FAZER LOGINKeesokan harinya, Renata menjalani hari dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia berangkat kuliah sambil tersenyum. Langkahnya terasa ringan, bahkan suasana kampus yang biasanya ia lewati tanpa banyak perhatian pagi itu tampak berbeda.Pikiran wanita itu masih dipenuhi kejadian semalam. Pembicaraannya dengan Ratih tentang pernikahan, tatapan Dirga, dan terutama, genggaman tangan pria itu di bawah meja.Sentuhan sederhana tersebut terus teringat hingga membuat sudut bibir Renata beberapa kali terangkat tanpa sadar.Saat jam istirahat, Renata duduk di bangku dekat taman kampus sambil membuka botol minumnya. Baru beberapa teguk dia minum ketika Celina datang dan duduk di sampingnya. Sahabatnya itu langsung memperhatikan wajah Renata."Ren, kamu kenapa?"Renata menoleh bingung. "Kenapa?"Celina menyipitkan mata."Kamu dari tadi senyum-senyum sendiri."Renata refleks menyentuh pipinya."Enggak.""Jangan bohong!"Celina menatap wanita itu penuh
Ponsel di atas meja kembali bergetar. Dirga masih menatap layar tanpa berniat menyentuhnya. Nama itu terpampang jelas di hadapannya.Bianca.Sudah lima tahun. Lima tahun sejak terakhir kali wanita itu menghubunginya. Selama itu pula, Dirga berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua yang berhubungan dengan Bianca telah selesai.Ternyata tidak. Setidaknya, tidak sepenuhnya."Mas?"Suara Renata membuat Dirga tersadar. Dia segera membalikkan ponselnya."Ya?""Kenapa?" tanya Renata.Dirga menggeleng."Tidak apa-apa."Namun Renata bisa melihat perubahan pada pria itu.nBeberapa detik sebelumnya, Dirga masih berbicara santai dengan sang ibu. Sekarang ekspresinya berubah tegang."Kalau ada pekerjaan, saya bisa pulang," lanjut Renata.Dirga langsung menatapnya."Tidak perlu.""Tapi, sepertinya Mas sedang ada urusan.""Saya akan mengantarmu pulang,” ujar Dirga.Renata tidak bertanya lagi. Dia tahu ada sesuatu yang disembunyikan Dirga. Namun, mereka belum cukup lama saling mengenal untuk membuatnya
Renata terkejut mendengar ucapan Ratih."Secepatnya?"Suara wanita itu terdengar nyaris seperti bisikan. Dia menatap Ratih dengan mata membulat, seolah berharap wanita itu akan tertawa dan mengatakan bahwa perkataannya tadi hanya bercanda. Namun, Ratih justru mengangguk mantap."Mama tidak ingin kalian hidup dalam keadaan seperti sekarang terlalu lama."Ratih memandang keduanya bergantian. Nada suaranya lembut, tetapi ada ketegasan yang sulit dibantah.Dirga yang sejak tadi diam akhirnya mengalihkan pandangan kepada Renata. Dia bisa melihat dengan jelas kegugupan di wajah wanita itu. Jemari Renata saling bertaut di atas pangkuannya, sesekali bergerak gelisah. Dirga hanya menarik napas pelan."Kapan, Tante?" tanya Renata.Ratih tampak berpikir sejenak. Matanya bergerak ke atas, kemudian kembali menatap mereka."Dua minggu?"Renata hampir tersedak. "Dua minggu?"Nada suara wanita itu meninggi tanpa sadar. Ratih terkekeh kecil melihat reaksinya."Iya. Kenapa? Terlalu lama?""Justru terl
Makan malam berlangsung lebih lama dari yang Renata bayangkan. Awalnya, dia mengira dirinya akan duduk dalam diam sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan singkat dari Ratih. Namun perlahan, suasana mulai mencair.Ratih ternyata tidak sekeras yang dibayangkan Renata. Wanita itu beberapa kali menceritakan masa kecil Dirga, termasuk kebiasaannya yang sulit dibangunkan ketika masih sekolah."Mas Dirga pernah susah bangun?" Renata menoleh sambil menahan senyum.Ratih langsung terkekeh."Sangat susah. Kalau hari libur, dia bisa tidur sampai siang.""Ma," potong Dirga. Pria yang duduk di sebelah Renata langsung menghela napas. "Kenapa cerita itu harus dibahas?""Supaya Renata tahu kalau calon suaminya tidak sesempurna yang dia kira."Wajah Renata langsung memerah ketika Ratih menyebut kata calon suami. Dia menunduk sambil memainkan sendok. Dirga justru tersenyum melihat reaksinya."Mas Dirga memang kelihatan seperti orang yang disiplin," sambung Renata."Itu sekarang," sahut Ratih. "Dulu berbe
Mobil akhirnya memasuki halaman rumah keluarga Mahardika. Renata perlahan menatap bangunan besar di hadapannya.Rumah itu jauh lebih megah daripada rumah tamu tempatnya tinggal. Pilar-pilar tinggi berdiri kokoh di bagian depan. Halaman luas terbentang dengan taman yang tertata rapi. Lampu-lampu taman mulai menyala, memantulkan cahaya hangat ke permukaan jalan.Renata menelan ludah. Dia tiba-tiba merasa kecil."Aku benar-benar akan masuk ke sana?" gumam Renata.Dirga turun dari mobil. Dia kemudian berjalan mengitari kendaraan dan membukakan pintu untuk Renata.Renata keluar perlahan. Dirga memperhatikan wajahnya yang terlihat tegang."Masih bisa kabur," ucap Dirga.Renata langsung menatapnya tajam."Mas Dirga!"Dirga tersenyum. "Saya bercanda."Renata mengembuskan napas panjang."Jangan bercanda sekarang.""Baik."Dirga kemudian mengulurkan tangannya. Renata memandang tangan itu dengan sedikit bingung."Untuk apa?""Supaya kamu tidak kabur."Renata memutar matanya. Namun setelah bebera
Siang harinya, Renata menerima pesan dari Dirga. Saat itu dia sedang berada di kampus. Beberapa buku terbuka di hadapannya, tetapi perhatiannya langsung beralih ketika ponselnya bergetar.Renata meraih ponsel tersebut.[Malam ini kamu ada waktu?]Renata segera membalas. Usai obrolan tempo hari, dia lalu memutuskan untuk mengganti panggilan kepada Dirga.[Ada, Mas. Kenapa?]Tidak lama kemudian, pesan berikutnya masuk.[Saya ingin mengajakmu makan malam.]Senyum kecil muncul di wajah Renata. Namun, senyum itu tidak bertahan lama. Pesan berikutnya muncul di layar.[Bersama Mama.]Renata langsung terdiam. Senyumnya menghilang. Jemarinya berhenti di atas layar.Bersama Mama?Artinya malam itu ia akan bertemu Ratih Mahardika. Ibu Dirga. Calon ibu mertuanya. Jantung Renata mendadak berdetak lebih cepat. Dia menelan ludah sebelum mengetik.[Mas, harus malam ini?]Balasan Dirga datang beberapa detik kemudian.[Kamu takut?]Renata mengembuskan napas, lalu kembali membalas pesan Dirga.[Sedikit.







