เข้าสู่ระบบBunyi klik dari kunci pintu kamar yang diputar Aksa terdengar seperti dentuman meriam di telinga Alana. Ia menyandarkan punggungnya ke daun pintu, menatap waspada pada sosok tinggi di depannya yang kini mulai melepas dasi navy-nya dengan gerakan pelan.
"Pak... Pak Aksa, mau ngapain?" suara Alana mencicit, nyalinya yang tadi menggebu di depan Dosen yang sekarang menjadi suaminya itu mendadak ciut. Aksa tidak langsung menjawab. Ia meletakkan dasinya di atas meja rias, lalu membuka satu kancing teratas kemejanya. "Kamu pikir apa yang dilakukan sepasang suami istri di dalam kamar pada malam pengantin mereka, Alana?" Wajah Alana memanas. "Kita kan... kita kan cuma nikah siri! Bapak sendiri yang bilang ini cuma buat tenangin Papa!" Aksa melangkah mendekat. Jarak mereka kini hanya terpaut satu ubin. Aroma maskulin yang dingin namun memabukkan dari tubuh Aksa membuat Alana pening. Pria itu menumpukan satu tangannya di pintu, tepat di samping kepala Alana, mengurung gadis itu dalam intimidasi yang nyata. "Siri atau tidak, di mata Tuhan dan hukum agama, kamu milik saya," bisik Aksa rendah, suaranya terdengar lebih serak dari biasanya. "Kenapa gemetar? Kamu biasanya sangat berisik di kelas kalau sedang protes soal nilai." "Ya karena ini beda! Di kelas Bapak itu dosen killer, di sini Bapak... Bapak..." Alana kehilangan kata-kata saat mata Aksa menatap bibirnya. Aksa terdiam sejenak, menatap lekat wajah istrinya yang tampak ketakutan namun tetap terlihat cantik dengan sisa riasan pengantin yang tipis. Tiba-tiba, tangannya terangkat. Alana memejamkan mata erat, mengira sesuatu yang 'jauh' akan terjadi. Namun, yang ia rasakan hanyalah sentuhan lembut di puncak kepalanya. Aksa mengambil sepotong bunga melati yang tersangkut di rambut Alana. "Mandi sana. Kamu bau keringat dan air mata," ucap Aksa datar, seketika menghancurkan suasana tegang yang ia bangun sendiri. Ia mundur dua langkah, kembali ke mode 'dosen kaku' andalannya. Alana melongo. "Hah? Bapak bilang apa? Bau?" "Iya. Kamar mandi ada di sana. Saya sudah siapkan handuk baru. Jangan lama-lama, saya mau tidur," lanjut Aksa sambil membuka lemari, mengambil kaos oblong hitam dan celana kain santai. Alana menggerutu kesal sambil menyambar handuk. "Dasar dosen nggak peka! Tadi sok-sokan romantis, sekarang malah ngeledek!" Setengah jam kemudian, Alana keluar dengan piyama satin panjang berwarna merah muda. Ia melihat Aksa sudah berbaring di sisi kanan tempat tidur ukuran king size itu, sibuk dengan tabletnya—sepertinya sedang memeriksa jurnal atau entah apa yang disukai orang-orang jenius membosankan seperti dia. Alana berdiri mematung di pinggir tempat tidur. "Saya... tidur di mana?" Aksa menoleh tanpa ekspresi. "Di sini. Tempat tidurnya cukup luas untuk dua orang. Saya bukan predator, Alana. Kamu aman selama kamu tidak menendang saya saat tidur." Dengan ragu, Alana naik ke tempat tidur, mengambil jarak sejauh mungkin hingga ia nyaris jatuh dari pinggiran kasur. Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara pendingin ruangan yang berdesir pelan. "Pak," panggil Alana pelan. "Hm." "Soal nilai E saya... beneran nggak bisa diperbaiki?" Aksa mematikan tabletnya, lalu berbalik menyamping menatap Alana. "Besok saya bawa berkas tugas kamu ke rumah. Kamu kerjakan ulang di depan saya. Kalau hasilnya bagus, saya pertimbangkan untuk memberi kamu nilai C. Adil?" "C doang? Pelit banget!" "Mau C atau tetep E?" "C! Iya, C!" sahut Alana cepat. Ia menarik selimut hingga ke dada. Diam-diam, ia memperhatikan profil samping wajah Aksa dari balik kegelapan. Harus ia akui, saat tidak sedang marah-marah di kelas, suaminya ini memang sangat tampan. Garis rahangnya tegas, dan hidungnya bangir sempurna. Saat Alana mulai merasa rileks dan matanya mulai memberat, tiba-tiba sebuah getaran keras terdengar dari atas meja nakas di sisi Alana. Ponselnya menyala terang. Sebuah nama muncul di layar, membuat jantung Alana serasa copot. [Sayang ❤️ - 5 Missed Calls] [Bara is calling...] Mata Alana membelalak. Ia baru ingat kalau ia sama sekali belum memberi kabar pada pacarnya itu sejak tiga hari lalu karena sibuk mengurus pernikahan dadakan ini. Di sampingnya, Aksa yang tadi matanya sudah terpejam, kini membuka mata kembali. Ia melirik layar ponsel Alana yang masih berkedip-kedip di tengah kegelapan malam. Suasana kamar yang tadinya mulai tenang, seketika berubah menjadi mencekam kembali. Aksa bangkit dari posisi tidurnya, duduk bersandar di kepala ranjang sambil menatap ponsel Alana yang terus berbunyi. Ia beralih menatap Alana dengan tatapan dingin yang menusuk. "Sayang?" tanya Aksa dengan nada sinis yang amat kental. "Bukankah sudah saya katakan, mulai malam ini, tidak boleh ada nama pria lain di hidupmu?" Alana terkesiap saat tangan Aksa terulur hendak mengambil ponsel itu."Al, jangan dilihat. Ayo pergi dari sini," cetus Keira sambil merenggut bahu Alana, mencoba memblokir pandangan sahabatnya dari papan mading utama. Namun semuanya sudah terlambat. Air mata Alana sudah lebih dulu luruh membasahi pipinya yang pucat pasi. Bisik-bisik kejam dari puluhan mahasiswa di sekeliling mereka mendadak terdengar laksana dengungan lebah yang mencekik warasnya. Tanpa membalas ucapan Keira, Alana membalikkan badan dan berlari sekencang mungkin menembus kerumunan. "Alana! Tunggu!" teriak Elara, bersiap mengejar dengan langkah lebar. "Biar gue yang cari ke area perpustakaan atas, El. Lo cek taman belakang sekarang," instruksi Keira cepat. Mereka berdua segera berpencar dengan kecemasan yang memuncak. Alana terus berlari menyusuri koridor, menaiki anak tangga dengan napas yang memburu, hingga langkahnya membawa masuk ke dalam perpustakaan pusat fakultas. Di jam kuliah seperti ini, lorong bagian belakang yang menyimpan buku-buku a
"Jangan menoleh, Alana. Masuk kembali ke halaman rumah," perintah Aksa, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin di tengah keheningan malam. "Tapi mereka... mereka bawa sesuatu, Mas," bisik Alana, tangannya gemetar hebat saat meremas lengan kemeja Aksa. Aksa segera menarik tubuh Alana ke belakang punggung tegapnya, mengunci pandangan tajamnya pada dua orang bermotor di seberang jalan. Namun, bukannya menyerang, pengendara motor itu justru menggeber mesinnya dengan keras sekali sebelum akhirnya berbalik arah dan melesat pergi membelah kegelapan malam. Itu murni teror mental. "Mereka cuma mau menakut-nakuti kita," ucap Aksa, mengembuskan napas panjang sembari memeriksa draf map hitam di tangan kanannya. "Ardiansyah tahu kita mencari sesuatu di sini. Hubungi sopir keluarga, kita pulang pakai mobil lain." Keesokan paginya, teror yang sesungguhnya baru saja dimulai di area kampus. Bukan berupa ancaman fisik di jalanan sepi, melainkan pembunuhan
Malam kian larut ketika Aksa memutar kemudi mobilnya membelah jalanan pinggiran kota yang sepi. Di sampingnya, Alana duduk diam seraya menatap ke luar jendela. Ingatan tentang konspirasi besar antara Pak Subroto dan Ayah Bara yang dibeberkan Elara tadi siang benar-benar menguras energi mentalnya. Mobil mewah itu akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi yang menjulang. Di baliknya, berdiri sebuah rumah bergaya kolonial yang luas namun sudah tidak ditempati sejak keluarga besar Dewantara pindah ke kawasan elit pusat kota. Walau kosong, rumah ini tetap dijaga dan dirawat dengan sangat rapi. "Ayo turun, Alana," ajak Aksa lembut, mematikan mesin mobil. Alana melangkah turun, merapatkan jaket rajutnya karena hawa malam yang menusuk. "Kita mau ambil apa di sini, Mas?" "Petunjuk dari Ibu saya," jawab Aksa singkat seraya membuka pintu utama rumah menggunakan kunci khusus. Atmosfer di dalam rumah tua itu terasa sunyi dan dingin. A
Sementara Aksa menerima instruksi penting dari Mama Intan di balkon apartemennya, badai emosi yang berbeda sedang berkecamuk di dalam kediaman mewah keluarga Ardiansyah. Bara duduk di ruang kerja ayahnya dengan tatapan kosong. Di atas meja kaca di depannya, beberapa lembar draf foto tercetak beresolusi tinggi tersebar berantakan. Jantung Bara serasa dihantam godam besar saat matanya dipaksa menatap bukti-bukti itu: draf foto akta nikah siri dan pakta pernikahan atas nama Aksa Dewantara dan Alana Danuarta. Ardiansyah berdiri di dekat jendela, membelakangi putranya sambil menyesap cerutu dengan tenang. Asap tebal menguar, menciptakan atmosfer yang semakin menekan di dalam ruangan. "Kamu lihat sendiri, kan, Bara? Itu fakta yang selama ini kamu sangkal," ucap Ardiansyah, suaranya terdengar berat dan sarat akan manipulasi yang terencana. "Nggak... ini nggak mungkin, Papa!" Bara berdiri dari kursinya, menyentak meja hingga beberapa kertas bergeser.
Elara segera menurunkan ponselnya begitu amplop cokelat tebal itu berpindah tangan. Dengan jantung yang masih berdegup kencang laksana genderang perang, ia berjalan mundur sangat perlahan, lalu berbalik dan berlari secepat mungkin menyusuri tangga darurat. Ia mengabaikan rasa lelah di kakinya sampai akhirnya berhasil keluar dari gedung fakultas dan langsung meluncur menggunakan ojek daring menuju apartemen Aksa, tempat Keira sudah menunggu. Begitu pintu unit apartemen mewah itu dibuka oleh Aksa, Elara langsung menerobos masuk dengan napas memburu dan wajah sepucat kapas. "Elara? Kamu kenapa? Seperti habis dikejar hantu," tanya Aksa, alisnya bertaut rapat melihat kondisi sahabat istrinya yang berantakan dengan rompi kebersihan yang masih melekat. "Lebih parah dari hantu, Pak Aksa! Ini... ini iblis korporat!" seru Elara terengah-engah, menjatuhkan diri di sofa ruang tamu di samping Keira. Alana yang baru saja bangun dengan kondisi tubuh yang lebih segar i
Elara menahan napasnya rapat-rapat di balik pilar beton koridor yang remang-remang. Detak jantungnya bertalu begitu keras di dalam dada, hingga ia takut suara detaknya bisa memecah kesunyian lantai dua gedung fakultas yang telah ditinggalkan oleh para penghuninya. Dunia seolah berhenti berputar saat pria paruh baya di depan ruangan Pak Subroto itu menurunkan maskernya untuk menyeka keringat. Wajah tegas, rahang kokoh, dan tatapan mata yang penuh keangkuhan itu... Elara sangat mengenalnya dari foto keluarga yang pernah ditunjukkan oleh Alana di kosan beberapa bulan lalu. Pria berjas mewah itu adalah Ardiansyah. Pengusaha kakap pemilik Ardiansyah Group yang sangat berkuasa, sekaligus ayah kandung dari Bara, kekasih Alana. "Gila... ini bener-bener plot twist gila," bisik Elara dalam hati, seluruh tubuhnya mendadak lemas dan gemetar hebat akibat rasa syok yang teramat masif. Namun, kesadaran sebagai sahabat Alana membuat fokusnya kembali dalam sek
Ancaman Aksa semalam sukses membuat Alana tidak bisa tidur nyenyak. Alhasil, pagi ini ia datang ke kelas Manajemen Strategis dengan kantung mata yang menghitam dan wajah ditekuk.Suasana kelas riuh rendah sampai ketukan pulpen di atas meja dosen seketika membungkam seisi ruangan. Aksa be
Napas Alana tertahan di tenggorokan. Punggungnya yang membentur pintu kayu apartemen terasa kaku, sementara tubuh tegap Aksa mengurungnya begitu rapat. Aroma sandalwood bercampur mint yang maskulin menguasai indra penciumannya, mengikis habis aroma restoran tempat ia makan bersama Bara tadi.
Suara detak jam dinding di ruang kerja Aksa terdengar seperti dentuman palu di kepala Alana. Sudah pukul dua pagi. Tumpukan jurnal setebal bantal itu masih tersisa separuh, dan tangan Alana sudah mati rasa karena terus menulis esai tangan sebanyak puluhan lembar. Aksa sendiri masih duduk di kursi
Alana menyambar kembali dompetnya dari tangan Aksa dengan wajah merah padam. "Bapak keterlaluan! Nilai itu urusan akademik, kenapa dibawa-bawa ke urusan hati? Bara itu pacar saya, jauh sebelum Bapak datang merusak semuanya!" Aksa tidak bergeming. Ia hanya merapikan kerah kemejanya, menatap Alana







