Beranda / Romansa / Istri Simpanan Pak Dosen / Bab 3 : Malam Pertama

Share

Bab 3 : Malam Pertama

Penulis: Devieshinta
last update Tanggal publikasi: 2026-04-21 14:41:04

Bunyi klik dari kunci pintu kamar yang diputar Aksa terdengar seperti dentuman meriam di telinga Alana. Ia menyandarkan punggungnya ke daun pintu, menatap waspada pada sosok tinggi di depannya yang kini mulai melepas dasi navy-nya dengan gerakan pelan.

"Pak... Pak Aksa, mau ngapain?" suara Alana mencicit, nyalinya yang tadi menggebu di depan Dosen yang sekarang menjadi suaminya itu mendadak ciut.

Aksa tidak langsung menjawab. Ia meletakkan dasinya di atas meja rias, lalu membuka satu kancing teratas kemejanya. "Kamu pikir apa yang dilakukan sepasang suami istri di dalam kamar pada malam pengantin mereka, Alana?"

Wajah Alana memanas. "Kita kan... kita kan cuma nikah siri! Bapak sendiri yang bilang ini cuma buat tenangin Papa!"

Aksa melangkah mendekat. Jarak mereka kini hanya terpaut satu ubin. Aroma maskulin yang dingin namun memabukkan dari tubuh Aksa membuat Alana pening. Pria itu menumpukan satu tangannya di pintu, tepat di samping kepala Alana, mengurung gadis itu dalam intimidasi yang nyata.

"Siri atau tidak, di mata Tuhan dan hukum agama, kamu milik saya," bisik Aksa rendah, suaranya terdengar lebih serak dari biasanya. "Kenapa gemetar? Kamu biasanya sangat berisik di kelas kalau sedang protes soal nilai."

"Ya karena ini beda! Di kelas Bapak itu dosen killer, di sini Bapak... Bapak..." Alana kehilangan kata-kata saat mata Aksa menatap bibirnya.

Aksa terdiam sejenak, menatap lekat wajah istrinya yang tampak ketakutan namun tetap terlihat cantik dengan sisa riasan pengantin yang tipis. Tiba-tiba, tangannya terangkat. Alana memejamkan mata erat, mengira sesuatu yang 'jauh' akan terjadi.

Namun, yang ia rasakan hanyalah sentuhan lembut di puncak kepalanya. Aksa mengambil sepotong bunga melati yang tersangkut di rambut Alana.

"Mandi sana. Kamu bau keringat dan air mata," ucap Aksa datar, seketika menghancurkan suasana tegang yang ia bangun sendiri. Ia mundur dua langkah, kembali ke mode 'dosen kaku' andalannya.

Alana melongo. "Hah? Bapak bilang apa? Bau?"

"Iya. Kamar mandi ada di sana. Saya sudah siapkan handuk baru. Jangan lama-lama, saya mau tidur," lanjut Aksa sambil membuka lemari, mengambil kaos oblong hitam dan celana kain santai.

Alana menggerutu kesal sambil menyambar handuk. "Dasar dosen nggak peka! Tadi sok-sokan romantis, sekarang malah ngeledek!"

Setengah jam kemudian, Alana keluar dengan piyama satin panjang berwarna merah muda. Ia melihat Aksa sudah berbaring di sisi kanan tempat tidur ukuran king size itu, sibuk dengan tabletnya—sepertinya sedang memeriksa jurnal atau entah apa yang disukai orang-orang jenius membosankan seperti dia.

Alana berdiri mematung di pinggir tempat tidur. "Saya... tidur di mana?"

Aksa menoleh tanpa ekspresi. "Di sini. Tempat tidurnya cukup luas untuk dua orang. Saya bukan predator, Alana. Kamu aman selama kamu tidak menendang saya saat tidur."

Dengan ragu, Alana naik ke tempat tidur, mengambil jarak sejauh mungkin hingga ia nyaris jatuh dari pinggiran kasur. Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara pendingin ruangan yang berdesir pelan.

"Pak," panggil Alana pelan.

"Hm."

"Soal nilai E saya... beneran nggak bisa diperbaiki?"

Aksa mematikan tabletnya, lalu berbalik menyamping menatap Alana. "Besok saya bawa berkas tugas kamu ke rumah. Kamu kerjakan ulang di depan saya. Kalau hasilnya bagus, saya pertimbangkan untuk memberi kamu nilai C. Adil?"

"C doang? Pelit banget!"

"Mau C atau tetep E?"

"C! Iya, C!" sahut Alana cepat. Ia menarik selimut hingga ke dada. Diam-diam, ia memperhatikan profil samping wajah Aksa dari balik kegelapan. Harus ia akui, saat tidak sedang marah-marah di kelas, suaminya ini memang sangat tampan. Garis rahangnya tegas, dan hidungnya bangir sempurna.

Saat Alana mulai merasa rileks dan matanya mulai memberat, tiba-tiba sebuah getaran keras terdengar dari atas meja nakas di sisi Alana. Ponselnya menyala terang.

Sebuah nama muncul di layar, membuat jantung Alana serasa copot.

[Sayang ❤️ - 5 Missed Calls]

[Bara is calling...]

Mata Alana membelalak. Ia baru ingat kalau ia sama sekali belum memberi kabar pada pacarnya itu sejak tiga hari lalu karena sibuk mengurus pernikahan dadakan ini.

Di sampingnya, Aksa yang tadi matanya sudah terpejam, kini membuka mata kembali. Ia melirik layar ponsel Alana yang masih berkedip-kedip di tengah kegelapan malam.

Suasana kamar yang tadinya mulai tenang, seketika berubah menjadi mencekam kembali.

Aksa bangkit dari posisi tidurnya, duduk bersandar di kepala ranjang sambil menatap ponsel Alana yang terus berbunyi. Ia beralih menatap Alana dengan tatapan dingin yang menusuk. "Sayang?" tanya Aksa dengan nada sinis yang amat kental. "Bukankah sudah saya katakan, mulai malam ini, tidak boleh ada nama pria lain di hidupmu?" Alana terkesiap saat tangan Aksa terulur hendak mengambil ponsel itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 9: Ancaman Keira dan Elara

    Kalimat bernada ancaman halus dari Aksa sukses membuat Alana linglung sepanjang hari di kampus. Alana bahkan sengaja memilih bangku paling belakang saat kelas bimbingan makroekonomi sore itu, melarikan diri dari sorot mata tajam suaminya yang sesekali sengaja menyapu ke arahnya. Begitu kelas bubar pukul empat sore, Alana langsung melesat pulang ke apartemen di kawasan Kuningan. Badannya masih agak lemas sisa demam, ditambah tekanan batin menghadapi kelakuan Aksa yang mendadak jadi sangat mengintimidasi. Baru saja Alana merebahkan diri di sofa ruang tengah sambil menyalakan televisi, ponselnya di atas meja bergetar hebat. Nama Elara berkedip di layar. "Kenapa, Ra?" tanya Alana malas begitu menggeser tombol hijau. "Al! Lo di mana? Gue sama Keira lagi di depan lobi apartemen lo, nih!" suara Elara terdengar cempreng bersemangat di seberang sana. "Mau jenguk lo sekalian bawain martabak manis keju kesukaan lo. Tapi kata satpam bawah, lo udah nggak di unit yang lama ya? Pindah ke uni

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 8 : Getaran yang Salah

    Ciuman itu terasa seperti sengatan listrik yang melumpuhkan akal sehat Aksa. Untuk beberapa detik yang menegangkan, pria yang selalu memuja logika itu kehilangan kendali. Ia bisa merasakan bibir Alana yang lembut dan panas karena demam, menuntut kehangatan darinya. Tangan Aksa yang tadinya hendak membetulkan kompres, kini terpaku di sisi bantal, meremas sprei dengan kuat demi menahan diri agar tidak membalas lebih jauh. Namun, Alana adalah api. Dalam igauan demamnya, ia justru semakin merapatkan tubuhnya, mencari perlindungan di sela napas Aksa yang mulai memburu. "Pak... hangat..." gumam Alana lirih di sela pagutan canggung itu. Suara itu seperti sirine darurat bagi Aksa. Dengan sisa kewarasan yang ada, ia memegang kedua bahu Alana dan menjauhkan wajah istrinya perlahan. Napasnya terengah, matanya menggelap menatap wajah Alana yang kembali terlelap begitu saja setelah melepaskan 'serangan' maut tadi. Aksa mematung di tepi ranjang selama hampir sepuluh menit, menyentuh bibirny

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 7 : Perhatian yang Terselubung

    Suara detak jam dinding di ruang kerja Aksa terdengar seperti dentuman palu di kepala Alana. Sudah pukul dua pagi. Tumpukan jurnal setebal bantal itu masih tersisa separuh, dan tangan Alana sudah mati rasa karena terus menulis esai tangan sebanyak puluhan lembar. Aksa sendiri masih duduk di kursi kebesarannya, tampak segar dengan kacamata bertengger di hidungnya, sesekali menyesap kopi hitam tanpa gula. "Pak... saya sudah nggak kuat. Mata saya perih," gumam Alana, suaranya parau. Aksa melirik jam, lalu menatap istrinya yang wajahnya sudah sepucat kertas. "Sepuluh halaman lagi, Alana. Kamu tidak akan lulus kalau mentalmu selemah ini." "Bapak jahat..." Alana mencoba menulis satu kalimat lagi, namun pandangannya mendadak kabur. Kepalanya terasa berputar hebat, dan rasa dingin yang aneh mulai menjalar dari ujung kakinya. Brukk! Pena di tangannya terjatuh, disusul dengan tubuhnya yang limbung ke arah meja. Aksa tersentak. Ia segera berdiri dan menangkap bahu Alana sebelum kening

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 6 : Cemburu Dosen Kaku

    Alana menyambar kembali dompetnya dari tangan Aksa dengan wajah merah padam. "Bapak keterlaluan! Nilai itu urusan akademik, kenapa dibawa-bawa ke urusan hati? Bara itu pacar saya, jauh sebelum Bapak datang merusak semuanya!" Aksa tidak bergeming. Ia hanya merapikan kerah kemejanya, menatap Alana dengan tatapan datar yang mengintimidasi. "Statusmu sudah berubah, Alana. Secara hukum, kamu adalah istri saya. Dan saya tidak suka milik saya diklaim oleh orang lain. Ingat itu." Tanpa kata lagi, Aksa keluar dari kamar, meninggalkan Alana yang membanting bantal ke arah pintu dengan penuh emosi. "Dosen sinting! Egois! Dasar robot kaku!" *** Keesokan harinya di kampus, Alana merasa sangat penat. Kepalanya pening memikirkan skripsi, nilai E, dan suaminya yang menyebalkan. Saat ia sedang duduk lesu di pojok kantin fakultas ekonomi, sebuah tangan tiba-tiba menepuk bahunya lembut. "Alana? Sayang, kok muka kamu ditekuk gitu?" Alana mendongak. "Bara?" Bara tersenyum manis, lalu duduk di

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 5 : Rahasia di Balik Pintu Apartemen

    Jantung Alana serasa mau copot. Ia menatap Elara dan Keira yang kini berdiri tepat di depannya dengan tatapan menginterogasi. Mobil SUV hitam Aksa perlahan melaju menjauh, meninggalkan Alana dalam kepungan dua sahabatnya yang paling hobi bergosip. "Al, jawab jujur. Kenapa lo tadi buka pintu mobil Pak Aksa kayak udah punya kunci serepnya?" selidik Keira, matanya menyipit curiga. "E-enggak! Itu... anu, map skripsi gue ketinggalan!" Alana mengangkat map biru di tangannya dengan gerakan kaku. "Tadi gue lihat mobilnya macet di depan, ya udah gue ketok aja daripada gue harus ke ruangannya. Males banget kan ketemu si kaku itu?" Elara melipat tangan di dada. "Yakin? Kok gue ngerasa lo tadi turun dari situ pas berangkat kuliah juga ya?" "Enggak! Lo salah lihat kali, Ra! Mobil kayak gitu kan banyak yang punya. Masa Pak Aksa doang yang kaya di Jakarta ini?" Alana mencoba tertawa renyah, meski terdengar sangat sumbang. "Udah ah, gue balik dulu ya! Papa gue masih di rumah sakit, gue mau ja

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 4 : Mahasiswaku, Istriku

    Ketegangan semalam berakhir dengan Aksa yang menyita ponsel Alana hingga pagi. Alana terpaksa berangkat ke kampus dengan wajah ditekuk, duduk di kursi penumpang mobil SUV hitam milik suaminya. Suasana di dalam mobil sangat kontras—Aksa tampak rapi dengan kemeja slim-fit abu-abu yang disetrika sempurna, sementara Alana sibuk mengikat rambutnya asal. "Turunin saya di halte depan saja, Pak. Jangan sampai ke lobi," pinta Alana cemas saat gerbang kampus mulai terlihat. "Saya dosen, Alana. Bukan sopir taksi online," jawab Aksa datar tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. "Ya justru itu! Kalau ada yang lihat saya turun dari mobil Bapak, tamat riwayat saya! Bisa-bisa saya dikira simpanan dosen demi nilai!" Aksa menghentikan mobilnya tepat dua ratus meter sebelum gerbang utama. "Turunlah. Jangan terlambat masuk kelas saya jam sepuluh nanti. Ingat, status kamu di kelas tetap mahasiswa yang sedang terancam tidak lulus." Alana mendengus, membanting pintu mobil pelan, dan berlari menuju

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status