LOGINMobil yang dikendarai Dirga melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang. Hujan masih turun rintik-rintik, membentuk butiran air yang terus mengalir di kaca mobil. Lampu-lampu kendaraan dari arah berlawanan memantulkan cahaya kekuningan yang tampak samar di balik derasnya embun.
Di dalam mobil, suasana begitu hening. Renata duduk di kursi penumpang sambil memeluk tas yang sejak tadi tidak pernah dilepaskan. Pandangannya mengarah ke luar jendela, tetapi pikirannya melayang jauh. Dalam satu hari, hidup Renata berubah. Rumah yang dibangun dengan susah payah oleh almarhum ayahnya kini bukan lagi tempat yang bisa dia sebut sebagai rumah. Di sanalah gadis itu tumbuh, ibunya mengajarinya memasak, dan ayahnya selalu menunggu di teras setiap kali pulang sekolah. Kini semua itu terasa begitu jauh. Bukan karena rumahnya berpindah tempat, melainkan karena Renata telah diusir dari sana. Dadanya kembali terasa sesak. Tanpa sadar, jemarinya menggenggam bingkai foto kecil kedua orang tuanya yang berada di dalam tas. Dirga melirik sekilas ke arahnya. Dia bukan pria yang pandai menghibur. Apalagi kepada seseorang yang baru dikenalnya beberapa jam lalu. Namun, melihat wajah Renata yang terus menatap kosong membuatnya merasa harus mengatakan sesuatu. "Jangan terlalu dipikirkan!" ujar Dirga. Renata menoleh perlahan. Sementara itu, Dirga tetap fokus mengemudi. "Maksud saya ... malam ini istirahat dulu. Besok baru pikirkan langkah selanjutnya," terang Dirga. Renata tersenyum tipis. "Terima kasih." Hening kembali menyelimuti mereka. Beberapa menit kemudian, Dirga kembali membuka percakapan. "Maaf ... sejak tadi kita bahkan belum sempat berkenalan." Renata tampak sedikit canggung, lalu mengangguk kecil. "Iya juga." "Saya Dirga Mahardika." Dirga mengulurkan tangan sesaat ketika mobil berhenti di lampu merah. Renata sempat ragu, tetapi akhirnya menyambut uluran tangan itu dengan sopan. "Renata Prameswari." "Mahasiswi semester akhir, kan?" tanya Dirga. "Iya. Jurusan Manajemen." "Sambil bekerja di kafe?" Renata mengangguk. "Saya kerja paruh waktu di Lumiere Café. Lumayan untuk biaya kuliah." Dirga memperhatikan wajahnya sekilas. "Tidak mudah." Renata tersenyum pahit. Hidupnya memang tidak seperti mahasiswa lain. Namun, dia tetap menjalani dengan harapan suatu saat bisa mengubah nasib. "Awalnya memang berat. Tapi, lama-lama terbiasa." "Lalu, sekarang?" Renata terdiam beberapa detik. Pikirannya mulai kembali ke saat dirinya diusir dari rumah. "Sekarang ... sepertinya harus mulai semuanya dari awal lagi." Kalimat itu membuat suasana kembali sunyi. Dirga tidak bertanya lebih jauh. Dia tahu ada luka yang belum siap diceritakan. Tak lama kemudian, mobil memasuki kawasan perumahan elite yang tenang. Pepohonan rindang berjajar di sepanjang jalan, sementara lampu taman memancarkan cahaya hangat yang membuat suasana terasa damai. Renata menatap ke sekeliling dengan kagum. Jalannya bersih. Rumah-rumah berdiri rapi dengan taman yang terawat. Tak terlihat kebisingan seperti di pusat kota. Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah bergaya minimalis dua lantai. Rumah itu tidak terlalu besar, tetapi terlihat elegan dan nyaman. Cat berwarna putih dipadukan aksen kayu membuat suasananya terasa hangat. Di halaman depan tumbuh beberapa bunga dan tanaman hias yang tertata rapi. Renata menoleh kepada Dirga. "Rumah Bapak?" tanya Renata. Dirga menggeleng. "Bukan. Rumah utama saya ada di seberang kompleks. Ini rumah tamu. Sesekali dipakai kalau ada rekan bisnis dari luar kota." Renata mengangguk pelan. Matanya kembali memandang kediaman itu. Dirga turun lebih dulu, kemudian membuka bagasi untuk mengambil koper Renata. "Tidak usah, Pak. Biar saya saja." "Tidak apa-apa." "Tapi, itu barang saya," sahut Renata. Dirga tersenyum tipis. "Kalau begitu, anggap saja ini balasan karena tadi Anda sudah percaya ikut dengan orang asing." Renata tidak bisa menahan senyum kecilnya. "Kalau dipikir-pikir ... saya memang nekat." "Saya juga berpikir begitu." Mereka tertawa pelan untuk pertama kalinya malam itu. Suasana yang sebelumnya dipenuhi kesedihan perlahan menjadi lebih ringan. Dirga membuka pintu rumah menggunakan sidik jari, lalu menyalakan lampu. Ruangan yang semula gelap langsung dipenuhi cahaya hangat. Renata melangkah masuk dengan perlahan. Ruang tamunya sederhana, tetapi nyaman. Sofa abu-abu menghadap televisi berukuran besar. Sebuah rak buku memenuhi salah satu sisi dinding, sementara beberapa lukisan pemandangan menghiasi ruangan. Aroma kayu bercampur pewangi ruangan membuat tempat itu terasa begitu menenangkan. "Silakan duduk!" Renata masih berdiri. Entah mengapa, dia merasa sungkan. "Apa ... saya benar-benar boleh tinggal di sini?" "Boleh." "Tapi, saya takut merepotkan." "Saya memang jarang memakai rumah ini." Dirga berjalan menuju dapur kecil. Dia lalu membuka kulkas. "Kulkasnya masih berisi air mineral, telur, roti, buah, dan beberapa bahan makanan. Besok saya minta orang mengantarkan kebutuhan lainnya." Renata buru-buru menggeleng. "Tidak usah. Saya masih punya tabungan dan gaji bulan ini." Dirga menatapnya beberapa saat. Dia bisa melihat jelas bahwa Renata bukan tipe gadis yang ingin bergantung pada orang lain. "Baik." Jawaban singkat itu justru membuat Renata merasa dihargai. Pria itu membantu tanpa merendahkan. Memberi tempat tinggal tanpa membuatnya merasa berutang budi. "Kalau ada apa-apa, ini nomor saya." Dirga mengambil sebuah kartu nama dari dompetnya. Renata menerimanya dengan kedua tangan. "Terima kasih." "Simpan saja. Tidak perlu sungkan menghubungi saya kalau ada keadaan darurat." Renata mengangguk pelan. "Saya akan mengingat kebaikan Bapak." "Jangan panggil saya 'Bapak'." Renata tampak bingung. "Lalu?" "Dirga saja." Renata tersenyum kecil. "Kalau begitu ... terima kasih, Mas Dirga." Entah mengapa, panggilan sederhana itu membuat sudut bibir Dirga ikut terangkat. "Kalau begitu, saya pamit." Renata berdiri. "Terima kasih ... sungguh." Tatapan mereka bertemu sesaat. Untuk pertama kalinya malam itu, Dirga melihat senyum Renata yang benar-benar tulus. Meski matanya masih sembap karena menangis, senyum itu membuat wajah gadis tersebut tampak jauh lebih hangat. "Saya hanya berharap besok keadaan Anda lebih baik." Setelah mengatakan itu, Dirga berbalik meninggalkan rumah tersebut.Mobil yang dikendarai Dirga melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang. Hujan masih turun rintik-rintik, membentuk butiran air yang terus mengalir di kaca mobil. Lampu-lampu kendaraan dari arah berlawanan memantulkan cahaya kekuningan yang tampak samar di balik derasnya embun.Di dalam mobil, suasana begitu hening. Renata duduk di kursi penumpang sambil memeluk tas yang sejak tadi tidak pernah dilepaskan. Pandangannya mengarah ke luar jendela, tetapi pikirannya melayang jauh.Dalam satu hari, hidup Renata berubah. Rumah yang dibangun dengan susah payah oleh almarhum ayahnya kini bukan lagi tempat yang bisa dia sebut sebagai rumah. Di sanalah gadis itu tumbuh, ibunya mengajarinya memasak, dan ayahnya selalu menunggu di teras setiap kali pulang sekolah.Kini semua itu terasa begitu jauh. Bukan karena rumahnya berpindah tempat, melainkan karena Renata telah diusir dari sana. Dadanya kembali terasa sesak. Tanpa sadar, jemarinya menggenggam bingkai foto kecil kedua orang tuanya yang b
Renata spontan menggeleng. "Tidak usah. Merepotkan." "Malam sudah larut," kata Dirga. Suara Dirga terdengar tenang. Dia mengedarkan pandangannya ke sepanjang jalan di depan Lumière Café yang semakin sepi. Gerimis belum juga berhenti, sementara kendaraan yang melintas hanya sesekali terlihat. Renata menggenggam ponselnya lebih erat. "Aku bisa menunggu." Gadis itu berusaha terdengar yakin, meski aplikasi ojek online di layar ponselnya masih belum menunjukkan tanda-tanda ada pengemudi yang menerima pesanannya. Dirga kembali mengalihkan pandangan ke arah jalan yang lengang, lalu berkata, "Daerah sini tidak aman." Kalimat itu diucapkannya tanpa bermaksud memaksa. Dia hanya menyampaikan apa yang baru saja mereka alami beberapa menit lalu. Renata ikut menoleh ke arah jalan yang mulai gelap. Suasana yang tadinya biasa saja terasa berbeda. Bayangan wajah pria mabuk yang tadi mencengkeram tangannya kembali terlintas di benaknya. Bagaimana jika pria itu kembali? Pikiran itu membuat bulu kud
Renata menoleh ke arah pria bertubuh tinggi yang baru saja turun dari mobil hitam itu. Sorot matanya tajam, wajahnya tetap datar tanpa menunjukkan kepanikan sedikit pun. Dia berdiri tegak dengan kedua tangan di samping tubuh, tetapi auranya memancarkan wibawa yang sulit diabaikan.Pria mabuk yang masih mencengkeram pergelangan tangan Renata mendengus kesal. Dia menoleh dengan tatapan penuh tantangan. "Siapa kamu? Jangan ikut campur urusanku!" Pria itu melangkah maju setengah langkah, berusaha menunjukkan keberaniannya meski tubuhnya sedikit oleng karena pengaruh alkohol. Sementara itu, Renata masih berusaha melepaskan diri. Pergelangan tangannya mulai terasa sakit akibat cengkeraman yang terlalu kuat. Napasnya memburu, sementara air mata terus membasahi pipinya. Pria berjas hitam itu tidak bergeming sedikit pun. Tatapannya justru beralih pada tangan yang masih mencengkeram Renata, lalu kembali menatap wajah pria mabuk tersebut. Ekspresi pria itu tetap tenang. Namun, ketenangan itula
Malam semakin larut. Jarum jam perlahan mendekati pukul sepuluh ketika ketiga pria yang membuat Renata gelisah itu akhirnya berdiri dari kursi mereka. Setelah membayar tagihan, mereka melangkah keluar sambil sesekali masih melirik ke arah dalam kafe. Baru setelah pintu kaca tertutup rapat di belakang mereka, Renata mengembuskan napas lega. Ketegangan yang beberapa waktu lalu dia tahan perlahan menghilang, meski rasa waspada masih tersisa. Tak lama kemudian, jarum jam menunjukkan pukul setengah sebelas. Lampu di sebagian area pelanggan mulai dipadamkan sebagai tanda Lumière Café telah resmi tutup. Seperti biasa, seluruh karyawan saling berbagi tugas. Renata mengangkat gelas-gelas kotor ke dapur, merapikan kursi dan meja, lalu mengepel lantai hingga mengilap. Setelah memastikan semua pekerjaannya selesai, dia masuk ke ruang ganti untuk melepas seragam kerja dan mengenakan kembali pakaian yang dipakainya saat datang. Saat keluar dari ruang ganti sambil menyampirkan tas di bahu, Sisk
Renata menatap pantulan wajahnya di kaca halte.Matanya sembap akibat terlalu banyak menangis. Dia menepuk-nepuk pipinya pelan, berusaha menyamarkan bekas air mata. "Jangan kelihatan kalau habis nangis," gumam gadis itu lirih. Renata tidak ingin rekan-rekan kerjanya bertanya. Menjelaskan bahwa dirinya baru saja diusir dari rumah sendiri hanya akan membuat dadanya kembali sesak. Setelah menarik napas panjang, gadis itu memesan ojek online. Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti di depan halte. Renata duduk di jok belakang sambil memeluk koper kecilnya erat-erat. Sepanjang perjalanan, gadis itu hanya menatap jalanan yang mulai ramai. Deretan pertokoan, lampu lalu lintas, dan orang-orang yang berlalu-lalang seolah tak mampu mengalihkan pikirannya dari kejadian beberapa menit lalu. Bayangan wajah mendiang kedua orang tuanya silih berganti memenuhi benaknya. Dulu mereka berpesan agar Renata menjaga rumah itu, tetapi justru dirinya yang diusir tanpa memiliki kuasa untuk mempertahankan.
Rahang Arman mengeras. Dia melangkah mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah dari Renata. "Selama kami yang merawat rumah ini, kami yang berhak menentukan siapa yang tinggal di sini!" tegas Arman. Kalimat itu menggema di telinga Renata. Mereka bukan hanya merampas rumah peninggalan kedua orang tuanya. Mereka juga berusaha merampas haknya untuk merasa memiliki satu-satunya tempat yang menyimpan seluruh kenangan tentang keluarga yang telah tiada. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengusir pemilik rumah dari rumahnya sendiri? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Renata. Dadanya terasa sesak, seolah udara di rumah yang sudah menjadi tempatnya bertumbuh tiba-tiba tak lagi menyisakan ruang untuk bernapas.Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Renata. Dia menatap Arman dengan tatapan penuh luka. "Paman pernah bilang hanya akan menjaga rumah ini sampai aku lulus kuliah." Kalimat itu meluncur pelan.Renata masih mengingat jelas janji yang diucapkan pamannya beberapa hari setelah pem







