تسجيل الدخول"...lakukan dengan bersih. Saya tidak mau ada jejak yang tersisa."Suara Arjune terdengar dari arah balkon, memecah keheningan kamar. Villetta mencoba menggerakkan ujung jarinya, namun rasa nyeri di kepalanya berdenyut hebat. Ia menahan napas, menajamkan pendengarannya di balik selimut."Pastikan dia tidak bisa bicara lagi. Jika dia melawan, lenyapkan saja."Villetta tersentak di balik kelopak matanya yang masih terpejam. Lenyapkan? Siapa yang sedang Arjune bicarakan dengan nada sedingin es itu?"Ya. Kabari saya jika tugas itu sudah selesai."Suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat dari balkon. Villetta segera mengatur ritme napasnya, berpura-pura masih terlelap meski jantungnya kini beradu liar. Sebuah tangan yang dingin tiba-tiba menyentuh keningnya dengan gerakan yang sangat pelan."Nghh..." Villetta mengerang pelan, sengaja membuka matanya dengan sandiwara yang payah."Sudah bangun?" tanya Arjune datar.Villetta menatap suaminya yang kini sudah mengenakan kemeja rapi . "Mas Arjune...""Ada yang sakit?""Hanya... sedikit pusing," jawab Villetta sambil meraba keningnya, menemukan perban halus yang terpasang rapi di sana.Ia melirik piyama longgar yang kini melekat di tubuhnya. Rasa cemas mendadak menyergap tangannya."Bi Laras yang mengganti bajuku kan?" tanya Villetta memastikan.Arjune hanya mengangguk singkat sebagai jawaban. Pria itu tetap berdiri tegak di sisi ranjang, menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku celana dengan tatapan mengintimidasi."Ada apa, Mas? Kenapa menatap saya seperti itu?" tanya Villetta akhirnya, tidak tahan dengan kesunyian yang mencekik."Sebuah bom meledak di tengah acara semalam," sahut Arjune pendek.Villetta berpura-pura terkejut, matanya mencari celah di wajah kaku suaminya. "Siapa yang melakukannya? Apa pelakunya sudah ditangkap?"Arjune melangkah maju, membuat bayangan tubuhnya yang besar jatuh menimpa Villetta yang masih lemas. "Pihak berwajib sedang menanganinya. Kamu tidak perlu mencemaskan hal yang bukan urusanmu, Letta."Pandangan Villetta mendadak turun, terpaku pada balutan perban yang melingkari lengan kanan suaminya. Memori semalam berputar kembali—tentang bagaimana Arjune mendekapnya begitu erat di tengah kepulan asap."Mas sendiri... bagaimana? Lenganmu terluka?"Arjune melirik sekilas ke arah lengannya yang terbalut kain putih, lalu kembali menatap Villetta. "Hanya luka gores. Tidak sebanding dengan kekacauan yang harus saya bereskan hari ini."Pria itu kemudian duduk di tepi ranjang, membuat kasur sedikit melesak. Ia mengulurkan tangan, menggantung jemari panjangnya tepat satu inci sebelum menyentuh perban di dahi Villetta."Jangan pernah mencoba untuk lari dari jangkauan saya lagi, Letta," bisiknya rendah. "Ledakan semalam membuktikan bahwa kamu tidak bisa bertahan satu detik pun tanpa saya."Villetta hanya bisa mengangguk pelan dengan lidah yang mendadak kelu. "Mandilah. Saya akan membuatkan makanan untukmu," ujar Arjune singkat, lalu berbalik melangkah keluar kamar.Villetta segera turun dari ranjang setelah membersihkan diri di kamar mandi. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti di depan island saat mendengar sesuatu.
Arjune, putra presiden yang biasa memegang pena kebijakan, kini sedang bertarung melawan sebuah penggorengan. Celemek abu-abu melilit kemeja rapinya yang digulung asal."Mas... ngapain?" tanya Villetta, menahan tawa.Arjune menoleh cepat, memegang sudit kayu seperti memegang senjata tajam. Sisa tepung tampak menempel di rahang tegasnya."Resepnya bilang masukkan telur setelah mentega cair," gumam Arjune kesal. "Tapi semuanya mendadak menggumpal."Villetta mendekat, melirik isi wajan yang mulai menghitam. Aroma mentega gosong kini memenuhi udara dapur."Itu karena apinya terlalu besar, Mas," ujar Villetta lembut.Arjune berdehem, mencoba memulihkan martabatnya yang runtuh di depan kompor. "Wajannya yang bermasalah.""Biar saya ambil alih," potong Villetta pelan. "Mas bisa bantu memotong sayuran saja. Tapi tolong, hati-hati."Mereka akhirnya berdiri berdampingan di depan meja dapur. Villetta menyalakan ulang kompor, sementara Arjune mulai memotong wortel di atas talenan.Suara ketukan pisau beradu cepat dengan kayu talenan. Iramanya sangat konstan, cepat, dan tidak meleset satu kali pun. Villetta kembali terpaku memperhatikan gerakan jemari suaminya yang sangat lincah."Sepertinya Mas lebih ahli menggunakan pisau daripada saya," cetus Villetta spontan.Arjune tidak menghentikan gerakannya. Fokusnya tetap pada sayuran, namun sudut bibirnya tertarik tipis."Laki-laki bukannya memang harus pandai menggunakan pisau?" sahut Arjune datar.Villetta mengangguk samar, menerima jawaban itu meski batinnya merasa asing. Ia mengambil alih potongan wortel lalu memasukkannya ke dalam wajan. Aroma harum tumisan mulai menguar indah."Mas, bisa bawakan air?" pinta Villetta singkat.Arjune menurut tanpa membantah. Ia meraih wadah berisi air dan kembali ke sisi Villetta. Namun, ia menuangkan air itu terlalu cepat ke atas wajan yang masih berminyak panas." Tunggu, Mas—!" teriak Villetta panik.Cesss!Letupan liar minyak panas langsung memercik ke segala arah. Villetta refleks memejamkan mata dan mencoba mundur. Namun, sebelum minyak menyentuh kulitnya, sebuah lengan kokoh menyentak bahunya kuat.Wajah Villetta langsung terbenam di dada bidang Arjune. Pria itu menjadikan tubuhnya sendiri sebagai perisai penuh, melindunginya dari cipratan panas.Keadaan dapur kembali tenang. Villetta membuka matanya perlahan dan mendongak, melihat Arjune sedikit meringis. Ada beberapa titik kemerahan di punggung tangan pria itu."Mas tidak apa-apa? Kenapa ditumpahkan begitu saja?" tanya Villetta khawatir.Arjune tidak melepaskan dekapannya. Pria itu justru mempererat pelukan di pinggang Villetta, mengunci tatapan mereka dengan intens. Ibu jarinya bergerak lembut mengusap pipi Villetta. "Ke depannya, berdirilah lebih dekat dengan saya, Letta," bisik Arjune rendah. "Agar jika ada kekacauan lain yang saya buat, saya tidak perlu menarikmu sejauh ini untuk memastikan kamu tetap aman."Sisa-sisa alkohol yang mengalir di pembuluh darahnya bekerja lebih baik daripada dukungan apa pun yang pernah ia terima. Rasa hangat itu membakar keraguan Villetta, mengubah ketakutan yang biasanya melumpuhkan menjadi sebuah keberanian yang sembrono. Ruang tengah yang biasanya terlihat megah kini terasa gelap dan mengancam, hanya menyisakan sorot lampu kota dari balik jendela besar yang menembus kegelapan. Di tengah kesunyian itu, Arjune berdiri menghadap kaca, membelakangi ruangan. Ia masih mengenakan kemeja yang sama dengan yang Villetta lihat di televisi—citra pria sempurna yang dipuja negeri—namun dari punggungnya saja, Villetta bisa merasakan aura yang jauh lebih pekat dan berbahaya. “Berapa lama lagi kamu menguji kesabaran saya?” Pria itu berbalik, menatap Villetta dengan sorot mata yang mampu membekukan aliran darah. Villetta, yang kepalanya masih berdenyut dan langkahnya tidak stabil, justru tertawa miris. Alkohol dari botol koleksi Arjune yang ia tenggak di tempat Mira
Kalimat terakhir Arjune semalam masih menggema di kepala Villetta, berputar layaknya kaset rusak yang tak mau berhenti. Tetaplah di jangkauan saya. Kata-kata itu terasa seperti pelukan hangat sekaligus jerat yang mencekik secara bersamaan. Lamunannya pecah saat suara bel pintu apartemen berbunyi nyaring. Begitu Villetta membuka pintu, sosok wanita paruh baya dengan riasan sempurna dan aura menuntut sudah berdiri di sana.“Mama meneleponmu beberapa kali, kenapa kamu tidak mengangkatnya?” Tanpa menunggu izin, ibunya melangkah masuk, aroma parfum mahalnya langsung menjajah ruangan.“Ponselku mati, Ma,” dusta Villetta sembari menutup pintu.“Bukannya kemarin kamu harus datang ke klinik fertilitas?” Sang Ibu berbalik, menatap Villetta dengan sorot mata menilai yang tajam. Ia berjalan menuju ruang tamu, diikuti Villetta yang mengekor di belakangnya dengan perasaan waswas.“Ah, Mama juga yang harus bersusah payah membawakan obat kesuburan untukmu.” Wanita itu meletakkan sebotol vitamin dan
"...lakukan dengan bersih. Saya tidak mau ada jejak yang tersisa."Suara Arjune terdengar dari arah balkon, memecah keheningan kamar. Villetta mencoba menggerakkan ujung jarinya, namun rasa nyeri di kepalanya berdenyut hebat. Ia menahan napas, menajamkan pendengarannya di balik selimut."Pastikan dia tidak bisa bicara lagi. Jika dia melawan, lenyapkan saja."Villetta tersentak di balik kelopak matanya yang masih terpejam. Lenyapkan? Siapa yang sedang Arjune bicarakan dengan nada sedingin es itu?"Ya. Kabari saya jika tugas itu sudah selesai."Suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat dari balkon. Villetta segera mengatur ritme napasnya, berpura-pura masih terlelap meski jantungnya kini beradu liar. Sebuah tangan yang dingin tiba-tiba menyentuh keningnya dengan gerakan yang sangat pelan."Nghh..." Villetta mengerang pelan, sengaja membuka matanya dengan sandiwara yang payah."Sudah bangun?" tanya Arjune datar.Villetta menatap suaminya yang kini sudah mengenakan kemeja rapi . "Mas Arjun
Lampu sorot dari deretan kamera paparazzi langsung menyambar ketika sedan hitam mewah mereka berhenti tepat di depan lobi Amanpuri Grand Ballroom. Arjune turun lebih dulu, membetulkan letak kancing jasnya dengan gerakan kaku yang sempurna sebelum berputar mengulurkan tangan. Kilatan blitz semakin menggila saat kaki Villetta yang terbalut gaun sutra biru belahan tinggi menyentuh lantai."Ikuti langkah saya, Letta," bisik Arjune rendah, memberikan tekanan kecil pada jemari dingin istrinya."Pak Arjune! Boleh diperkenalkan siapa wanita di sebelah Anda?" teriak salah satu jurnalis dari balik barikade.Arjune mengabaikan pertanyaan itu, menatap lurus ke depan dengan dagu terangkat kokoh. Selama empat tahun pernikahan dingin mereka, ini adalah kali pertama Arjune membawanya kehadapan publik."Jangan tegang, Letta. Angkat wajahmu dan tersenyum," bisik Arjune tepat di telinganya."Ba-baik," sahut Villetta terbata, nyaris seperti embusan angin.Jemari panjang pria itu beralih melingkar posesif di p
Villetta terjaga dengan perasaan seolah seluruh sarafnya baru saja disengat listrik. Arjune, suami pajangannya itu tidak mengizinkan dirinya untuk pergi tanpa sepengetahuan. Sejak kapan pria itu perlu peduli dengan dirinya? Viletta membuka mata, bukan karena alarm yang memekakkan telinga, bukan juga karena suara ketukan pintu dari asisten rumah tangga yang biasanya membawakan teh hangat pagi hari. Alih-alih rutinitas yang menenangkan, ia disambut oleh kehadiran Arjune yang terasa tidak pada tempatnya di dalam kamarnya sendiri. Mata Villetta terbelalak, menangkap sosok Arjune yang duduk di kursi dekat jendela. Tirai hanya terbuka setengah, menciptakan kontras cahaya yang dramatis, namun itu cukup untuk memperlihatkan posisi pria itu yang kaku, hampir menyerupai siaga tempur. Satu tangannya menopang dagu, sementara tatapannya terkunci lurus ke arah ranjang tempat Villetta baru saja membuka mata. Arjune belum mengganti pakaian semalam, kemeja putihnya yang sedikit kusut masih mel
"Buka baju kamu." Perintah itu memotong kesunyian malam. Villetta, yang baru saja keluar dari kamar mandi, mematung di depan meja rias. Jemarinya yang tengah mengencangkan simpul camisole tipisnya mendadak kaku. Jari-jarinya mendingin seketika. Ia tidak berani berbalik, tapi ia bisa merasakan kehadiran pria itu tepat di belakang punggungnya. "June?" Letta berbisik, suaranya hampir tidak terdengar. "Saya bilang buka, Viletta. Sekarang." Suara itu lebih tinggi dari biasanya. Ada getaran serak yang tidak wajar di sana. Letta memberanikan diri berputar pelan, jemarinya meremas pinggiran meja marmer di belakangnya. Matanya membelalak saat melihat penampilan Arjune Harisidharta Yudanegara. Pria yang biasanya tampil tanpa cela sebagai anak tunggal Presiden—si perfeksionis yang rambutnya tak pernah sehelai pun berantakan—kini tampak kacau. Wajahnya pucat. Jas hitam mahalnya entah dibuang ke mana. Kemeja putihnya sudah terlepas dari sabuk, dasinya menggantung awut-awutan dengan s







