FAZER LOGIN"Anna? Kamu di dalam, Nak? Kenapa pulang jam segini dari mana saja kamu?" tanya ibunya kembali.
Suara lembut ibunya menisyaratkan kecemasan. Mendengar suara ibunya seketika meremukkan pertahanan diri Anna. Jantungnya berdegup kencang bak ditabuh genderang perang. Dengan napas tertahan dan suara terbata-bata, Anna menjawab panggilan ibunya. "I-iya, Bu. Ini Anna. Anna lembur, Bu," sahutnya dengan suara yang diusahakan sehalus mungkin meski terdengar bergetar karena ketakutan Anna mencoba untuk tenang. "Anna cuma mau bilas badan sebentar biar segar. Maaf ya Bu Anna menganggu tidurnya." Seketika suasana hening selama beberapa detik.. Anna memejamkan mata erat-erat, menanti penuh antisipasi jika saja sang ibu mendobrak pintu atau menanyakan kembali. Namun, itu tidak terjadi. Suara langkah kaki berangsur menjauh melegakan rongga dadanya. Ibunya sudah berlalu. Ibunya tidak lagi bertanya. Tanpa membuang waktu, Anna bergegas membilas tubuhnya hingga bersih. Pagi ini, takdir tak memberinya ruang untuk meratapi kesuciannya yang telah terenggut. Dia harus bekerja. Pukul delapan pagi, shift pertamanya di tempat kerja baru sudah menanti. Usai mengenakan handuk dan masuk ke kamar. Pakaian Aiden dia bawa keluar dengan hati-hati.Di kamar Anna berpakaian tertutup yang mampu menyembunyikan seluruh tanda di tubuhnya. Setelah itu, Anna melangkah keluar kamar dan bertemu ibuny. Tak lupa pakaian milik Aiden dia simpan di lemari bajunya. Di sudut meja makan kayu yang mulai lapuk, seorang wanita paruh baya berwajah pucat menyambutnya dengan senyuman hangat. "Bu, Anna berangkat kerja dulu," pamit Anna seraya mencium pipi ibunya dengan penuh kasih. "Sore nanti sehabis shift selesai Anna jemput Ibu untuk kontrol ke rumah sakit. Jangan lupa minum obatnya, Bu. Anna tidak mau melihat Ibu drop lagi." Rasa bersalah menusuk dada Anna begitu dalam. Wanita paruh baya di hadapannya ini berjuang melawan sakit demi dirinya. Sementara dia baru saja kehilangan kehormatannya dikarenakan kesalahannya sendiri. Demi uang menyebabkan dirinya terjebak dan berakhir di ranjang pria tak dikenal. Uang tak dapat kesucian hilang. "Iya, Nak. Kamu bekerja baik-baik, ya. Jangan terlalu memaksakan diri kalau lelah istirahat," ujar sang ibu seraya menyodorkan sebuah kotak bekal plastiknya. "Ini Ibu sempat buatkan roti lapis untuk ganjal perutmu di jalan. Ayo dimakan." Anna menerima bekal tersebut dengan mata berkaca-kaca. Tanpa berlama-lama, dia berhamburan keluar rumah. Anna berlari menembus udara pagi menuju halte bus terdekat. Bus kota yang sesak mengantarkannya tepat di depan pencakar langit megah bertuliskan Blackwoods Corp. Perusahaan raksasa yang baru saja menerimanya sebagai tenaga kebersihan cadangan. Begitu menginjakkan kaki di area operasional, Anna bergegas mengganti pakaiannya dengan seragam kerja dan menjumpai ketua Office Boy dan Office Girl di sudut koridor. "Anna! Kamu terlambat sepuluh menit!" tegur sang ketua seraya menghela napas gusar, jemarinya menunjuk jam dinding. "Maafkan saya, Pak. Saya benar-benar minta maaf," jawab Anna menunduk dalam-dalam. "Sudah, jangan banyak alasan! Cepat sana bersihkan area koridor sayap kanan lantai dasar. Jangan sampai ada noda sekecil apa pun sebelum para direksi datang!" "Baik, Pak!" Anna berputar arah, melangkah terburu-buru seraya memeluk erat tongkat pel dan ember di tangannya. Namun, kepanikan yang menguasai pikirannya membuat pandangannya tak fokus. Saat membelok tajam di persimpangan koridor utama, tubuh mungilnya menghantam keras seorang wanita berbusana formal yang sedang menggenggam cangkir kopi panas. Brak! Cairan hitam pekat menyembur, membasahi blus sutra mahal milik wanita itu hingga tak berbentuk. Cangkir keramiknya hancur berkeping-keping di atas keramik putih. "Akhhh! Dasar wanita sialan! Apa yang kamu lakukan, hah?!" jerit wanita itu bernama Dona. Sekretaris senior dari divisi pemasaran mengeluarkan suaranya menggelegar memenuhi isi ruangan. "Lihat bajuku! Kamu tahu berapa harga baju ini, dasar wanita tidak tahu diri!" "M-maafkan saya, Nona. Saya benar-benar tidak sengaja," Anna berlutut seketika, jemarinya gemetar mencoba memungut pecahan keramik di lantai. "Maaf kamu bilang?!" Dona yang terbakar amarah memandang rendah ke arah Anna. Rekan di sampingnya menyenggol lengan Dona seraya berbisik jahat, "Jangan lepaskan dia, Dona. Beri pelajaran ke staf baru yang tidak tahu diri ini." Hasutan itu menyulut emosi Dona. Tanpa peringatan, tangan Dona terulur dengan cepat. Dia mencengkeram erat rambut panjang Anna lalu menariknya dengan kasar. "Akh! Ampun, Nona! Sakit!" jerit Anna tertahan saat tubuhnya diseret paksa di atas lantai keramik putih. Kerumunan pegawai kantor mulai mendekati mereka. Mereka semuanya menyaksikan aksi perundungan itu tanpa ada satu pun yang berani melerai. Dona melayangkan tamparan keras ke wajah Anna hingga sudut bibir gadis itu pecah dan mengeluarkan darah segar. Kerah seragam Anna terkoyak akibat tarikan kasar tersebut membuat bagian atas dadanya tersingkap dan terlihat kulit putih mulus Anna. Seketika, bisik-bisik riuh menggema di area koridor. Di atas kulit mulus Anna yang terbuka, terpatri jelas bercak-bercak percintaan berwarna biru kemerahan yang masih baru. "Wah, lihat ini!" Dona tertawa sumbang seraya menunjuk dada Anna yang terekspos. "Ternyata di balik wajah polosmu, kamu ini wanita murahan! Bekas apa ini, hah? Berapa tarifmu semalam sampai tubuhmu penuh tanda menjijikkan seperti ini?!" Anna hanya bisa menangis dia malu tubuhnya dipertontonkan banyak orang. Anna berusaha menutup dengan lengannya tapi ditepis Dona. "Tolong hentikan!" Seorang gadis berseragam sama berlari menembus kerumunan. Lili, sahabat Anna sesama pekerja kebersihan, langsung berlutut dan memeluk tubuh Anna yang sudah bersimbah air mata. "Nona, tolong lepaskan dia! Saya mohon, lepaskan teman saya!" Pinta Lili. "Diam kamu!" bentak rekan Dona. "Ck, coba lihat Dona. Ada Pahlawan kesiangan!" ejek rekan Dona. Tanpa rasa kemanusiaan, wanita itu ikut menarik rambut Lili dan menendang tubuhnya hingga tersungkur di samping Anna. "Lili!!!! jerit Anna. "Aku mohon, jangan," bisik Anna dengan suara lirih. Anna mencoba melindungi sahabatnya meski dirinya sendiri sudah tak berdaya. Sementara itu, di luar gedung bertingkat tersebut, sebuah mobil sedan hitam berlapis baja berhenti tepat di depan lobi utama. Di dalam mobil tepat si kursi belakang yang sejuk, Aiden Blackwoods duduk tenang seraya menyesap wiski. Mata esnya yang tajam menatap ke luar jendela menunggu laporan dari asisten pribadinya. Aiden segera keluar dari hotel langsung ke perusahaan. Dia menunggu kabar dari Simon mencari wanita yang tidur dengan dia semalam. Ponsel di dalam jas Simon bergetar. Simon yang duduk di kursi penumpang depan berbalik arah. "Tuan, sinyal pelacak yang kita pasang di sekitar Elysium mendeteksi keberadaan wanita itu. Dia berada di gedung ini. Tepatnya, di divisi operasional." Itulah, kecanggihan club miliknya. Bisa mendeteksi sinyal ponsel karyawan di sana. Sebuah senyum tipis hampir tak terlihat oleh orang terbit. Senyuman itu terukir di sudut bibir Aiden. "Kebetulan yang menarik." Batinnya. Aiden melangkah keluar dari kendaraan, dikawal ketat oleh Simon dan enam pengawal berjas hitam. Namun, langkah tegap sang penguasa itu terhenti begitu menapakkan kaki di area lobi utama. Brak! Tubuh Anna dilemparkan secara kasar oleh Dona hingga tersungkur tepat di depan sepatu kulit buatan Italia milik Aiden. Darah segar yang menetes dari sudut bibir Anna merembes dan mengotori bagian depan sepatu mahal sang Presdir. Keheningan mencekam seketika melingkupi seluruh ruangan. Puluhan pegawai yang semula bersorak mendadak membeku saat menyadari siapa sosok tinggi tegap yang kini berdiri menaungi tubuh Anna. "Pr-Presdir...," bisik Dona dengan wajah pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat tatkala tatapan membunuh dari mata coklat Aiden tertuju lurus ke arahnya. Anna yang terkulai lemas mencoba mengangkat kepalanya yang berat. Pandangannya yang samar menangkap bayangan pria bersetelan jas mahal dengan tato naga yang mengintip dari balik kerah kemejanya. Mata cokelat Anna langsung berkaca-kaca menatapnya penuh keputusasaan. Sama persis seperti tatapannya malam itu saat dirinya memohon perlindungan dari pria yang ingin melecehkannya. Dada Aiden bergemuruh hebat. Menyaksikan wanita yang semalam dipeluknya dalam kehangatan kini tergeletak tak berdaya di lantai perusahaannya dengan tubuh penuh luka dan itu membakar amarah hingga ke ubun-ubun. "Simon," panggil Aiden. Suaranya rendah, datar namun menyimpan ketegangan yang sanggup meremukkan tulang. "Kamu tahu apa yang harus dilakukan pada sampah yang berani menyentuh milikku?" Simon mengangguk patuh. Perintah itu adalah vonis mati mutlak. Asisten kepercayaan itu memberi isyarat mata kepada para pengawal yang terlihat menakutkan. Dalam hitungan detik, Dona dan rekannya diseret paksa keluar gedung tanpa ampun. "Tuan! Ampuni saya! Saya tidak bersalah! Wanita murahan ini yang menabrak saya duluan! Tuan!" jerit Dona histeris, namun suaranya lenyap tertutup pintu kaca mobil hitam milik sang pengawal. Aiden melepaskan jas mewahnya, lalu berlutut di sebelah Anna. Dengan gerakan lembut yang sangat kontras dengan pembawaannya dia menyelimuti tubuh Anna yang terkoyak menggunakan jas hangatnya untuk menyembunyikan setiap bekas percintaan mereka dari tatapan liar orang-orang. "Ampun, aku tidak sengaja," lirih Anna memohon dengan air matanya tak berhenti mengalir. "Tenanglah. Ada aku di sini," bisik Aiden dengan nada lembut yang belum pernah didengar oleh siapa pun di perusahaan itu sambil mengusap dengan jarinya darah yang ada di sudut bibir Anna. Aiden merengkuh tubuh mungil Anna ke dalam pelukannya dan mengangkatnya dengan mudah lalu bangkit berdiri. Tidak ada sedikit pun raut canggung atau malu di wajah sang Presdir saat membawa seorang pekerja kebersihan dalam dekapannya di hadapan ratusan pasang mata. Simon melangkah ke tengah lobi, menatap tajam seluruh karyawan yang terpaku. "Kembali ke pekerjaan kalian masing-masing! Jika ada satu kata atau desas-desus mengenai kejadian hari ini yang bocor keluar dipastikan kalian tidak akan pernah bisa bekerja di kota ini lagi. Bubar!" Para pegawai membubarkan diri dengan tubuh gemetar. Tak ada yang berani membantah. "Bawa gadis itu juga, obati lukanya," tambah Aiden seraya melirik singkat ke arah Lili yang terbaring lemah di lantai. "Baik, Tuan," sahut Simon seraya sigap membopong Lili menuju ruang kerjanya. Aiden melangkah menuju lift pribadi yang membawa mereka langsung ke lantai teratas. Di dalam ruang kerja yang megah, terdapat sebuah kamar istirahat pribadi bernuansa gelap. Aiden membaringkan Anna dengan sangat perlahan di atas ranjang empuknya. "Kenapa kamu kabur dariku tadi pagi?" tanya Aiden pelan seraya menyibakkan helai rambut yang menutupi wajah memar Anna. Anna membuka matanya perlahan. Betapa terkejutnya dia saat menyadari pria yang berdiri tepat di hadapannya ini adalah pria yang sama yang telah merebut kesuciannya semalam dan dia sekaligus pimpinan tertinggi di perusahaan tempatnya bekerja. "K-kamu... Kenapa kamu ada di sini?" bisik Anna gagap. Aiden tidak menjawab. Pria itu berbalik mengambil kotak pertolongan pertama dari atas meja, lalu duduk di tepi kasur di samping Anna. Tanpa mengeluarkannya lewat kata-kata, Aiden membasahi kapas dengan antiseptik dan mengusap luka di sudut bibir Anna dengan sangat hati-hati. Tatapan mata pria itu sempat tertambat pada tanda kemerahan di leher Anna. Hasil perbuatannya sendiri semalam yang memancing senyum tipis penuh kepemilikan di bibirnya. "Minum ini, lalu istirahatlah," ujar Aiden seraya menyodorkan sebutir obat pereda nyeri dan segelas air hangat. Anna tak punya energi untuk menolak. Dia menelan obat tersebut dan merebahkan kepalanya kembali. Saat menatap garis wajah Aiden dari dekat, Anna menyadari desas-desus tentang sang Presdir yang kejam dan tak tersentuh terasa sedikit meleset. Pria di hadapannya ini memiliki ketampanan yang memikat saat senyum tipis itu terukir di bibirnya. "Kenapa menatapku seperti itu? Apa kamu mau mengulang malam panas kita semalam, Lady?" goda Aiden seraya melonggarkan ikatan dasinya. Refleks, Anna menarik selimut hingga menutupi dadanya. "T-tidak! Saya mau tidur!" serunya seraya memejamkan mata rapat-rapat. Aiden terkekeh pelan. Jemari tangannya mengusap lembut puncak kepala Anna hingga napas wanita itu berangsur teratur dan masuk ke alam mimpi. "Kamu tidak akan bisa lari dariku lagi, Lady. Kamu milikku," gumam Aiden penuh penekanan sebelum berbalik melangkah keluar kamar. Di ruang kerja luar, Simon sudah berdiri membungkuk memberi hormat. "Tuan, dua wanita tadi sudah ditangani sesuai prosedur Blackwoods. Mereka tidak akan pernah muncul di kota ini lagi." Aiden mengangguk dingin. "Bagus. Sekarang, cari tahu seluruh latar belakang wanitaku. Kenapa dia bekerja di Elysium dan kenapa dia ada di gedung ini. Aku mau laporannya lengkap sebelum malam." "Siap, Tuan." Simon menyerahkan barang-barang pribadi milik Anna yang tertinggal di area lobi tadi. Sebuah tas kain lusuh yang tampak kumal. Aiden mengibaskan tangan menyuruh Simon keluar. Pria itu berjalan mendekati meja kerjanya, menatap tas milik Anna dengan rasa ingin tahu yang besar. Jemari tegapnya perlahan membuka risleting tas lusuh tersebut. Di antara barang-barang sederhana dan kotak bekal yang penyok. Tidak ada yang istimewa sama sekali. Saat sibuk memeriksa barang Anna sebuah benda bergetar di kantong kecil tas milik Anna."Hah! Apa yang kamu lakukan?" tanya Anna dengan wajah gugup. Anna menatap Aiden lekat. Akal sehatnya sudah tidak singkron dengan tubuhnya yang menginginkan itu. Aiden tersenyum penuh kemenangan. Dia yang tadinya ingin menunda malam pertama malah menginginkannya sekarang. Perlahan tangan Aiden membelai tubuh Anna. Belaian tersebut terasa sangat lembut. "Tenang saja kali ini aku akan bermain pelan. Tidak akan aku buat kamu kesakitan." Aiden tersenyum saat mengatakan akan bermain pelan. Aiden mulai memberikan ciuman penuh gairah ke Anna. Aiden berkata kepadanya pelan. Tapi, nyatanya ciuman Aiden ke Anna begitu kasar hingga Anna sulit mengimbanginya. "Ehmmm." Suara erangan keluar di sela ciuman panasnya. Aiden sudah bergairah dia tidak akan melepaskan Anna malam ini. Gairahnya sudah di puncak jaya hingga dia tidak bisa mengontrol gairahnya tersebut dan tangannya juga tidak berhenti bermain. Tangan Aiden mulai menyusup masuk ke baju tidur Anna dan mencari gundukan kenyal yang ada cac
Kesabaran Aiden sudah tidak bisa terbendung lagi. Wanita ini menghina Anna dengan mengatakan Anna sampah jalan dan bertanya apa kelebihan Anna dari dia. Pria itu menatap wanita yang bernama Merry dengan tatapan yang teramat tajam. Aiden juga menarik Anna ke belakangnya, dia tidak mau Merry melukai dia. Seketika saja suasana di ruang tamu mendadak panas. Tatapan esnya menghujam lurus ke arah Merry. Wanita bergaun glamor yang baru saja melontarkan hinaan tajam ke Anna. Kilat membunuh yang berpencar di kedua mata Aiden begitu pekat, membuat bulu kuduk semua orang di ruang keluar nan mewah itu berdiri seketika. "Jaga ucapanmu, Merry!" tegur Aiden dengan nada rendah yang syarat akan ancaman. "Dia wanitaku. Jangan berani-berani kamu menyebutnya sebagai sampah jalanan. Jika ada sampah tak berguna di ruangan ini orang itu adalah kamu! Jangan mencoba bandingkan dia dengan kamu. Jawabannya tentu dia lebih baik dari kamu. Apa kamu paham!" Sembari merengkuh pinggang Anna lebih erat, Aiden m
Bunyi pemantau detak jantung yang memekakkan telinga seketika sirna dari pendengaran Aiden saat pria itu menatap mata Anna yang dipenuhi keputusasaan. Pertanyaan wanita itu menusuk hingga ke dasar kesadarannya. Aiden tidak menjawab pertanyaan Anna dengan kata-kata romantis.Malah, pria itu justru terkekeh pelan. Sebuah tawa tipis yang memecah ketegangan berat di lorong rumah sakit tersebut.Anna mengernyitkan keningnya, menatap Aiden dengan sorot mata penuh keheranan. Di tengah kepanikan mengenai kondisi ibunya yang baru saja ditangani secara mendadak oleh tim medis di dalam ruangan reaksi pria di sampingnya ini sungguh di luar dugaan."Kenapa kamu malah tertawa?" tanya Anna. Suaranya terdengar ketus menahan kekesalan. "Apakah ada yang lucu dari pertanyaanku?"Aiden menghentikan tawanya, lalu menatap Anna lurus. "Menurutmu?"Anna membisu. Dia menggeleng pelan, sungguh tidak mengerti jalan pikiran pria berkuasa yang kini berstatus sebagai suaminya itu.Tangan tegap Aiden terulur,
Pada layar yang menyala terang, tertera nama panggilan masuk. Ibu.Mata Aiden menyempit. Tanpa ragu, jemari tegapnya menggeser tombol hijau. Dia meletakkan benda itu di telinganya, ingin mendengar apa yang ingin dikatakan oleh si penelpon."Halo." "Halo? Anna. Nak, Ini kamu? Tapi, kenapa suaramu terasa berbeda?" tanya suara seorang wanita paruh baya dari balik sambungan telepon terdengar terengah-engah dan bergetar terkejut suara berat menjawab telpon Anna. "Saya bukan Anna," potong Aiden dengan nada datar, dingin dan menekan. "Anna sedang beristirahat. Saya atasannya. Ada keperluan apa?"Keheningan sejenak menyusup di antara mereka, sebelum wanita di seberang sana menjawab dengan nada bersalah dan terburu-buru. "M-maafkan saya, Tuan. Saya mengganggu. Tolong sampaikan pada Anna. Ibunya mendadak kolaps dan jatuh di rumah. Sekarang berada di Rumah Sakit Elizabeth Kota. Tolong minta dia menyusul ke sana."Panggilan terputus secara sepihak. Aiden menyandarkan punggungnya ke sandar
"Anna? Kamu di dalam, Nak? Kenapa pulang jam segini dari mana saja kamu?" tanya ibunya kembali. Suara lembut ibunya menisyaratkan kecemasan. Mendengar suara ibunya seketika meremukkan pertahanan diri Anna. Jantungnya berdegup kencang bak ditabuh genderang perang. Dengan napas tertahan dan suara terbata-bata, Anna menjawab panggilan ibunya."I-iya, Bu. Ini Anna. Anna lembur, Bu," sahutnya dengan suara yang diusahakan sehalus mungkin meski terdengar bergetar karena ketakutan Anna mencoba untuk tenang. "Anna cuma mau bilas badan sebentar biar segar. Maaf ya Bu Anna menganggu tidurnya."Seketika suasana hening selama beberapa detik.. Anna memejamkan mata erat-erat, menanti penuh antisipasi jika saja sang ibu mendobrak pintu atau menanyakan kembali. Namun, itu tidak terjadi. Suara langkah kaki berangsur menjauh melegakan rongga dadanya. Ibunya sudah berlalu. Ibunya tidak lagi bertanya. Tanpa membuang waktu, Anna bergegas membilas tubuhnya hingga bersih.Pagi ini, takdir tak memberinya
Udara di dalam lorong khusus VVIP Night Club Elysium terasa begitu berat oleh aroma alkohol mahal dan parfum maskulin yang pekat. Anna melangkah tergesa-gesa menuju ruangan VVIP. Jemarinya mengepal erat di sisi baju pelayan yang terasa terlalu ketat di tubuhnya. Sepatu hak tingginya menggema di lantai marmer berkilat, menimbulkan irama samar di antara dentum bass musik yang mengguncang dinding-dinding berlapis beludru hitam. "Anna, ingat. Malam ini kamu yang bertanggung jawab atas ruangan nomor satu," suara Pak Herman, Manajer Operasional Elysium kembali terngiang di telinganya beberapa saat lalu saat menyerahkan nampan berisi botol-botol minuman pesanan dari tamu VVIP di club tersebut. "Tamu di dalam ruangan bukan orang sembarangan. Mereka pengusaha kelas atas yang siap melipat gandakan tip milikmu jika pelayanannya memuaskan. Jangan buat kesalahan sekecil apa pun. Jika melakukan kesalahan kamu dipecat."Anna menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang kian be







