แชร์

Bab 4. Dia Istriku

ผู้เขียน: ZeeHyung
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-27 13:09:29

Bunyi pemantau detak jantung yang memekakkan telinga seketika sirna dari pendengaran Aiden saat pria itu menatap mata Anna yang dipenuhi keputusasaan. Pertanyaan wanita itu menusuk hingga ke dasar kesadarannya. Aiden tidak menjawab pertanyaan Anna dengan kata-kata romantis.

Malah, pria itu justru terkekeh pelan. Sebuah tawa tipis yang memecah ketegangan berat di lorong rumah sakit tersebut.

​Anna mengernyitkan keningnya, menatap Aiden dengan sorot mata penuh keheranan. Di tengah kepanikan mengenai kondisi ibunya yang baru saja ditangani secara mendadak oleh tim medis di dalam ruangan reaksi pria di sampingnya ini sungguh di luar dugaan.

​"Kenapa kamu malah tertawa?" tanya Anna. Suaranya terdengar ketus menahan kekesalan. "Apakah ada yang lucu dari pertanyaanku?"

​Aiden menghentikan tawanya, lalu menatap Anna lurus. "Menurutmu?"

​Anna membisu. Dia menggeleng pelan, sungguh tidak mengerti jalan pikiran pria berkuasa yang kini berstatus sebagai suaminya itu.

​Tangan tegap Aiden terulur, mengusap puncak kepala Anna dengan kelembutan yang tak terduga. Pria itu paham betul mental wanita di hadapannya sudah berada di titik nadir. Dia tidak berniat menambah beban di kepala Anna.

​"Jangan berpikir yang tidak-tidak," ucap Aiden dengan nada menekan yang sangat jelas. "Hari ini kamu istriku. Besok, lusa dan selamanya kamu tetap istriku. Tidak ada kata dibuang atau ditinggalkan. Paham?"

​Penekanan dalam kalimat Aiden menyiratkan ketegasan mutlak. Pria itu tidak sedang main-main dengan pernikahan kilat mereka. Anna menghela napas panjang. Dia menyadari bahwa takdirnya kini memang telah terkunci rapat dalam genggaman sang Taipan.

​"Ayo kita pergi," ajak Aiden seraya berbalik arah. "Kamu sudah melihat kondisi ibumu kan? Dan sekarang kita serahkan ke tim dokter terbaik yang sedang bekerja di rumah sakit ini. Sekarang waktunya aku membawamu ke rumah kita.

Oh ya, mengenai rumah lamamu di gang sempit itu kamu tidak perlu memikirkannya lagi. Sudah kuruntuhkan sampai rata dengan tanah."

​Langkah kaki Anna seketika terhenti. Matanya membelalak lebar mendengar pengakuan santai dari bibir Aiden. "Apa?! Kenapa kamu merobohkan rumahku?! Apa alasannya?!" seru Anna seraya berlari kecil mengejar langkah lebar Aiden yang terus melangkah meninggalkanya.

​"Sebab kamu akan tinggal bersamaku," sahut Aiden seenaknya tanpa menoleh sedikit pun. "Untuk apa mempertahankan bangunan tua yang hampir roboh itu?"

​Jemari Anna mengepal erat di sisi gaunnya. Jawaban Aiden benar-benar membuat dadanya bergemuruh. Sikap arogan pria ini sungguh keterlaluan.

​"Tapi di sana masih ada barang-barangku dan ibuku!" gumam Anna gusar, langkahnya agak gontai mengiringi Aiden. "Kalau nanti kita bertengkar dan kamu mengusirku, aku harus tinggal di mana? Kami bahkan tidak punya pakaian ganti lagi."

​Aiden mendadak menghentikan langkahnya di tengah lorong. Anna yang berjalan terburu-buru tanpa antisipasi langsung menubruk punggung kokoh pria itu dengan keras.

​Brak!

​"Aduh! Sakit sekali!" ringis Anna seraya memegangi keningnya yang berdenyut perih akibat membentur punggung keras bagai tembok baja tersebut. "Kenapa mendadak berhenti, sih?"

​Aiden berbalik, menatap Anna dengan raut wajah datar namun mengintimidasi. "Kamu ini berpikir pakai logika atau tidak? Aku baru saja mengatakan bahwa kamu akan tinggal bersamaku selamanya. Apakah kalimat itu kurang tegas dan jelas di telingamu? Atau sebenarnya kamu memang berencana kabur dengan pria lain?" tanya Aiden dengan kesal.

​Anna menggeleng cepat dengan wajah merona merah campuran antara kesal dan malu. "Jangan sembarangan menuduhku berselingkuh! Aku tidak pernah dekat dengan pria mana pun! Aku cuma membicarakan kemungkinan terburuk untuk diriku sendiri, bukan menuduhmu! Aku harus berjaga dan berpikiran realistis.

Dan itu sangat penting. Siapa tahu kamu berubah pikiran mau mengusirku! Ck, kamu ini menyebalkan sekali!"

​Tanpa menunggu balasan dari Aiden, Anna berjalan menyalip pria itu dengan hentakan kaki menuju pintu keluar rumah sakit.

​Aiden terpaku di tempatnya berdiri, menatap punggung mungil istrinya yang berjalan menjauh. Pria itu mengusap tengkuknya sendiri seraya berbalik menatap asisten pribadinya.

​"Simon. Sepertinya aku harus menyiapkan stok kesabaran berlipat ganda untuk menghadapi wanita ini," ucap Aiden dengan wajah menahan kesal.

​Simon yang berdiri tegap di belakangnya hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi, bagaikan patung batu yang tak bernyawa.

​Aiden menaikkan sebelah alisnya melihat respon dingin sang asisten. "Mon, kenapa mukamu datar begitu? Kamu tidak berniat memberi saran atau tanggapan pada atasanmu ini?"

​"Wajah saya memang sudah dari lahir seperti ini, Tuan Aiden," jawab Simon tenang tanpa mengedipkan mata. "Ini adalah ekspresi standar hasil pelatihan bertahun-tahun di samping Anda. Dan maaf, saya tidak tahu harus kasih saran apa. Karena saya belum menikah."

​Aiden menghela napas gusar. "Sudahlah. Ayo jalan. Beritahukan kepala rumah sakit untuk memberikan pelayanan nomor satu bagi mertuaku."

​"Baik, Tuan."

​Keduanya melangkah cepat menyusul Anna yang sudah menanti di dekat mobil sedan hitam mewah berlapis baja di area parkir VVIP.

​Perjalanan berlanjut menuju sebuah kawasan eksklusif di pinggiran kota. Sedan mewah itu memasuki gerbang besi menjulang tinggi yang menjaga sebuah mansion megah bergaya modern klasik.

Kediaman ini merupakan aset rahasia milik Aiden yang tidak pernah diketahui oleh publik maupun keluarganya. Tempat pribadi yang hanya diketahui oleh Simon dan lingkaran inti kekuasaannya. Sekarang, Anna yang tahu tempat itu.

​Saat melangkah masuk ke dalam mansion, Aiden berbalik menatap Anna.

​"Mulai hari ini, kamu tidak perlu bekerja lagi," ujar Aiden tegas. "Cukup diam di rumah dan nikmati seluruh fasilitas yang ada. Paham?"

​Anna membuka mulutnya hendak memprotes, namun Aiden menyela lebih cepat.

​"Dan jangan katakan hal-hal konyol yang bisa memicu amarahku, Anna. Aku tahu apa yang ada di dalam kepalamu saat ini. Cukup patuhi ucapanku, kamu bukan anak kecil yang harus diulangi perintahnya berkali-kali."

​Anna menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan emosi yang bergolak di dadanya. "Aku bukan mau bersikap keras kepala! Aku cuma ingin bekerja sebagai petugas kebersihan di perusahaanmu karena aku tidak mau menjadi bebanmu! Kalau aku punya penghasilan sendiri, aku bisa membeli kebutuhanku tanpa harus mengemis padamu!"

​Anna menatap mata es Aiden tanpa rasa gentar. "Kamu memang kaya raya, tapi itu uangmu bukan uangku. Jadi izinkan aku tetap bekerja. Dan satu lagi aku mohon padamu jangan publikasikan status pernikahan kita di kantor. Aku belum siap."

​Aiden melipat kedua tangannya di dada, mendengarkan tuntutan istrinya dengan tenang. "Bagaimana mungkin aku menyembunyikan statusmu sementara kita sudah sah secara hukum? Apa kamu malu punya suami seperti aku?"

​"Bukan begitu!" potong Anna cepat. "Aku cuma belum siap dipandang sinis oleh orang-orang. Mereka pasti menganggapku wanita matrealistis yang menggoda bosnya. Lagipula aku juga belum siap bertemu dengan keluarga besarmu."

​Raut wajah Aiden mendadak berubah keras. "Aku tidak suka rahasia. Kamu boleh tetap bekerja kalau itu memang kemauanmu. Tapi mengenai identitasmu sebagai istriku, aku tidak akan pernah menyembunyikannya dari siapa pun. Termasuk dari keluarga Blackwoods."

​Aiden memanfaatkan momentum ini. Dia butuh pengakuan resmi ini untuk menghancurkan rencana perjodohan bisnis yang sedang dirancang oleh orang tuanya. Anna adalah tameng sekaligus pilihan hidupnya yang mutlak.

​Tanpa memberi ruang untuk berdebat lagi, Aiden menarik lembut pergelangan tangan Anna, menuntunnya kembali ke dalam mobil. Dia tidak membawa Anna beristirahat di mansion rahasianya, melainkan langsung mengarahkan kendaraan menuju kediaman utama keluarga besar Blackwoods yang terletak di pusat kawasan elit kota.

Perjalanan menuju kediaman Blackwoods memakan waktu satu jam lebih. Dan akhirnya, kendaraan mereka berhenti di halaman sebuah istana megah berdinding marmer putih.

​Aiden menoleh ke samping, mendapati tubuh Anna bergetar halus dengan jemari yang saling bertautan erat. "Kenapa tubuhmu tegang sekali? Kamu takut?"

​Anna mengangguk jujur. Dia hanyalah gadis dari kalangan bawah yang tidak memiliki apa-apa, lalu mendadak dibawa ke tengah lingkaran kaum elit yang berkuasa. Dan itu terjadi karena insiden satu malam itu.

​Aiden mengikis jarak, berbisik tepat di samping telinga Anna dengan ukiran senyum penuh arti. "Jangan terlalu tegang sekarang. Nanti malam baru boleh. Apa kamu mengerti? Ada saatnya kamu boleh tegang tapi tidak sekarang."

​Anna langsung melotot tajam, mendorong dada Aiden dengan kasar. Pria ini benar-benar pandai merusak suasana dengan godaan mesumnya.

​Aiden terkekeh pelan, lalu menggenggam erat jemari mungil Anna. Dia menarik wanita itu melangkah menaiki tangga keramik menuju pintu utama.

Aiden ingin membuktikan kepada seluruh keluarga Blackwoods bahwa dia mampu menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa dikendalikan oleh siapa pun.

​Begitu melangkah melewati pintu jati raksasa, gema tawa dan denting gelas kristal menyambut kedatangan mereka. Dari balik pilar-pilar megah di ruang keluarga utama terdengar percakapan hangat mengenai persiapan sebuah acara pertunangan besar.

​"Aiden! Lihat siapa yang akhirnya pulang!"

​Seorang pria paruh baya berjas elegan melangkah maju dengan wajah berseri-seri. Arlon Blackwoods paman kandung Aiden menyambut keponakannya dengan rentangan tangan hangat.

Namun, senyum ramah di wajah Arlon dan anggota keluarga lainnya seketika membeku saat mata mereka tertambat pada sosok wanita muda yang berdiri di samping Aiden, jemarinya terkunci erat dalam genggaman sang Taipan.

​"Siapa wanita ini?" tanya seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat anggun. Dia adalah ibu kandung Aiden bernama Rose seraya menunjuk ke arah Anna dengan pandangan yang sangat dingin.

​Atmosfer di ruangan megah itu mendadak berubah mencekam. Tatapan mata penuh permusuhan dari belasan anggota keluarga Blackwoods tertuju lurus pada Anna.

Mereka tahu betapa tertutupnya Aiden terhadap wanita dan fakta bahwa pria itu menggenggam tangan seorang gadis asing berpakaian sederhana adalah sebuah kejutan yang tidak bisa mereka sangka.

​Aiden menarik Anna sedikit lebih maju. Dengan tubuh tegapnya dia memasang badan untuk melindungi wanita itu dari tatapan beracun keluarganya.

​"Mom, Dad, Paman Arlon, dan seluruh keluarga," suara berat Aiden menggema penuh dominasi mutlak di seluruh sudut ruangan. "Perkenalkan, ini Anna. Anna Aiden Blackwoods. Dia adalah istriku. Istri sah yang sudah kunikahi hari ini dan satu-satunya wanita yang akan menyandang nama Aiden Blackwoods."

​Pengakuan tegas yang keluar dari bibir Aiden menghantam ruangan itu bagai ledakan bom atom.

​Anna mencoba memberanikan diri. Dia menarik napas pelan dan menyunggingkan senyum setipis mungkin dan berusaha memberikan kesan pertama yang sopan. Namun, respon yang diterimanya sungguh di luar dugaan.

​PRANG!

​Gelas kristal berisi wiski mahal di genggaman ayah kandung Aiden dihempaskan keras-keras ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Serpihan kaca dan cairan keemasan memercik ke mana-mana.

​"Lancang sekali kamu, Aiden!" bentak pria paruh baya itu dengan wajah memerah padam dan napasnya memburu menahan amarah yang membakar dada. "Siapa yang mengizinkanmu menikahi wanita miskin ini?!"

​Suasana di dalam aula mewah itu seketika menjadi sangat brutal dan menakutkan. Anna reflek melangkah mundur satu tapak, meremas lengan baju Aiden dengan tubuh gemetar hebat akibat diliputi rasa takut yang luar biasa saat menyaksikan kemarahan keluarga penguasa tersebut.

​Namun, Aiden tidak bergerak seinci pun. Wajah tampannya justru makin mengeras dingin dan mata esnya memancarkan kilat membunuh yang sangat pekat. Pria itu menolak membiarkan wanita pilihannya diinjak-injak dan dihina oleh ayah kandungnya.

​Saat Aiden hendak membuka mulut untuk membalas makian ayahnya dari arah tangga melingkar di lantai dua terdengar suara langkah kaki yang turun mendekati dia. Dia adalah seorang wanita muda bergaun merah glamor dengan senyum licik di bibirnya.

Wanita itulah yang ingin dijodohkan oleh keluarga Blackwoods untuk menjadi tunangan Aiden. Dia perlahan mendekati Aiden. Tangannya mengusap dada Aiden dan berdiri tepat di depannya.

​"Aiden, Sayang. Lama tak bertemu. Kamu tampan sekali." wanita tersebut melirik Anna dengan tatapan yang sangat tajam. "Jadi, ini alasanmu menolak perjodohan yang sudah di atur oleh keluarga kita?" bisik wanita bergaun merah itu seraya melayangkan tatapan membunuh ke arah Anna.

"Kamu lebih memilih menyentuh sampah jalanan ini daripada aku, Sayang? Apa kelebihan dia dari aku, Sayang?" tanya wanita tersebut dengan suara penuh hinaan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Istri Rahasia Sang Taipan   Bab 50. Dia Psikopat

    "Kenapa diam, Bunny?" tanya Anna ke Aiden yang saat ini sudah mulai nakal dengan meraba pusaka Aiden yang sudah keras. "Eurghh. K--kamu nakal, Lady. Kamu benar-benar nakal."Aiden mencoba untuk menekan gairahnya. Tapi bumil satu ini sudah membangkitkan gairah di dalam dirinya. Bagaimana tidak bangkit, Anna memasukkan jarinya ke dalam celananya. Dan mulai bermain kecil di sana. "Damn! Lady, kamu yang mulai bukan aku. Aku akan buat kamu menjerit." Aiden sudah tidak tahan lagi. Adiknya ingin keluar. Sudah meronta-ronta tak berdaya. Sedangkan Anna senang Aiden bisa bergairah. "Masih diam saja? Masih bisa bertahan, Bunnyku sayang?" tanya Anna sambil tertawa. "Tidak. Aku tidak akan tahan. Kamu yang minta. Aku akan layani." Aiden berbalik di saat tangan Anna sudah keluar dari sana. Anna mundur melihat Aiden sudah menunjukkan wajah yang penuh gairah membara. Anna makin tersenyum mengejek ke arah Aiden. "Kamu bisa tersenyum tapi nanti kamu akan merintih, Lady." Aiden membuka pakaiannya

  • Istri Rahasia Sang Taipan   Bab 49. Menjahili Aiden

    "Anda tenang saja saya akan cari." Simon dengan penuh keyakinan akan mencari bukti tersebut. "Aku heran dengan keluarga Aiden. Bagaimana bisa dia seperti ini. Maksudnya aku, bagaimana bisa dia percaya dengan si nenek sihir itu. Sudah jelas dia tidak baik. Anak sendiri mengatakan hal sama tapi tetap tak dipercaya. Sungguh luar biasa. Pernikahan bisnis seperti ini tapi setahu aku bisnis keluarga Merry juga kurang baik. Kenapa mau kerja sama ya?" tanya Jerry ke sahabatnya. "Yang benar? Kamu tidak salah? Bukannya bisnis keluarga Merry bagus. Aku dengar kalau bisnisnya sukses dan ayahnya waktu itu menawarkan untuk menyatukan anaknya juga sama pengusaha tapi nggak ada yang mau. Dan anehnya malah keluarga Aiden yang mau. Tapi, setelah itu ga jadi karena Aiden sudah punya Anna. Sekarang malah didesak untuk berpisah."Rico geleng kepala dengan orang tua Aiden yang masih memaksa anaknya. "Sudah, kita dukung Aiden saja. Kalau ada yang tidak baik nantinya kita akan bantu. Itu dia ke sini sudah

  • Istri Rahasia Sang Taipan   Bab 48. Cari Bukti Simon

    Merry dan keluarga besar Aiden muncul tepat di depannya. Aiden menatap mereka dengan tatapan yang mengandung banyak arti. Anna yang melihat kedatangan dari mertuanya ketakutan dia bersembunyi di belakang Aiden. Sedangkan, Gio menatap dengan tatapan yang sama dengan Aiden. "Wah, coba lihat ini. Mereka ada di bandara. Sepertinya, mereka mau pergi dari negara ini, Mom. Mereka mau menghabiskan uang keluarga kita," sindir Merry melirik ke Anna yang sembunyi di belakang Aiden. Merry melangkah ingin mendekati Anna tapi Aiden menjadi benteng untuk melindungi Anna. "Berdiri di sana. Jangan mendekat. Aku tidak mau kau mendekat denganku," ucal Aiden dengan tegas dan suaranya juga terdengar dingin. Merry yang hampir dekat dengan Aiden dan Anna menghentikan langkah. Dia tak menyangka kalau Aiden berkata seperti itu. Dia menatap Aiden dengn tajam. Dirinya merasa kalau Aiden terlalu memanjakan Anna dan melindungi Anna. "Aiden, keterlaluan kamu. Bisa-bisanya kamu katakan itu. Apa mau kamu? Kam

  • Istri Rahasia Sang Taipan   Bab 47. Honeymoon

    Aiden dan sahabatnya berhasil pergi dari tempat tersebut. Polisi sudah datang dan semua orang yang terluka sudah dibawa ke rumah sakit. Aiden memeluk Anna dan Gio. Keduanya dalam pelukannya. Aiden masih mengingat bagaimana si Carlos menatapnya dengan penuh kebencian yang teramat dalam. "Semua sudah aman 'kan?" tanya Anna ke Aiden yang masih memeluk Anna dan Gio dalam pelukkanya. "Iya. Semuanya aman. Kamu jangan khawatir. Apa perutmu sakit, Lady?" tanya Aiden kembali. Anna menggelengkan kepala pelan. Sambil menatap ke arah Aiden. "Syukurlah. Apa dia musuhmu perusahaanmu atau teroris?" tanya Anna memastikan jika orang-orang yang meledakkan restoran itu musuh Aiden. "Tidak. Jangan khawatir. Sudah tidurlah. Kamu pasti lelah aku akan melindungi kalian bertiga. Kamu, Gio dan janin kembar kita." Aiden mengecup kening Anna pelan dan lembut. Sambil menepuk-nepuk pelan lengan Anna dan Gio. Kiri kanan orang-orang yang dia sayangi berada dalam pelukannya. "Anna, aku tidak akan membiarkan k

  • Istri Rahasia Sang Taipan   Bab 46. Aku Akan Merebutnya

    Anna memegang lengan baju Aiden. Dia takut jika dirinya berpisah dari Aiden. "Kamu tenang saja. Aku di sini," ucap Aiden pelan meminta Anna tenang. Aiden mengecup bibir Anna dan tersenyum. Dia melakukan itu agar Anna tenang dan tidak takut dengan apa yang terjadi. Anna menganggukkan kepala dia percaya kalau Aiden akan melindungi dia. Seluruh restoran hancur, suara teriakkan terdengar sangat kencang."Siapa yang sudah berani melakukan ini. Awas saja kalau aku tahu. Aku akan buat mereka menyesal." Aiden membawa Anna ke bagian belakang begitu juga dengan anak angkatnya Gio. Dia ingin keduanya selamat dari serangan tersebut. "Tuan, saya ingin katakan sesuatu. Tapi, nanti saja," ucap Simon yang memeluk Lili. Aiden mengangguk dia tahu kalau asistennya ingin katakan sesuatu. Aiden dan sahabatnya juga asistennya berhasil keluar dari restoran. Mereka kabur dari pintu belakang. "Kalian cepat lewat sini. Ini jalan aman. Ayo, Tuan bawa keluargamu. Jangan takut ini jalan yang aman," ujar pe

  • Istri Rahasia Sang Taipan   Bab 45. Ledakan

    Seluruh keluarga terdiam mendengar apa yang dikatakan istri dari Arlon. Tidak ada membantah atau protes. Karena mereka tahu kelakuan dari Arlon itu seperti apa. Dia dan Rini dijodohkan karena perjanjian kerja sama tapi Rini enggan melayani Arlon karena tahu Arlon itu pemain wanita. "Abraham, atur dia. Aku tidak mau dia membuat malu keluarga, cepat," perintah Ayah kandung Tuan Abraham ke anaknya. Tuan Abraham menganggukkan kepala mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya. Sambil mengutuk Arlon yang masih berulah padahal sudah dia wanti-wanti tapi tetap tidak digubris olehnya. Terlepas dari kisruh di rumah Blackwoods, Aiden dan Anna semakin mesra. Keduanya menunjukkan kemesraan di depan para sahabat dan Simon. Tapi, kali ini Simon tidak sendirian dia bermesraan dengan Lili. "Cih, bagaimana bisa kalian menunjukkan kemesraan kalian di depan kami. Keterlaluan," kesal Mario menunjuk wajah cemberutnya ke Aiden dan Simon yang raut wajahnya menunjukkan dia mengejek sahabat Aiden majikannya

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status