnya yang sedang Anda rencanakan, Pak Arjune?" tanyanya akhirnya. Suaranya sengaja ditekan agar tidak terdengar oleh anak yang berjalan beberapa meter di depan mereka.Arjune tetap menatap jalan setapak di hadapannya."Rencana apa?"Diana menghentikan langkahnya. "Anda bukan orang bodoh. Anda pasti tahu anak itu sedang memancing kita."Arjune ikut berhenti. Ia berbalik perlahan, menatap Diana yang berdiri beberapa undakan di bawahnya.Angin perbukitan menerbangkan rambut Di

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 2

    Villetta terjaga dengan perasaan seolah seluruh sarafnya baru saja disengat listrik. Arjune, suami pajangannya itu tidak mengizinkan dirinya untuk pergi tanpa sepengetahuan. Sejak kapan pria itu perlu peduli dengan dirinya? Viletta membuka mata, bukan karena alarm yang memekakkan telinga, bukan ju

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 1

    "Buka baju kamu." Perintah itu memotong kesunyian malam. Villetta, yang baru saja keluar dari kamar mandi, mematung di depan meja rias. Jemarinya yang tengah mengencangkan simpul camisole tipisnya mendadak kaku. Jari-jarinya mendingin seketika. Ia tidak berani berbalik, tapi ia bisa merasakan ke

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 6

    Sisa-sisa alkohol yang mengalir di pembuluh darahnya bekerja lebih baik daripada dukungan apa pun yang pernah ia terima. Rasa hangat itu membakar keraguan Villetta, mengubah ketakutan yang biasanya melumpuhkan menjadi sebuah keberanian yang sembrono. Ruang tengah yang biasanya terlihat megah kin

  • Istri Rahasia Sang Penguasa   Bab 5

    Kalimat terakhir Arjune semalam masih menggema di kepala Villetta, berputar layaknya kaset rusak yang tak mau berhenti. Tetaplah di jangkauan saya. Kata-kata itu terasa seperti pelukan hangat sekaligus jerat yang mencekik secara bersamaan. Lamunannya pecah saat suara bel pintu apartemen berbunyi n

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status