Istri Rahasia Sang Taipan

Istri Rahasia Sang Taipan

last updateLast Updated : 2026-09-16
By:  ZeeHyungUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
6Chapters
25views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Satu malam mengubah seluruh hidup Anna. Setelah menjadi korban obat terlarang di sebuah klub malam, ia terbangun di sisi Aiden, seorang presiden direktur yang dingin dan berkuasa. Demi biaya pengobatan sang ibu, Anna menerima pernikahan tanpa cinta dengan Aiden. Namun, rumah tangga mereka ditentang keras oleh kedua orang tua Aiden yang menganggap Anna tidak pantas menjadi bagian dari keluarga mereka. Saat badai demi badai menerpa, Anna justru mengandung bayi kembar lima, pewaris keluarga yang selama ini dinantikan. Mampukah cinta tumbuh di tengah pernikahan yang penuh keterpaksaan, atau akankah intrik keluarga menghancurkan kebahagiaan mereka?

View More

Chapter 1

Bab 1. Kehilangan Kesucian

Udara di dalam lorong khusus VVIP Night Club Elysium terasa begitu berat oleh aroma alkohol mahal dan parfum maskulin yang pekat. Anna melangkah tergesa-gesa menuju ruangan VVIP.

Jemarinya mengepal erat di sisi baju pelayan yang terasa terlalu ketat di tubuhnya. Sepatu hak tingginya menggema di lantai marmer berkilat, menimbulkan irama samar di antara dentum bass musik yang mengguncang dinding-dinding berlapis beludru hitam.

"Anna, ingat. Malam ini kamu yang bertanggung jawab atas ruangan nomor satu," suara Pak Herman, Manajer Operasional Elysium kembali terngiang di telinganya beberapa saat lalu saat menyerahkan nampan berisi botol-botol minuman pesanan dari tamu VVIP di club tersebut.

"Tamu di dalam ruangan bukan orang sembarangan. Mereka pengusaha kelas atas yang siap melipat gandakan tip milikmu jika pelayanannya memuaskan. Jangan buat kesalahan sekecil apa pun. Jika melakukan kesalahan kamu dipecat."

Anna menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang kian berpacu kencang. Uang! Hanya kata itu yang terus berputar di kepalanya. Pikirannya langsung melayang pada wujud ibunya yang terbaring lemah di ruang perawatan rumah sakit, terikat pada selang-selang medis. Anna tidak mau itu terulang lagi. Ibunya harus sembuh.

Sang ibu membutuhkan biaya pengobatan yang cukup besar. Demi ibunya, Anna membuang seluruh keraguan itu. Dia mendorong pintu kayu jati berukir emas di hadapannya.

Suara gelak tawa riuh menyambut kedatangannya begitu pintu terbuka. Ruangan itu luas, diterangi pencahayaan temaram bernuansa merah keunguan. Di atas sofa kulit melingkar beberapa pria berjas mahal duduk santai bersama wanita-wanita pendamping.

Namun, perhatian utama tertuju pada seorang pria asing berwajah tegas dengan garis rahang tajam yang dipanggil Mister Lou oleh rekan-rekannya.

"Lihat wanita ini," ujar salah seorang pria berbadan tambun sembari menunjuk Anna yang sedang menata gelas-gelas kristal di meja. "Wajahnya polos, kulitnya seputih porselen tanpa cela. Apa Anda tidak tertarik untuk mencicipinya, Mister Lou?"

Mister Lou ditawarkan untuk menikmati tubuh Anna menatap Anna dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan mata pria itu tidak menyembunyikan hasrat liar yang sudah tak terbendung lagi. Anna membuang pandang. Dia berusaha tenang dan tidak menunjukkan ketakutan.

Selama bekerja di tempat remang-remang ini, dia selalu berhasil menjaga jarak dan kehormatan dirinya. Anna tidak pernah membiarkan tangan-tangan jahil menyentuhnya meski ditawari bayaran menggiurkan.

Namun, malam ini Mister Lou punya rencana lain. Pria itu meraih sebuah gelas kosong dan menuangkan minuman keras beralkohol tinggi lalu dengan gerakan sangat cepat dan tanpa di perhatian orang banyak dia menjentikkan serbuk putih dari balik cincin emasnya ke dalam cairan tersebut. Serbuk itu pun larut dalam hitungan detik tanpa meninggalkan bekas.

Mister Lou menyeringai dan menggeser gelas itu ke hadapan Anna. "Hei, Gadis Cantik. Minum ini sampai habis. Jika kamu menghabiskannya tanpa tersisa, tiga ribu dolar ini langsung menjadi milikmu." Pria itu melemparkan seikat uang kertas bernominal tinggi ke atas meja.

Anna terpaku. Mata cokelatnya menatap lembaran uang yang mampu membayar seluruh tunggakan rumah sakit ibunya dalam semalam. Pikirannya buntu. Logikanya tertutup oleh keputusasaan mendalam.

"Baik, Mister," ucap Anna lirih, berusaha menutupi getar di suaranya. Dia menerima uang itu semuanya demi kesembuhan ibunya.

Sorak-sorai riuh menggema di ruangan itu. Mister Lou mengukir senyum menyeringai yang dipenuhi niat jahat. Anna meraih gelas tersebut. Anna menghirup aroma menyengat dari cairan berwarna keemasan itu tanpa menunggu lama Anna meminumnya dalam sekali teguk.

Rasa terbakar langsung menjalar di kerongkongannya. Rasa pahit yang tak biasa membuat pangkal lidah kebas, tetapi Anna memaksakan diri untuk menghabiskannya hingga tetes terakhir.

Hanya dalam hitungan menit, dunia di sekitar Anna mulai berputar. Pandangannya mengabur, suhu tubuhnya melonjak drastis secara tidak wajar.

Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sesak. Gelombang panas yang membakar menjalar ke seluruh pembuluh darahnya.

"Sekarang, layani aku, Wanitaku," bisik Mister Lou berdiri tepat di telinga Anna.

Mister Lou menarik Anna dalam pelukkannya dan merengkuh pinggang Anna dengan kasar saat tubuh wanita itu mulai sempoyongan.

Kesadaran yang tersisa membuat Anna langsung reflek mendorong Mr. Lou. Sinyal di tubuhnya memeberikan peringatan akan adanya bahaya. Anna tersadar kalau minuman itu telah dimasukkan sesuatu.

"Jangan sentuh aku! Pergi!" bentak Anna dengan sisa tenaganya. Dia menghentakkan tubuhnya dan berusaha meloloskan diri dari cengkeraman Mister Lou, lalu berlari keluar ruangan dengan langkah limbung.

"Tidak! Aku tidak boleh terjebak di sini," gumam Anna tanpa henti. Anna memegangi dinding lorong yang terasa bergoyang.

Sesekali dirinya menggerakkan kepala agar dia sadar dari pengaruh obat itu walaupun kecil tapi paling tidak dia bisa selamat.

Derap langkah berat di belakangnya menandakan Mister Lou mengejarnya. Pria itu tidak akan melepaskan mangsanya begitu saja setelah meracuninya.

"Hei! Berhenti! Jangan berani berlari dariku, Kamu tidak akan pernah bisa lolos!" teriak Mister Lou, suaranya menggema penuh ancaman di lorong yang sunyi.

"Tolong! Siapa pun itu, tolong aku!" jerit Anna histeris. Namun, para penjaga dan staf yang lalu lalang hanya menunduk atau menatapnya dingin. Di Elysium, tidak ada yang berani campur tangan jika urusannya berkaitan dengan tamu VVIP.

Anna berbelok di persimpangan lorong eksklusif. Penglihatannya yang kian mengabur membuat pandangannya tidak fokus. Tubuh mungilnya membentur keras dada bidang seorang pria yang melangkah keluar dari lift pribadi.

Bentrokan itu membuat gelas minuman di tangan sang pria terlepas dan membasahi kemeja hitam elegannya.

"Kamu mengotori bajuku, Lady," ucap pria itu. Suaranya rendah, dingin dan tatapan tajam.

Anna mendongak. Di balik pandangannya yang mengabur oleh air mata dan pengaruh obat, dia melihat sesosok pria berparas tampan dan rahang tegas.

Mata setajam belati serta tato naga hitam berkulit legam yang menjalar dari balik kerah kemejanya yang terbuka hingga terlihat tato itu naga terukir apik di leher si pria.

Kaki Anna lemas, dia terjatuh dan berlutut di atas lantai. Tanpa peduli siapa pria di hadapannya, dia merengkuh kaki pria itu dengan tangan yang gemetar hebat. "Tolong aku! Aku mohon, tolong selamatkan aku!"

Pengaruh obat di dalam darahnya mulai mengambil alih kendali motoriknya. Jemari Anna yang tadinya memohon bantuan kini perlahan bergerak menelusuri tungkai kaki sang pria. Anna meremas kain celana bahan mahal itu dengan napas yang memburu ketat.

Tubuhnya merindukan sentuhan untuk meredakan panas dahsyat yang membakar dari dalam. Dan itu dia lakukan tanpa dia sadari.

Pria itu menaikkan sebelah alisnya, mengamati tindakan tak lazim wanita di bawah kakinya dengan tatapan penuh selidik.

Saat memohon dengan si pria Mister Lou berhasil menyusul, napasnya memburu. Wajahnya yang memerah oleh amarah berubah makin bengis ketika melihat Anna berada di kaki pria bertato naga tersebut.

"Serahkan wanita itu, Bro! Dia milikku!" bentak Mister Lou dengan nada sombong. Dia tidak menyadari siapa sosok di hadapannya.

Pria berjas hitam itu merengkuh pinggang Anna dengan satu tangan, menarik tubuh gemetar wanita itu ke dalam pelukannya. "Benarkah?" sahutnya santai, tanpa ada nada gentar sedikit pun.

"Cepat serahkan dia, Pengecut!" teriak Mister Lou seraya menarik sesuatu dari balik jasnya.

Dor!

Satu letupan senjata bergema membelah keheningan di lorong tersebut. Peluru menembus tepat di tengah dahi Mister Lou sebelum pria itu sempat mengarahkan senjatanya. Tubuh Mister Lou roboh menghantam lantai keramik.

"Bawa dia pergi. Bersihkan tempat ini tanpa jejak," perintah pria berjas hitam itu dingin kepada pengawal bersenjata yang tiba-tiba muncul dari balik bayangan lorong.

"Baik, Tuan Aiden," jawab sang pengawal.

Pria itu, bernama Aiden Blackwoods, seorang Taipan yang bergerak di bisnis global yang bernama Blackwoods corp. Sekaligus pemimpin tertinggi sindikat penguasa dunia bawah yang paling ditakuti. Dijuluki King Lion. Ia menunduk menatap wanita di pelukannya.

Anna sudah sepenuhnya kehilangan akal sehat akibat racun perangsang dosis tinggi yang dia minum. Jemari lentiknya mengusap leher Aiden, meraba tato naga di balik kemejanya.

Lalu menyapukan bibirnya yang hangat ke kulit leher pria itu dan meninggalkan jejak kemerahan yang mencolok.

Aiden menggeram rendah. Keningnya berkerut tajam. "Sialan! Dia minum obat dosis tinggi."

Tanpa membuang waktu, Aiden mengangkat tubuh Anna, menyangganya di atas bahu lebarnya seperti mengangkat barang ringan.

"Lepaskan aku! Lepaskan!" teriak Anna panik, memukul-mukul punggung keras Aiden dengan tinju kecilnya yang tak bertenaga.

Aiden tidak peduli dia tetap membawa Anna melintasi pintu penghubung rahasia yang ada di club Elysium dengan hotel bintang lima di atasnya. Dia melangkah menuju Presidential Suite miliknya.

Setelah pintu kamar kedap suara itu terkunci otomatis, Aiden menurunkan Anna dan mencengkeram rahang wanita itu agar menatap matanya.

"Siapa yang menyuruhmu menggodaku!!!"

Ucapan Aiden terhenti seketika. Tanpa diduga, Anna memajukan wajahnya dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Aiden. Ciuman itu berantakan, suasana panas mulai merasuk di dalam diri Aiden.

Mata datar Aiden membelalak. Selama hidupnya, tidak ada satu pun wanita yang berani menyentuhnya tanpa izin darinya apalagi menciumnya secara langsung.

Biasanya, siapa pun yang berani bertindak sembrono pada Aiden akan berakhir di dasar kolam penampungan piranha milik keluarganya.

Namun, saat ini malah berbeda. Dia tidak marah Anna menciumnya malah ada getaran aneh yang menjalar di dada Aiden saat merasakan kelembutan bibir wanita ini. Dia sama sekali tidak menolaknya justru, dia mulai membalas ciuman itu semakin dalam.

Aiden membopong Anna menuju ranjang berukuran king size di tengah ruangan lalu menghempaskan tubuh wanita itu ke atas kasur empuk.

"Jangan salahkan aku, Lady. Kamu sendiri yang memulainya," bisik Aiden dengan suara parau yang berbahaya.

Anna menggeliat resah di atas seprai sutra. Pakaiannya sudah berantakan. "Panass... Ini terlalu panas! Tolong aku!!" racau Anna, matanya terpejam erat saat memegangi dadanya yang naik turun tak beraturan.

Anna mendadak bangkit, menarik dasi sutra yang tersemat di leher Aiden hingga tubuh pria itu tertarik jatuh di atasnya. Posisi mereka kini amat intim, saling bertindih dengan napas yang saling memburu.

Aiden menyapu pandangannya ke seluruh pahatan wajah Anna. Alis tipisnya, hidung mancungnya dan bibir merekah yang basah. Menambah godaan untuknya.

Aiden, yang meski terpengaruh sedikit alkohol malam ini masih memiliki kesadaran penuh untuk bisa menilai kecantikan Anna yang kalah dari wanita yang dia kenal.

"Kamu yakin dengan apa yang kamu lakukan, Lady? Aku bukan pria sembarangan. Sekali kamu memulai permainan ini denganku, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Ingat itu baik-baik." Tekan Aiden kembali mengingatkan Anna akan keputusan yang akan dia ambil nanti.

Aiden Blackwoods, bukanlah pria murahan yang suka berganti pasangan. Dia sangat pemilih dan tidak pernah membiarkan wanita mana pun melintasi batas pribadinya.

Namun malam ini, prinsip ketat itu runtuh. Jika dia melakukan itu ke wanita ini sekarang, maka secara tidak langsung wanita ini akan menjadi miliknya seumur hidup. Dan itu mutlak.

Anna menatap mata es Aiden dengan pandangan kabur dia sudah tidak lagi bisa berpikir jernih. "Aku tidak takut padamu. Lakukan sekarang. Atau jangan-jangan kamu hanya pria penakut yang tidak sanggup melayaniku?" ejek Anna dengan nada bisikan yang memprovokasi.

Seringai samar terpancar di wajah tampan Aiden. "Baiklah. Kamu yang memintanya."

Dengan satu gerakan cepat, Aiden merobek pakaian kerja Anna yang membalut tubuhnya. Teriakkan kencang lolos dari tenggorokan Anna, namun jeritan itu justru makin membakar gairah liar di dalam diri Aiden.

Aiden terus melucuti pakaian Anna hingga tak tersisa sehelai benang pun, lalu membuang pakaiannya sendiri ke lantai.

Anna yang berada di bawah pengaruh obat merengkuh bahu tegap Aiden, menarik pria itu mendekat. Penyatuan mereka dimulai dengan kehangatan yang memabukkan. Setiap sentuhan yang diberikan menjadi awal dari perubahan takdir hidup Anna selamanya.

Mereka bertukar saliva. Kehangatan yang terjadi dalam pergulatan tersebut penuh irama yang kian membara. Suara bisikan dan desahan napas memenuhi ruang kamar yang megah itu.

'Mengapa wanita ini mampu membakar gairahku hingga sejauh ini? Dia berbeda dari siapa pun yang pernah kutemui. Siapa dia sebenarnya?' batin Aiden di sela-sela pergulatan gairah mereka.

Namun, saat Aiden hendak melangkah lebih jauh dalam penyatuan mereka, dia merasakan hambatan alami yang kuat. Langkahnya terhenti mendadak saat mendapati kenyataan tak terduga.

Wanita yang ada di bawahnya ini masih perawan. Di tengah kehidupan malam kota metropolis yang serba bebas ini, wanita di bawahnya masih menjaga kesucian dirinya.

"Aakh! Sakit!!! Ini sakit sekali!" tangis Anna pecah. Rasa sakit fisik yang tajam berhasil menembus kesadarannya sejenak. Air mata menetes dari sudut matanya.

Aiden membeku di tempat. Ekspresi wajahnya yang biasanya dingin dan kejam berubah linglung seketika, mirip seperti seorang anak muda yang kehilangan arah.

"Kamu... masih perawan?" tanya Aiden dengan nada polos yang sangat bertolak belakang dengan reputasi sangarnya sebagai bos mafia dan presdir kejam dan arogan.

Anna mengedipkan matanya yang basah, menatap perubahan raut wajah pria di atasnya. "Kenapa wajahmu seperti itu? Apa kamu merasa bersalah, Tuan?" tanyanya samar.

Aiden mengangguk pelan tanpa sadar, mengiyakan pertanyaan itu.

Namun, efek obat keji yang ada di dalam tubuh Anna kembali memuncak. Rasa panas yang membakar mengalahkan rasa sakit sementara di tubuhnya. Anna melingkarkan lengannya di leher tegap Aiden, menarik wajah pria itu mendekat hingga jarak mereka terkikis habis.

"Lakukan! Lakukan sekarang sebelum aku berubah pikiran," tantang Anna dengan suara serak menahan gejolak.

Ditantang untuk kedua kalinya membuat Aiden makin semangat. Tanpa menunggu jeda lebih lama, Aiden menuntaskan penyatuan mereka dalam satu dorongan mantap.

Jeritan kesakitan Anna bergema, disusul lelehan air mata yang kembali membasahi pipinya. Kesucian yang dia jaga rapat-rapat selama ini telah hilang malam bersama pria asing yang bahkan tidak dia ketahui nama lengkapnya.

Rasa sakit yang semula menyiksa perlahan terbilas oleh gelombang sensasi asing yang menjalar ke seluruh saraf tubuh Anna. Pergulatan panas itu berlanjut sepanjang malam tanpa henti dan terus membuai kedua insan yang terikat dalam benang takdir rumit tersebut.

"Panggil namaku," bisik Aiden tepat di samping telinga Anna, suaranya starat akan perintah terselubung. "Namaku Aiden."

"Aiden... mhh, Aiden!" panggil Anna dengan nada lembut di antara kelelahan tubuhnya.

Aiden tersenyum puas. Dia kembali membawa Anna menyelami samudra gairah hingga garis fajar mulai menyingsing. Ketika tenaga mereka benar-benar terkuras dan benih disemburkan ke rahim Anna keduanya pun tertidur dalam posisi saling memeluk erat di bawah selimut tebal.

Keesokan harinya, sinar matahari menerobos celah jendela kaca setinggi langit-langit, menyinari kamar Presidential Suite. Anna terbangun dengan rasa nyeri luar biasa yang menjalar di seluruh persendian tubuhnya.

"Aduh! Sakit sekali!" Anna meringis pelan.

Dia membuka matanya perlahan, mencoba mengumpulkan ingatan yang berantakan. Tatapannya menyapu sekeliling kamar yang sangat asing dan mewah.

Sebelum akhirnya terhenti pada sosok pria yang tertidur lelap di sampingnya. Dada bidang pria itu bertato naga, bergerak naik turun secara teratur.

Ingatan tentang kejadian semalam menghantam kesadaran Anna dengan sangat kuat. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Keperawanannya telah hilang.

'Bagaimana aku harus mengatakannya pada Ibu? Ibu pasti sangat kecewa padaku, hiks,' tangis Anna dalam hati.

Anna menahan suaranya sekuat tenaga agar tidak menimbulkan isakan yang sanggup membangunkan pria yang ada di sampingnya ini.

Dengan sangat hati-hati, Anna menggeser selimut dan turun dari kasur. Kakinya bergetar hebat saat memijak lantai. Dia mengedarkan pandangan mencari pakaian miliknya, tetapi pakaian pelayan yang dia kenakan semalam sudah robek menjadi tak menentu yang tak mungkin lagi bisa dipakai kembali.

Dalam keadaan panik dan terdesak, Anna melihat kemeja putih milik Aiden tergeletak di atas kursi sofa. Tanpa berpikir panjang, dia mengenakan kemeja kebesaran itu dan mengancingkannya tergesa-gesa. Lalu melangkah keluar kamar dengan berjinjit dan meninggalkan sang pria yang masih terlelap.

Beberapa jam kemudian, suara ketukan pintu yang teratur mengusik tidur nyenyak Aiden.

"Tuan. Bangun, Tuan Aiden. Sudah pagi," suara Simon, asisten pribadinya, terdengar dari balik pintu sebelum pria itu melangkah masuk dengan dokumen di tangannya.

Aiden menggeliat pelan. Tangan kanannya secara refleks meraba sisi tempat tidur di sampingnya. Kosong. Tempat itu sudah dingin.

Aiden langsung terduduk tegak. Wajahnya yang semula tenang seketika mengeras bagai batu karang, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.

"Kamu melihat wanita yang bersamaku semalam?" tanya Aiden dengan suara dingin yang menusuk tulang.

Simon tertegun sejenak melihat sprei yang berantakan dan bercak merah yang tertinggal di sana, lalu menggeleng cepat. "Saya tidak melihat siapa pun keluar dari ruangan ini, Tuan."

"Cari wanita itu sampai dapat. Bawa dia ke hadapanku tanpa lecet sedikit pun!" perintah Aiden mutlak.

"Baik, Tuan! Segera dilaksanakan." Simon membungkuk hormat lalu bergegas mundur.

Sementara itu, Anna berlari membelah gang sempit menuju rumah sederhananya. Langkah kakinya begitu cepat dipenuhi rasa takut jika ada tetangga atau ibunya yang melihat penampilannya yang kacau dengan kemeja pria yang terlampau longgar.

Dia menerobos masuk ke dalam rumah dengan kunci yang disembunyikan di bawah alas kaki. Anna langsung mengunci pintu depan dan berlari kencang menuju kamar mandi. Anna menyalakan pancuran air dingin bersuhu rendah, membiarkan air menyiram tubuhnya yang gemetar.

Di bawah guyuran air pancuran, benteng pertahanan mental Anna runtuh sepenuhnya. Dia menangis sejadi-jadinya, menggosok kulit leher, bahu dan dadanya yang dipenuhi jejak-jejak kemerahan hasil pergulatan semalam menggunakan sabun hingga kulit putih mulusnya berubah merah menyala dan perih.

"Bagaimana ini! Apa yang harus aku katakan pada Ibu jika dia tahu aku sudah tidak perawan lagi? Aku bahkan tidak tahu siapa pria itu. Tuhan, tolong aku," lirih Anna seraya memeluk lututnya di lantai kamar mandi yang dingin.

Tiba-tiba, suara ketukan pelan di pintu kamar mandi menghentikan tangisannya.

"Anna? Kamu di dalam, Nak?" tanya suara wanita paruh baya dari luar kamar mandi. Suara ibunya yang terdengar lembut namun menyimpan kekhawatiran mendalam padanya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

ZeeHyung
ZeeHyung
Hai malam semuanya salam menjua-jua. Hadir lagi nih sahabat Hyung buku ku yuk mampir ramaikan simpan di rak dan komen yang banyak biar makin semangat ya. salam cinta dari aku Mauliate godang
2026-09-16 21:05:59
0
0
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status