LOGIN"Al, jangan dilihat. Ayo pergi dari sini," cetus Keira sambil merenggut bahu Alana, mencoba memblokir pandangan sahabatnya dari papan mading utama.
Namun semuanya sudah terlambat. Air mata Alana sudah lebih dulu luruh membasahi pipinya yang pucat pasi. Bisik-bisik kejam dari puluhan mahasiswa di sekeliling mereka mendadak terdengar laksana dengungan lebah yang mencekik warasnya. Tanpa membalas ucapan Keira, Alana membalikkan badan dan berlari sekencang mungkin menembus kerumunan."Al, jangan dilihat. Ayo pergi dari sini," cetus Keira sambil merenggut bahu Alana, mencoba memblokir pandangan sahabatnya dari papan mading utama. Namun semuanya sudah terlambat. Air mata Alana sudah lebih dulu luruh membasahi pipinya yang pucat pasi. Bisik-bisik kejam dari puluhan mahasiswa di sekeliling mereka mendadak terdengar laksana dengungan lebah yang mencekik warasnya. Tanpa membalas ucapan Keira, Alana membalikkan badan dan berlari sekencang mungkin menembus kerumunan. "Alana! Tunggu!" teriak Elara, bersiap mengejar dengan langkah lebar. "Biar gue yang cari ke area perpustakaan atas, El. Lo cek taman belakang sekarang," instruksi Keira cepat. Mereka berdua segera berpencar dengan kecemasan yang memuncak. Alana terus berlari menyusuri koridor, menaiki anak tangga dengan napas yang memburu, hingga langkahnya membawa masuk ke dalam perpustakaan pusat fakultas. Di jam kuliah seperti ini, lorong bagian belakang yang menyimpan buku-buku a
"Jangan menoleh, Alana. Masuk kembali ke halaman rumah," perintah Aksa, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin di tengah keheningan malam. "Tapi mereka... mereka bawa sesuatu, Mas," bisik Alana, tangannya gemetar hebat saat meremas lengan kemeja Aksa. Aksa segera menarik tubuh Alana ke belakang punggung tegapnya, mengunci pandangan tajamnya pada dua orang bermotor di seberang jalan. Namun, bukannya menyerang, pengendara motor itu justru menggeber mesinnya dengan keras sekali sebelum akhirnya berbalik arah dan melesat pergi membelah kegelapan malam. Itu murni teror mental. "Mereka cuma mau menakut-nakuti kita," ucap Aksa, mengembuskan napas panjang sembari memeriksa draf map hitam di tangan kanannya. "Ardiansyah tahu kita mencari sesuatu di sini. Hubungi sopir keluarga, kita pulang pakai mobil lain." Keesokan paginya, teror yang sesungguhnya baru saja dimulai di area kampus. Bukan berupa ancaman fisik di jalanan sepi, melainkan pembunuhan
Malam kian larut ketika Aksa memutar kemudi mobilnya membelah jalanan pinggiran kota yang sepi. Di sampingnya, Alana duduk diam seraya menatap ke luar jendela. Ingatan tentang konspirasi besar antara Pak Subroto dan Ayah Bara yang dibeberkan Elara tadi siang benar-benar menguras energi mentalnya. Mobil mewah itu akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi yang menjulang. Di baliknya, berdiri sebuah rumah bergaya kolonial yang luas namun sudah tidak ditempati sejak keluarga besar Dewantara pindah ke kawasan elit pusat kota. Walau kosong, rumah ini tetap dijaga dan dirawat dengan sangat rapi. "Ayo turun, Alana," ajak Aksa lembut, mematikan mesin mobil. Alana melangkah turun, merapatkan jaket rajutnya karena hawa malam yang menusuk. "Kita mau ambil apa di sini, Mas?" "Petunjuk dari Ibu saya," jawab Aksa singkat seraya membuka pintu utama rumah menggunakan kunci khusus. Atmosfer di dalam rumah tua itu terasa sunyi dan dingin. A
Sementara Aksa menerima instruksi penting dari Mama Intan di balkon apartemennya, badai emosi yang berbeda sedang berkecamuk di dalam kediaman mewah keluarga Ardiansyah. Bara duduk di ruang kerja ayahnya dengan tatapan kosong. Di atas meja kaca di depannya, beberapa lembar draf foto tercetak beresolusi tinggi tersebar berantakan. Jantung Bara serasa dihantam godam besar saat matanya dipaksa menatap bukti-bukti itu: draf foto akta nikah siri dan pakta pernikahan atas nama Aksa Dewantara dan Alana Danuarta. Ardiansyah berdiri di dekat jendela, membelakangi putranya sambil menyesap cerutu dengan tenang. Asap tebal menguar, menciptakan atmosfer yang semakin menekan di dalam ruangan. "Kamu lihat sendiri, kan, Bara? Itu fakta yang selama ini kamu sangkal," ucap Ardiansyah, suaranya terdengar berat dan sarat akan manipulasi yang terencana. "Nggak... ini nggak mungkin, Papa!" Bara berdiri dari kursinya, menyentak meja hingga beberapa kertas bergeser.
Elara segera menurunkan ponselnya begitu amplop cokelat tebal itu berpindah tangan. Dengan jantung yang masih berdegup kencang laksana genderang perang, ia berjalan mundur sangat perlahan, lalu berbalik dan berlari secepat mungkin menyusuri tangga darurat. Ia mengabaikan rasa lelah di kakinya sampai akhirnya berhasil keluar dari gedung fakultas dan langsung meluncur menggunakan ojek daring menuju apartemen Aksa, tempat Keira sudah menunggu. Begitu pintu unit apartemen mewah itu dibuka oleh Aksa, Elara langsung menerobos masuk dengan napas memburu dan wajah sepucat kapas. "Elara? Kamu kenapa? Seperti habis dikejar hantu," tanya Aksa, alisnya bertaut rapat melihat kondisi sahabat istrinya yang berantakan dengan rompi kebersihan yang masih melekat. "Lebih parah dari hantu, Pak Aksa! Ini... ini iblis korporat!" seru Elara terengah-engah, menjatuhkan diri di sofa ruang tamu di samping Keira. Alana yang baru saja bangun dengan kondisi tubuh yang lebih segar i
Elara menahan napasnya rapat-rapat di balik pilar beton koridor yang remang-remang. Detak jantungnya bertalu begitu keras di dalam dada, hingga ia takut suara detaknya bisa memecah kesunyian lantai dua gedung fakultas yang telah ditinggalkan oleh para penghuninya. Dunia seolah berhenti berputar saat pria paruh baya di depan ruangan Pak Subroto itu menurunkan maskernya untuk menyeka keringat. Wajah tegas, rahang kokoh, dan tatapan mata yang penuh keangkuhan itu... Elara sangat mengenalnya dari foto keluarga yang pernah ditunjukkan oleh Alana di kosan beberapa bulan lalu. Pria berjas mewah itu adalah Ardiansyah. Pengusaha kakap pemilik Ardiansyah Group yang sangat berkuasa, sekaligus ayah kandung dari Bara, kekasih Alana. "Gila... ini bener-bener plot twist gila," bisik Elara dalam hati, seluruh tubuhnya mendadak lemas dan gemetar hebat akibat rasa syok yang teramat masif. Namun, kesadaran sebagai sahabat Alana membuat fokusnya kembali dalam sek
Jantung Alana serasa merosot sampai ke lantai kantin. Beruntung kelas Teori Ekonomi Makro baru saja dibubarkan, sehingga jeritan tertahan Elara tadi tidak sampai memicu kepanikan massal seisi kelas. Namun sekarang, di sudut kantin yang agak sepi, Alana harus berhadapan dengan dua pasang mata saha
Alana menatap pantulan dirinya di cermin meja rias dengan mata melotot. Di ceruk leher sebelah kirinya, sebuah bercak kemerahan yang pekat tercetak dengan sangat jelas. Bekas mahakarya dari 'Pak Dosen Killer' semalam benar-benar terlihat seperti sebuah cap kepemilikan. "Gila! Ini
Uap hangat yang mengepul di dalam kamar mandi lambat laun menipis, namun ketegangan yang tertinggal justru semakin menebal. Aksa berdiri mematung di ambang pintu yang baru saja didobraknya. Sepasang matanya yang biasa menatap dingin berkas skripsi, kini menggelap, terkunci rapat pada sosok Alana.
Begitu Aksa menutup rapat sore itu dengan ketukan pulpen yang dingin, Alana langsung mengemas barang-barangnya dengan gerakan kasar. Jantungnya masih berdegup kencang, separuh karena emosi, separuh lagi karena sensasi gila di bawah meja yang baru saja berakhir. "Al, lo mau langsung bali







