تسجيل الدخولSuara detak jam dinding di ruang kerja Aksa terdengar seperti dentuman palu di kepala Alana. Sudah pukul dua pagi. Tumpukan jurnal setebal bantal itu masih tersisa separuh, dan tangan Alana sudah mati rasa karena terus menulis esai tangan sebanyak puluhan lembar.
Aksa sendiri masih duduk di kursi kebesarannya, tampak segar dengan kacamata bertengger di hidungnya, sesekali menyesap kopi hitam tanpa gula. "Pak... saya sudah nggak kuat. Mata saya perih," gumam Alana, suaranya parau. Aksa melirik jam, lalu menatap istrinya yang wajahnya sudah sepucat kertas. "Sepuluh halaman lagi, Alana. Kamu tidak akan lulus kalau mentalmu selemah ini." "Bapak jahat..." Alana mencoba menulis satu kalimat lagi, namun pandangannya mendadak kabur. Kepalanya terasa berputar hebat, dan rasa dingin yang aneh mulai menjalar dari ujung kakinya. Brukk! Pena di tangannya terjatuh, disusul dengan tubuhnya yang limbung ke arah meja. Aksa tersentak. Ia segera berdiri dan menangkap bahu Alana sebelum kening gadis itu membentur kayu jati meja kerjanya. "Alana? Alana, bangun!" Kulit Alana terasa membara saat telapak tangan Aksa menyentuh pipinya. "Sial, kamu demam," umpat Aksa rendah. Tanpa pikir panjang, ia menggendong tubuh mungil Alana menuju kamar utama. Alana merasa seolah sedang terapung di tengah lautan es. Dingin, namun sesekali ada kehangatan yang menyapu keningnya. Ia meringkuk di bawah selimut tebal, menggigil hebat hingga giginya berkerat. "Minum ini dulu. Sedikit saja," suara berat itu terdengar sangat dekat di telinganya. Alana membuka mata dengan susah payah. Ia melihat Aksa—tanpa kacamata dan kemejanya sudah digulung hingga siku—sedang duduk di tepi ranjang memegang segelas air hangat dan obat. "P-pak... dingin..." isak Alana pelan. Air matanya menetes tanpa bisa dicegah. Ia merasa sangat rapuh. Aksa menghela napas panjang, tatapan matanya yang biasanya tajam kini melunak, memancarkan rasa bersalah yang tersembunyi. Ia meletakkan gelas itu, lalu mengambil handuk kecil dari baskom air hangat di nakas. Dengan sangat telaten, ia menyeka keringat dingin di leher dan kening Alana. "Maafkan saya. Saya tidak tahu fisikmu selemah ini," bisik Aksa pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. Tangannya yang besar dan hangat mengusap rambut Alana yang berantakan dengan gerakan yang sangat lembut—sesuatu yang belum pernah Alana rasakan sebelumnya. Aksa kemudian beranjak hendak mengambil kompres baru, namun tangan Alana yang gemetar menahan ujung kaus hitamnya. "Jangan pergi... Papa... Alana takut..." racau Alana dalam pengaruh demamnya. Pikirannya melayang pada sosok ayahnya di rumah sakit dan tekanan pernikahan rahasia ini. Aksa tertegun. Ia kembali duduk dan membiarkan Alana menggenggam tangannya. Pria kaku itu bahkan melepaskan jam tangan mahalnya agar tidak menggores kulit Alana. Ia terus mengganti kompres setiap lima belas menit, memastikan suhu tubuh istrinya turun. Perhatiannya begitu intens, seolah Alana adalah benda paling berharga di dunia yang tidak boleh rusak. Menjelang subuh, panas Alana mulai mereda. Ia mulai bisa bernapas dengan teratur, meski kesadarannya masih mengambang di antara mimpi dan kenyataan. Ia melihat bayangan Aksa yang sedang membungkuk di atasnya, hendak memeriksa suhu keningnya sekali lagi dengan punggung tangan. Aroma sandalwood dan maskulin yang hangat dari tubuh Aksa menyerbu indra penciuman Alana. Dalam kondisi setengah sadar dan halusinasi karena sisa demam, Alana merasa pria di depannya adalah satu-satunya pelindungnya. "Pak Aksa..." bisik Alana lirih. "Ya? Ada yang sakit?" tanya Aksa lembut, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Alana. Bukannya menjawab, Alana justru mengangkat kedua tangannya. Dengan gerakan cepat yang tak terduga, ia melingkarkan lengannya di leher Aksa, menarik pria itu turun hingga wajah mereka bersentuhan. Aksa mematung, napasnya tertahan. "Alana, apa yang kamu—" Kalimat Aksa terputus seketika saat Alana menariknya lebih dekat dan menempelkan bibirnya yang masih terasa hangat karena demam ke bibir Aksa. Sebuah ciuman yang tidak menentu, namun penuh dengan luapan emosi yang terpendam. Mata Aksa membelalak lebar. Jantungnya yang biasanya berdetak stabil kini berpacu liar tak terkendali. Ia seharusnya melepaskan pelukan itu, namun tangan Alana semakin erat mencengkeram tengkuknya, seolah tidak mau melepaskan satu-satunya sumber kehangatannya. Di tengah remang cahaya lampu tidur, suasana kamar itu mendadak berubah dari haru menjadi sangat panas dan berbahaya.Kalimat bernada ancaman halus dari Aksa sukses membuat Alana linglung sepanjang hari di kampus. Alana bahkan sengaja memilih bangku paling belakang saat kelas bimbingan makroekonomi sore itu, melarikan diri dari sorot mata tajam suaminya yang sesekali sengaja menyapu ke arahnya. Begitu kelas bubar pukul empat sore, Alana langsung melesat pulang ke apartemen di kawasan Kuningan. Badannya masih agak lemas sisa demam, ditambah tekanan batin menghadapi kelakuan Aksa yang mendadak jadi sangat mengintimidasi. Baru saja Alana merebahkan diri di sofa ruang tengah sambil menyalakan televisi, ponselnya di atas meja bergetar hebat. Nama Elara berkedip di layar. "Kenapa, Ra?" tanya Alana malas begitu menggeser tombol hijau. "Al! Lo di mana? Gue sama Keira lagi di depan lobi apartemen lo, nih!" suara Elara terdengar cempreng bersemangat di seberang sana. "Mau jenguk lo sekalian bawain martabak manis keju kesukaan lo. Tapi kata satpam bawah, lo udah nggak di unit yang lama ya? Pindah ke uni
Ciuman itu terasa seperti sengatan listrik yang melumpuhkan akal sehat Aksa. Untuk beberapa detik yang menegangkan, pria yang selalu memuja logika itu kehilangan kendali. Ia bisa merasakan bibir Alana yang lembut dan panas karena demam, menuntut kehangatan darinya. Tangan Aksa yang tadinya hendak membetulkan kompres, kini terpaku di sisi bantal, meremas sprei dengan kuat demi menahan diri agar tidak membalas lebih jauh. Namun, Alana adalah api. Dalam igauan demamnya, ia justru semakin merapatkan tubuhnya, mencari perlindungan di sela napas Aksa yang mulai memburu. "Pak... hangat..." gumam Alana lirih di sela pagutan canggung itu. Suara itu seperti sirine darurat bagi Aksa. Dengan sisa kewarasan yang ada, ia memegang kedua bahu Alana dan menjauhkan wajah istrinya perlahan. Napasnya terengah, matanya menggelap menatap wajah Alana yang kembali terlelap begitu saja setelah melepaskan 'serangan' maut tadi. Aksa mematung di tepi ranjang selama hampir sepuluh menit, menyentuh bibirny
Suara detak jam dinding di ruang kerja Aksa terdengar seperti dentuman palu di kepala Alana. Sudah pukul dua pagi. Tumpukan jurnal setebal bantal itu masih tersisa separuh, dan tangan Alana sudah mati rasa karena terus menulis esai tangan sebanyak puluhan lembar. Aksa sendiri masih duduk di kursi kebesarannya, tampak segar dengan kacamata bertengger di hidungnya, sesekali menyesap kopi hitam tanpa gula. "Pak... saya sudah nggak kuat. Mata saya perih," gumam Alana, suaranya parau. Aksa melirik jam, lalu menatap istrinya yang wajahnya sudah sepucat kertas. "Sepuluh halaman lagi, Alana. Kamu tidak akan lulus kalau mentalmu selemah ini." "Bapak jahat..." Alana mencoba menulis satu kalimat lagi, namun pandangannya mendadak kabur. Kepalanya terasa berputar hebat, dan rasa dingin yang aneh mulai menjalar dari ujung kakinya. Brukk! Pena di tangannya terjatuh, disusul dengan tubuhnya yang limbung ke arah meja. Aksa tersentak. Ia segera berdiri dan menangkap bahu Alana sebelum kening
Alana menyambar kembali dompetnya dari tangan Aksa dengan wajah merah padam. "Bapak keterlaluan! Nilai itu urusan akademik, kenapa dibawa-bawa ke urusan hati? Bara itu pacar saya, jauh sebelum Bapak datang merusak semuanya!" Aksa tidak bergeming. Ia hanya merapikan kerah kemejanya, menatap Alana dengan tatapan datar yang mengintimidasi. "Statusmu sudah berubah, Alana. Secara hukum, kamu adalah istri saya. Dan saya tidak suka milik saya diklaim oleh orang lain. Ingat itu." Tanpa kata lagi, Aksa keluar dari kamar, meninggalkan Alana yang membanting bantal ke arah pintu dengan penuh emosi. "Dosen sinting! Egois! Dasar robot kaku!" *** Keesokan harinya di kampus, Alana merasa sangat penat. Kepalanya pening memikirkan skripsi, nilai E, dan suaminya yang menyebalkan. Saat ia sedang duduk lesu di pojok kantin fakultas ekonomi, sebuah tangan tiba-tiba menepuk bahunya lembut. "Alana? Sayang, kok muka kamu ditekuk gitu?" Alana mendongak. "Bara?" Bara tersenyum manis, lalu duduk di
Jantung Alana serasa mau copot. Ia menatap Elara dan Keira yang kini berdiri tepat di depannya dengan tatapan menginterogasi. Mobil SUV hitam Aksa perlahan melaju menjauh, meninggalkan Alana dalam kepungan dua sahabatnya yang paling hobi bergosip. "Al, jawab jujur. Kenapa lo tadi buka pintu mobil Pak Aksa kayak udah punya kunci serepnya?" selidik Keira, matanya menyipit curiga. "E-enggak! Itu... anu, map skripsi gue ketinggalan!" Alana mengangkat map biru di tangannya dengan gerakan kaku. "Tadi gue lihat mobilnya macet di depan, ya udah gue ketok aja daripada gue harus ke ruangannya. Males banget kan ketemu si kaku itu?" Elara melipat tangan di dada. "Yakin? Kok gue ngerasa lo tadi turun dari situ pas berangkat kuliah juga ya?" "Enggak! Lo salah lihat kali, Ra! Mobil kayak gitu kan banyak yang punya. Masa Pak Aksa doang yang kaya di Jakarta ini?" Alana mencoba tertawa renyah, meski terdengar sangat sumbang. "Udah ah, gue balik dulu ya! Papa gue masih di rumah sakit, gue mau ja
Ketegangan semalam berakhir dengan Aksa yang menyita ponsel Alana hingga pagi. Alana terpaksa berangkat ke kampus dengan wajah ditekuk, duduk di kursi penumpang mobil SUV hitam milik suaminya. Suasana di dalam mobil sangat kontras—Aksa tampak rapi dengan kemeja slim-fit abu-abu yang disetrika sempurna, sementara Alana sibuk mengikat rambutnya asal. "Turunin saya di halte depan saja, Pak. Jangan sampai ke lobi," pinta Alana cemas saat gerbang kampus mulai terlihat. "Saya dosen, Alana. Bukan sopir taksi online," jawab Aksa datar tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. "Ya justru itu! Kalau ada yang lihat saya turun dari mobil Bapak, tamat riwayat saya! Bisa-bisa saya dikira simpanan dosen demi nilai!" Aksa menghentikan mobilnya tepat dua ratus meter sebelum gerbang utama. "Turunlah. Jangan terlambat masuk kelas saya jam sepuluh nanti. Ingat, status kamu di kelas tetap mahasiswa yang sedang terancam tidak lulus." Alana mendengus, membanting pintu mobil pelan, dan berlari menuju







