Compartir

Bab 7

last update Fecha de publicación: 2026-09-01 19:03:40

Mobil yang dikendarai Dirga melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang. Hujan masih turun rintik-rintik, membentuk butiran air yang terus mengalir di kaca mobil. Lampu-lampu kendaraan dari arah berlawanan memantulkan cahaya kekuningan yang tampak samar di balik derasnya embun.

Di dalam mobil, suasana begitu hening. Renata duduk di kursi penumpang sambil memeluk tas yang sejak tadi tidak pernah dilepaskan. Pandangannya mengarah ke luar jendela, tetapi pikirannya melayang jauh.

Dalam satu hari, hidup Renata berubah. Rumah yang dibangun dengan susah payah oleh almarhum ayahnya kini bukan lagi tempat yang bisa dia sebut sebagai rumah. Di sanalah gadis itu tumbuh, ibunya mengajarinya memasak, dan ayahnya selalu menunggu di teras setiap kali pulang sekolah.

Kini semua itu terasa begitu jauh. Bukan karena rumahnya berpindah tempat, melainkan karena Renata telah diusir dari sana. Dadanya kembali terasa sesak. Tanpa sadar, jemarinya menggenggam bingkai foto kecil kedua orang tuanya yang berada di dalam tas.

Dirga melirik sekilas ke arahnya. Dia bukan pria yang pandai menghibur. Apalagi kepada seseorang yang baru dikenalnya beberapa jam lalu. Namun, melihat wajah Renata yang terus menatap kosong membuatnya merasa harus mengatakan sesuatu.

"Jangan terlalu dipikirkan!" ujar Dirga.

Renata menoleh perlahan. Sementara itu, Dirga tetap fokus mengemudi.

"Maksud saya ... malam ini istirahat dulu. Besok baru pikirkan langkah selanjutnya," terang Dirga.

Renata tersenyum tipis. "Terima kasih."

Hening kembali menyelimuti mereka. Beberapa menit kemudian, Dirga kembali membuka percakapan.

"Maaf ... sejak tadi kita bahkan belum sempat berkenalan."

Renata tampak sedikit canggung, lalu mengangguk kecil.

"Iya juga."

"Saya Dirga Mahardika."

Dirga mengulurkan tangan sesaat ketika mobil berhenti di lampu merah. Renata sempat ragu, tetapi akhirnya menyambut uluran tangan itu dengan sopan.

"Renata Prameswari."

"Mahasiswi semester akhir, kan?" tanya Dirga.

"Iya. Jurusan Manajemen."

"Sambil bekerja di kafe?"

Renata mengangguk.

"Saya kerja paruh waktu di Lumiere Café. Lumayan untuk biaya kuliah."

Dirga memperhatikan wajahnya sekilas. "Tidak mudah."

Renata tersenyum pahit. Hidupnya memang tidak seperti mahasiswa lain. Namun, dia tetap menjalani dengan harapan suatu saat bisa mengubah nasib.

"Awalnya memang berat. Tapi, lama-lama terbiasa."

"Lalu, sekarang?"

Renata terdiam beberapa detik. Pikirannya mulai kembali ke saat dirinya diusir dari rumah.

"Sekarang ... sepertinya harus mulai semuanya dari awal lagi."

Kalimat itu membuat suasana kembali sunyi. Dirga tidak bertanya lebih jauh. Dia tahu ada luka yang belum siap diceritakan.

Tak lama kemudian, mobil memasuki kawasan perumahan elite yang tenang. Pepohonan rindang berjajar di sepanjang jalan, sementara lampu taman memancarkan cahaya hangat yang membuat suasana terasa damai.

Renata menatap ke sekeliling dengan kagum. Jalannya bersih. Rumah-rumah berdiri rapi dengan taman yang terawat. Tak terlihat kebisingan seperti di pusat kota.

Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah bergaya minimalis dua lantai. Rumah itu tidak terlalu besar, tetapi terlihat elegan dan nyaman. Cat berwarna putih dipadukan aksen kayu membuat suasananya terasa hangat. Di halaman depan tumbuh beberapa bunga dan tanaman hias yang tertata rapi.

Renata menoleh kepada Dirga.

"Rumah Bapak?" tanya Renata.

Dirga menggeleng.

"Bukan. Rumah utama saya ada di seberang kompleks. Ini rumah tamu. Sesekali dipakai kalau ada rekan bisnis dari luar kota."

Renata mengangguk pelan. Matanya kembali memandang kediaman itu.

Dirga turun lebih dulu, kemudian membuka bagasi untuk mengambil koper Renata.

"Tidak usah, Pak. Biar saya saja."

"Tidak apa-apa."

"Tapi, itu barang saya," sahut Renata.

Dirga tersenyum tipis.

"Kalau begitu, anggap saja ini balasan karena tadi Anda sudah percaya ikut dengan orang asing."

Renata tidak bisa menahan senyum kecilnya.

"Kalau dipikir-pikir ... saya memang nekat."

"Saya juga berpikir begitu."

Mereka tertawa pelan untuk pertama kalinya malam itu. Suasana yang sebelumnya dipenuhi kesedihan perlahan menjadi lebih ringan.

Dirga membuka pintu rumah menggunakan sidik jari, lalu menyalakan lampu. Ruangan yang semula gelap langsung dipenuhi cahaya hangat.

Renata melangkah masuk dengan perlahan. Ruang tamunya sederhana, tetapi nyaman. Sofa abu-abu menghadap televisi berukuran besar. Sebuah rak buku memenuhi salah satu sisi dinding, sementara beberapa lukisan pemandangan menghiasi ruangan. Aroma kayu bercampur pewangi ruangan membuat tempat itu terasa begitu menenangkan.

"Silakan duduk!"

Renata masih berdiri. Entah mengapa, dia merasa sungkan.

"Apa ... saya benar-benar boleh tinggal di sini?"

"Boleh."

"Tapi, saya takut merepotkan."

"Saya memang jarang memakai rumah ini."

Dirga berjalan menuju dapur kecil. Dia lalu membuka kulkas.

"Kulkasnya masih berisi air mineral, telur, roti, buah, dan beberapa bahan makanan. Besok saya minta orang mengantarkan kebutuhan lainnya."

Renata buru-buru menggeleng.

"Tidak usah. Saya masih punya tabungan dan gaji bulan ini."

Dirga menatapnya beberapa saat. Dia bisa melihat jelas bahwa Renata bukan tipe gadis yang ingin bergantung pada orang lain.

"Baik."

Jawaban singkat itu justru membuat Renata merasa dihargai. Pria itu membantu tanpa merendahkan. Memberi tempat tinggal tanpa membuatnya merasa berutang budi.

"Kalau ada apa-apa, ini nomor saya."

Dirga mengambil sebuah kartu nama dari dompetnya. Renata menerimanya dengan kedua tangan.

"Terima kasih."

"Simpan saja. Tidak perlu sungkan menghubungi saya kalau ada keadaan darurat."

Renata mengangguk pelan. "Saya akan mengingat kebaikan Bapak."

"Jangan panggil saya 'Bapak'."

Renata tampak bingung. "Lalu?"

"Dirga saja."

Renata tersenyum kecil.

"Kalau begitu ... terima kasih, Mas Dirga."

Entah mengapa, panggilan sederhana itu membuat sudut bibir Dirga ikut terangkat.

"Kalau begitu, saya pamit."

Renata berdiri.

"Terima kasih ... sungguh."

Tatapan mereka bertemu sesaat. Untuk pertama kalinya malam itu, Dirga melihat senyum Renata yang benar-benar tulus. Meski matanya masih sembap karena menangis, senyum itu membuat wajah gadis tersebut tampak jauh lebih hangat.

"Saya hanya berharap besok keadaan Anda lebih baik."

Setelah mengatakan itu, Dirga berbalik meninggalkan rumah tersebut.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 61 Ingatan yang Kembali

    Dirga masih menggenggam tangan Renata ketika mereka berjalan meninggalkan area kafe. Langkah pria itu tidak terburu-buru, seolah ingin memastikan istrinya benar-benar merasa tenang setelah kejadian yang baru saja mereka alami.Sementara itu, Renata sesekali melirik wajah suaminya. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, tetapi entah mengapa, ia justru merasa malu untuk memulainya. Terlebih setelah mendengar pengakuan Dirga bahwa pria itu datang karena merindukannya.Sebuah alasan sederhana yang berhasil membuat hatinya berdebar lebih cepat."Mas Dirga.""Hm?"Dirga menoleh. Tatapannya langsung tertuju kepada Renata yang berjalan di sampingnya. Ia memperlambat langkah ketika menyadari istrinya seperti sedang memikirkan sesuatu."Kamu kenapa tiba-tiba datang?"Pertanyaan itu sebenarnya sudah muncul sejak Dirga pertama kali memasuki kafe. Renata tidak menyangka suaminya akan datang tanpa pemberitahuan, apalagi ketika ia masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya.Dirga menatapnya sejenak sebe

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 60 Perlindungan Dirga

    Renata menahan napas. Entah kenapa, satu kata itu membuat dadanya menghangat.Suaminya.Dirga mengucapkannya tanpa keraguan, tanpa perlu menjelaskan panjang lebar. Seolah status itu adalah sesuatu yang memang ingin dia tegaskan kepada siapa pun. Padahal, hubungan mereka selama ini masih menyimpan banyak hal yang belum sepenuhnya dipahami Renata.Pernikahan mereka bermula dari keadaan yang tidak sederhana. Ada alasan, kesepakatan, dan keputusan yang awalnya terasa lebih masuk akal daripada romantis. Namun, belakangan ini, Dirga semakin sering melakukan hal-hal kecil yang membuat Renata lupa bahwa pernikahan mereka tidak dimulai dari kisah cinta seperti kebanyakan pasangan. Kedatangan Dirga hari itu adalah salah satunya.Dirga menatap pria tersebut tanpa senyum. Dia tidak perlu melirik Renata untuk mengetahui bahwa istrinya berdiri tepat di belakangnya."Saya dengar dari istri saya bahwa Anda beberapa kali mengganggunya."Pria itu tertawa kecil. Tawanya terdengar dipaksakan, seolah dia

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 59 Dejavu

    Pagi itu, Renata kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Setelah beberapa hari terakhir dipenuhi kejutan—mulai dari pernikahannya yang akhirnya diketahui Celina hingga pertemuan dengan keluarga Dirga—Renata justru merasa membutuhkan sesuatu yang sederhana. Bekerja.Bekerja di kafe selalu membuat pikirannya lebih tenang. Di sana, dia bisa menjadi Renata yang biasa. Bukan istri seorang pengusaha kaya. Bukan bagian dari keluarga Mahardika. Hanya Renata. Seorang wanita yang sedang berusaha menyelesaikan kuliah dan membangun kehidupannya sendiri.Pagi itu, Renata mengenakan seragam Lumière Café lalu mengikat rambutnya dengan rapi."Renata, meja lima pesanannya sudah siap," panggil salah satu rekannya."Iya."Renata mengambil nampan dan berjalan menuju meja pelanggan.Beberapa jam berlalu dengan tenang. Sampai seorang pria datang sendirian. Usianya mungkin sekitar tiga puluh tahun. Dia duduk di salah satu meja dekat kasir, lalu beberapa kali memanggil Renata meskipun sebenarnya pelaya

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 58 Genggaman Tangan

    Malam semakin larut. Setelah berbincang sebentar dengan Renata dan Dirga, Bi Sari akhirnya berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Dia masih sempat mengingatkan mereka agar tidak tidur terlalu malam sebelum menutup percakapan dengan senyum ramah. Renata membalas senyum itu sebelum berjalan menuju kamar bersama Dirga. Begitu memasuki kamar, suasana yang lebih tenang menyambut mereka. Lampu tidur memancarkan cahaya hangat, sementara udara sejuk dari pendingin ruangan membuat Renata merasa nyaman setelah menjalani hari yang cukup panjang. Dirga meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian tidur. Sementara itu, Renata duduk di depan meja rias dan mulai melepas anting-anting yang dikenakannya sejak sore. Dia meletakkan perhiasan itu ke dalam kotak kecil, lalu memperhatikan pantulan wajahnya di cermin. Malam itu benar-benar berbeda dari yang dibayangkannya. Dia datang ke rumah utama dengan perasaan gugup, tetapi pulang dengan membawa begitu

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 57 Pulang ke Rumah

    Begitu tiba di rumah, Renata dan Dirga mendapati Bi Sari sudah menunggu di ruang tengah. Wanita paruh baya itu duduk di sofa sambil menonton televisi dengan volume kecil. Namun, begitu mendengar suara pintu terbuka, dia segera menoleh. Wajahnya langsung menunjukkan rasa ingin tahu ketika melihat keduanya masuk bersama. “Sudah pulang?” “Iya, Bi,” jawab Renata. Renata melepaskan sepatunya, lalu berjalan masuk ke ruang tengah. Dirga menyusul di belakangnya sambil melonggarkan kerah kemeja yang sejak tadi terasa sedikit menyesakkan. Makan malam bersama keluarga besarnya memang berjalan cukup lancar, tetapi ada banyak hal yang masih berputar di kepala Renata. Bi Sari memperhatikan ekspresi mereka bergantian. Dia sudah cukup lama bekerja di rumah itu sehingga bisa mengenali perubahan kecil pada wajah majikannya maupun Renata. “Bagaimana makan malamnya?” tanya Bi Sari. Renata duduk di sofa sambil tersenyum kecil. “Ramai.” “Ramai bagaimana, Nyonya? Banyak orang?” “Iya. Keluar

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 56 Tidak Sendirian

    Setelah makan malam, perjalanan pulang terasa lebih tenang. Renata duduk di samping Dirga. Lampu-lampu jalan bergerak melewati jendela mobil. Beberapa menit mereka tidak berbicara. “Mas Dirga,” ucap Renata membuka percakapan. Sejak meninggalkan rumah utama keluarga Mahardika, Renata lebih banyak diam di kursi penumpang. Pikirannya masih dipenuhi kejadian malam itu, terutama saat mengetahui bahwa Celina, sahabat yang selama ini menjadi tempatnya berbagi cerita, ternyata merupakan keponakan suaminya sendiri. Rasanya masih sulit dipercaya. Selama ini, Renata dan Celina begitu dekat, tetapi ada satu hal besar tentang Dirga di keluarganya yang sama sekali tidak pernah diketahuinya. “Hm?” Dirga menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. Renata menoleh ke arahnya. Pria itu tampak tenang seperti biasa, kedua tangannya sesekali bergerak mengikuti arah kemudi. Berbeda dengannya yang sejak tadi memikirkan berbagai kemungkinan, Dirga seolah tidak terlalu mengkhawatirkan kejadian ma

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status