Home / Romansa / Istri Simpanan Pak Dosen / Bab 2 : Kontrak atau Takdir?

Share

Bab 2 : Kontrak atau Takdir?

Author: Devieshinta
last update publish date: 2026-04-21 14:40:33

Ruangan VIP rumah sakit itu mendadak terasa seperti ruang sidang yang mencekam bagi Alana. Ia masih berdiri mematung, menatap Aksa Dewantara yang tampak sangat tenang, seolah pria itu baru saja memesan kopi di kafe dan bukannya menyetujui sebuah perjodohan gila.

"Papa pasti bercanda, kan?" suara Alana pecah, hampir memekik. "Pa, dia ini dosen Alana! Dia orang yang kasih Alana nilai E! Dia... dia kaku kayak robot!"

"Jaga bicaramu, Alana," tegur Damar dengan suara lemah namun tegas. "Aksa adalah putra sahabat Papa. Dia pria yang bertanggung jawab. Papa sudah memercayakan kamu padanya."

Alana beralih menatap Aksa dengan tatapan menghunus. "Pak, Bapak pasti bercanda, kan? Bapak mau nikah sama mahasiswi Bapak sendiri? Bapak nggak punya pacar apa sampai harus mau dijodohin begini?"

Aksa membenarkan letak kacamatanya dengan gerakan tenang yang sangat menyebalkan. "Bagi saya, ini adalah amanah dari orang tua, Alana. Dan saya rasa, nilai E kamu itu memang murni karena kelalaianmu, bukan karena saya ingin menikahimu."

"Tapi saya nggak mau!" Alana berseru, matanya mulai memanas.

"Alana..." Wulan memegang bahu putrinya, mencoba menenangkan. "Papa sedang sakit. Kamu sudah janji tadi."

"Tapi nggak sama dia, Ma!"

Aksa melangkah maju, berdiri tepat di depan Alana sehingga gadis itu harus mendongak. Aroma parfum sandalwood yang maskulin dan dingin menyeruak masuk ke indra penciuman Alana.

"Jika kamu khawatir soal statusmu di kampus, kita bisa melakukan ini secara rahasia. Pernikahan siri, hanya keluarga inti yang tahu. Kamu tetap mahasiswa, saya tetap dosenmu. Tidak ada yang berubah di depan publik," ucap Aksa dengan nada bariton yang stabil.

"Siri? Rahasia?" Alana tertawa getir. "Bapak pikir ini film? Bapak mau saya jadi istri simpanan Bapak gitu?"

"Bukan istri simpanan," koreksi Aksa cepat. "Tapi istri yang sah secara agama namun dirahasiakan demi kelancaran studimu. Bukankah kamu tidak mau skripsimu terhambat karena skandal pernikahan dosen dan mahasiswa?"

Alana terdiam. Logika Aksa mulai menyerang pertahanannya. Tapi di dalam hatinya, ada Bara yang menunggu. Ada kehidupan kuliah yang normal yang ingin ia jalani. Namun, melihat ayahnya yang kembali terengah-engah di ranjang rumah sakit, Alana merasa terpojok.

"Oke," desis Alana akhirnya. "Tapi saya punya syarat. Di kampus, kita nggak saling kenal. Jangan atur hidup saya, dan jangan pernah berharap saya bakal jadi istri penurut kayak di dongeng-dongeng!"

Aksa hanya mengangkat sebelah alisnya. "Kita lihat saja nanti."

***

Tiga hari kemudian, di kediaman keluarga Danuarta, sebuah prosesi sederhana dilaksanakan. Tidak ada gaun pengantin mewah, hanya kebaya putih sederhana milik Alana. Tidak ada tamu undangan, hanya orang tua kedua belah pihak dan seorang penghulu beserta saksi keluarga.

"Saya terima nikah dan kawinnya Alana Danuarta binti Damar Danuarta dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

"Sah?"

"Sah!" Suara para saksi bergema.

Satu kata itu merenggut kebebasan Alana. Saat ia mencium punggung tangan Aksa—sesuai instruksi ibunya—ia merasakan kulit pria itu yang hangat namun tangannya sangat kokoh. Aksa hanya mengecup kening Alana singkat, sangat singkat hingga Alana hampir tidak merasakannya.

Setelah prosesi doa dan makan malam keluarga yang terasa sangat canggung, Galang dan Intan—orangtua Aksa, pamit pulang, begitu pula dengan Wulan, ibunya, yang harus kembali ke rumah sakit menjaga ayahnya.

"Alana, malam ini kamu pulang ke apartemen Aksa, ya? Barang-barang kamu sudah Mama pindahkan ke sana tadi sore," ujar Wulan sambil memeluk Alana di depan pintu.

"Ma, kok gitu? Alana mau di rumah aja!" protes Alana.

"Kamu sudah punya suami, Al. Nurut," bisik Wulan sebelum masuk ke mobil.

Kini, hanya tinggal mereka berdua di teras rumah yang mulai sepi. Alana berdiri gelisah, meremas ujung kebayanya. Ia melirik Aksa yang sedang sibuk dengan ponselnya.

"Ayo berangkat. Saya ada kelas jam delapan pagi besok, dan saya tidak suka begadang," ujar Aksa tanpa menoleh, langsung berjalan menuju mobil SUV hitamnya.

"Dosen gila," umpat Alana pelan.

***

Perjalanan menuju apartemen Aksa di pusat kota dilalui dengan keheningan yang mematikan. Alana hanya menatap jalanan Jakarta dari jendela, memikirkan bagaimana ia harus menjelaskan hal ini pada Bara, atau bagaimana ia harus bersikap di kelas Aksa lusa.

Sesampainya di apartemen mewah itu, Aksa membukakan pintu. Unit itu sangat rapi, didominasi warna abu-abu dan putih, sangat mencerminkan kepribadian pemiliknya yang membosankan.

Alana langsung menuju ruang tengah dan duduk di sofa. "Gue tidur di sini. Bapak tidur di kamar."

Aksa yang sedang melepaskan jam tangan mahalnya berhenti sejenak. Ia menatap Alana datar. "Alana, di sini tidak ada 'Bapak' dan 'Gue'. Dan kamu tidak akan tidur di sofa."

"Terus saya tidur di mana? Di lantai?" tantang Alana.

Tanpa diduga, Aksa melangkah mendekat. Ia tidak berhenti sampai jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Alana menelan ludah, ia bisa merasakan intimidasi dari tubuh Aksa yang jauh lebih besar darinya.

"Kamu istri saya sekarang. Suka atau tidak, ada aturan yang harus kamu ikuti di rumah ini," ucap Aksa rendah.

Tiba-tiba, tangan Aksa mencengkeram pergelangan tangan Alana dengan lembut namun kuat, lalu menariknya bangun dari sofa.

"Pak Aksa! Lepas! Mau ke mana?" Alana meronta.

"Ke kamar," jawab Aksa singkat sambil terus menarik Alana menuju kamar utama. "Sudah waktunya kamu belajar apa artinya menjadi istri seorang Aksa Dewantara."

Alana tersentak saat punggungnya menabrak pintu kamar yang baru saja ditutup dan dikunci oleh Aksa dari dalam. Jantungnya berdegup kencang melihat sorot mata Aksa yang kini terlihat berbeda—tidak lagi sedingin saat di kampus. “Pak Aksa... Bapak mau ngapain?!” pekik Alana dalam hati saat pria itu mulai melonggarkan dasinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Simpanan Pak Dosen   BAB 110

    "Al, jangan dilihat. Ayo pergi dari sini," cetus Keira sambil merenggut bahu Alana, mencoba memblokir pandangan sahabatnya dari papan mading utama. Namun semuanya sudah terlambat. Air mata Alana sudah lebih dulu luruh membasahi pipinya yang pucat pasi. Bisik-bisik kejam dari puluhan mahasiswa di sekeliling mereka mendadak terdengar laksana dengungan lebah yang mencekik warasnya. Tanpa membalas ucapan Keira, Alana membalikkan badan dan berlari sekencang mungkin menembus kerumunan. "Alana! Tunggu!" teriak Elara, bersiap mengejar dengan langkah lebar. "Biar gue yang cari ke area perpustakaan atas, El. Lo cek taman belakang sekarang," instruksi Keira cepat. Mereka berdua segera berpencar dengan kecemasan yang memuncak. Alana terus berlari menyusuri koridor, menaiki anak tangga dengan napas yang memburu, hingga langkahnya membawa masuk ke dalam perpustakaan pusat fakultas. Di jam kuliah seperti ini, lorong bagian belakang yang menyimpan buku-buku a

  • Istri Simpanan Pak Dosen   BAB 109

    "Jangan menoleh, Alana. Masuk kembali ke halaman rumah," perintah Aksa, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin di tengah keheningan malam. "Tapi mereka... mereka bawa sesuatu, Mas," bisik Alana, tangannya gemetar hebat saat meremas lengan kemeja Aksa. Aksa segera menarik tubuh Alana ke belakang punggung tegapnya, mengunci pandangan tajamnya pada dua orang bermotor di seberang jalan. Namun, bukannya menyerang, pengendara motor itu justru menggeber mesinnya dengan keras sekali sebelum akhirnya berbalik arah dan melesat pergi membelah kegelapan malam. Itu murni teror mental. "Mereka cuma mau menakut-nakuti kita," ucap Aksa, mengembuskan napas panjang sembari memeriksa draf map hitam di tangan kanannya. "Ardiansyah tahu kita mencari sesuatu di sini. Hubungi sopir keluarga, kita pulang pakai mobil lain." Keesokan paginya, teror yang sesungguhnya baru saja dimulai di area kampus. Bukan berupa ancaman fisik di jalanan sepi, melainkan pembunuhan

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 108: Map Hitam Mama Intan

    Malam kian larut ketika Aksa memutar kemudi mobilnya membelah jalanan pinggiran kota yang sepi. Di sampingnya, Alana duduk diam seraya menatap ke luar jendela. Ingatan tentang konspirasi besar antara Pak Subroto dan Ayah Bara yang dibeberkan Elara tadi siang benar-benar menguras energi mentalnya. Mobil mewah itu akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi yang menjulang. Di baliknya, berdiri sebuah rumah bergaya kolonial yang luas namun sudah tidak ditempati sejak keluarga besar Dewantara pindah ke kawasan elit pusat kota. Walau kosong, rumah ini tetap dijaga dan dirawat dengan sangat rapi. "Ayo turun, Alana," ajak Aksa lembut, mematikan mesin mobil. Alana melangkah turun, merapatkan jaket rajutnya karena hawa malam yang menusuk. "Kita mau ambil apa di sini, Mas?" "Petunjuk dari Ibu saya," jawab Aksa singkat seraya membuka pintu utama rumah menggunakan kunci khusus. Atmosfer di dalam rumah tua itu terasa sunyi dan dingin. A

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 107: Hasutan Sang Ayah

    Sementara Aksa menerima instruksi penting dari Mama Intan di balkon apartemennya, badai emosi yang berbeda sedang berkecamuk di dalam kediaman mewah keluarga Ardiansyah. Bara duduk di ruang kerja ayahnya dengan tatapan kosong. Di atas meja kaca di depannya, beberapa lembar draf foto tercetak beresolusi tinggi tersebar berantakan. Jantung Bara serasa dihantam godam besar saat matanya dipaksa menatap bukti-bukti itu: draf foto akta nikah siri dan pakta pernikahan atas nama Aksa Dewantara dan Alana Danuarta. Ardiansyah berdiri di dekat jendela, membelakangi putranya sambil menyesap cerutu dengan tenang. Asap tebal menguar, menciptakan atmosfer yang semakin menekan di dalam ruangan. "Kamu lihat sendiri, kan, Bara? Itu fakta yang selama ini kamu sangkal," ucap Ardiansyah, suaranya terdengar berat dan sarat akan manipulasi yang terencana. "Nggak... ini nggak mungkin, Papa!" Bara berdiri dari kursinya, menyentak meja hingga beberapa kertas bergeser.

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 106: Bukti di Tangan Elara

    Elara segera menurunkan ponselnya begitu amplop cokelat tebal itu berpindah tangan. Dengan jantung yang masih berdegup kencang laksana genderang perang, ia berjalan mundur sangat perlahan, lalu berbalik dan berlari secepat mungkin menyusuri tangga darurat. Ia mengabaikan rasa lelah di kakinya sampai akhirnya berhasil keluar dari gedung fakultas dan langsung meluncur menggunakan ojek daring menuju apartemen Aksa, tempat Keira sudah menunggu. Begitu pintu unit apartemen mewah itu dibuka oleh Aksa, Elara langsung menerobos masuk dengan napas memburu dan wajah sepucat kapas. "Elara? Kamu kenapa? Seperti habis dikejar hantu," tanya Aksa, alisnya bertaut rapat melihat kondisi sahabat istrinya yang berantakan dengan rompi kebersihan yang masih melekat. "Lebih parah dari hantu, Pak Aksa! Ini... ini iblis korporat!" seru Elara terengah-engah, menjatuhkan diri di sofa ruang tamu di samping Keira. Alana yang baru saja bangun dengan kondisi tubuh yang lebih segar i

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 105: Plot Twist: Amplop Cokelat dari Ayah Bara

    Elara menahan napasnya rapat-rapat di balik pilar beton koridor yang remang-remang. Detak jantungnya bertalu begitu keras di dalam dada, hingga ia takut suara detaknya bisa memecah kesunyian lantai dua gedung fakultas yang telah ditinggalkan oleh para penghuninya. Dunia seolah berhenti berputar saat pria paruh baya di depan ruangan Pak Subroto itu menurunkan maskernya untuk menyeka keringat. Wajah tegas, rahang kokoh, dan tatapan mata yang penuh keangkuhan itu... Elara sangat mengenalnya dari foto keluarga yang pernah ditunjukkan oleh Alana di kosan beberapa bulan lalu. Pria berjas mewah itu adalah Ardiansyah. Pengusaha kakap pemilik Ardiansyah Group yang sangat berkuasa, sekaligus ayah kandung dari Bara, kekasih Alana. "Gila... ini bener-bener plot twist gila," bisik Elara dalam hati, seluruh tubuhnya mendadak lemas dan gemetar hebat akibat rasa syok yang teramat masif. Namun, kesadaran sebagai sahabat Alana membuat fokusnya kembali dalam sek

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 26: Interogasi Tengah Malam

    "Bar, sori banget. Tiba-tiba perut aku sakit banget, melilit," Alana langsung menyambar tasnya dengan gerakan panik, memotong pembicaraan Bara yang baru saja menerima kembalian dari pelayan. "Aku... aku harus buru-buru pulang. Kamu nggak usah anter, aku udah pesen taksi online tadi!" "L

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 14: Sial di Kelas Pak Dosen

    Ancaman Aksa semalam sukses membuat Alana tidak bisa tidur nyenyak. Alhasil, pagi ini ia datang ke kelas Manajemen Strategis dengan kantung mata yang menghitam dan wajah ditekuk.Suasana kelas riuh rendah sampai ketukan pulpen di atas meja dosen seketika membungkam seisi ruangan. Aksa be

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 13: Makan Malam yang Panas

    Napas Alana tertahan di tenggorokan. Punggungnya yang membentur pintu kayu apartemen terasa kaku, sementara tubuh tegap Aksa mengurungnya begitu rapat. Aroma sandalwood bercampur mint yang maskulin menguasai indra penciumannya, mengikis habis aroma restoran tempat ia makan bersama Bara tadi.

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 7 : Perhatian yang Terselubung

    Suara detak jam dinding di ruang kerja Aksa terdengar seperti dentuman palu di kepala Alana. Sudah pukul dua pagi. Tumpukan jurnal setebal bantal itu masih tersisa separuh, dan tangan Alana sudah mati rasa karena terus menulis esai tangan sebanyak puluhan lembar. Aksa sendiri masih duduk di kursi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status