MasukSeluruh keluarga terdiam mendengar apa yang dikatakan istri dari Arlon. Tidak ada membantah atau protes. Karena mereka tahu kelakuan dari Arlon itu seperti apa. Dia dan Rini dijodohkan karena perjanjian kerja sama tapi Rini enggan melayani Arlon karena tahu Arlon itu pemain wanita. "Abraham, atur dia. Aku tidak mau dia membuat malu keluarga, cepat," perintah Ayah kandung Tuan Abraham ke anaknya. Tuan Abraham menganggukkan kepala mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya. Sambil mengutuk Arlon yang masih berulah padahal sudah dia wanti-wanti tapi tetap tidak digubris olehnya. Terlepas dari kisruh di rumah Blackwoods, Aiden dan Anna semakin mesra. Keduanya menunjukkan kemesraan di depan para sahabat dan Simon. Tapi, kali ini Simon tidak sendirian dia bermesraan dengan Lili. "Cih, bagaimana bisa kalian menunjukkan kemesraan kalian di depan kami. Keterlaluan," kesal Mario menunjuk wajah cemberutnya ke Aiden dan Simon yang raut wajahnya menunjukkan dia mengejek sahabat Aiden majikannya
Merry menatap ke arah Arlon. Tidak menyangka kalau paman Aiden berkata seperti itu. Apalagi tangannya sudah menyusup ke dalam rok mini yang dia pakai. Suara dentuman begitu memekakkan telinganya. Tidak ada satupun yang melihat dirinya diperlakukan seperti itu. Merry hanya bisa menutup matanya merasakan sensasi dari jari-jari paman pria yang dia sukai. "Aku tidak mengerti denganmu, Paman. Kenapa kamu berkata seperti itu. Aku ini wanita yang akan menikah dengan keponakanmu. Jangan seperti ini, Paman. Aku tidak bisa melakukan itu," ucap Merry gelisah karena semakin dia menarik tangan Arlon semakin kuat pria itu mempertahankan tangannya yang sudah ke intinya. Merry merasakan jari itu masuk ke intinya dan bermain begitu lembut dan daging kecil yang di intinya pun tak luput dari jari nakal paman Aiden. "Jangan munafik kamu, Merry. Aku tahu kamu siapa. Kamu itu sudah tidak perawan lagi. Kamu mau menipu Aiden tapi aku tidak. Sekarang, kamu mau lakukan apa yang aku katakan? Kalau kamu mau
"Kalian kenapa? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Bibi Margaret terkejut melihat para pria tiduran menumpuk di depan pintu. "Itu di sana ... I--tu, ada suara wanita tertawa dia mengejar kita. Makanya kami kabut. Ayo cepat tutup pintunya. Ayo cepat tutup pintunya sekarang." Rico merangkak ke depan untuk masuk ke dalam rumah tidak peduli dia melewati sahabatnya yang masih bertumpuk di bawah. Rico ketakutan karena suara dari wanita itu terdengar begitu dekat hingga membuat Rico bergegas masuk ke dalam rumah dan bersembunyi. Begitu juga dengan yang lainnya mereka ikut merangkak masuk. Tersisa Aiden yang masih di bawah. Simon yang merasa kasihan langsung menarik tubuh Aiden untuk masuk. Barulah pintu dibanting dengan cukup kuat. Gubrakkk! "Kalian kenapa merusak rumah orang, astaga. Tidak baik seperti itu. Bagaimana kalau rumahnya Bibi Margaret runtuh? Apa kalian mau ganti ?" tanya Tika kepada Aiden dan yang lainnya."Kami akan ganti kalau memang rusak. Bibi maafkan kami karena kami
"A--apa maksudmu kursi yang lain? Memangnya, kamu mau kursi seperti apa?" tanya Mario kesal dengan sahabatnya yang malah bertanya seperti itu. "Tuan, orang baru ya? Kamu pasti dari kota, iyakan?" tanya pria tua yang geleng kepala dengan Aiden. "Maafkan teman saya. Dia belum biasa duduk di kursi kayu," jawab Jerry ke bapak-bapak yang memandang ke arah mereka. Bapak-bapak yang mendengar jawaban dari Jerry hanya tersenyum. "Orang kaya ya, Tuan?" tanya Bapak-bapak yang memakai baju lengan panjang berwarna merah. "Kita orang biasa kok. Tidak kaya tidak miskin. Kita cukup untuk makan. Oh ya, kenalkan saya Rico, ini Jerry dan ini Mario dan dia Simon nah yang tadi nanya kursi namanya paduka Aiden," ucap Rico memperkenalkan diri dan teman-temannya termasuk Aiden dengan mengatakan paduka. Aiden membolakan matanya mendengar Rico malah mengatakan dia paduka. "Tidak. Saya Aiden, suaminya Anna keponakan Bibi Margaret." Aiden memperkenalkan siapa dia. Semuanya terkejut mendengar apa yang Aide
John tidak mendapatkan keberadaan Anna ditempatkan tersebut. Sama sekali tidak dia temukan. Yang dikatakan Merry itu ternyata salah. Dia pun pulang dengan amarah. "Jika aku bertemu dengan wanita itu, aku akan menghabisinya. Aku akan membuat dia menyesal karena sudah berbohong kepadaku," ucap John yang tidak terima kalau dirinya ditipu oleh Merry.Sedangkan Aiden, Anna bersama dengan Gio anak angkatnya bermalam di rumah Bibi Margaret."Makanan Bibi sangat enak ya. Aku sangat suka. Bibi aku mau tanya, apa Bibi benar-benar tidak mau ikut dengan kami?" tanya Aiden yang memastikan kembali apakah benar Bibi Margaret tidak mau ikut dengan mereka. Karena Anna sudah mengatakannya, Bibi enggan ikut hingga dia cukup sedih karena Bibi Margaret menolak ajakannya. Anna khawatir Bibi tinggal seorang diri. Untuk itu, dia ingin Bibi Margaret ikut dengannya dan tinggal bersama dan ibunya. Tapi, Bibi Margaret lebih memilih tinggal di rumah mereka seorang diri. "Tidak. Bibi mau di sini saja. Bibi sud
"Aiden! Jangan buat aku marah padamu. Aku sudah memintamu baik-baik datang ke rumah, kamu malah berkata seperti itu padaku. Apa kamu mau aku coret dari warisan keluarga Blackwood?" tanya Tuan Abraham yang murka karena Aiden malah menantangnya. Aiden mendengar ayahnya mengancamnya tertawa mengejek ke Tuan Abraham. Dia tidak menyangka dirinya akan dikeluarkan dari warisan hanya karena tidak mau datang ke rumah bertemunya. "Mau keluarkan aku ya? Hmm, silakan saja kalau mau mengeluarkanku. Aku tidak masalah," jawab Aiden yang tidak mempermasalahkan dirinya dikeluarkan dari warisan keluarga Blackwood. Mendengar Aiden malah tidak peduli dan menantang dia, membuat Tuan Abraham semakin murka. "Kamu benar-benar menantangku, Aiden? Keterlaluan kamu. Kamu anak durhaka. Apa karena sudah memiliki perusahaan yang cukup besar hingga kamu tidak menginginkan warisanku ? " tanya Tuan Abraham dengan matanya yang sudah memerah saat mendengar Aiden berkata seperti itu.Anna melihat perdebatan antara s







