เข้าสู่ระบบPintu perlahan tertutup. Bunyi klik kecil dari kunci pintu terdengar jelas di tengah keheningan rumah. Renata masih berdiri di tempatnya selama beberapa saat, seolah belum sepenuhnya percaya bahwa pria yang baru dikenalnya itu benar-benar meninggalkan sendirian di rumah sebesar itu.
Renata mengembuskan napas panjang, perlahan dan dalam. Seakan dia baru saja bisa bernapas dengan lega setelah sepanjang hari menahan begitu banyak hal. Suasana di rumah itu terasa sunyi. Namun, bukan sunyi yang menakutkan. Melainkan sunyi yang justru terasa menenangkan. Tak ada suara pertengkaran. Tak ada pintu yang dibanting. Tak ada suara orang-orang yang berbicara tentang dirinya dengan nada merendahkan. Tidak ada pula tatapan penuh kebencian yang membuatnya merasa seperti orang asing di tempat yang selama ini disebut rumah. Renata menatap ruang tamu di hadapannya. Rumah itu memang tidak sebesar rumah utama keluarga Mahardika. Tidak ada lampu kristal besar atau perabot mahal yang membuat siapa pun terkagum-kagum. Namun, semuanya tertata dengan baik. Interiornya sederhana, didominasi warna-warna hangat yang membuat suasana rumah terasa nyaman. Perlahan, Renata mulai berjalan. Langkahnya pelan, nyaris ragu-ragu. Dia seperti seorang tamu yang takut menyentuh apa pun karena khawatir melakukan kesalahan. Di sebelah ruang tamu terdapat dapur kecil yang rapi. Peralatan masak tersusun di tempatnya. Beberapa gelas diletakkan terbalik di atas rak. Di sudut dapur terdapat kulkas berukuran sedang dan meja kecil yang cukup untuk dua atau tiga orang. Renata tersenyum tipis. Entah mengapa, melihat dapur itu membuat dadanya terasa hangat. Sudah lama dia tidak berada di tempat yang membuatnya merasa bisa memasak tanpa harus takut dimarahi karena menggunakan sesuatu yang bukan miliknya. Renata melanjutkan langkah menuju ruang makan. Sebuah meja kayu sederhana berdiri di tengah ruangan dengan empat kursi mengelilinginya. Tidak ada dekorasi berlebihan. Hanya sebuah vas kecil berisi bunga kering di atas meja. Sederhana, terapi nyaman. Renata kembali berjalan, menemukan kamar mandi yang bersih dan terawat. Bahkan sabun, sampo, dan perlengkapan mandi tersedia dengan lengkap. Seolah rumah itu memang sudah dipersiapkan untuk seseorang yang akan tinggal di sana. Setelah itu, Renata menemukan sebuah ruangan kecil yang tampaknya digunakan sebagai ruang kerja. Rak-rak buku memenuhi salah satu sisi dinding. Renata mendekat. Matanya membaca beberapa judul buku yang tersusun rapi. Ada buku tentang bisnis, manajemen, hukum, hingga beberapa novel klasik. Dia mengusap perlahan punggung salah satu buku. "Dia suka membaca," gumam Renata pelan. Entah mengapa, selama beberapa jam mengenal Dirga, Renata merasa pria itu seperti sebuah buku yang tertutup rapat. Tenang, dingin, dan tidak banyak bicara. Namun, mungkin menyimpan banyak hal yang tidak diketahui orang lain. Renata tidak ingin terlalu memikirkan pria itu. Lagi pula, dirinya hanya menumpang sementara. Tidak ada alasan baginya untuk ingin mengetahui kehidupan pribadi Dirga lebih jauh. Akhirnya, Renata menuju kamar tidur yang telah ditunjukkan Dirga sebelumnya. Begitu pintu dibuka, langkah Renata terhenti. Kamar itu dipersiapkan dengan begitu baik. Seprai putih tampak masih baru dan terpasang rapi di atas tempat tidur berukuran besar. Selimut dilipat dengan sempurna di bagian bawah ranjang. Dua bantal tersusun berdampingan, sementara sebuah handuk bersih telah diletakkan dengan rapi di atas tempat tidur. Di samping ranjang terdapat meja kecil dengan lampu tidur. Lemari kayu berdiri di sudut ruangan. Tidak mewah, tetapi semuanya terasa cukup Renata masuk perlahan, lalu menutup pintu di belakangnya. Dia meletakkan tasnya di sisi ranjang. Tas itu tidak besar. Hanya berisi beberapa pakaian, buku kuliah, laptop yang sudah cukup tua, dan beberapa barang pribadi yang berhasil dia bawa ketika meninggalkan rumah sebelumnya. Hanya itu yang tersisa dari hidupnya. Perlahan, Renata duduk di tepi tempat tidur. Matanya menyapu setiap sudut ruangan. Untuk pertama kalinya sejak sore tadi, dia merasa aman. Perasaan itu datang begitu tiba-tiba hingga membuat tenggorokannya tercekat. Tak ada bentakan. Tak ada tatapan sinis. Tak ada suara yang mengatakan bahwa dirinya hanya menjadi beban. Tak ada yang menyuruhnya pergi nTak ada yang membuatnya merasa tidak diinginkan. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya kembali jatuh. Renata menundukkan wajah. Setetes, lalu setetes lagi. Namun kali ini, air mata itu bukan karena kesedihan. Melainkan karena lega. Renata membuka tasnya dan mengambil sebuah bingkai foto kecil. Foto itu sudah sedikit kusam di bagian pinggir. Di dalamnya terdapat seorang pria dan wanita yang tersenyum bahagia dengan Renata kecil berada di tengah mereka. Foto itu berisi kedua orang tua Renata. Orang-orang yang sudah lama meninggalkannya. Renata memeluk bingkai foto itu ke dadanya. "Ma, Pa." Suara Renata pelan. Nyaris seperti bisikan. "Renata baik-baik saja." Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, Renata sendiri tahu bahwa dia sedang berusaha meyakinkan dirinya. Gadis itu menghapus air matanya. "Aku memang belum tahu besok akan bagaimana. Tapi, malam ini aku baik-baik saja." Renata kembali tersenyum kecil sambil menatap wajah kedua orang tuanya dalam foto. "Jangan khawatir, ya."Sejak pagi, Renata terlihat lebih ceria dari biasanya. Ia duduk di salah satu sudut kafe kampus sambil menyeruput minuman dingin. Laptop terbuka di hadapannya, tetapi sejak beberapa menit lalu, layar itu nyaris tidak disentuh.Senyum tipis beberapa kali muncul di wajahnya. Celina yang duduk di seberang meja tentu saja menyadarinya. Wanita itu menyipitkan mata."Kamu aneh," ucap Celina.Renata yang sedang menggulir layar laptop langsung menoleh."Aneh bagaimana?""Dari tadi senyum sendiri," jawab Celina."Aku tidak senyum," bantah Renata."Barusan senyum."Celina menunjuk wajah Renata."Itu. Sekarang juga."Renata buru-buru menundukkan kepala. Dia pura-pura membaca sesuatu di layar laptop. Celina tertawa kecil."Jangan-jangan ada sesuatu?" tanya Celina curiga.Renata menggeleng. "Enggak.""Ren.""Hm?""Kita sudah berteman hampir empat tahun." Celina menopang dagunya. "Kalau kamu sedang menyembunyikan sesuatu, aku bisa tahu."Jantung Renata berdegup sedikit lebih cepat. Dia tahu Celina
Keesokan harinya, Renata menjalani hari dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia berangkat kuliah sambil tersenyum. Langkahnya terasa ringan, bahkan suasana kampus yang biasanya ia lewati tanpa banyak perhatian pagi itu tampak berbeda.Pikiran wanita itu masih dipenuhi kejadian semalam. Pembicaraannya dengan Ratih tentang pernikahan, tatapan Dirga, dan terutama, genggaman tangan pria itu di bawah meja.Sentuhan sederhana tersebut terus teringat hingga membuat sudut bibir Renata beberapa kali terangkat tanpa sadar.Saat jam istirahat, Renata duduk di bangku dekat taman kampus sambil membuka botol minumnya. Baru beberapa teguk dia minum ketika Celina datang dan duduk di sampingnya. Sahabatnya itu langsung memperhatikan wajah Renata."Ren, kamu kenapa?"Renata menoleh bingung. "Kenapa?"Celina menyipitkan mata."Kamu dari tadi senyum-senyum sendiri."Renata refleks menyentuh pipinya."Enggak.""Jangan bohong!"Celina menatap wanita itu penuh
Ponsel di atas meja kembali bergetar. Dirga masih menatap layar tanpa berniat menyentuhnya. Nama itu terpampang jelas di hadapannya.Bianca.Sudah lima tahun. Lima tahun sejak terakhir kali wanita itu menghubunginya. Selama itu pula, Dirga berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua yang berhubungan dengan Bianca telah selesai.Ternyata tidak. Setidaknya, tidak sepenuhnya."Mas?"Suara Renata membuat Dirga tersadar. Dia segera membalikkan ponselnya."Ya?""Kenapa?" tanya Renata.Dirga menggeleng."Tidak apa-apa."Namun Renata bisa melihat perubahan pada pria itu.nBeberapa detik sebelumnya, Dirga masih berbicara santai dengan sang ibu. Sekarang ekspresinya berubah tegang."Kalau ada pekerjaan, saya bisa pulang," lanjut Renata.Dirga langsung menatapnya."Tidak perlu.""Tapi, sepertinya Mas sedang ada urusan.""Saya akan mengantarmu pulang,” ujar Dirga.Renata tidak bertanya lagi. Dia tahu ada sesuatu yang disembunyikan Dirga. Namun, mereka belum cukup lama saling mengenal untuk membuatnya
Renata terkejut mendengar ucapan Ratih."Secepatnya?"Suara wanita itu terdengar nyaris seperti bisikan. Dia menatap Ratih dengan mata membulat, seolah berharap wanita itu akan tertawa dan mengatakan bahwa perkataannya tadi hanya bercanda. Namun, Ratih justru mengangguk mantap."Mama tidak ingin kalian hidup dalam keadaan seperti sekarang terlalu lama."Ratih memandang keduanya bergantian. Nada suaranya lembut, tetapi ada ketegasan yang sulit dibantah.Dirga yang sejak tadi diam akhirnya mengalihkan pandangan kepada Renata. Dia bisa melihat dengan jelas kegugupan di wajah wanita itu. Jemari Renata saling bertaut di atas pangkuannya, sesekali bergerak gelisah. Dirga hanya menarik napas pelan."Kapan, Tante?" tanya Renata.Ratih tampak berpikir sejenak. Matanya bergerak ke atas, kemudian kembali menatap mereka."Dua minggu?"Renata hampir tersedak. "Dua minggu?"Nada suara wanita itu meninggi tanpa sadar. Ratih terkekeh kecil melihat reaksinya."Iya. Kenapa? Terlalu lama?""Justru terl
Makan malam berlangsung lebih lama dari yang Renata bayangkan. Awalnya, dia mengira dirinya akan duduk dalam diam sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan singkat dari Ratih. Namun perlahan, suasana mulai mencair.Ratih ternyata tidak sekeras yang dibayangkan Renata. Wanita itu beberapa kali menceritakan masa kecil Dirga, termasuk kebiasaannya yang sulit dibangunkan ketika masih sekolah."Mas Dirga pernah susah bangun?" Renata menoleh sambil menahan senyum.Ratih langsung terkekeh."Sangat susah. Kalau hari libur, dia bisa tidur sampai siang.""Ma," potong Dirga. Pria yang duduk di sebelah Renata langsung menghela napas. "Kenapa cerita itu harus dibahas?""Supaya Renata tahu kalau calon suaminya tidak sesempurna yang dia kira."Wajah Renata langsung memerah ketika Ratih menyebut kata calon suami. Dia menunduk sambil memainkan sendok. Dirga justru tersenyum melihat reaksinya."Mas Dirga memang kelihatan seperti orang yang disiplin," sambung Renata."Itu sekarang," sahut Ratih. "Dulu berbe
Mobil akhirnya memasuki halaman rumah keluarga Mahardika. Renata perlahan menatap bangunan besar di hadapannya.Rumah itu jauh lebih megah daripada rumah tamu tempatnya tinggal. Pilar-pilar tinggi berdiri kokoh di bagian depan. Halaman luas terbentang dengan taman yang tertata rapi. Lampu-lampu taman mulai menyala, memantulkan cahaya hangat ke permukaan jalan.Renata menelan ludah. Dia tiba-tiba merasa kecil."Aku benar-benar akan masuk ke sana?" gumam Renata.Dirga turun dari mobil. Dia kemudian berjalan mengitari kendaraan dan membukakan pintu untuk Renata.Renata keluar perlahan. Dirga memperhatikan wajahnya yang terlihat tegang."Masih bisa kabur," ucap Dirga.Renata langsung menatapnya tajam."Mas Dirga!"Dirga tersenyum. "Saya bercanda."Renata mengembuskan napas panjang."Jangan bercanda sekarang.""Baik."Dirga kemudian mengulurkan tangannya. Renata memandang tangan itu dengan sedikit bingung."Untuk apa?""Supaya kamu tidak kabur."Renata memutar matanya. Namun setelah bebera







