Home / Mafia / Istri Rahasia Sang Taipan / Bab 7. Panggilan Sayang

Share

Bab 7. Panggilan Sayang

Author: ZeeHyung
last update publish date: 2026-09-17 08:11:32

Anna menggerakkan tubuhnya perlahan. "Kenapa berat sekali badanku," gumam Anna membuka matanya perlahan.

Anna menyibak selimut dan ternyata ada tangan Aiden di perutnya. Anna berbalik menghadap Aiden yang masih tertidur.

Keduanya bermain sangat panas sampai menjelang pagi. Dirinya benar-benar dibuat tidak berdaya oleh Aiden.

"Dia tampan juga tapi sayang wajahnya itu tidak pernah ada senyumnya." Anna mengusap jarinya ke wajah Aiden. Dari kening, mata sampai hidung dan dagu Aiden yang lancip. "Pahatannya luar biasa. Dia manusia apa dewa. Kenapa dia bisa setampan ini. Produknya tidak gagal."

Anna tersenyum kecil. Dia mengganggumi Aiden dalam diam. Tapi, saat jarinya sampai di bibir, jarinya Anna tiba-tiba saja masuk ke mulut Aiden.

"Akh, kenapa memakan jariku!?" teriak Anna menarik kembali jarinya akan tetapi jarinya masih digigit Aiden.

Aiden mendengar apa yang Anna katakan. Dia tidak tidur. Pergerakan Anna membuat dia bangun dan saat dia ingin menyapa Anna eh Anna malah berbicara seperti itu dan membuat dia kembali bergairah.

"Cepat lepaskan jariku dari mulutmu. Bagaimana kalau jariku lepas." Anna memukul dadanya Aiden berulang kali dan Aiden akhirnya melepaskan jari Anna.

Matanya terbuka, senyum terbit di wajahnya. "Apa aku tampan kalau senyum, Lady? Kalau kamu mengganggumiku katakan saja. Jangan malu."

Aiden menarik Anna dalam pelukkannya. Aiden menghirup aroma Anna. Ada sisa percintaan yang masih melekat ditubuhnya. Ditambah aroma bunga Chamomel yang memenangkan dirinya.

"Siapa yang mengagumimu? Aku tidak mengganggumi kamu," elak Anna menundukkan kepala.

Pipi Anna bersemu saat Aiden katakan seperti itu. Anna kembali mencoba melepaskan pelukan Aiden. Dia mulai merasakan adik Aiden menegang. Dia tidak mau lagi melayani Aiden. Dirinya lelah semalaman tidak diberikan jeda oleh Aiden.

"Kenapa kamu bohong, Lady? Aku tahu kamu mengganggumiku dan aku dengar yang kamu katakan. Sudah jujur saja." Aiden mengecup pipi Anna dan bukan hanya pipi tapi bibirnya.

"Kamu manis. Hari ini libur saja. Kita di rumah menikmati menjadi pasangan suami istri. Anggap saja kamu cuti menikah. Aku akan bersamamu sepanjang hari. Bagaimana? Kamu setuju?" tanya Aiden mengusap rambut Anna.

Rasa nyaman yang merasuk Aiden sulit untuk dia ucapkan. Rasa yang tumbuh di hatinya mulai terasa berbeda.

Begitu juga dengan Anna. Awalnya, dia menolak Aiden. Tapi, sekarang dia ingin selalu dekat dengan Aiden. Akan tetapi, dia malu untuk ungkapkan itu.

"Nanti saja. Aku mau bertemu ibuku. Aku mau melihat kondisinya. Aku yakin dia pasti merindukan aku." Anna menolak untuk cuti.

Dia ingin bertemu ibunya di rumah sakit dan kuga dia baru kerja jadi mana mungkin dia cuti. Walaupun itu perusahaan Aiden tapi dia tidak mau bersikap arogan.

"Hahh! Baiklah. Aku ikut saja. Ayo mandi. Kita mandi bareng. Tenang saja, aku tidak akan minta kecuali kamu yang meminta. Kalau itu terjadi aku tidak bisa menolak. Dan mulai hari ini jangan panggil tuan padaku. Cari nama yang cocok untuk aku. Jika kamu tidak menemukan nama cocok maka aku akan hukum kamu."

Aiden memeluk kembali Anna setelah mengatakan itu. Lalu Aiden turun tempat tidur dalam keadaan tanpa busana. Benar-benar polos.

Anna melotot dia menutup matanya. "Mataku tercemar. Apa dia tidak punya rasa malu." Pipi Anna memerah melihat kelakuan dari Aiden.

"Kenapa malu, Lady. Aku sudah melihat semuanya darimu. Begitu juga kamu. Malah kamu sudah cicipin juga. Ayo cepat mandi. Kalau tidak aku akan gendong dan hukum kamu di kamar mandi."

Aiden makin membuat Anna malu. Dia menyembunyikan wajahnya di balik selimut. Anna tidak menyangka kalau suami barunya yang juga bosnya ini bisa berkata seperti itu.

Anna yang tidak mau dihukum segera turun dari ranjang. Dia melihat sisa benih di seprei. Dengan cekatan Anna menggantinya. Dia malu jika pelayan yang melakukannya.

Setelah itu baru dia ke kamar mandi. Anna mandi bersama Aiden. Tidak ada drama akan tetapi godaan Aiden membuat Anna menjerit.

"Sudah, jangan ganggu aku!!" teriak Anna kencang.

"Tidak mau, hahahha!" tawa Aiden pecah. Dia tidak menyangka Anna bisa selucu itu.

Anna mendengar tawa Aiden tertegun. Pria arogan dan ditakuti bisa juga tertawa sekencang itu.

"Apakah dia bahagia?" tanya Anna dalam hati.

Anna melihat Aiden yang terus tertawa dan sikapnya sangat konyol di depannya. Aiden bergoyang tanpa busana. Benar-benar pria yang berbeda dari yang dia lihat.

Anna yang melihat kelakuan dari suaminya itu hanya bisa geleng kepala. Anna tidak habis pikir bagaimana bisa pria seperti Aiden yang dingin, arogan melakukan hal itu.

Selesai mandi, Anna menyiapkan pakaian Aiden. Lemari pakaian Aiden dibuka perlahan. Semua warna pakaian Aiden hitam putih. Jadi, tidak sulit untuk Anna menyiapkannya.

"Wah, Ladyku. Aku benar-benar terharu karena kamu menyiapkan aku pakaian kerja. Apa kamu sudah menerimaku menjadi suamimu sekarang?" tanya Aiden memakai pakaian yang Anna siapkan.

"Hmm. Pakai yang benar. Jangan banyak bicara" Anna sibuk mencari pakaian dalam Aiden.

"Di ujung sana." Aiden memberikan petunjuk di mana pakaian dalamnya.

Anna membuka laci dan benar. Semuanya di sana. Anna mengambil dan memberikan ke Aiden.

"Terima kasih, Lady."

"Hmm." Anna hanya berdehem.

Anna melakukan itu semua karena ingat pesan ibunya. Jika sudah jadi istri jangan lupakan kewajiban istri selain melayani di ranjang tapi dia harus melayani suami dalam hal apapun.

Jadi, Anna melakukannya. Dan Anna juga mencoba membuka hatinya. Tidak salah dia membuka hati toh Aiden juga sosok pria yang bisa lindungi dia dan berada di depan jika nanti dia mengalami masalah.

"Lady, kamu harus istirahat. Aku tidak mau kamu lelah. Kalau tidak betah kerja menjadi OG katakan padaku. Jangan sampai aku lihat kamu pingsan. Aku akan hukum semua orang di kantor. Kamu tahu kan bagaimana kejamnya aku!" peringatan Aiden membuat bulu kuduk Anna merinding.

Anna yang mengancing baju kerja Aiden terdiam. "Jangan kejam. Kamu tidak boleh memperlakukan orang seperti itu. Perusahaan itu bukan ajang untuk unjuk kekuatan. Tanpa karyawan kamu bisa apa. Saling menghargai. Kalau tidak fatal kesalahan mereka jangan hukum mereka. Dan jangan jadi pria arogan. Aku tidak suka."

Anna memberanikan diri menasehati Aiden. Dia sebenarnya takut tapi semuanya demi kebaikan Aiden dan orang-orang yang sudah berjasa dengan perusahaan miliknya. Rumornya, Aiden suka melenyapkan orang jika ada salah sekecil apapun. Dia tidak mau Aiden melakukan itu.

Aiden menatap Anna lekat, dia tidak menyangka dua hari menjadi istrinya Anna sudah berkata seperti itu.

"Kamu tidak suka dengan sikapku. Kalau tidak suka aku minta maaf," ucap Anna segera pergi dari hadapan Aiden.

Aiden menghela napas dia tidak marah dengan Anna. Akan tetapi, emosinya sudah tingkat dewa kalau ada yang salah jadi sulit untuk dia mengontrolnya. Aiden menarik Anna dan memeluknya.

"Baiklah. Aku janji."

Aiden menyerah. Dia akan bersikap baik ke depannya. Dia tidak mau Anna takut dengan dia.

Anna mendengar Aiden menuruti perkataannya membuatnya tersenyum. Keduanya pun akhirnya selesai berpakaian rapi. Anna menggunakan pakaian sederhana.

Dia tidak mau ada yang tahu dia siapa. Belum saatnya. Karena restu orang tua Aiden belum dia dapatkan. Jadi, dia tidak mau mengakui kalau dia istri Aiden bos di perusahaan raksasa itu.

"Aku antar kamu ke kantor. Kamu tidak boleh naik kendaraan umum. Aku tidak suka."

"Tidak apa. Aku sudah terbiasa."

"Tapi, aku tidak. Aku antar sampai halte dekat perusahaanku. Sisanya, kamu jalan dan jangan bantah." Tegas Aiden.

Anna mengangguk. Dia tidak bantah perintah Aiden. Keduanya sarapan pagi barulah pergi ke kantor. Anna ikut naik mobil mewah Aiden.

Anna memandang ke arah sekeliling jalan yang ramai dengan orang-orang yang hendak beraktivitas.

Pagi ini, suasana jauh berbeda dan status dia juga berbeda. Anna bisa merasakan sarapan tadi pagi terasa hangat. Dia layani suaminya dengan baik dan sekarang dia pergi ke kantor bersama.

"Nanti aku jemput pulang kerja. Tunggu di cafe dekat kantor. Atau di halte."

Anna menganggukan kepala. Dia tidak protes karena jika protes akan dihukum.

"Baik."

"Sudah menemukan kata-kata panggilan untukku Lady?" tanya Aiden ke Anna.

Dia penasaran Anna akan panggil dia apa. Sedangkan dia Lady. Tapi, Anna mau panggil dia apa?

"Apa harus sekarang?" tanya Anna.

"Hmm. Sekarang!" tekan Aiden menunggu nama panggil yang akan Anna berikan padanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Rahasia Sang Taipan   Bab 23. Dibully Lagi

    "Anna ngidam." Aiden menjelaskan semuanya ke sahabatnya. Jerry menepuk pundak sahabatnya. Ternyata dia diminta ke sini untuk membantunya mencari apa yang Anna minta. "Tenang sahabat, kita akan bantu. Sekarang, kita cari apa yang Anna mau." Aiden mengangguk dia ingin Anna mendapatkan apa yang dia inginkan. Simon datang mendekati Aiden dan sahabatnya. "Maaf Tuan. Saya terlambat. Saya terjebak macet tadi."Aiden mengangguk "tak apa. Kami juga baru sampai. Ayo kita pergi sekarang. Kalian tidak ada kegiatan hari ini?" tanya Aiden. Aiden tidak mau sahabatnya merasa tertekan dengan permintaan dia. Lebih baik dia tanya terlebih dahulu daripada mereka ikut karena merasa tidak enak. "Santai saja. Kami free. Ayo kita bergerak." Rico tersenyum kecil. Dia tidak merasa keberatan untuk ikut dengan Aiden. "Benar. Kamu tenang saja. Kita sahabat pasti kita akan membantu. Tapi, di mana kita mau cari dan perginya memakai satu mobil, ya?" tanya Jerry. "Iya, satu mobil. Di sana mobilku. Ayo naik. K

  • Istri Rahasia Sang Taipan   Bab 22. Makasih Bunny

    "Anna ngidam." Aiden menjelaskan semuanya ke sahabatnya. Jerry menepuk pundak sahabatnya. Ternyata dia diminta ke sini untuk membantunya mencari apa yang Anna minta. "Tenang sahabat, kita akan bantu. Sekarang, kita cari apa yang Anna mau." Aiden mengangguk dia ingin Anna mendapatkan apa yang dia inginkan. Simon datang mendekati Aiden dan sahabatnya. "Maaf Tuan. Saya terlambat. Saya terjebak macet tadi."Aiden mengangguk "tak apa. Kami juga baru sampai. Ayo kita pergi sekarang. Kalian tidak ada kegiatan hari ini?" tanya Aiden. Aiden tidak mau sahabatnya merasa tertekan dengan permintaan dia. Lebih baik dia tanya terlebih dahulu daripada mereka ikut karena merasa tidak enak. "Santai saja. Kami free. Ayo kita bergerak." Rico tersenyum kecil. Dia tidak merasa keberatan untuk ikut dengan Aiden. "Benar. Kamu tenang saja. Kita sahabat pasti kita akan membantu. Tapi, di mana kita mau cari dan perginya memakai satu mobil, ya?" tanya Jerry. "Iya, satu mobil. Di sana mobilku. Ayo naik. K

  • Istri Rahasia Sang Taipan   Bab 21. Ngidam

    Aiden mengepalkan tangannya hingga foto tersebut remuk. Aiden percaya kalau foto yang ditangannya nggak benar. Mana mungkin Anna seperti ini. Foto yang diterima Aiden saat ini terlihat Anna sedang bersama pria. Jaraknya sangat dekat dan Anna tersenyum ke arah pria itu. Gesturnya juga dekat. Seperti orang yang sudah lama kenal. "Cari tahu siapa dia. Saya mau tahu dia siapa. Saya tidak mau salah paham terjadi. Apa kamu mengerti?" tanya Aiden ke Simon. "Baik. Saya akan cari. Anda jangan khawatir. Saya akan temukan secepatnya. Apa Anda mau ke kantor?" tanya Simon ke Aiden yang masih terlihat menahan amarahnya. "Tidak. Kamu istirahat saja di rumah. Kabari saya apa yang kamu temui." "Baik. Terima kasih. Secepatnya saya akan kabari. Saya bawa Lili pulang dulu. Permisi Tuan," pamit Simon. Simon pergi dari hadapan Aiden yang menahan amarah. Wajahnya juga mengerikan. Simon heran siapa yang sudah mengambil foto tersebut. Lili sudah menunggu Simon dia mau pamitan tapi dicegah Simon. "Jang

  • Istri Rahasia Sang Taipan   Bab 20. Aku Rindu Kamu, Lady

    "Kalian bicara sana. Lili, ayo bicara. Jangan buat keadaan makin runyam. Kalian perlu bicara dari hati ke hati." Anna memerintahkan Lili untuk bicara empat mata dengan Simon. Anna tahu betul Lili sudah tidak mau bicara dengan Simon. Karena Simon menuduh dia yang menggodanya. Walaupun benar itu karena obat bukan yang lainnya. "Benar bicara saja. Siapa tahu kalian bisa dapat solusinya." Aiden ikut menimpali dan dia mendekati Anna lalu memeluknya. Rasa rindu kepada istrinya membuncah. Apalagi dia merasa badannya tidak enak dan ingin dekat dengan Anna. Jadi, setelah bertemu dirinya langsung memeluk Anna melepaskan rindu. "Ini pria yang sudah enak tapi tidak mengakuinya. Dia pikir para wanita mau tidur dengan pria sembarangan kalau bukan karena terpaksa. Pria tidak tahu diri." Tina tidak suka dengan Simon yang sudah menyakiti temannya. Simon hanya diam. Dia masih menunggu Lili. Terlebih lagi Lili memegang perutnya. Apa dia sakit. Lili ternyata hamil sama dengan Anna bedanya dia tidak

  • Istri Rahasia Sang Taipan   Bab 19. Morning Sickness

    "Dengar itu. Bayi kamu tiga. Apa aku tidak salah dengar?" tanya Tina mengangga. Tina mengerjapkan matanya dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini. Sahabatnya mengandung janin 3 sekaligus. "Benar, aku mengandung 3 bayi kembar. Aku akan jadi Ibu. Dan Aiden akan jadi ayah. Ini luar biasa. Aku mau nangis, Tina." Anna menangis mendengar kabar bahagia dari dokter. Bayi kembar tiga ada di rahimnya. Di tengah penolakan dari keluarga Aiden dia malah mengandung. "Iya, Anna. Kamu akan jadi ibu. Kamu tidak perlu khawatir aku jamin sekali keluarga suamimu akan menerimamu. Ini keturunan dia. Satu-satunya. Mana mungkin mereka menolaknya." Tina meyakinkan Anna kalau keluarga Aiden akan luluh dengan kehadiran bayi kembar tiga milik Anna. Anna menatap Tina lekat. Ada kesedihan di sorot mata Anna. Tina tahu jika Anna tidak pernah percaya dengan ucapannya. "Sudah. Jangan sedih. Kasihan bayimu. Dia akan ikutan sedih jika kamu sedih. Nanti dipikirkan lagi. Intinya kamy sehat. Ayo, aku t

  • Istri Rahasia Sang Taipan   Bab 18. Hamil

    Anna terdiam mendengar dirinya dikatakan wanita miskin. Anna berbalik ke belakang penasaran siapa yang sudah mengatakan dia wanita miskin. Saat berbalik dia melihat ibu Aiden dan Merry yang tersenyum mengejek ke arahnya. Keduanya terlihat menatapnya dengan sinis. Ibu Aiden, Nyonya Rose mendekati Anna dengan angkuh. "Wanita miskin, mau apa kamu ke sini?" tanya Nyonya Rose yang wajahnya terlihat penuh amarah. Anna menahan emosinya, dia tidak boleh terpancing oleh ibu kandung Aiden. Dia tahu betul kalau ibunya Aiden pasti ingin menjebak dirinya. Jika dia marah ke ibu Aiden maka dia akan diadukan ke Aiden hingga Aiden marah padanya. Walaupun hubungan dia dan ibunya tidak baik tapi Aiden sebagai anak masih baik mungkin. "Nyonya, saya di sini karena ada urusan." Anna menjawabnya lugas dan tegas juga sopan. Anna tetap menatap Nyonya Rose seperti biasanya. Dia tidak sedikitpun takut dengan Nyonya Rose. Baginya Nyonya Rose bukan seseorang yang perlu dia takuti. "Sejak kapan kamu punya uru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status