Home / Romansa / Istri Simpanan Pak Dosen / Bab 7 : Perhatian yang Terselubung

Share

Bab 7 : Perhatian yang Terselubung

Author: Devieshinta
last update publish date: 2026-04-21 14:44:08

Suara detak jam dinding di ruang kerja Aksa terdengar seperti dentuman palu di kepala Alana. Sudah pukul dua pagi. Tumpukan jurnal setebal bantal itu masih tersisa separuh, dan tangan Alana sudah mati rasa karena terus menulis esai tangan sebanyak puluhan lembar.

Aksa sendiri masih duduk di kursi kebesarannya, tampak segar dengan kacamata bertengger di hidungnya, sesekali menyesap kopi hitam tanpa gula.

"Pak... saya sudah nggak kuat. Mata saya perih," gumam Alana, suaranya parau.

Aksa melirik jam, lalu menatap istrinya yang wajahnya sudah sepucat kertas. "Sepuluh halaman lagi, Alana. Kamu tidak akan lulus kalau mentalmu selemah ini."

"Bapak jahat..." Alana mencoba menulis satu kalimat lagi, namun pandangannya mendadak kabur. Kepalanya terasa berputar hebat, dan rasa dingin yang aneh mulai menjalar dari ujung kakinya. Brukk! Pena di tangannya terjatuh, disusul dengan tubuhnya yang limbung ke arah meja.

Aksa tersentak. Ia segera berdiri dan menangkap bahu Alana sebelum kening gadis itu membentur kayu jati meja kerjanya. "Alana? Alana, bangun!"

Kulit Alana terasa membara saat telapak tangan Aksa menyentuh pipinya. "Sial, kamu demam," umpat Aksa rendah. Tanpa pikir panjang, ia menggendong tubuh mungil Alana menuju kamar utama.

Alana merasa seolah sedang terapung di tengah lautan es. Dingin, namun sesekali ada kehangatan yang menyapu keningnya. Ia meringkuk di bawah selimut tebal, menggigil hebat hingga giginya berkerat.

"Minum ini dulu. Sedikit saja," suara berat itu terdengar sangat dekat di telinganya.

Alana membuka mata dengan susah payah. Ia melihat Aksa—tanpa kacamata dan kemejanya sudah digulung hingga siku—sedang duduk di tepi ranjang memegang segelas air hangat dan obat.

"P-pak... dingin..." isak Alana pelan. Air matanya menetes tanpa bisa dicegah. Ia merasa sangat rapuh.

Aksa menghela napas panjang, tatapan matanya yang biasanya tajam kini melunak, memancarkan rasa bersalah yang tersembunyi. Ia meletakkan gelas itu, lalu mengambil handuk kecil dari baskom air hangat di nakas. Dengan sangat telaten, ia menyeka keringat dingin di leher dan kening Alana.

"Maafkan saya. Saya tidak tahu fisikmu selemah ini," bisik Aksa pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. Tangannya yang besar dan hangat mengusap rambut Alana yang berantakan dengan gerakan yang sangat lembut—sesuatu yang belum pernah Alana rasakan sebelumnya.

Aksa kemudian beranjak hendak mengambil kompres baru, namun tangan Alana yang gemetar menahan ujung kaus hitamnya.

"Jangan pergi... Papa... Alana takut..." racau Alana dalam pengaruh demamnya. Pikirannya melayang pada sosok ayahnya di rumah sakit dan tekanan pernikahan rahasia ini.

Aksa tertegun. Ia kembali duduk dan membiarkan Alana menggenggam tangannya. Pria kaku itu bahkan melepaskan jam tangan mahalnya agar tidak menggores kulit Alana. Ia terus mengganti kompres setiap lima belas menit, memastikan suhu tubuh istrinya turun. Perhatiannya begitu intens, seolah Alana adalah benda paling berharga di dunia yang tidak boleh rusak.

Menjelang subuh, panas Alana mulai mereda. Ia mulai bisa bernapas dengan teratur, meski kesadarannya masih mengambang di antara mimpi dan kenyataan. Ia melihat bayangan Aksa yang sedang membungkuk di atasnya, hendak memeriksa suhu keningnya sekali lagi dengan punggung tangan.

Aroma sandalwood dan maskulin yang hangat dari tubuh Aksa menyerbu indra penciuman Alana. Dalam kondisi setengah sadar dan halusinasi karena sisa demam, Alana merasa pria di depannya adalah satu-satunya pelindungnya.

"Pak Aksa..." bisik Alana lirih.

"Ya? Ada yang sakit?" tanya Aksa lembut, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Alana.

Bukannya menjawab, Alana justru mengangkat kedua tangannya. Dengan gerakan cepat yang tak terduga, ia melingkarkan lengannya di leher Aksa, menarik pria itu turun hingga wajah mereka bersentuhan.

Aksa mematung, napasnya tertahan. "Alana, apa yang kamu—"

Kalimat Aksa terputus seketika saat Alana menariknya lebih dekat dan menempelkan bibirnya yang masih terasa hangat karena demam ke bibir Aksa. Sebuah ciuman yang tidak menentu, namun penuh dengan luapan emosi yang terpendam.

Mata Aksa membelalak lebar. Jantungnya yang biasanya berdetak stabil kini berpacu liar tak terkendali. Ia seharusnya melepaskan pelukan itu, namun tangan Alana semakin erat mencengkeram tengkuknya, seolah tidak mau melepaskan satu-satunya sumber kehangatannya. Di tengah remang cahaya lampu tidur, suasana kamar itu mendadak berubah dari haru menjadi sangat panas dan berbahaya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Simpanan Pak Dosen   BAB 110

    "Al, jangan dilihat. Ayo pergi dari sini," cetus Keira sambil merenggut bahu Alana, mencoba memblokir pandangan sahabatnya dari papan mading utama. Namun semuanya sudah terlambat. Air mata Alana sudah lebih dulu luruh membasahi pipinya yang pucat pasi. Bisik-bisik kejam dari puluhan mahasiswa di sekeliling mereka mendadak terdengar laksana dengungan lebah yang mencekik warasnya. Tanpa membalas ucapan Keira, Alana membalikkan badan dan berlari sekencang mungkin menembus kerumunan. "Alana! Tunggu!" teriak Elara, bersiap mengejar dengan langkah lebar. "Biar gue yang cari ke area perpustakaan atas, El. Lo cek taman belakang sekarang," instruksi Keira cepat. Mereka berdua segera berpencar dengan kecemasan yang memuncak. Alana terus berlari menyusuri koridor, menaiki anak tangga dengan napas yang memburu, hingga langkahnya membawa masuk ke dalam perpustakaan pusat fakultas. Di jam kuliah seperti ini, lorong bagian belakang yang menyimpan buku-buku a

  • Istri Simpanan Pak Dosen   BAB 109

    "Jangan menoleh, Alana. Masuk kembali ke halaman rumah," perintah Aksa, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin di tengah keheningan malam. "Tapi mereka... mereka bawa sesuatu, Mas," bisik Alana, tangannya gemetar hebat saat meremas lengan kemeja Aksa. Aksa segera menarik tubuh Alana ke belakang punggung tegapnya, mengunci pandangan tajamnya pada dua orang bermotor di seberang jalan. Namun, bukannya menyerang, pengendara motor itu justru menggeber mesinnya dengan keras sekali sebelum akhirnya berbalik arah dan melesat pergi membelah kegelapan malam. Itu murni teror mental. "Mereka cuma mau menakut-nakuti kita," ucap Aksa, mengembuskan napas panjang sembari memeriksa draf map hitam di tangan kanannya. "Ardiansyah tahu kita mencari sesuatu di sini. Hubungi sopir keluarga, kita pulang pakai mobil lain." Keesokan paginya, teror yang sesungguhnya baru saja dimulai di area kampus. Bukan berupa ancaman fisik di jalanan sepi, melainkan pembunuhan

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 108: Map Hitam Mama Intan

    Malam kian larut ketika Aksa memutar kemudi mobilnya membelah jalanan pinggiran kota yang sepi. Di sampingnya, Alana duduk diam seraya menatap ke luar jendela. Ingatan tentang konspirasi besar antara Pak Subroto dan Ayah Bara yang dibeberkan Elara tadi siang benar-benar menguras energi mentalnya. Mobil mewah itu akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi yang menjulang. Di baliknya, berdiri sebuah rumah bergaya kolonial yang luas namun sudah tidak ditempati sejak keluarga besar Dewantara pindah ke kawasan elit pusat kota. Walau kosong, rumah ini tetap dijaga dan dirawat dengan sangat rapi. "Ayo turun, Alana," ajak Aksa lembut, mematikan mesin mobil. Alana melangkah turun, merapatkan jaket rajutnya karena hawa malam yang menusuk. "Kita mau ambil apa di sini, Mas?" "Petunjuk dari Ibu saya," jawab Aksa singkat seraya membuka pintu utama rumah menggunakan kunci khusus. Atmosfer di dalam rumah tua itu terasa sunyi dan dingin. A

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 107: Hasutan Sang Ayah

    Sementara Aksa menerima instruksi penting dari Mama Intan di balkon apartemennya, badai emosi yang berbeda sedang berkecamuk di dalam kediaman mewah keluarga Ardiansyah. Bara duduk di ruang kerja ayahnya dengan tatapan kosong. Di atas meja kaca di depannya, beberapa lembar draf foto tercetak beresolusi tinggi tersebar berantakan. Jantung Bara serasa dihantam godam besar saat matanya dipaksa menatap bukti-bukti itu: draf foto akta nikah siri dan pakta pernikahan atas nama Aksa Dewantara dan Alana Danuarta. Ardiansyah berdiri di dekat jendela, membelakangi putranya sambil menyesap cerutu dengan tenang. Asap tebal menguar, menciptakan atmosfer yang semakin menekan di dalam ruangan. "Kamu lihat sendiri, kan, Bara? Itu fakta yang selama ini kamu sangkal," ucap Ardiansyah, suaranya terdengar berat dan sarat akan manipulasi yang terencana. "Nggak... ini nggak mungkin, Papa!" Bara berdiri dari kursinya, menyentak meja hingga beberapa kertas bergeser.

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 106: Bukti di Tangan Elara

    Elara segera menurunkan ponselnya begitu amplop cokelat tebal itu berpindah tangan. Dengan jantung yang masih berdegup kencang laksana genderang perang, ia berjalan mundur sangat perlahan, lalu berbalik dan berlari secepat mungkin menyusuri tangga darurat. Ia mengabaikan rasa lelah di kakinya sampai akhirnya berhasil keluar dari gedung fakultas dan langsung meluncur menggunakan ojek daring menuju apartemen Aksa, tempat Keira sudah menunggu. Begitu pintu unit apartemen mewah itu dibuka oleh Aksa, Elara langsung menerobos masuk dengan napas memburu dan wajah sepucat kapas. "Elara? Kamu kenapa? Seperti habis dikejar hantu," tanya Aksa, alisnya bertaut rapat melihat kondisi sahabat istrinya yang berantakan dengan rompi kebersihan yang masih melekat. "Lebih parah dari hantu, Pak Aksa! Ini... ini iblis korporat!" seru Elara terengah-engah, menjatuhkan diri di sofa ruang tamu di samping Keira. Alana yang baru saja bangun dengan kondisi tubuh yang lebih segar i

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 105: Plot Twist: Amplop Cokelat dari Ayah Bara

    Elara menahan napasnya rapat-rapat di balik pilar beton koridor yang remang-remang. Detak jantungnya bertalu begitu keras di dalam dada, hingga ia takut suara detaknya bisa memecah kesunyian lantai dua gedung fakultas yang telah ditinggalkan oleh para penghuninya. Dunia seolah berhenti berputar saat pria paruh baya di depan ruangan Pak Subroto itu menurunkan maskernya untuk menyeka keringat. Wajah tegas, rahang kokoh, dan tatapan mata yang penuh keangkuhan itu... Elara sangat mengenalnya dari foto keluarga yang pernah ditunjukkan oleh Alana di kosan beberapa bulan lalu. Pria berjas mewah itu adalah Ardiansyah. Pengusaha kakap pemilik Ardiansyah Group yang sangat berkuasa, sekaligus ayah kandung dari Bara, kekasih Alana. "Gila... ini bener-bener plot twist gila," bisik Elara dalam hati, seluruh tubuhnya mendadak lemas dan gemetar hebat akibat rasa syok yang teramat masif. Namun, kesadaran sebagai sahabat Alana membuat fokusnya kembali dalam sek

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 14: Sial di Kelas Pak Dosen

    Ancaman Aksa semalam sukses membuat Alana tidak bisa tidur nyenyak. Alhasil, pagi ini ia datang ke kelas Manajemen Strategis dengan kantung mata yang menghitam dan wajah ditekuk.Suasana kelas riuh rendah sampai ketukan pulpen di atas meja dosen seketika membungkam seisi ruangan. Aksa be

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 13: Makan Malam yang Panas

    Napas Alana tertahan di tenggorokan. Punggungnya yang membentur pintu kayu apartemen terasa kaku, sementara tubuh tegap Aksa mengurungnya begitu rapat. Aroma sandalwood bercampur mint yang maskulin menguasai indra penciumannya, mengikis habis aroma restoran tempat ia makan bersama Bara tadi.

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 6 : Cemburu Dosen Kaku

    Alana menyambar kembali dompetnya dari tangan Aksa dengan wajah merah padam. "Bapak keterlaluan! Nilai itu urusan akademik, kenapa dibawa-bawa ke urusan hati? Bara itu pacar saya, jauh sebelum Bapak datang merusak semuanya!" Aksa tidak bergeming. Ia hanya merapikan kerah kemejanya, menatap Alana

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 5 : Rahasia di Balik Pintu Apartemen

    Jantung Alana serasa mau copot. Ia menatap Elara dan Keira yang kini berdiri tepat di depannya dengan tatapan menginterogasi. Mobil SUV hitam Aksa perlahan melaju menjauh, meninggalkan Alana dalam kepungan dua sahabatnya yang paling hobi bergosip. "Al, jawab jujur. Kenapa lo tadi buka pintu mobil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status