Home / Mafia / Istri Rahasia Sang Taipan / Bab 3. Menikah Denganku

Share

Bab 3. Menikah Denganku

Author: ZeeHyung
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-27 13:08:42

Pada layar yang menyala terang, tertera nama panggilan masuk. Ibu.

​Mata Aiden menyempit. Tanpa ragu, jemari tegapnya menggeser tombol hijau. Dia meletakkan benda itu di telinganya, ingin mendengar apa yang ingin dikatakan oleh si penelpon.

"Halo."

​"Halo? Anna. Nak, Ini kamu? Tapi, kenapa suaramu terasa berbeda?" tanya suara seorang wanita paruh baya dari balik sambungan telepon terdengar terengah-engah dan bergetar terkejut suara berat menjawab telpon Anna.

​"Saya bukan Anna," potong Aiden dengan nada datar, dingin dan menekan. "Anna sedang beristirahat. Saya atasannya. Ada keperluan apa?"

​Keheningan sejenak menyusup di antara mereka, sebelum wanita di seberang sana menjawab dengan nada bersalah dan terburu-buru. "M-maafkan saya, Tuan. Saya mengganggu. Tolong sampaikan pada Anna. Ibunya mendadak kolaps dan jatuh di rumah. Sekarang berada di Rumah Sakit Elizabeth Kota. Tolong minta dia menyusul ke sana."

​Panggilan terputus secara sepihak. Aiden menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kebesarannya. Aiden memikirkan setiap kata yang baru saja berputar di kepalanya.

​Pintu ruangan terbuka pelan. Simon melangkah masuk seraya membawa map dokumen tebal.

​"Tuan, ini seluruh data mengenai wanita itu," ujar Simon seraya menyerahkan lembaran kertas tersebut. "Kondisi ibunya sangat kritis. Beliau mengidap penyakit jantung stadium lanjut serta gagal ginjal akut. Beliau membutuhkan tindakan operasi besar serta terapi cuci darah secara berkala. Biayanya amat fantastis. Karena masalah inilah Nona Anna memaksakan diri bekerja di dua tempat berbeda setiap harinya."

​Aiden meraba lembaran kertas di tangannya. Matanya memindai garis demi garis takdir kelam yang membelenggu hidup Anna. Wanita polos yang semalam ia renggut kesuciannya itu ternyata tengah memikul beban hidup yang begitu berat.

​"Tinggalkan aku sendiri," perintah Aiden singkat. Simon membungkuk hormat lalu beranjak mundur tanpa suara.

​Sementara itu, di dalam kamar pribadi bernuansa abu-abu gelap, Anna terbangun dari tidur lelapnya. Rasa nyeri di sekujur tubuhnya masih menyisa, tetapi kesadarannya perlahan pulih.

Dia terduduk di atas ranjang king size yang empuk, menatap sekeliling ruangan yang memancarkan kemewahan nan maskulin. Aroma parfum berkayu maskulin yang tajam masuk ke indra penciumannya.

​"Aku harus pergi dari sini," bisik Anna pada dirinya sendiri, ketakutan mulai merayapi dadanya. "Aku tidak boleh bertatap muka lagi dengannya. Aku harus mengundurkan diri dan mencari pekerjaan lain. Tapi, bagaimana dengan biaya pengobatan Ibu?"

​Anna menggelengkan kepala keras-keras, mencoba mengusir rasa putus asa. Dia menggeser selimut lalu memijakkan kakinya di atas karpet tebal. Saat itulah dia baru menyadari pakaiannya telah berganti.

Baju kerjanya yang robek telah berganti menjadi gaun sutra berwarna krem yang sangat lembut dan mahal.

​"Siapa yang mengganti bajuku?" gumamnya dengan pipi merona panas. Pikiran tentang jemari pria itu yang menyentuh tubuhnya lagi membuat jantungnya berdebar tak karuan.

​Mengumpulkan sisa tenaganya, Anna melangkah keluar kamar. Di ruang kerja utama yang luas, dia melihat Aiden sedang duduk tegap di belakang meja jati hitam.

Kacamata berbingkai tipis hinggap di atas hidung mancungnya hingga menambah kesan tampan nan berwibawa pada wajah tegas yang biasanya hanya memancarkan kearoganan dari pria tersebut.

​Untuk beberapa detik, Anna terpaku. Ketampanan pria yang telah mengambil kehormatannya itu sempat menyihir akal sehatnya.

​'Tidak! Apa yang kupikirkan?! Dia pria berbahaya!' batin Anna seraya memalingkan wajahnya.

​"Sudah puas memandangiku, Lady?"

​Suara berat Aiden memecah keheningan. Pria itu melepaskan kacamatanya dan memutar kursi kerjanya dan menatap Anna lurus.

​Anna tersentak, cepat-cepat menggelengkan kepala. "Saya permisi mau pergi, Tuan. Terima kasih atas bantuannya. Dan juga saya mau katakan kalau hari ini adalah hari terakhir saya berada di sini. Saya mengajukan pengunduran diri."

​Wajah tenang Aiden seketika berubah muram. Aura mematikan melingkupi ruangan, membuat suhu udara seolah merosot tajam.

​"Mengundurkan diri?" ulang Aiden dingin.

​"Benar. Saya tidak bisa bekerja di sini lagi." Anna yang baru kerja sudah memutuskan berhenti. Dia malu berada di perusahaan ini dan juga dia ingin menjauh dari pria ini. Pria yang sudah merebut kesuciannya.

​Brak!

​Aiden menghempaskan telapak tangannya ke atas meja kayu tebal. Suara dentuman keras itu membuat Anna ketakutan.

​"Tidak ada yang boleh pergi dari sisiku!" seru Aiden seraya bangkit berdiri. Langkah kakinya yang lebar dan penuh dominasi mendekati Anna. "Hari ini, kamu tidak akan mengundurkan diri. Kamu akan menikah denganku."

​Mata Anna membelalak tak percaya. "Menikah?! Anda gila! Saya bahkan tidak mengenali Anda. Dan saya bukan kekasih Anda! Jadi, maaf tidak bisa. Saya mau pulang sekarang!"

​Anna berbalik dan melangkah menuju pintu. Tangan Anna memutar gagang pintu, mencoba melarikan diri.

​"Anna! Berhenti!" jerit Aiden menggelegar.

​Ketakutan menguasai seluruh saraf Anna. Dia mencoba berlari melintasi koridor ruangan, tetapi langkah tegap Aiden jauh lebih cepat. Pria itu menyergap pinggang mungil Anna dari belakang, memutar tubuhnya, lalu menguncinya rapat-rapat dalam dekapannya yang begitu kuat. Hingga Anna tidak bisa memberontak.

​"Lepaskan aku! Lepaskan! Apa maumu, hah?!" bentak Anna seraya memukul dada bidang Aiden dengan tinju kecilnya yang lemah.

​Aiden tidak membiarkan wanita itu memberontak lebih jauh. Dengan tatapan membunuh yang pekat, dia menundukkan wajahnya dan membungkam bibir Anna secara brutal.

Ciuman itu panas, menuntut dan penuh desakan hingga Anna tak berdaya untuk melawan. Rasa manis dan kehangatan pria itu perlahan merobohkan sisa pertahanan mental Anna.

​Saat Aiden akhirnya melepaskan tautan bibir mereka, napas keduanya memburu hebat.

​"Dengar baik-baik, Anna," bisik Aiden tepat di depan wajah Anna yang basah oleh air mata. "Aku tidak menerima penolakan darimu sama sekali. Jika kamu menolak menikah denganku hari ini, maka detik ini juga seluruh bantuan medis untuk ibumu di Rumah Sakit Elizabeth akan kuhentikan. Ibumu akan dibiarkan sekarat tanpa pengobatan. Pilihlah!"

​Kata-kata itu menghantam dada Anna hingga Anna bungkam. Dia tidak mengerti kenapa pria ini menyangkut pautkan dengan ibunya.

​"A-apa maksudmu?! Ibu? Kenapa dengan ibuku?!" jerit Anna histeris, mencengkeram kerah kemeja Aiden. "Apa yang sudah kamu lakukan pada ibuku, Manusia Kejam?!"

Aiden menghubungi Simon dia meminta Simon untuk mengurus ibu kandung Anna. Dia yang akan membayar biaya pengobatan ibu Anna. Dengan begitu Anna akan berhutang budi dengan dirinya.

​Seringai samar terukir di bibir Aiden saat melihat reaksi panik wanita di pelukannya. "Aku sudah memindahkan ibumu ke ruang perawatan intensif terbaik dan menanggung seluruh biayanya. Namun semua itu ada harganya, Anna. Menikahlah denganku sekarang atau biarkan ibumu menyerah pada takdirnya."

​Anna terpaku, tubuhnya lemas seketika. Tangannya perlahan terlepas dari kemeja Aiden. Pria di hadapannya ini telah mengunci seluruh jalan keluarnya.

​"Aku... aku akan bekerja untuk membayar seluruh utang biaya rumah sakit itu padamu! Tapi, aku tidak mau menikah denganku!" tangis Anna pecah, dadanya sesak oleh ketidakberdayaannya.

​Aiden tertawa kecil. Sebuah tawa dingin tanpa kelucuan. Dia berbalik membelakangi Anna, menyembunyikan kilat kepemilikan di matanya. "Bekerja? Dengan gaji seberapa besar, Anna kamu bisa membayar hutangmu padaku? Puluh tahun pun kamu tidak bisa kumpulkan gajimu.

Kamu butuh uang pengobatan ibumu ratusan juta Anna. Kalau kamu kumpulkan dulu itu mustahil. Sementara ibumu butuh tindakan medis hari ini juga? Dan ingat, tubuhmu sudah menjadi milikku semalam. Apa kamu pikir ada pria lain yang mau menerimamu jika mengetahui kesucianmu sudah hilang?" tanya Aiden dengan sombong.

​Aiden menoleh sedikit, melayangkan pandangan menusuk. "Ibumu wanita bersahaja yang sangat menjunjung tinggi kehormatan keluarga. Bagaimana reaksinya jika tahu putri kesayangannya telah kehilangan kesuciannya? Apakah jantungnya sanggup menahan kekecewaan itu sebelum dia menghembuskan napas terakhir?"

​Setiap ucapan Aiden menghujam tepat di ulu hati Anna bagai sabetan belati tajam. Pria ini tahu persis di mana letak kelemahannya. Mundur berarti membunuh ibunya. Maju berarti menjual sisa hidupnya pada pria jahat berjas mahal ini.

​"Kamu kejam! Kamu memanfaatkan penderitaanku!" jerit Anna seraya memukul punggung lebar Aiden bertubi-tubi. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang pucat.

​Aiden membiarkan pukulan-pukulan tak bertenaga itu mendarat di tubuhnya tanpa bergeming sedikit pun. Hingga akhirnya, tangan Anna terkulai lemas di sisi tubuhnya. Tangisnya berubah menjadi isakan pasrah. Demi menyambung nyawa ibunya, Anna membuang seluruh harga dirinya.

​"Baiklah. Aku terima," bisik Anna dengan suara yang hampir tak terdengar.

​"Bagus. Ayo berangkat," ujar Aiden datar seraya melangkah menuju pintu lift. Aiden tidak mau berlama-lama dia langsung bergerak ke catatan sipil.

​Tidak ada gaun pengantin mewah, tidak ada pesta gempita, tidak ada senyum bahagia di hari pernikahan ini. Di sebuah ruangan khusus yang dijaga ketat oleh belasan pengawal bersenjata prosesi pernikahan kilat itu dilangsungkan secara tertutup.

Hanya dalam hitungan menit, jemari manis Anna telah terikat oleh sebuah cincin berlian yang dingin. Anna resmi menyandang gelar Nona Aiden Blackwoods.

​Saat mereka melangkah keluar dari ruangan tersebut, Aiden sempat berbisik pelan di samping telinganya, "Aku akan mewujudkan pernikahan impianmu suatu hari nanti. Tapi tidak sekarang. Tunggu waktu yang tepat."

​Anna hanya menatap pria itu dengan pandangan kosong tanpa rasa percaya. Bagi dirinya, takdirnya telah mati sejak dirinya dinyatakan sudah menjadi istrinya Aiden.

​Perjalanan berlanjut menuju Rumah Sakit Elizabeth Kota. Sedan hitam Aiden mewah membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Begitu tiba di lokasi, Aiden langsung menuntun Anna menuju lorong khusus perawatan intensif (ICU).

​Melalui dinding kaca tebal, Anna melihat tubuh ibunya terbaring lemah di atas tempat tidur medis yang tubuhnya terhubung dengan berbagai selang dan monitor detak jantung yang berbunyi teratur.

​Seorang dokter spesialis senior berjas putih segera menghampiri Aiden dan membungkuk hormat. "Tuan Blackwoods, kondisi pasien saat ini sudah berhasil kami stabilkan. Kami telah menjadwalkan tindakan operasi penanganan jantung dan persiapan cuci darah menggunakan tim dokter terbaik kota ini."

​"Lakukan yang terbaik. Jangan sampai ada kesalahan sekecil apa pun. Jika kalian salah maka aku hancurkan rumah sakit ini beserta kalian," ancam Aiden tegas.

​Dokter itu mengangguk cepat lalu permisi beranjak pergi. Di sudut koridor yang agak jauh, Simon berdiri siaga mengawasi tuannya.

​Anna menempelkan telapak tangannya pada kaca dingin yang memisahkan dirinya dengan sang ibu. Air matanya menetes pelan membasahi pipi.

​"Ibumu akan sembuh. Percayalah padaku," gumam Aiden, berdiri tegap di samping Anna seraya mengarahkan pandangannya pada sosok wanita tua di dalam sana.

​Anna menoleh lambat, menatap wajah tegas Aiden dari samping dengan pandangan redup yang dipenuhi keputusasaan.

​"Bagaimana jika ibuku tetap tidak selamat dan meninggalkanku?" bisik Anna dengan suara serak. "Apakah setelah itu kamu juga akan membuangku begitu saja, Tuan?" tanya Anna lirih.

​Aiden mendadak membisu. Wajah tegasnya mengeras dan mata tajamnya yang biasa memancarkan dominasi mutlak kini terpaku pada manik mata Anna yang menyiratkan luka.

​

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Istri Rahasia Sang Taipan   Bab 44. Layani Aku, Merry (21+)

    Merry menatap ke arah Arlon. Tidak menyangka kalau paman Aiden berkata seperti itu. Apalagi tangannya sudah menyusup ke dalam rok mini yang dia pakai. Suara dentuman begitu memekakkan telinganya. Tidak ada satupun yang melihat dirinya diperlakukan seperti itu. Merry hanya bisa menutup matanya merasakan sensasi dari jari-jari paman pria yang dia sukai. "Aku tidak mengerti denganmu, Paman. Kenapa kamu berkata seperti itu. Aku ini wanita yang akan menikah dengan keponakanmu. Jangan seperti ini, Paman. Aku tidak bisa melakukan itu," ucap Merry gelisah karena semakin dia menarik tangan Arlon semakin kuat pria itu mempertahankan tangannya yang sudah ke intinya. Merry merasakan jari itu masuk ke intinya dan bermain begitu lembut dan daging kecil yang di intinya pun tak luput dari jari nakal paman Aiden. "Jangan munafik kamu, Merry. Aku tahu kamu siapa. Kamu itu sudah tidak perawan lagi. Kamu mau menipu Aiden tapi aku tidak. Sekarang, kamu mau lakukan apa yang aku katakan? Kalau kamu mau

  • Istri Rahasia Sang Taipan   Bab 43. Sentuhan Om Arlon (21+)

    "Kalian kenapa? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Bibi Margaret terkejut melihat para pria tiduran menumpuk di depan pintu. "Itu di sana ... I--tu, ada suara wanita tertawa dia mengejar kita. Makanya kami kabut. Ayo cepat tutup pintunya. Ayo cepat tutup pintunya sekarang." Rico merangkak ke depan untuk masuk ke dalam rumah tidak peduli dia melewati sahabatnya yang masih bertumpuk di bawah. Rico ketakutan karena suara dari wanita itu terdengar begitu dekat hingga membuat Rico bergegas masuk ke dalam rumah dan bersembunyi. Begitu juga dengan yang lainnya mereka ikut merangkak masuk. Tersisa Aiden yang masih di bawah. Simon yang merasa kasihan langsung menarik tubuh Aiden untuk masuk. Barulah pintu dibanting dengan cukup kuat. Gubrakkk! "Kalian kenapa merusak rumah orang, astaga. Tidak baik seperti itu. Bagaimana kalau rumahnya Bibi Margaret runtuh? Apa kalian mau ganti ?" tanya Tika kepada Aiden dan yang lainnya."Kami akan ganti kalau memang rusak. Bibi maafkan kami karena kami

  • Istri Rahasia Sang Taipan   Bab 42. Dikejar Hantu Wanita

    "A--apa maksudmu kursi yang lain? Memangnya, kamu mau kursi seperti apa?" tanya Mario kesal dengan sahabatnya yang malah bertanya seperti itu. "Tuan, orang baru ya? Kamu pasti dari kota, iyakan?" tanya pria tua yang geleng kepala dengan Aiden. "Maafkan teman saya. Dia belum biasa duduk di kursi kayu," jawab Jerry ke bapak-bapak yang memandang ke arah mereka. Bapak-bapak yang mendengar jawaban dari Jerry hanya tersenyum. "Orang kaya ya, Tuan?" tanya Bapak-bapak yang memakai baju lengan panjang berwarna merah. "Kita orang biasa kok. Tidak kaya tidak miskin. Kita cukup untuk makan. Oh ya, kenalkan saya Rico, ini Jerry dan ini Mario dan dia Simon nah yang tadi nanya kursi namanya paduka Aiden," ucap Rico memperkenalkan diri dan teman-temannya termasuk Aiden dengan mengatakan paduka. Aiden membolakan matanya mendengar Rico malah mengatakan dia paduka. "Tidak. Saya Aiden, suaminya Anna keponakan Bibi Margaret." Aiden memperkenalkan siapa dia. Semuanya terkejut mendengar apa yang Aide

  • Istri Rahasia Sang Taipan   Bab 41. Tidak Ada Kursi Lain

    John tidak mendapatkan keberadaan Anna ditempatkan tersebut. Sama sekali tidak dia temukan. Yang dikatakan Merry itu ternyata salah. Dia pun pulang dengan amarah. "Jika aku bertemu dengan wanita itu, aku akan menghabisinya. Aku akan membuat dia menyesal karena sudah berbohong kepadaku," ucap John yang tidak terima kalau dirinya ditipu oleh Merry.Sedangkan Aiden, Anna bersama dengan Gio anak angkatnya bermalam di rumah Bibi Margaret."Makanan Bibi sangat enak ya. Aku sangat suka. Bibi aku mau tanya, apa Bibi benar-benar tidak mau ikut dengan kami?" tanya Aiden yang memastikan kembali apakah benar Bibi Margaret tidak mau ikut dengan mereka. Karena Anna sudah mengatakannya, Bibi enggan ikut hingga dia cukup sedih karena Bibi Margaret menolak ajakannya. Anna khawatir Bibi tinggal seorang diri. Untuk itu, dia ingin Bibi Margaret ikut dengannya dan tinggal bersama dan ibunya. Tapi, Bibi Margaret lebih memilih tinggal di rumah mereka seorang diri. "Tidak. Bibi mau di sini saja. Bibi sud

  • Istri Rahasia Sang Taipan   Bab 40. Akui Siapa Kamu, Anna

    "Aiden! Jangan buat aku marah padamu. Aku sudah memintamu baik-baik datang ke rumah, kamu malah berkata seperti itu padaku. Apa kamu mau aku coret dari warisan keluarga Blackwood?" tanya Tuan Abraham yang murka karena Aiden malah menantangnya. Aiden mendengar ayahnya mengancamnya tertawa mengejek ke Tuan Abraham. Dia tidak menyangka dirinya akan dikeluarkan dari warisan hanya karena tidak mau datang ke rumah bertemunya. "Mau keluarkan aku ya? Hmm, silakan saja kalau mau mengeluarkanku. Aku tidak masalah," jawab Aiden yang tidak mempermasalahkan dirinya dikeluarkan dari warisan keluarga Blackwood. Mendengar Aiden malah tidak peduli dan menantang dia, membuat Tuan Abraham semakin murka. "Kamu benar-benar menantangku, Aiden? Keterlaluan kamu. Kamu anak durhaka. Apa karena sudah memiliki perusahaan yang cukup besar hingga kamu tidak menginginkan warisanku ? " tanya Tuan Abraham dengan matanya yang sudah memerah saat mendengar Aiden berkata seperti itu.Anna melihat perdebatan antara s

  • Istri Rahasia Sang Taipan   Bab 39. Terima Kasih Mommy Dan Daddy

    Aiden terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Anna. Dia menoleh ke Anna untuk meminta penjelasan. Gio menatap Anna lekat dia juga balik memandang Aiden. Terlihat wajah Aiden datar. Gio tersenyum dan geleng kepala. "Tidka, Bibi. Saya tidak bisa. Saya mau mandiri dan saya senang hidup seperti ini. Paman dan bibi punya kehidupan masing-masing. Saya tidak mau ganggu keluarga Bibi," ucap Gio lembut. Aiden yang tadinya meminta penjelasan dengan Anna semakin terkejut karena Gio menolaknya. Bukannya dia tidak suka dengan Gio. Dia suka sekali. Anak kecil yang memiliki pemikiran luas dan jarang ada anak kecil seperti Gio. "Kenapa kamu menolak? Paman tidak menolak kamu ikut dengan paman. Paman malah senang kamu ikut dengan kami berdua. Kamu bisa jaga istri paman." Aiden tidak menyangka penolakan Gio untuk ikut dengannya. "Kamu takut dengan paman Aiden? Kamu pasti berpikir kalau paman Aiden menolak kamu tinggal dengan bibi, ya?" tanya Anna meraih tangan Gio dan menggenggam erat kedua tangan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status